ZEEDIEN

ZEEDIEN
03_ZEEDIEN



...HAPPY READING 😊😊😊...


...Tapi anehnya mobil yang di tumpangi nya macet di jalan yang sepi. Dia melihat kanan kiri, tidak ada satupun mobil ataupun motor yang berhenti bersama mereka....


"Pak, kenapa berhenti?"


"Maaf neng, kita gak bisa jalan soalnya di depan lagi ada tawuran, mereka sangat berbahaya neng."


Dan tanpa sengaja matanya melihat di depan. Ya. Benar saja disana sedang banyak para murid-murid sekolah menegah atas yang sedang ribut. Bahkan ada yang menggunakan motor.


Dien merasa sedikit takut setelah supir itu mengatakan mereka sangat berbahaya. Tapi dengan keberanian kecil, Dien turun dari mobil taxi itu dan berjalan tegar ke arah keributan itu


"Neng, mau kemana neng. Mereka bahaya neng." Supir taxi itu membelok mobilnya meninggalkan Dien karena merasa sangat takut kena masalah dari anak muda jaman sekarang


"Heh kalian minggir bentar dong, gue mau lewat!" Ujar Dien


Semua mata mengarah kepadanya karena keberaniannya melawan dua geng yang sangat di takuti di Jakarta


"Lo berani lawan kita?" Tanya salah satu anggota geng motor itu


"Ehh...bukannya gitu, maksud aku eh..eh..itu aku mau lewat boleh?"


"Bangsat," ucap ketua geng Destroy, salah satu geng yang lagi berselisih


Ketua geng Redfire tersenyum devil, karena saat ini dia memiliki rencana busuk di dalam pikirannya


"Lo ikut gue!" Ujar Alan, ketua geng Redfire memegang tangan Dien


"Eee neng gelis, bos kami ganteng loh," ucap salah satu anggota Redfire


Ketua geng Destroy mengetahui rencana busuk Alan, dia langsung menarik tangan Dien dan langsung menghajar Alan. Semua anggota Destroy juga langsung menghajar anggota Redfire


Dan acara pukul memukul pun terjadi kecuali ketua geng Destroy yang membawa pergi Dien menjauh dari keributan itu setelah beberapa kali memukul Alan.


Setelah agak jauh dari perkelahian, cowo itu menghentikan motornya tepat di pinggir jalan. Dien mengerutkan keningnya.


"Loh kok berhenti?, rumah aku masih jauh" kata Dien


"Turun!" Titah cowo itu.


"Hah."


"Turun!" Ujar cowok itu dengan nada suara tinggi. Dengan buru-buru Dien turun dari motor itu.


"Sekali lagi lo buat masalah, gue pastikan lo gak akan pernah lihat matahari lagi," kata Cowo itu dan pergi begitu saja


Seketika bulu kuduk Dien berdiri. Dia merasa merinding dengan ancaman pemuda itu. Dien akui dia memang tampan tapi dengan sikap yang sangat dingin seperti itu membuat Dien tidak ingin mendekatinya.


Setelah pemuda itu tidak terlihat lagi, Dien memutar badannya seratus delapanpuluh derajat dan pulang dengan memegang kedua tali ranselnya.


Setibanya di depan mansionnya, Dien melihat ada mobil bermerek di depan mansionnya. Dien duduk di kursi yang ada di terasnya dan membuka sepatunya.


Dia memasuki mansionnya setelah membuka sepatu. Dia melihat seorang paruh baya sedang mengobrol bersama ayah dan ibunya.


"Selamat siang Fugin, mugin. Halo," sapa Dien menundukkan kepalanya kepada ayah dan ibunya setelah itu kepada pria paruh baya itu.


"Kamu udah pulang, sayang?" Tanya Ayahnya


"Kamu duduk dulu nak!" Ujar Mamanya sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya. Dien pun duduk di sana.


"Ini taman fugin. Dia om Ridwan."


"Halo om, nama saya Dien Xuyin," katanya dengan menundukkan kepalanya.


"Bolehkan saya meminta tolong kepadamu?" Tanya Ridwan kepada Dien


Dien melirik kepada ayah dan ibunya yang mengangguk menyetujui permintaan Ridwan. Dien pun mengangguk ragu.


"Om mau kamu bisa mengajari anak saya jika kamu memiliki waktu, anak saya seusia kamu."


Dien mengerutkan keningnya. Bagaimana dia akan mengajari seorang yang sama umurnya dengannya. Jika ada kata kata Dien yang salah mungkin anak pria paruh bayar ini akan merasa Dien menghina atau apalah gitu.


"Ini alamat om. Kamu datang saja besok kesini!" Ujar Ridwan memberikan secarik kertas


Dien menerimanya dan melihatnya. Ini lumayan jauh dari mansionnya.


Ridwan pun pulang ke mansionnya menggunakan mobilnya. Dua puluh menit menempuh perjalanan jauh, akhirnya Ridwan sudah tiba di area mansionnya yang besar.


