ZEEDIEN

ZEEDIEN
06_ZEEDIEN



Dien mengerutkan keningnya karena Zee dan teman-temannya itu tidaklah orang yang bodoh karena mereka bisa mengerjakan soal yang diberikannya. Bahkan mereka mengerjakan dengan sangat cepat.


Dien membereskan semua barang-barangnya setelah jam menunjukkan pukul empat sore.


Sebelum Dien keluar dari mansion itu, Zee sudah terlebih dahulu menyambar jaket dan kunci motornya yang tergeletak di meja. Semua teman-temannya merasa heran kepada Zee, karena sebelumnya Zee belum pernah mau mengantarkan cewe bahkan Kara pacarnya sendiri


"Biar gue antar!" Ujarnya berjalan keluar. Dien mengejarnya untuk menolak antaran Zee tapi dia malah diabaikan oleh Zee


Setibanya di luar mansion, Zee sudah duduk di atas motornya.


"Naik!" Ujarnya seraya menyodorkan helm kepada Dien


Zee terus menyodorkan helm namun tak kunjung di terima oleh Dien. "Tangan gue pegal, lo mau tanggung jawab?" Dien menggelengkan cepat.


"Yaudah terima aja, apa susahnya sih?" Tanya Zee dengan sedikit menaikkan nada suaranya karena merasa kesal diabaikan oleh Dien


Dien menerimanya dan yang membuat Zee heran yaitu Dien meletakkan helm itu lagi di teras mansionnya.


"Aku jalan aja," kata Dien yang berjalan meninggalkan Zee yang masih duduk di motornya


"Woi, Katie tungguin," kata Zee yang kesal. Dia mengumpat dan turun dari motornya lalu mengejar Dien yang sudah hampir jauh.


Setelah mereka sudah sejajar. Zee terus memperhatikan Dien yang masih setia berjalan tanpa memperdulikannya.


"Katie bodoh!" Ujar Zee berjalan santai di samping Dien.


Mendengar itu membuat Dien menoleh ke Zee. "Nama aku itu Dien, buka Katie," ucapnya kesal namun tak dihiraukan Zee


Mereka berjalan hampir sejauh dua kilometer  meter menuju rumah Dien.


Dien duduk di halte karena merasa lelah, Zee yang melihatnya pun duduk di sebelah Dien.


Zee memperhatikan Dien. Dia merasa Dien sangat bodoh walaupun memiliki paras yang cantik tapi sayangnya dia bodoh. Seharusnya tadi dia menerima penawaran Zee untuk mengantarkannya bukan malah memilih untuk berjalan sejauh ini.


"Lo bodoh banget ya?" Tanya Zee kesal. Dien melirik nya Dengan mata malas. Seharusnya kan Zee tidak mengikutinya. "Seharusnya kamu gak ikutin aku, kamu yang bodoh, bukannya kamu Zee si pemburu liar yang gak mau antarin pulang cewek yah?, bahkan itu sepupu atau pacar kamu," kata Dien


"Oke!, gue pergi," kata Zee yang berdiri dan pergi meninggalkan Dien. Dien melihat ada beberapa pemuda yang berkumpul di depan sana. Dia merasa takut, apalagi dia tidak mengenal orang-orang itu.


"Tunggu tunggu, yah masa gitu sih?, aku minta maaf deh," katanya menarik tangan Zee yang masih tidak jauh. "Anterin aku sampai lewat mereka yah!" Ujar Dien menunjuk kepada orang-orang yang berkumpul itu. Zee tersenyum tipis dan berjalan mendahului Dien.


Mereka melewati para pemuda yang berkumpul tadi dengan Dien yang berjalan dengan sedikit takut. Para pemuda itu menatap Dien dengan tatapan aneh sehingga Zee merasa kesal. Para pemuda itu tidak menatap Dien lagi ketika Zee menatap mereka dengan tatapan tajam.


Setelah tiba di depan gerbang mansion Dien, Zee langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah dua kata, bahkan ucapan trima kasih Dien tidak di jawab.


Dien terus memperhatikan kepergian Zee hingga tidak terlihat lagi setelah itu dia memasuki mansionnya. Sepertinya ayah dan ibunya belum pulang dari kerja.


-


"AAA!!!" Teriak Dien yang melijat jam wekernya menunjukkan pukul 6. 45. Dengan cepat Dien menyibakkan selimutnya dan menguncir rambutnya asal seraya berlari ke kamar mandi.


Untuk kedua kalinya, Dien melompat lompat untuk memakai sepatunya dan berlari menuruni tangga sambil meyandang ransel hijaunya. Dia berpamitan kepada ayah dan ibunya tanpa sarapan terlebih dahulu.


"Taxi!" Ujarnya pada sebuah taxi yang sedang lewat di depan mansionnya. Dien pun memasuki taxi itu setelah berhenti tepat di hadapannya. "Mau kemana neng?" Nanya supir taxi itu. "Ke sekolah Labschool Kebayoran pak," jawab Dien. Mobil pun melaju menuju tempat yang di sarankan Dien.


