
Kara yang melihat itu merasa cemburu dan sangat marah sehingga dia menekan kuat luka Alan. "Kalau gak iklas gak usah di obatin," kata Alan memegang tangan Kara dan menepisnya.
Kara bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan kantin dengan menghentak hentakkan kakinya. "Sialan banget tuh si murid baru. Dia udah berani dekat dekat sama si Zee," ucapnya setelah tiba di taman belakang.
"Lo sih udah jadian sama si Zee masih aja dekat sama si Alan. Itu namanya pengkhianat," Ketus Cheng Zui.
"Apa, lo bilang gue pengkhianat. Lo yang pengkhianat, lo suka kan sama Zee?" Tanya Kara.
"Kalau iya kenapa?, gue suka tapi gue gak rebut dari lo. Lo juga pengkhianat. Lo udah tau Novi suka sama Alan tapi lo malah ciuman dengan Alan di depannya."
"Tau nih, yang pengkhianat di sini itu lo bukan kita," Ketus Rita. "Ooo jadi lo belain dia, yaudah kalau gitu kita end. Kalian itu musuh dalam selimut tau gak?" Ucap Kara dengan marah dan langsung pergi diikuti oleh Della sendiri.
"Lo yang musuh dalam selimut bukan kita anjing!" Teriak Novi.
_
"Udah," kata Dien memberesi kotak P3K yang dipakainya. "Makasih," kata Zee dengan nada dingin sambil menatap lekat mata Dien. "Sama-sama," jawab Dien dengan tersenyum manis.
"Dien, lo di panggil pak Andi ke ruangannya," panggil seorang gadis yang datang menghampiri mereka. "Pak Andi itu siapa?" Tanya Dien kepada Mutiara.
"Lo cepat yah!" Ujar gadis yang memanggilnya tadi dan pergi begitu saja setelah Dien mengangguk walaupun dia tidak mengerti siapa dan dimana ruangan pak Andi.
"Pak Andi itu guru olahraga kita, bapak itu termasuk guru paling killllllll di sekolah ini. Ruangannya di sebelah ruangan bapak kepala sekolah. Nanti juga ada namanya di depan pintu."
"Tapi ada apa yah, biasanya sih pak Andi itu kalau manggil itu berarti ada masalah. Apa jangan-jangan lo buat masalah lagi?, haaaaaaaah mampus lo," kata Dara menakuti Dien
"Iya tuh biasanya dia kan manggil anak cowok. Cuman lo tuh cewe yang udah di panggil pak Andi," saut Yobela juga menakuti Dien.
"Udah tuh, lo sana!, nanti lo makin di hukum lagi," ucap Mutiara mulai mendorong Dien. Dengan takut, Dien berjalan menuju ke ruangan Pak Andi.
Dien menuruni tangga dengan cepat karena takut kena amukan sama guru yang di cap dengan guru killer di sekolah itu. Setibanya di depan ruangan yang tertulis 'RUANGAN P. ANDI'.
Dien menarik nafas panjang perlahan dia hembuskan. Tari lagi.......hembuskan..... huffft. Dien mengetuk pintu beberapa kali.
"Masuk!" Ujar seseorang dari balik pintu dengan suara bariton. Dien memasuki ruangan itu dengan tangan yang saling berpaut dan kepala sedikit menunduk karena merasa takut
"Kamu Dien?, murid baru?" Tanya pak Andi yang kisaran usianya tigapuluh lima tahun itu menatap Dien. "Iya pak saya Dien, saya murid baru," jawabnya dengan masih menunduk.
"Kamu pernah dapat juara saat olimpiade?" Tanya guru itu. Bagaimana bapak ini bisa tau?, apa jangan-jangan.....
"Kenapa bengong?, jawab!" Gertak guru itu
"Iya pak, saya pernah juara olimpiade tapi itu udah lama pak saat saya masih SD,"
"Apa kamu mengenal saya?" Tanyanya lagi
Sedikit... Dien mengenalnya sedikit. Itupun hanya yang diberitahukan oleh teman-temannya tentang kekilleran guru itu. Dien menggeleng mengartikan dia tidak mengenalnya.
"Saya guru olahraga kelas kalian. Saya ingin kamu yang menjadi murid kepercayaan saya,"
Dien membulatkan matanya. Bagaimana bapak ini bisa mempercayai Dien, dia saja tidak mengenal bapak itu. Aneh!
"Kamu belum memiliki seragam olahraga kan?" Tanya guru itu. Lagi-lagi Dien mengangguk karena dia tidak perlu heran karena stok seragam olahraga sekolah ini masih kosong.
"Nanti bapak akan masuk ke kelas kalian. Tiga menit lagi akan masuk, kamu bapak kasih tugas untuk menulis semua nama pemain tim basket putra-putri sekolah kita!" Titah guru itu
_
Dien berjalan di koridor sekolah menuju lapangan bola basket karena disanalah dia bisa mengetahui anggota pemain bola basket.
"Aaaa!" Dien menjerit karena seseorang menarik rambutnya dari belakang.
"Lo kenapa dekat-dekat sama Zee?, lo tau kan dia itu pacar gue?" Tanya.....
