(NOT) Your Ordinary Lab Girl

(NOT) Your Ordinary Lab Girl
Sera Ramirez



Aku berlari sempoyongan menuju arah pintu keluar, dengan panik memencet tombol turun. Pintu lift segera membuka, aku menghambur masuk, melihat Remi yang menyusulku dan ikut masuk. Dengan segera aku memencet tombol tutup dan mengarahkan lift kembali ke basement.


“Kenapa? Kau membuatku terkejut Meha. Kau mengenal itu siapa? Karena dari bentuk kakinya, aku bisa pastikan itu bukan milik laki-laki.”


“Alice, itu Alice. Alice Garcia.”


“Siapa?”


“Dia ... Mahasiswa penelitian di labku.”


“Oh Meha, situasi ini semakin buruk saja untukmu.”


Jari jemariku bergetar, ada apa ini? Mengapa dua orang yang kukenal tew4s dalam keadaan mengerikan dan tak wajar?


“Remi, apa yang harus kita lakukan?”


“Melaporkannya pada polisi?”


Aku menatap Remi tak percaya, bagaimana mungkin ide itu muncul di kepalanya. Apa dia tak ingat jika posisiku di ujung tanduk?


“Look Meha, sidik jari kita sudah menempel di mana-mana, akan lebih mencurigakan jika kita memilih diam. Lift ini bahkan sudah merekam wajah kita berdua!”


Ding! Pintu lift terbuka, namun tidak di lantai yang kami tuju, melainkan di lantai 2? Begitulah yang tertulis di plakat yang berada persis di depan lift. Tak ada orang yang masuk, Remi bahkan sampai menahan pintu agar tak segera menutup. Setelah satu menit yang terasa ganjil, Remi celingukan melihat orang yang berbuat iseng, tapi lorong kiri dan kanan kosong.


Aku memencet lift lagi dan kali ini pintu lift tepat terbuka di lantai yang kami tuju. “Baiklah, kita hubungi polisi,” kulanjutkan obrolan kami tadi.


“Meha, apa tak sebaiknya kau menginap denganku untuk sementara ini? Aku, tak ingin terjadi hal-hal buruk padamu.”


“Haruskah?” Aku sempat mengiyakan, namun teringat hubunganku dengan Mrs Leah yang tak akur. Belum lagi teringat hubungan terlarang Remi dengan ibu tirinya di perpustakaan waktu itu. Sepertinya aku belum siap menumpuk masalah baru lagi. “Mm, Remi. Aku menghargai tawaranmu, tapi ada hal lain yang harus kulakukan.”


“Sepenting apa dibanding keselamatanmu?”


“Kita bahkan tak tahu apakah pembunuh ini mengincar aku juga. Hidupku harus terus berjalan Remi, aku tak bisa bermanja-manja hanya karena ketakutan.”


“Meha, kau keras kepala sekali. Setidaknya tunggu sampai seminggu, sampai para detektif itu mendapat petunjuk akan pelaku pembunuhan ini!”


“Sorry Remi, aku bisa jaga diri, terimakasih sudah khawatir.”


Tangan Remi mengepal, aku melihat ada kekecewaan yang besar di matanya. “Aku akan menghubungi polisi, tunggu di sini.” Begitu cara Remi memutus obrolan kami.


Tak lama setelah itu, sirine polisi kembali terdengar dan basement itu sudah ramai dipenuhi para petugas dari kepolisian. Aku menunggu diam di dalam mobil Remi, memperhatikan kesibukan di luar.


“.... Meha, Meha! Bagaimana? Jangan bilang kau iri karena tak jadi ikut kami perawatan di salon!” Aku termenung, kilasan peristiwa seminggu lalu saat mereka memamerkan cat kuku itu diputar kembali seolah aku benar-benar masih ada di sana.


“Cantik kaan?” Pamer Nina memainkan jari jemarinya di hadapanku sambil mengerling genit.


Mereka tertawa-tawa bahagia, air mataku mengalir melihat mereka. Aku bukanlah orang yang gampang didekati, bukan karena aku mengecilkan orang. Tapi aku hanya melindungi hatiku dari rasa sakit ditinggal. Aku tak pernah sadar jika kehadiran mereka di laboratoriumku selama beberapa bulan ini terasa berharga.


“Hey, kenapa kau menangis, Meha?” Nina terkejut melihatku tiba-tiba berurai air mata. Alice bahkan ikut memeluk pundakku, dan perhatian mereka itu justru membuatku semakin menangis keras.


