
Disclaimer! KHUSUS UNTUK 21+++ mengandung adegan brutal dan keji. Jika tetap meneruskan untuk membaca, maka hal-hal yang terjadi efek dari membaca chapter ini bukanlah tanggungjawab author maupun platform.
***
DOR!
Raymond rebah ke tanah diikuti teriakanku yang menggema ke segala arah. Rahang Remi mengeras menahan emosinya tumpah. Siapa sangka, orang yang paling ia percaya berkhianat.
Jika itu orang lain, atau bahkan papanya sekalipun ia maklum, tapi ini Raymond?
“Ray? Bagaimana bisa?”
“Kamu tak papa? Love?” tanya Remi padaku yang masih ternganga, aku menggeleng sebagai jawaban.
Ia merengkuhku ke dalam pelukannya dengan posesif, menyiratkan kekhawatirannya padaku. Ku balas dengan melingkarkan lenganku lembut di lehernya. Oh, betapa rindunya aku pada lelaki ini.
Menangkup wajahnya dengan kedua tanganku, aku memberinya kecupan-kecupan kecil. Yang berhasil membuatnya menggeram.
“Kucing kecil....” suara dalam dan menggetarkan Remi memanggilku dengan julukan kesayangannya di telingaku, membuat kulitku meremang akan gairah. Ia bagai dewa Eros bagiku, memancing hasrat seksual yang tak pernah sadar kumiliki.
Dihirupnya bau tubuhku kuat-kuat, awalnya pelan, lembut, hingga gairahnya menguasai dan mulai semakin berani mendaratkan kecupan-kecupan di leher dan dadaku. Tangannya menyusup ke balik piyama dan mengelus-elus punggungku dengan telapak tangannya yang lebar. Aku benar-benar merasa menjadi kucing kecil. Beruntung aku masih bisa menahan diri untuk tak mengeong dihadapannya.
“Mmmh....” aku sekuat tenaga menahan ******* keluar dengan menggigit bibirku, seluruh tubuhku sudah bergetar.
“Kenapa kau tahan, love? Lepaskanlah, untukku.” Suara serak Remi membuat rasa panas di tubuh ini menyebar, tatapanku padanya mengabut dan ia tahu sekali apa yang kuinginkan jika sudah begini.
Kami berpagutan dengan panas seolah tak ada hari esok.
HONK HONK!!
Suara keras dari boat yang ditambatkan mengejutkanku, sukses memadamkan gairah dan memisahkan adegan panas kami tadi.
“Sh*t!” umpat Remi. “Cam! Kau gila!”
Oh, rupanya itu Camden sepupu Remi dari garis ibu.
Aku ingat ia pernah malu-malu mengatakan perasaan sukanya padaku. Dan sejak saat itu hubungan kami sudah tak sama lagi, ia menjauh mengetahui penolakanku.
Bagiku, ia tak lebih dari sekedar adik.
“Naiklah! Cepat!” Camden berteriak dengan nada kesal.
“Kemana?” aku bertanya pada Remi.
“Kita harus membawamu ke tempat aman dulu. Kaki tangan mereka di mana-mana, bahkan dalam interpol sekalipun, ayo!” Seolah tak berbobot tubuhku diangkat oleh Remi begitu entengnya.
Boat sedikit bergoyang saat tubuh besar Remi menaikinya, dengan lembut aku didudukkan di sofa belakang kemudi. Camden tak mengindahkan kami, kaku menghadap depan.
Aku tak tahu apakah Remi sadar atau tidak dengan perasaan Camden padaku karena aku tak pernah memberitahunya soal itu, aku tak ingin merusak hubungan mereka yang begitu dekat.
“Hai Cam,” sapaku berusaha mencairkan suasana.
“Hai.” Sapanya balik masih enggan menatapku.
“Cam, bantu aku menyingkirkan mayat-mayat itu terlebih dahulu. Kita tak mau menimbulkan kehebohan.” Pesan Remi pada Camden yang mengangguk.
Kuperhatikan punggung mereka berdua yang berlalu ke arah dermaga.
Goyangan kecil air laut menampar boat membuatnya bergoyang-goyang. Aku yang kelelahan dan kurang tidur seolah dininabobokkan, karena setelah itu aku tertidur sangat pulas. Mengetahui jika akan ada dua orang yang menyayangiku yang akan menjagaku.
Aku tak harus berlari lagi.