Dia melihat beberapa motor bermerek dengan warna hitam terparkir dengan rapi dan semua motor itu ada percikan darah dan lumpur yang bersatu.


Ridwan langsung buru-buru memasuki mansionnya. Dia melihat beberapa pemuda dengan wajah yang babak belur.


"ZEE!!!" Teriak Ridwan kepada anaknya.


"Ada apasih o--'' ucapan Bili terpotong ketika menyadari siapa yang memanggil Zee


Semua pemuda itu serempak menoleh ke asal suara yang begitu nyaring membuat gendang telinga mereka seakan pecah


Zee menatap Ridwan dengan wajah datarnya. Ridwan mendekat kepadanya dengan langkah yang cepat dan besar


"Kamu tawuran lagi?"


"Hmm."


"Kapan kamu akan berubah hah. Apa kamu akan meniru sifat ibumu hah. Sifatmu tidak jauh berbeda dari ibumu. Wanita kurang ajar itu sudah mendidikmu seperti ini. Papah udah berusaha kerja buat kamu tapi apa yang kamu lakukan. Kamu hanya bisa membuat papah marah," kata Ridwan dengan suara yang keras dengan nafas yang memburu dan wajah yang memerah.


Zee mengepal tangannya kuat


Mereka semua terdiam karena ini adalah untuk pertama kalinya Ridwan sangat marah seperti ini.


"Papah mau kamu berubah menjadi lebih baik. Besok kamu harus mencari gadis yang bernama Xuyin dan belajar bersamanya setiap dia memiliki waktu kosong. Jika nilaimu tahun ini tidak meningkat maka ingat papah akan memberikan hukuman yang tidak bisa kamu pikirkan. Jangan menganggap papah hanya bercanda, papah tidak pernah main-main dengan ucapanku."


Masih beberapa langkah, Ridwan berhenti dan menoleh kepada kelima teman Zee.


"Dan kalian harus pastikan kalau Zee belajar dengan gadis yang bernama Xuyin, jika tidak maka kalian tidak akan pernah menatap mata Zee yang kalian bangga banggakan." Dia melangkahkan kakinya menaiki satu persatu anak tangga.


Suasana itu menjadi hening. Bulu kuduk mereka seketika berdiri merasa sangat takut dengan ancaman Ridwan. Suasana saat itu sangat mencekam.


"Saran gue, lo harus lakukan apa yang disarankan papah lo. Gue yakin itu demi kebaikan lo," kata Leo memegang pundak Zee.


Zee langsung menyambar jaketnya yang tergeletak di atas sofa dan keluar dari mansionnya diikuti teman-temannya.


"Lo mau kemana?" Tanya Leo namun tak di jawab oleh Zee. Jastin melirik Leo dan memberikan isyarat yang seolah mengatakan 'kita biarkan saja'


Zee menaiki motornya yang lain berwarna hijau muda yang terparkir di sebelah mobil papahnya. Teman-temannya juga menaiki motor mereka yang masih kotor.


Zee menuju club tempat mereka biasa. Dia memarkirkan motornya di parkiran club itu dan dilanjutkan temannya memarkirkan motor mereka masing-masing di sebelah motor Zee.


Zee memasuki club itu dengan rasa marah yang membara. Mereka duduk di meja bar dan memesan minuman keras.


Zee belum sempat meminum alkohol dari gelas mini itu karena Leo langsung menahan tangannya. Zee melirik Leo yang masih memegang tangannya.


Leo memberikan isyarat dengan alisnya menunjukkan ke arah belakang Zee. Zee langsung menoleh ke belakangnya seketika wajahnya memerah dan memanas. Tangannya terkepal kuat.


"KARA!!!'' Ujar Zee yang berdiri tidak jauh dari Kara yang sedang berciuman ganas dengan Alan. Bahkan teman-temannya Kara juga sedang berdisko di bawah lampu yang terus berkerlap kerlip


Dengan cepat Kara menoleh. Tanpa aba-aba, Zee langsung menghajar Alan yang sedang dikendalikan mabuk.


Bugh


Bugh


Belum sempat Alan melawan, Zee sudah terus menghajarnya sampai jatuh beberapa kali.


"Zee hentikan, Zee!" Ujar Kara yang menarik tangan Zee berulang kali. Zee langsung mendorong Kara hingga dia terjatuh begitu saja. Zee tidak memperdulikannya.


Ketika Alan sudah tepar, Leo menarik Zee supaya dia tidak menghajarnya lebih jauh lagi.


"Kita putus," kata Zee dan pergi keluar meninggalkan club. Dia sangat marah hari ini, seharusnya Kara ada untuknya tapi dia malah berselingkuh di belakangnya.


Zee mengendarai motornya dengan sangat cepat, banyak pengendara motor lainnya yang hampir saja kena tabrak oleh dia.


Teman-temannya Zee masih setia mengikutinya karena mereka tidak bisa membiarkan Zee berkendara sendiri dengan kondisi emosi yang menjulang


Zee berhenti tepat di..


......BERSAMBUNG.........