Hanya Sera yang melihatku dengan tatapan dingin, tanpa simpati. Wajah Sera tiba-tiba kaku, giginya bergemeretuk dan menggigil, seolah-olah sedang berada di tempat yang sangat dingin, bunga es bahkan menempel di rambut dan bulu-bulu halus seluruh tubuhnya. “Sera, kau kenapa?”


“Me ... Meha, tolong aku! TOLONG!”


“Aaargh!!” Teriakku histeris.


Seorang petugas pengetuk pintu kaca mobilku, membangunkanku dari mimpi yang teramat buruk. Aku memperhatikan sekujur tubuhku yang bersih tak tertutup darah. Petugas yang mengetuk itu adalah petugas tua yang tadi membuntutiku. Diarahkannya senter ke arah wajahku, membuatku menutup mata karena silaunya.


“Nona Meha, keluarlah.”


“Ya Sir, tolong turunkan senter anda,”


“Sorry.” Petugas itu lalu memadamkan senternya tersebut dan akupun menurut untuk keluar.


Ia mengarahkanku menuju bagian belakang mobil yang bertuliskan “Khusus Tahanan” dan membuka pintunya dengan sebuah kunci, di dalam duduk Remi dengan muka gusar. Dahiku mengernyit, apa-apaan?


Petugas itu menyuruhku masuk dengan sedikit ketus, aku lagi-lagi menurut. Remi yang tadinya gusar tersenyum lemah menyambutku.


Bam! Ceklek! Suara petugas tersebut menutup pintu dengan keras dan menguncinya.


“Kenapa mereka memperlakukan kita demikian?” kini aku mengerti sumber kegusaran Remi tadi.


“Meha, aku tiba-tiba menyesal sudah bersedia melapor pada mereka jika akhirnya mereka memperlakukan kita seperti pesakitan. Maaf.”


“Well, kalau aku sendiri yang ada di sini maka aku akan kesal. Tapi karena tu-an Re-mi juga, maka aku tak boleh protes. Tenanglah, yang kau bilang tadi ada benarnya makanya aku setuju.”


“Meha, bisakah kau runut lagi kejadian-kejadian di sekitarmu? Barangkali ada petunjuk yang terlewat.”


Mendengar perkataan Remi membuatku teringat akan mimpi anehku tadi. Alice dan Nina mati tepat seperti yang terjadi di kehidupan nyata, namun mengapa ada Sera di sana? Dan kondisinya itu? Aku menceritakan mimpi itu pada Remi.


“Semoga saja hanya mimpi yang tak bermakna apa-apa, Meha. So, kemana David?” Remi mengalihkan pembicaraan.


“Ya, akupun penasaran. Menilik dari bau tubuh Alice yang sudah membusuk, kemungkinan ia meninggal lebih dari tiga hari. Pesta itu, berlangsung saat akhir pekan, seminggu lalu.”


“Apakah Nina ada mengatakan sesuatu?”


“Urrgh ...” Aku menutup muka berusaha mengingat kembali rangkaian peristiwa seminggu ke belakang.


“Sejak pesta David itu, Nina tak pulang hingga 3 hari lalu saat kami bertengkar itu. Yang kuingat, ia berulang kali menghindar saat kutanya soal matanya yang lebam. Dan kini kusadari, ia tak pernah membenarkan jika itu perlakuan David. Ia seperti ketakutan saat kutanyai, kupikir karena rasa syok akibat masalahnya dengan David. Oh, kini aku semakin merasa bersalah.”


“Lalu?”


“Lalu aku pergi sembari mengutuk David. Nina menangis menyuruhku tetap tinggal, tapi aku terlalu kesal. Teman macam apa aku ini.”


“Meha, kau tak tahu.”


“Ya. Kau benar, waktu itu aku tak tahu jika ini akan terjadi. Tapi, andai, andai aku bisa kembali lagi waktu itu dan memeluk Nina, mungkin dia masih ada.”


Remi tak membantah dan membiarkanku merenung menyalahi diri sendiri. Radio di bagian pengemudi berbunyi menyampaikan sebuah pesan darurat.


[Drrt ... Perhatian kepada seluruh unit tugas, nona Sera Ramirez hilang dari pantauan. Sekali lagi diberitakan kepada seluruh unit tugas, nona Sera Ramirez menghilang dari pantauan di sekitar Asrama Kampus Elephas. Bagi petugas yang dekat dengan lokasi untuk melapor. Ganti.]


Aku memandang Remi dengan muka ngeri. Kembali mengingat tentang mimpiku tadi.