"Lo kenapa dekat-dekat sama Zee?, lo tau kan dia itu pacar gue?" Tanya Kara. Ya, Kara lah yang menjambak rambut Dien dari belakang.
"Aku gak dekat-dekat sama Zee, aku mohon lepasin!" Ujarnya dengan meringis kesakitan karena Kara menjambak rambutnya sangat kuat.
"Lo kira kita bakal percaya," ucap Della yang ikut menjambak Dien. "Aww sakit, aku mohon lepasin!"
"Ini balasan buat lo karena udah dekat-dekat sama Zee. Lo pikir lo itu siapa hah?" Della maju ke depan Dien.
Plak. Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya Dien. "Lo itu jangan jadi pelacur. Sok polos lo," kata Della dengan suara mengeras.
"Hentikan!" Suara melengking menarik perhatian mereka. "Awww, lo kok dorong gue sih Dien?" Tanya Kara menjatuhkan dirinya sendiri yang melihat Leo mendekat kepada mereka.
"Lo kok jahat banget sih Dien. Lo kenapa dorong Kara?" Ucap Della penuh dramatis sambil membantu Kara untuk berdiri. "Lo iri kan sama Kara karena dia pacaran sama Zee,"
"Lo semua kenapa terus membully orang?, gak capek hah?" Tanya Leo. "Bukan gitu Leo, kami itu diganggu sama dia. Salahnya dia juga udah dekat-dekat sama Zee," jawab Della.
"Tapi kan aku masih sayang sama Zee."
"Pergi!!!" Ujar Leo
"Leo percaya sama kita,"
"Pergi!"
_
"Nih lo minum dulu!" Ujar Leo memberikan sebotol air minuman mineral kepada Dien yang sudah duduk di pinggir lapangan dan di terima baik olehnya.
"Lo gak papa kan?"
"Iya aku gak papa. Makasih yah udah bantuin aku," jawab Dien dengan tersenyum manis.
"Lo kenapa gak bareng sama teman-teman lo? "
"Eh... itu, aku disuruh sama pak Andi buat nulis nama-nama anggota tim basket putra-putri karena aku belum punya seragam, kamu tau gak siapa aja yang menjadi anggota tim basket?" Tanyanya dengan wajah memelas
Melihat itu, Leo tersenyum karena tingkah lucu Dien. "Gue hanya tau anggota basket putra saja kalau soal putri gue gak tau."
"Oh gak papa."
"Kalau putra ketuanya Zee, anggotanya gue, Samuel, Jastin, dan Riyan. Cadangannya---" ucapannya terpotong
--emang harus punya cadangan yah?" Tanya Dien yang langsung memotong perkataan Leo
Leo tertawa. "Iya, lima pemain dan lima cadangan. Cadangannya Alan, Bili, Renald, Lorenz dan Kenneth."
"Makasih," ucap Dien dengan tersenyum.
"Berarti lo gak akan ikut latihan basket nanti," ucap Leo
"Iya, stok seragam sekolah kita udah habis, jadi aku harus nunggu sampe lusa."
"Lo gak usah sedih. Kapan-kapan gue akan ajarin lo main basket, soalnya latihan basket sangat penting dalam pelajaran olahraga."
"Benarkah?, kamu gak bohong kan?" Leo pun mengangguk. "Aaaa...maksih yah," kata Dien dengan sangat senang. Leo pun tersenyum untuk beberapa kalinya melihat Dien yang merasa senang.
Suara bel masuk berbunyi. "Aduh mampus, aku belum nulis nama anggota tim basket putri lagi. Aku pergi dulu yah, buat nulis," kata Dien berdiri dan lari
"Lo boleh nanya si Nadin, dia ketua tim basket putri," teriak Leo
"Ohhh...makasih infonya. Bye..!" Ujar Dien berlari sambil melambaikan tangannya.
_
Dien berkeliling di sepanjang koridor untuk mencari Nadin. Nadin adalah teman satu kelasnya tapi ketika Dien memeriksa ke kelas, dia tidak melihat Nadin di sana.
Dien merasa lelah, dia memutuskan untuk pergi ke lapangan mencari keberadaan Nadin. Dia melihat Nadin duduk di kursi yang sudah tersedia untuk menonton basket. Dilapangan juga semua murid kelas XI IPA B sudah berbaris dengan seragam olahraga yang melekat pada setiap masing-masing.
Sekolah Labschool Kebayoran adalah sekolah elit jadi semua harus mematuhi peraturan. Jika disuruh menggunakan seragam olahraga saat jam pelajaran olahraga maka harus di lakukan.
Kadang guru-guru di sekolah itu juga selalu jengah bertanya kepada murid-muridnya. Jika guru olahraga bertanya 'dimana seragam olahragamu?' Maka bermacam-macam jawaban akan di dengar guru itu.
'Tinggal pak.'
'Basah pak'
'Belum kering pak'
'Gak ku bawa pak'
'Lupa pak'
'Gak ku ingat pak'
'Belum di cuci pak'
Semua murid-murid yang tidak menggunakan seragam olahraga maka siap-siap untuk mendapatkan hukuman. Kecuali untuk anak perempuan yang lagi mengalami kedatangan...
THANKS FOR READING
2022