*
*
*
Enam bulan sebelumnya -
Sore hari awal seluruh rentetan kejadian ini terjadi.
“Meha!” panggil Sera membuyarkan konsentrasiku yang sedang mengetik laporan bulanan. “Hey, autoklaf-nya tidak bisa dibuka.” ia berkata sembari bersender pada kusen pintu.
“Putar tuasnya berlawanan jarum jam.”
“Menurutmu aku akan bertanya jika belum mencoba semua cara? Semua juga tahu kalau kau galak.” Lugas Sera berkata, ia memang blak-blakan. Apalagi ia sudah dua bulan penelitian di labku, memakai autoklaf adalah pekerjaan sehari-hari.
Meninggalkan pekerjaan dengan sedikit enggan aku menuju mesin sterilisasi yang dimaksud Sera.
Tak lupa kuperiksa dulu suhu body mesin, dingin. Artinya sudah aman untuk dibuka.
“Uugh.” Kuputar tuas dengan sekuat tenaga, namun geming. Setelah percobaan ketiga yang gagal. Sera melihatku dengan senyum puas. Aku memutar kedua bola mataku melihat reaksinya yang seolah berkata.
‘Benar kan.’
“Tunggu di sini, aku cari bala bantuan.”
“Okay...”
Aku pergi ke ruang janitor, siapa tahu mereka bisa membantu. Sesampainya di sana, kosong, aku melihat jam tangan, sadar akan kebodohanku. Ini sudah jam pulang pegawai.
Dengan muka cemberut aku kembali ke ruanganku, Berpapasan dengan Remi – Asisten Laboratorium Komputer yang cuek, dingin, dan sok tampan. Kilasan panas kami sebulan lalu di meja laboratorium membayangiku, aku menggeleng menyingkirkan bayangan itu. Kulihat ia membawa kaleng bir dari vending machine.
Sebuah ide muncul di kepala.
“Apa?” suara berat Remi melihatku yang sedang menatapnya dengan pandangan memohon.
“Please, mesin sterilisasiku bermasalah. Tak ada orang lagi yang bisa kumintai tolong.”
Ia melihat sekeliling memastikan kebenaran ucapanku.
“Mana?”
‘Yes!’ sorak hatiku.
Tanpa banyak kata aku mendahuluinya, menunjukkan mesin yang kumaksud. Aku berjalan dengan kikuk, merasa ada pandangan yang memperhatikan caraku berjalan. Tawa kecil bahkan terdengar sampai telingaku. Benarkah? Atau hanya perasaanku saja?
“Hmmph!” Remi mencoba membukanya, hasilnya sama. Dipercobaan ketiga, peluh mengaliri keningnya, dan menyingsingkan lengan baju.
Aku dan Sera bertukar pandang.
“Manual book-nya ada?” pinta Remi.
“Ada, tapi dalam bentuk soft copy, di komputerku.”
“Tunjukkan,”
“Baik, tuan...” gumamku pelan sambil menunjukkan jalan, tawa kecil itu kembali terdengar.
Kali ini aku berbalik ingin memastikan, ia langsung bungkam memasang ekspresi dingin seperti semula.
Aku mengedikkan bahu dan menarik kursi di meja kerjaku. Ia berdiri menjulang di belakangku. File yang kucari ketemu dan menunjukkan padanya file manual book itu. Tubuhnya mendekat saat membaca file tersebut mengikis jarak antara kami, aku terperangkap di kursi. Aku terkesiap memandang pipinya yang hampir menempel padaku.
Wangi parfumnya yang sangat maskulin itu memenuhi rongga hidungku, bahkan dengan jarak sedekat ini aftershave-nya juga tercium. Aku menunggu dengan berdebar-debar, ini pasti karena aku kelelahan bekerja hingga mengaburkan penilaianku.
Dia tak semenarik itu! Bahkan walau dada bidang dan berototnya itu begitu dekatnya hingga aku dapat merasakan detak jantungnya di pundakku yang tiba-tiba menjadi sensitif.
“Meha, aku butuh wrench.”
“Oke, sebentar.” Kubuka laci penyimpanan alat-alat pertukangan yang kupunya, kali ini aku yakin mendengarnya mendengus menahan tawa.
Aku mengirimnya pandangan ‘Apa yang lucu?’ kurang lebih begitu.
“Ini punyamu semua?!”
“Ya. Kau pikir perempuan bisanya cuma pegang spatula?”
