
TINGGALKAN JEJAKMU GUESS
...Only with the sufferings of life can teach the people for give respect about goodness and the attractive of life ...
^^^Dien Xuyin ^^^
Sungguh teman-temannya ini sangat kepo bahkan laki-laki lebih kepo dibandingkan dengan perempuan. Itulah salah satu kelebihan dari kelas itu.
Kelebihan lainnya dari kelas IPA XI-B adalah kelas yang paling ribut di sekolah ini, kelas dengan murid yang terus bolos dan kelas yang tidak pernah mengharumkan nama baik sekolah. Di kelas inilah murid-murid yang memiliki geng paling besar di Jakarta.
"Gue harap, murid baru itu di kelas ini Yah, trus kita bisa ajak dia masuk ke tim kita deh," kata Yobela
"Iya daripada dia di tim si Kara si cabe-cabean," kata si Mutiara
Tak lama kemudian seorang guru memasuki kelas itu dengan gadis yang membuntutinya dari belakang. Gadis cantik dengan rambut sebahu bergelombang terurai dan kacamata merah yang melekat di hidungnya dan seragam yang berbeda dari mereka
"Itu tuh murid barunya, cantik pisan atuh," ujar seorang cowok yang duduk di belakang
"Neng gelis ai."
"Ini nih calon istri gue."
"Ini tuh gak cantik, tapi gak bisa di deskripsi kan lagi."
"Namanya siapa cantik."
"Oh ini tu tetangga gue yang baru pindah."
"Ini tuh gadis yang masuk ke mimpi gue, berarti dia calon istri gue."
Seketika kelas yang tidak terlalu ribut dalam hitungan detik menjadi sangat ricuh
"Baiklah anak-anak semuanya diam, hari ini kita kedatangan murid baru, sekarang kamu perkenalkan namamu nak!" Ujar guru itu
Dien memberikan senyuman manisnya. "Perkenalkan nama saya Dien Xuyin, saya pindahan dari Cina. Saya harap kita bisa menjadi teman yang baik," Katanya dengan kedua tangan yang berada di depan paha yang saling berpegangan erat
"Yah bisa lah, asalkan sama gue."
"Neng gelis, mundur dikit atuh cantiknya kelewatan," kata Ketua kelas
"Huuuu!!!" Ujar seisi kelas
"Dien nama gue Sandro. Biasa dipanggil dengan An, San, Andro dan Dro. Kalau lo boleh panggil baby atau sayang juga gak papa," ucap cowo paling playboy di kelas itu
Guru itu geleng geleng melihat tingkah semua murid-muridnya
"Dien id Line nya apa?"
"Nomor WA nya aja."
"Akun Istagramnya apa?"
"Dien lo tau gak apa perbedaan Jakarta dan Kamu?" Tanya seorang cowo yang duduk di pojok belakang kiri
"Jakarta itu ibukota negara kalau kamu itu ibu dari anak-anakku."
"Eaa!!!" Teriak semua orang yang berada di kelas itu kecuali guru itu
"Itu tuh salah. Dien lo tau gak apa persamaan bedak beby dan kamu?, jawabnya adalah sama-sama my baby," Ujar cowok lain
"Sudah sudah anak-anak, sekarang Dien kamu duduk di kursi Zee untuk sementara. Kursi Zee berada di dekat Mutiara. Mutiara angkat tanganmu!"
Mutiara mengangkat tangannya. Dien pun datang ke kursi kedua di depan barisan paling pinggir.
"Kamu yang tadi antar aku kan ke ruang kepala sekolah?"
"Iya, nama gue Mutiara, itu yang di kiri kita namanya Yobela dan di sebelahnya namanya Dara. Semoga kita dapat jadi teman baik Yah." Dien tersenyum menanggapi ucapan Mutiara
"Dara?" Mutiara pun mengangguk
Yobela dan Dara juga tersenyum kepadanya. Dien pun duduk di kursi Zee.
Tak lama kemudian guru itu mulai menjelaskan pelajaran.
Tik.tak.tik.tak.tik.tak.tik
suara jam yang terus berdetak. Tanpa disadari jam belajar pertama pun sudah berlalu. Semua murid keluar buru-buru mengikuti guru yang baru saja keluar. Itu sudah menjadi kebiasaan karena mereka buru-buru untuk mengambil meja di kantin keburu penuh
Dien memasukkan semua peralatan belajarnya ke dalam tas.
"Kita ke kantin yuk!" Ajak Yobela yang sudah berdiri
Dara langsung berdiri dan mendekat kepada Dien lalu merangkul lengan Dien
"Ayo!" Ujarnya antusias
"Iya gue Dara, Dara Ferdinand. Kenapa?"
"Kamu gak kenal aku?, aku teman kamu saat kita masih duduk di kursi sekolah dasar."
Mutiara dan Yobela merasa heran
Dara mengetuk ngetuk dagunya menggunakan jarinya. "Mmm......oh....lo itu Dien si pintar abis toh?" Tanya dengan terkejut. Dien hanya mengangguk
"Ya ampun Dien gue kangen bat sama lo, lo apa kabar?"
"Seperti yang kamu lihat."
