
Aku menjauh dari dekapan Remi, tahu sekali jika pertahananku lemah jika sudah menyangkut dada bidang dan aroma tubuh Remi yang menghipnotis. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berpikir macam-macam.
Remi memandangku yang menelan ludah dengan susah payah. Sisi positif dari rasa gugup ini adalah, aku tak lagi menggigil kedinginan karena jantung memompa darah lebih cepat dari biasanya, mengalirkan hangat ke seluruh tubuhku.
“Meha, aku rasa kamu harus berhati-hati mulai sekarang. Jika mereka sampai mengirim detektif untuk membuntutimu artinya ini bukan kasus kecil.”
“ITU, atau aku dicurigai sebagai pembunuh Nina.”
“Apakah kau pelakunya?”
“Apakah semudah itu ditebaknya?” aku bertanya dengan nada sarkas sambil memutar bola mata.
“Hanya untuk memastikan.”
“No. Dan keinginanku untuk mengungkap pembunuh Nina mungkin lebih besar dibandingkan polisi-polisi itu.”
“Kau mencurigai seseorang?”
“Ya. David Brown, dia pacar Nina, hubungan mereka tak sehat, ia sangat kasar.”
Aku dan Remi bertukar pandang.
“Kita dahului mereka?”
Aku mengangguk.
Remi menuntunku ke sisi jalan berbeda, di sana sebuah mobil menunggu dalam kegelapan. Remi membuka pintu penumpang dan mempersilahkanku masuk lebih dulu.
Setelah ia duduk di kursi pengemudi, kami menembus malam menuju apartemen David. Sesekali diliriknya aku yang menggenggam kedua tangan, sedang menahan dingin malam, saat lampu berganti merah, ia membuka sweaternya dan dilemparkannya padaku.
“Thank you, bagaimana denganmu?”
“Aku mahluk berdarah panas, dan jika kau tak segera mengenakan jaket itu, aku tak segan-segan menerkammu.”
Patuh dan tak ingin banyak drama, aku langsung mengenakan sweater pemberian Remi, wangi tubuhnya langsung menyeruak lubang hidungku, hangat yang diberikannya juga. Ah, pikiranku gampang sekali melantur, aku memejam mengutuk diriku yang sekarang lagi-lagi membayangkan sentuhan panas Remi.
‘Fokus Meha, fokuuus ...’ aku merapal dengan mata terpejam.
Tak butuh waktu lama, mobil Remi menepi di area parkir apartemen David. Sama halnya dengan Remi, orang tua David yang kaya mampu memberikannya fasilitas lebih dibanding denganku dan Nina.
‘Harusnya ia tak pernah mengganggu kehidupan kami yang tenang, Nina pasti masih hidup. Bukan, harusnya aku tak pernah meninggalkan Nina malam itu, ini semua salahku. Akan kutebus kesalahanku itu dengan mencari pembunuh Nina.’ Begitu tekadku.
‘Aku sendiri yang akan menendang b*kong David jika memang ia yang melakukan kekejaman ini padamu!’
Remi membuka pintu mobil dan kami pun turun. Menatap ke kiri dan ke kanan, menghindari penguntit.
“Kamu yakin dia tak ikut dibawa ke kantor polisi?”
“Yakin, keluarganya lawyer, polisi akan berhati-hati meringkus David, mereka harus meminta surat perintah penangkapan terlebih dahulu. Harus melewati prosedur.”
“Okay, unitnya nomor berapa?”
“Seingatku di top, lantai paling atas, dia tinggal di penthouse.”
“Fiuuh ...” Remi geleng kepala. Buat apa? Seolah dia tahu sekali tentang nilai uang. Dia sendiri hidup di mansion!
“So, kau pernah kesini?”
“Yeah, sophomore. Dia, mengajakku party, dan aku membawa Nina. Disanalah mereka bertemu pertama kalinya. Aku menyesal mengenalkannya pada Nina waktu itu.”
“Hey, jangan salahkan dirimu. Nina sudah dewasa, keputusannya bukan tanggung jawabmu.”
“Aku tahu,”
“Lalu untuk apa kamu menarik napas panjang sedari tadi?”
Aku mengedikkan bahu dan kali ini berusaha untuk bernapas normal, cukup efektif karena kini pikiranku sibuk menghitung jeda antar napas, tak lagi memikirkan Nina.
“Sekarang permasalahannya, bagaimana kita naik ke lantai paling atas itu? Kita tak punya akses,”
“Tenang, David terlalu bodoh untuk memberikan akses ke apartemennya pada hampir setiap orang yang ia temui,”
“Astaga.”
“Ya, si bodoh kaya.”
Di depan pintu lift, aku memencet serangkaian nomor yang kuhapal di luar kepala. Maksudku, ayolah siapa yang tidak akan ingat jika nomor sandinya adalah 123456? Si bodoh itu berkilah jika ia yang sering pulang dalam keadaan mabuk itu tak ingin menggelosor di depan lift hanya karena tak bisa mengingat kode aksesnya sendiri.
Ding!
Suara pintu lift terbuka, tak ada orang di dalamnya, aku melirik jam di tanganku yang menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Remi masuk lebih dulu dan aku mengekor di belakangnya. Kutekan tombol lantai menuju apartemen David, 1 menit kemudian.
Ding!
Pintu lift terbuka tepat di ruangan apartemen David. Karena tinggal di penthouse, ia memang memiliki akses langsung dari lift sendiri. Saat pintu itu terbuka, kami melihat bagaimana kacaunya seluruh ruangan David.