“Okay. My bad.” Ia kembali fokus pada masalah utama kami tadi. Sempat ada rasa bersalah karena aku langsung menjawabnya ketus. Tapi, biarkan saja, aku tak ingin ambil pusing.
“Pelumas,” pintanya lagi, kali ini kembali dengan nada dinginnya semula.
Aku mengangsurkan apa yang ia minta. Peluh mengalir dari pelipisnya saat kembali mencoba membuka mesin itu.
Aku ikut kesal, karena siapa orang bodoh yang memakai mesin ini sebelumnya hingga membuat mesin ini tak bisa dibuka! Pasti ia mengisinya melebihi kapasitas sehingga tekanan udara di dalamnya tak normal dan menyebabkan tutupnya macet.
Remi membuka kemejanya yang basah oleh keringat, aku dapat mendengar Sera menelan ludah. Well, tak salah juga, lihatlah otot yang kencang pada tempat-tempat seharusnya itu.
“Tolonglah! Pasang lagi bajumu!” teriakku tanpa sadar, Remi dan Sera memandangku yang terlambat merasa bodoh.
“Kenapa? Apakah itu membuatmu tergoda?” ledek Remi dengan tatapannya yang usil.
“Ti-tidak mungkin! Kau hanya perlu membuka tutup mesin itu, tanpa perlu pamer badan.”
“Well, it’s stuck dan kemejaku basah, menghalangi gerakanku untuk membuka tutup mesin sialanmu ini. Atau kau punya ide yang lebih baik?”
“Tidak. Lanjutkan.”
“Aku tidak bisa diperintah.”
“Lalu?”
“Ucapkanlah kata yang tepat sebagai orang yang membutuhkan bantuan. Karena aku tahu, hanya aku yang bisa membantumu malam ini.”
Sialan, aku terjebak permainannya.
“To-tolong perbaiki mesinku Remi!”
“Kau yakin hanya mesinmu yang butuh diperbaiki?”
‘Mm-maksudnya?’
Pandangan mata Remi jatuh ke buah dadaku, aku langsung menyilangkan tangan melindunginya. Dasar mesum!
“Ayolah Remi, aku serius. Tolong perbaiki mesin autoklaf-ku, please?” kali ini kukeluarkan jurus dalam merayu. Rahang Remi mengeras.
“Katakan itu hanya di depanku saja jika kau tak ingin menjadi korban pelecehan seksual. Tak semua laki-laki memiliki kekuatan iman sepertiku.”
‘Hah? Maksudnya?’ namun demi memenuhi tujuanku, aku mengangguk patuh.
Setelah memoles batang ulirnya, Remi kembali berusaha membuka.
Ceklek!
Bunyi tutup mesinku berhasil dibuka.
“Yeay!” sorakku dan Sera berbarengan dengan gembira.
Ia menyingkir mempersilahkanku untuk memeriksa isinya.
Kubuka lebar tutupnya hingga sepenuhnya terbuka, menampakkan isinya yang tak biasa, seperti yang kuduga jika isinya memang melebihi kapasitas. Namun,
“Apa itu?!” Sera menyuarakan rasa penasaranku. Ya, apa ini? Buntalan kain putih dari kain satin membungkus only God knows.
Remi ikut-ikutan penasaran melihat keheranan kami. Aku mencoba mengangkat buntalan kain itu.
‘Uggh... beraaat...’
Ia dengan sigap membantuku mengangkat buntalan itu.
Sayang, ujungnya tersangkut pinggiran mesin.
Reeek! Suara kain sobek memuntahkan isi di dalamnya yang membuat kami terperangah.
Saat pot*ngan-pot*ngan tubuh yang berwarna keabuan karena sudah direbus matang itu jatuh satu persatu ke lantai, kalian tentu tahu apa yang terjadi pada daging yang telah dipresto. Ya, dagingnya terlepas dari tulang saat mencapai lantai, bergelenyar.
Terakhir, sebagai penutup adalah bagian paling akhir yang paling memberi kesan dramatis. Yaitu pot*ngan k*p*la dengan rambut panjang jatuh tepat di atas tumpukan tadi sebagai topping, menghadap ke atas dengan mata terbelalak. Seperti meleleh, m*ta dan semua bagian muka itu dengan cepat melorot ke samping meninggalkan ker*ngkanya.
PROTT!
Cairan m*tanya meledak mengenai mukaku.
“AAARRGH!!!”
Teriakku sekuat-kuatnya.