"Kalian kenal?" Tanya Mutiara
"Dien itu sahabat gue saat SD." Jawab Dara
"Bagus dong kita jadi tambah kompak," kata Mutiara tersenyum
"Iya Dien, lo itu cocok bergabung di geng JOMHAP. Karena apa?, ya karena lo cantik kita juga cantik. Lo baik kita juga baik. Daripada lo harus masuk tuh sama geng Bitches. Ahh...gue mah ogah," ucap Yobela dengan merinding merasa jijik.
"Yab. Benar sekali," kata Mutiara
"JOMHAP itu apa?" Tanya Dien dengan polos
"JOMHAP itu adalaa," kata Mutiara dengan menjedanya sebentar
"JOMBLO HAPPY...!!!" Kata Yobela, Dara dan Mutiara secara bersamaan. Dien hanya mengangguk merasa lucu
"Yaudah kita ke kantin yuk!, gue lapar soalnya belum sarapan," kata Yobela menarik tangan mereka keluar dari kelas
Kantin sudah ramai dengan murid-murid SMA Labschool Kebayoran. Mutiara dan teman-temannya masih berdiri di pintu masuk kantin memperhatikan para siswa maupun siswi yang berlalu lalang dengan makanan di tangan mereka masing-masing.
Anehnya, meja semuanya sudah hampir penuh hanya ada empat meja lagi yang sisah dan yang berada di pojok sudut kanan dan pojok sudut kiri, itupun dua meja itu sudah di beri tanda x berwarna merah dan hitam. Satu lagi berada di tengah-tengah kantin. Dan satunya lagi berada di antara meja yang di sudut pojok kanan dan sudut pojok kiri, lebih tepatnya di belakang meja yang di tengah-tengah.
Mutiara menarik Dien menuju meja yang berada di tengah-tengah itu. Mereka duduk dengan santai disana.
"Lo semua mau pesan apa?, biar gue pesanin," kata Yobela yang masih berdiri
"Disini makanan paling pop itu apa?" Tanya Dien
"Disini makanan paling enak dan pop itu bakso kang mamat. Rasa baksonya parah banget. Satu mangkuk gak akan cukup deh," kata Mutiara
"Yaudah pesan bakso aja, semuanya pedas," kata Yobela dan pergi meninggalkan meja mereka
"Kenapa mereka harus duduk di lantai?, itu meja masih kosong," kata Dien yang melihat para laki-laki yang duduk di lantai
"Lo kira bisa sembarangan orang duduk di situ?" Tanya Dara
"Emang gak boleh yah?"
"Gak. Itu meja yang di sudut yang di beri tanda x berwarna merah, itu meja geng Redfire. Salah satu geng paling ditakuti di sekolah ini, bahkan di Jakarta.
Itu yang di sudut yang di beri tanda x berwarna hitam. Itu meja geng Destroy. Geng yang paling besar di sekolah bahkan di Jakarta. Geng paling ditakuti di jakarta. Geng pembawa onar paling sering di sekolah.
Saran gue, lo jangan dekat-dekat dengan salah satu dari mereka atau lo akan punya masalah besar.
Dan ini meja yang di belakang kita, itu meja para cabe-cabean. Masyarakat sekolah menyebutnya geng Bitches. Geng biduan sekolah," jelas Mutiara panjang lebar
"Yuuhuu makanan, makanan nih!" Ujar Yobela yang datang membawa makanan dan meletakkannya di depan mereka masing-masing
Dien memperhatikan bakso yang di depannya. Dia melihat ketiga temannya menuangkan saos banyak ke mangkuk mereka masing-masing, bahkan bakso mereka sudah memerah.
Dien juga mencoba untuk melakukan apa yang di lakukan temannya. Dia menuangkan saos pada mangkuk nya tapi tidak terlalu banyak
Tak lama kemudian geng Bitches memasuki kantin dari pintu khusus untuk geng Fire dan Destroy. Yah mereka berani masuk karena itu adalah jalan khusus untuk pacar dari pemimpin geng Bitches yaitu Kara.
"Mereka siapa?" Tanya Dien
"Mereka geng Bitches. Itu yang di depan namanya Kara. Dia itu pacarnya Zee. Dan yang di kanannya namanya Novi dan Della sedangkan yang di kirinya namanya Rita dan Ceng Zui. Itu orang cina.
Lo tau kan orang Cina banyak di Indonesia. Jadi mereka juga sekolah disini karena sekolah ini termasuk sekolah elit di Jakarta. Dan hampir sepuluh persen orang Cina sekolah di sini. Jadi lo gak usah kaget." Dien hanya mengangguk
"Lo tau gak selama ini gue kira orang Cina yang datang ke Indonesia itu semuanya orang pintar eh tapi gak seperti yang gue bayangin. Mereka kadang berpakaian gak sopan gitu dan otaknya gak seberapa sama otak orang Indonesia, tapi kalau lo sih, gue gak tau" ucap Dara kepada Dien
Anggota geng Bitches menatap jijik kepada geng JOMHAP. Terutama Ceng Zui yang menatap Dien
Tanpa terasa hari pertama DIEN di sekolah Labschool tidak terlalu buruk. Dia pulang menggunakan taxi. Awalnya temannya sudah menawarkan diri untuk mengantarkannya tapi DIEN memberikan beribu alasan, karena dia merasa tidak enak jika harus merepotkan teman-temannya di hari pertama.
Dien masih asik menggunakan ponselnya. Dia menoleh keluar jendela mobil karena dia baru sadar kalau mereka sedang macet.
Tapi anehnya.....
THANKS FOR READING 😊