Sial!, ini adalah hari sial bagi Dien. Sudah bangun kesiangan dan macet juga harus membuatnya merutuki nasibnya


"Pak aku turun di sini aja," kata Dien yang turun dan memberikan beberapa uang kepada sang supir dan berlari sekencang mungkin. "Makasih neng!" Ujar supir itu namun tak di jawab oleh Dien lagi karena sudah berlari jauh.


Terlambat adalah salah satu kata hal yang sangat di benci oleh Dien setelah kata macet dan menunggu. Mungkin kata terlambat bagi murid lain sudah biasa, namun Dien yang berstatus sebagai murid baru dan masih hari ini adalah hari ketiga baginya dan sudah langsung terlambat pasti akan mendapat masalah yang besar. Pasti setelah ini dia akan berhadapan dengan guru BK, apalagi Dien yang termasuk siswi yang menyandang sebagai nerd girl karena ketika dia duduk di kursi SD dia selalu menang dalam perlombaan olimpiade.


Dalam sekejap dia akan di cap sebagai Chaos maker di sekolah barunya itu sampai lulus sekolah, satu setengah tahun lagi.


"Mampus aku," Ujarnya menepuk jidatnya saat melihat guru sedang mengawasi di depan gerbang. Bahkan guru itu sudah melihatnya. "Cepat!" Ujar guru ketika melihat Dien yang berhenti seraya memperhatikannya. Dien pun berlari menuju guru itu.


"Kalian berdua kenapa terlambat?" Tanya guru itu membuat Dien mengerutkan keningnya. Dia menoleh kebelakang nya, matanya membola saat melihat Zee dengan baju yang keluar dari blusnya, dua kancing bagian atasnya terbuka, rambut yang acak acakan dan aroma mulutnya yang sangat tidak di sukai Dien yaitu aroma rokok walaupun begitu, Dien terpana pada penampilan Zee yang begitu berantakan


"Kamu Zee dari mana aja?" Tanya Guru itu. "Apa hukuman untuk saya bu?" Tanya Zee karena ujung-ujungnya pasti akan di hukum juga walau sudah banyak tanya dan ceramah.


"Kalian berdua hormat bendera sekarang!" Titah guru itu. Zee berjalan pertama diikuti Dien menuju tiang bendera. Mungkin kali ini Dien bisa lega karena semua murid sedang baris di aula.


Keringat mulai memenuhi pelipis Dien karena terik matahari yang begitu panas, di tambah lagi dengan dia yang belum sarapan pagi. Zee yang melihat itu langsung menutupi pancaran sinar matahari yang mengenai wajah Dien dengan berdiri tepat di depan sedikit dari Dien.


Dien yang melihat itu tersenyum manis bahkan Zee pun tersenyum membuat kadar ketampanannya bertambah.


'Wah, bukannya itu Zee yah?'


'Zee calon imam gue'


'Iya itu Zee sama murid baru lagi '


'Dia terlambat yah'


'Masa bebep gue di hukum , gue aja deh gantiin nanti Zee nya jadi hitam'


'Kalau tau gini gue juga tadi akan terlambat datangnya'


'Beruntung banget tuh cewe'


'Besok gue mau terlambat ahh'


Semua heran melihat Zee yang terlambat, pasalnya Zee tidak pernah di hukum dalam sejarah kalau terlambat. Mereka tau jika Zee terlambat maka dia akan lewat dari gerbang belakang bersama teman-temannya.


Banyak ocean dari para siswi yang baru saja keluar dari aula karena baris berbaris sudah selesai. Mendengar itu membuat Zee merasa muak dan malas. Berbeda dengan Dien yang merasa malu karena dia hukum.


_


Tok.tok.tok.tok.


Pintu ruangan kelas XII IPA 2 di ketok oleh Dien. Ketepatan guru lainnya juga sedang mengajar disana.


"Permisi bu," kata Dien dengan sedikit takut. "Kalian dari mana?" Semua menatap Dien dan Zee dengan tatapan penasaran dan tatapan benci dari Kara bersama temannya.


"Kami terlambat bu," kata Dien dengan gugup. "Yaudah kalian masuk!" Ujar guru itu mempersilakan mereka untuk masuk. Zee berjalan menuju kursinya yang di tempati Dien sebelumnya. Dan Dien melihat hanya ada satu kursi lagi yang kosong yaitu kursi yang di sebelah Zee. Mutiara sudah duduk bersama dengan Yobela sedangkan Dara duduk dengan Leo.


"Baiklah anak-anak, hari ini kita akan ulangan harian. Tidak ada yang boleh menyontek. Jika saya tau ada yang menyontek maka lihat hukuman dari saya," kata guru itu membuat semua murid yang berada di kelas itu merasa merinding. Dien dengan rasa terpaksa dan enggan duduk di kursi di sebelah Zee.


"Yah kok tiba-tiba sih bu?, kita kan belum belajar," kata si Dion ketua kelas. "Iya bu, aku juga belum belajar," kata murid lainnya. "Gak ada bantahan....