(NOT) Your Ordinary Lab Girl

(NOT) Your Ordinary Lab Girl
Nina Smith



“Meha, apakah kau suka publisitas?”


“Nope. Menjadi pusat perhatian adalah antonim dari Meha.”


“Maka, kusarankan kau menunggu kami di pintu belakang, nanti kujemput di tangga darurat, bagaimana? Kalau big boy ini sih sudah biasa, biar dia jadi umpan bagimu untuk menjauhkan wartawan. Mereka akan mengerubunginya seperti piranha mencium darah.” Ray menepuk pundak Remi.


“Kau bawa topiku?”


“Tentu saja! Nih, tangkap!”


Remi sigap menangkap topi yang dilemparkan oleh Ray. “Aku titip Meha, Ray.”


“Sejak kapan kau percaya padaku? Kau tak takut nona cantik ini nanti malah memilihku? Benar kan nona? Pesonaku lebih menggoda dibandingkan berandalan tampan ini.”


Aku hanya tersenyum saja melihat interaksi mereka berdua. Baru ini aku melihat Remi bisa begitu terbuka dan menjadi diri sendiri saat bersama Ray. Di depanku saat ini menjelma seorang Remi yang bersikap sesuai usianya, bahkan di depan papanya sendiri ia tak bersikap seperti ini, tetap menunjukkan sikap stoic. Memunculkan rasa penasaranku terhadap kisah antara Ray dan Remi bermula.


“Meha... Meha? Apakah kau akan mengiyakan godaan si pria tua ini?” Remi rupanya menunggu tanggapanku akan godaan Ray, untuk hal satu itu dia terlalu serius.


“I mean, tentu saja, kenapa tidak?” Mendukung Ray, aku juga menggoda Remi yang membuat wajahnya langsung mencelos, aku tertawa melihat kekecewaannya yang tak repot disembunyikan.


“Aku suka dia, Remi. Jika kau menyakitinya, aku tak segan menonjok wajahmu.”


“I know.”


Aku memutar kedua bola mata mendengarkan pembicaraan mereka tentangku. Hey, aku di depan kalian! Jangan goda aku terus-terusan, aku bisa jatuh!


“Ayo!” Ray jalan mendahului kami.


“Meha, kita bertemu di mansion Langdon. Jaga dirimu baik-baik.” Remi berpesan sembari memakaikan topinya ke atas kepalaku. Kupikir tadi topi itu untuk dia sendiri.


Aku hanya mengangguk mengiyakan dan berpisah jalan saat di pintu keluar karena arah kami yang berlawanan. Ray dan Remi jalan berdua, aku sempat mendengar rasa keterkejutan Ray.


“Hey, kemana topimu? Ah, rupanya untuk Meha. Aku tak tahu kau bisa bersikap protektif Remi. Kau manis sekali...” Ray lagi-lagi melontarkan godaan pada Remi sembari mengacak rambutnya.


“Diamlah, berisik!” 


“Ooh, Remi maniis...”


“Diamlah atau kau kuumpankan pada piranha-piranha itu!”


Dan percakapan absurd mereka itu mampu menerbitkan senyum simpulku, rasa hati menghangat di tengah tragedi yang menimpaku bertubi-tubi.


Ada apa gerangan Mr Langdon memintaku ke mansionnya? Uugh, aku malas sekali jika harus berhadapan kembali dengan si j4lang Leah. Ia pasti akan semakin congkak mengetahui posisiku yang sedang terpojok. 


Bagaimana kelanjutan hidupku setelah ini, akankah aku masih bisa menjadi Meha yang dulu lagi. Ah, bagaimana rasanya kembali ke asrama lagi, sudah tak ada Nina di sana. Menuruni tangga darurat yang berulir dan menimbulkan decit di setiap anak tangganya yang kupijak, pikiranku melayang ke pertemuan pertamaku dengan Nina.


Akhirnya aku resmi keluar dari panti, suster kepala melepasku dengan kaku. Aku memang tak pernah dekat dengannya yang dingin dan tak bersahabat pada anak-anak asuhnya, kecuali jika sang anak asuh telah sukses menjadi orang, barulah ia maju dengan senyum mengerikan tersemat di bibirnya yang setipis kertas, memproklamirkan diri sebagai orang yang berjasa di perjalanan hidup si anak yang sukses.


Itu adalah panti asuhku yang terakhir dari 14 rumah asuh yang pernah menampungku. Bukan karena kelakuanku yang nakal, namun mereka memindahkanku untuk dikelompokkan berdasarkan usia rata-rata anak tampungan mereka.


Aku yang kikuk dan menutup diri, dipertemukan dengan Nina yang cerah dan hangat seperti bunga matahari. Obrolan kami semakin lancar, saat ia mengetahui jika aku pun pernah dirawat di panti yang sama dengannya.


“Hey, kamu juga pernah ke Richmond?” Dari belakang Nina melihat badge yang kuletakkan di buku harianku yang langsung kututup, “Ups sorry, aku tak berniat mengintip, badge itu saja yang menarik perhatianku.”


