ZEEDIEN

ZEEDIEN
14_ ZEEDIEN



Zee pun memperlambat langkahnya. "Kita mau kemana sih Zee?"


"Temenin gue makan!"


Mereka sudah tiba di kantin setelah melewati koridor yang panjang. Anehnya, Zee menarik - narik Dien melewati jalan yang panjang dan koridor kelas X hanya untuk menuju ke kantin ini. Padahal dari kelas mereka sudah sangat dekat dengan kantin itu.


Pelayan kantin membawakan satu mangkuk bakso ke meja Zee setelah di pesan oleh Zee. Zee langsung menyantapnya.


"Kamu gak sarapan yah Zee tadi pagi?"


"Hmm."


"Kenapa?" Zee menatap Dien setelah mendengar pertanyaan itu.


"Gue malas makan di rumah."


Tak berselang lama, sekolah itu sudah semakin ramai akan siswa dan siswi. Dien juga sudah berjalan meuju kelasnya setelah selesai menemani Zee untuk sarapan. Tapi kali ini dia tidak bersama Zee, karena Zee sudah pergi membolos bersama segerombongannya.


Semua siswa siswi penghuni kelas itu sudah datang bahkan teman-temannya Dien. "Dien lo kok lama banget datangnya?" Tanya Mutiara


"Tadi aku abis temanin Zee sarapan di kantin," jawabnya dan duduk di kursinya yang biasa di tempati nya dan Zee.


"Ooo, bagus deh lo temanin tuh sepupu gue sarapan. Soalnya Yah dia gak bakal pernah sarapan kalau ke sekolah. Dia gak mau sarapan sendiri. Om Ridwan juga selalu keluar kota. Dan baliknya pun lama banget bukan maen. Satu kali satu bulan. Bayangkan coba!"


"Selamat pagi anak-anak!" Ujar guru yang memasuki kelas itu.


"Pagi buuuu," seru semua murid yang ada di kelas itu. Suara itu sudah sangat keras walau kelas itu hampir setengah kosong. Dan tidak perlu di kasi tau pasti anda sudah mengetahuinya.


"Baiklah anak-anak, kita akan menghabiskan materi kita karena kita akan ujian PTS yang akan diadakan dalam dua minggu kedepan. Sekarang buka bukunya halaman 210!"


Huft... hembusan nafas seorang siswa yang merasa bosan dengan penjelasan guru itu. Sudah hampir satu setengah jam menjelaskan tentang hal yang mengundang kantuk. Bahkan ada yang sudah tidur, ada yang terkejut karena kepalanya hampir jatuh saking ngantuknya dan ada juga yang selalu memutar badannya hanya untuk melihat jam yang ada di tembok belakangnya dan bukan cuman itu bahkan paling parahnya ada dua orang siswi yang menyempatkan untuk berswafoto saat guru memutar badannya menulis di papan tulis.


Menurut mereka papan tulis adalah televisi yang paling sering mengejek mereka saat belajar. Jam adalah benda yang menggantung harapan mereka karena detik detiknya selalu ditunggu oleh mereka. Dan paling terakhir adalah kalau mereka menganggap guru sebagai radio yang sudah rusak sehingga selalu bicara hal yang tidak penting.


Ting.ting.ting.ting.ting


"Dien lo ikut ke kantin soalnya Dara bakal traktir kita!" Ujar Yobela berlari kecil menuju Dien dan merangkul lengannya.


"Iya Dien, lo harus ikut!, gue yang tr," kata Dara dan diangguki Mutiara.


"Yaudah yuk!, keburu padat," kata Mutiara mendahului mereka.


Masih di tengah-tengah koridor menuju kantin, Bili dan Jastin sudah langsung menghalangi jalan mereka.


"Kalian ngapain halangan jalan kita?" Tanyanya Dara dengan ekspresi marah.


"Ya ampun teman ipar gak usah marah-marah!, kita kesini mau bilang sama lo. Lo jangan pergi dulu soalnya bos kita alias Zee mau bicara sama lo," kata Bili melihat ke Dien.


"Mana?, mana tuh bos lo?, awas deh kita mau lewat," kata Yobela menghadap Bili.


"Tunggu dulu. Zee bakal datang," katanya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Zee dan teman-temannya yang lain.


"Awas lo atau gue tendang masa depan lo!" Ujar Yobela menaikan satu alisnya


"Weh, jangan nanti gue gak bisa bikin Bili Junior." Mereka yang mendengar itu terkekeh geli.


"Hahahaha." Tawa Yobela


"Kenapa lo ketawa?" Tanya Bili semakin mendekat ke Yobela.


"Mana ada tuh junior...........


... **BERSAMBUNG......


......JANGAN LUPA VOTE KOMEN DAN LIKE......


...TERIMA KASIH 😊😊😊**...