“Wow, kuduga pestanya berlangsung liar dan panas.”
“Ya, mm ... tidak, lihatlah, ada ceceran darah Remi. Hellooo? David? Ini aku Meha.”
Bau menyengat menusuk hidungku membuat perutku mual. Reflek aku menutup hidung, kulirik Remi di sampingku yang juga melakukan hal sama. Saat kakiku hendak melangkah lebih jauh, Remi menahan tubuhku.
“Firasatku buruk, Meha. Usahakan untuk tidak menyentuh apapun jika tak ingin sidik jarimu menjadi barang bukti yang memberatkanmu nantinya.”
“Tapi, aku memencet tombol lift tadi,”
“Tak papa, dalam lift ada CCTV yang akan menguatkan alibimu.”
“Oke, mari jangan berasumsi yang buruk dulu, kita pastikan apakah sumber bau ini dari apa yang kita duga. Sebentar, aku tak tahan. Hoeeek!”
Mual, aku berlari ke arah jendela dan membukanya, mencari udara segar karena ruangan ini pekat oleh bau busuk tadi.
Sweater Remi kujadikan sebagai penghalau bau, lumayan bau busuk itu sedikit tersamar oleh bau maskulin dari Remi. Remi sudah berjalan mendahuluiku ke arah sumber bau yang berada di kamar mandi kamar David.
Saat aku hendak masuk, Remi menahan tubuhku. Ia menjulang menutupi pandanganku.
“Remi, aku mau lihat! Menyingkir!”
“Ini, bukan untuk dilihat olehmu, Meha. Terlalu mengerikan.”
“Oke, kini kau malah semakin membuatku penasaran, menyingkir sedikit, biar aku mengintip.”
Remi menggeser badannya miring sedikit, saat itulah aku melihat pemandangan yang sangat mengerikan, jauh lebih mengerikan dari kondisi Nina. Seluruh tembok dipenuhi darah hingga ke langit-langit, organ tubuh yang muncrat kemana-mana.
Di tengah-tengah ruangan, berdiri tegak dengan begitu ganjil sepasang kaki yang terpotong tak beraturan persis dari mata kaki.
Sebelum mataku mengabur dan panas, aku melihat cat kuku di jari jemari kaki itu. Otakku memutar kilasan peristiwa satu minggu lalu.
Para gadis sibuk membicarakan pesta yang akan diadakan oleh David, kali ini David membual jika yang datang adalah orang besar. Orang terkenal, begitu selorohnya dan memerintahkan para gadis untuk berdandan mencolok.
Dalam obrolan mereka sibuk mengira-ngira siapa orang terkenal yang David maksud, karena David yang tukang bual itu tumben-tumbennya sok misterius tak memberitahukan siapa kenalan baru pentingnya itu.
Layaknya Cinderella yang mengharapkan pangeran tampan akhirnya memperhatikan mereka, para gadis berlomba-lomba untuk tampil mencolok. Itinerary perburuan baju mereka tak jauh-jauh dari Frockney ataupun Boxpark.
Aku hanya mendengarkan saja saat para mahasiswi penelitianku sibuk mengoceh. “Hey, hey. Pastikan kau memakai masker jika tak ingin isolatmu kontam. DAN, pelankan suara kalian, aku sedang berusaha untuk konsentrasi di sini.” Aku mengingatkan.
“Ups, my bad. Hey Meha, apakah kau sudah membeli baju? Kau bisa ikut kami nanti jika belum. Ada salon yang chic dengan harga miring kenalanku, aku akan merekomendasikanmu agar kau mendapat diskon. Jika kau mau.” Ajak Alice, gadis blonde cantik dengan freckles di area T wajahnya.
“No, aku harus uji produksi akhir minggu ini. Kalian bersenang-senanglah tanpa aku.”
“My gosh Meha, kau harus lebih sering berpesta agar menghilangkan kesan pouty mouth-mu itu.”
“This is posh! Setidaknya aku tak perlu repot perawatan untuk menghilangkan kerutan nantinya.”
“Baiklah, ruginya di kamu jika menolak tawaran menggiurkan dariku. Aku juga akan mengajak Nina. Jangan menyesal besok ya!”
“Ya, ya, ya. Agarmu sudah mencair.” Tunjukku dengan ekor mata pada cawan petri di genggamannya yang sedari tadi dipanaskan di bunsen, medium agar di dalamnya sudah meleleh karena terlalu panas.
“Sh*t! Aku harus membuat ulang karena kemarin bikin ngepas, hiks.”
“No Alice! Kau bisa menunggunya memadat kembali.” Sera menimpali.
“Oh ya! Mending begitu saja.”
Aku menggeleng-geleng kepala pada tingkah mereka.
Esoknya, mereka datang dengan ceria, pamer penampilan baru mereka yang habis perawatan di salon yang Alice maksud. Berseloroh tentang cat kuku produk mereka yang limited edition, belum tersebar di pasaran. Warna dengan hint biru metalik satu-satunya.
Ketiga gadis itu menunjukkannya padaku dengan bangga, mereka memilih warna yang berbeda-beda. Nina pink yang sangat muda, cocok dengan kepribadiannya, Sera hijau lumut, dan Alice memilih warna ungu, semua dengan hint biru metalik yang cantik.
Kini sepasang kaki sisa pemiliknya dengan kuku warna ungu metalik itu akan membayangi sepanjang hidupku.