“Mm, bagaimana kau tahu?”


“Aku juga pernah di sana! Here look,” Nina mengambil sesuatu ke dalam tas besarnya dan menunjukkan badge yang sama, “Kurasa kita pernah bertemu? Tapi aku pasti mengingatmu jika memang kita berada di sana dalam waktu bersamaan. Wajahmu susah dilupa.”


“Ya! Kau tahu miss Hanna? Terakhir kudengar ia hamil dan dipecat dari panti. Siapa yang sangka coba? Padahal dia orang paling sok suci masalah *3**!”


 “Yeah, no, aku tidak ingat siapa dia karena aku di sana hanya sebentar. Tidak ada yang berkesan.”


“Oh, it’s okay. Kau sudah pindah berapa kali? Aku 10.”


“Mm... 14.”


“Wow, cool!”


Pujian pertama dari seseorang tentang banyaknya jumlah rumah singgahku yang membuatku tersenyum. Aku tak pernah tahu jika sering berpindah-pindah panti asuhan adalah sesuatu hal yang patut dibanggakan. Tapi, memang aku tahu apa?


“Waw! Senyummu manis sekali, mari berteman!” Nina mengangsurkan tangan dengan senyumnya yang manis dan lebar.


Ia lah teman wanita pertama kali yang kupunya, semua mengalir secara alami hingga kami saling bergantung satu sama lain. Aku yang menyaksikannya menemukan papa kandungnya dari sebuah tes kit DNA mandiri dari rumah. Jika aku sama sekali tak ingin tahu siapa kedua orang tuaku, maka beda halnya dengan Nina.


Ia yang semula begitu antusias saat menemukan sang papa, menelan pil pahit saat mengerti sang papa adalah orang yang bernasib tak lebih baik darinya, bahkan hendak memperk*s4nya saat ia mencoba dekat. Aku menemani masa-masa paling suramnya itu.  Menghabiskan beberapa hari duduk termenung di tepi sungai Themes, aku takut ia nekat dan terpikir untuk loncat.


Hingga, undangan pesta dari David yang menyatukan mereka berdua seperti surat dan perangko. Walaupun waktu Nina untukku jadi tersita, tapi aku tak keberatan. Karena sisi baiknya, Nina kembali menjadi pribadi yang ceria seperti yang kukenal.


Hatiku sakit mengingat ini semua, Nina tak pantas mati seperti itu. Jika semua ini selesai, aku akan melarung abunya di sungai Themes seperti permintaannya dulu yang diucapkan sambil bercanda, oh Nina.


Di anak tangga terakhir, aku termenung menunggu Ray.


Bip!


Klakson dari Ray membuyarkan lamunanku, kubenamkan wajah semakin dalam dengan pucuk topi Remi lalu berlari dengan cepat ke arah mobil yang pintunya sudah terbuka. Hup! Aku menghempaskan bok0ngku ke joknya yang empuk.


Tanpa membuang waktu, Ray melaju kencang membelah jalanan London sore menuju senja itu, langsung ke kediaman Langdon. Aku menggigit bibir memikirkan apa yang akan dibicarakan di sana di tengah kemelut yang terjadi. Sementara aku begitu rindu untuk bergelut di ranjang asramaku yang hangat.


Mobil Ray menepi langsung di dalam garasi keluarga Langdon. Menghindari jepretan wartawan di luar pagar yang mengamati kami layaknya predator mengincar mangsa. Di tangan mereka sudah bersiap kamera dengan lensa yang begitu panjang demi mendapatkan kualitas gambar yang baik. Aku tak pernah merasa begitu terekspose seperti ini.


“Hey, Meha. Kita tunggu Remi, jika tidak Leah akan mengulitimu hidup-hidup di dalam, salah ataupun benar.”


“Okay.”


“Kini aku mengerti mengapa Remi begitu tergila-gila padamu Meha, kau memang berbeda dibandingkan gadis-gadis yang pernah dekat dengannya.”


“Apakah itu, pujian?”


“Tentu saja, dia tak pernah bersikap begini pada mereka dulu, kikuk dan malu di depan seorang perempuan. Haha, aku senang punya bahan untuk menggodanya mulai sekarang.”


“Kalian berdua tampak dekat.”


Wajah Ray tiba-tiba sedih seakan mengingat sesuatu, “Well, yeah. Dia yang mengangkatku dari kubangan.” Tak sempat aku menanyakan apa maksud dari perkataannya saat mobil yang Remi kendarai tiba di samping kami.


“Hey, jauhkan mulutmu yang berliur itu dari Meha.”


Bukannya menurut, Ray malah melingkarkan tangannya di pundakku dan mengajak kami masuk bersama-sama, Remi menimpuk kepalanya dari belakang, membuatnya pura-pura mengaduh. Tingkah mereka sungguh konyol dan kekanak-kanakan.


“Well, kenapa kau repot-repot membawa seorang pembunuh ke rumah ini, Remi.”


Leah menatap sinis, di tangannya tak pernah lepas gelas sampanye yang hampir habis.