
...Penyesalan adalah neraka....
...😊😊😊...
Dan tanpa disuruh, bibir Samuel sudah menempel di bibirnya Dara. Ya, dia mencium bibir Dara di depan teman-temannya. Walaupun begitu, teman-temannya masih biasa-biasa saja.
"Lo butuh bukti kan?, itu buktinya."
Dara membuatkan matanya lalu dia mendorong badan Samuel dengan kedua tangannya. "Lo apa-apaan sih, gak sopan banget tau gak?" Tanyanya dengan marah. Samuel sudah melakukan hal yang kurang ajar kepadanya di depan teman-temannya sendiri.
Damn!, Dara sangat malu di perlakukan seperti itu. Mau ditaruh dimana mukanya kalau bertemu dengan teman-temannya Samuel di sekolah.
"Lo harus jadi pacar gue atau...," kata Samuel menjedanya sambil menatap bibir Dara dan menjilat bibirnya yang terasa kering seperti akan melakukan hal yang tidak-tidak.
Dara yang mengerti langsung menutup mulutnya sambil menggeleng-geleng. "Iya gue mau jadi pacar lo. Tapi awas Yah lo Playboy."
Samuel mengangguk-anggukan kepalanya dan langsung memeluk badan Dara yang memiliki tinggi sebibirnya. "Gua gak bakal playboy!" Ujarnya mengelus surai Dara.
Prok.Prok...prok.
"Selamat men!" Ujar Bili menyalami Samuel dan Dara setelah bertepuk tangan lalu diikuti teman-temannya yang lain.
"Yaudah awas gue mau pergi,"
"Gue antar!" Samuel menarik Dara menuju motornya, tapi sebelumnya karena cuaca sore itu sangat dingin, Samuel memasangkan hoodinya kepada Dara.
"Kita duluan men." Mereka meninggalkan teman-temannya yang sudah mengangguki kepergian mereka.
Setelah mereka tak terlihat lagi, Samuel menghentikan motornya di tepi jalan. Darah mengerutkan keningnya dan berkata, "Kenapa berhenti?"
Samuel langsung menarik tangan Dara yang memegang bahunya sebagai pengaman supaya tidak terjatuh dan membuatnya di depan perutnya, layaknya sedang memeluk. "Pegangan nanti jatuh!" Ujarnya.
Setibanya di depan alfamart, Dara turun dahulu dan memasuki swalayan itu tanpa berbicara sedikit pun. Dia mulai memilih apa yang di pesan mamahnya dan mengambil satu set pembalut untuknya selama satu bulan. Setelah itu dia memberikannya kepada penjaga kasir.
"Ini mba berapa?" Tanyanya Dara. "Sebentar Yah mba biar saya hitung dulu," kata pelayan itu. Dan tiba-tiba, Samuel membawa banyak snack dan diletakkan di meja kasir itu. "Dan ini semua mba," katanya.
"Buat apa banyak banget?, buat teman-teman lo yah?" Tanya Dara melihat snack yang banyak di depannya.
"Ngak, ini semua buat lo."
"Hah, lo waras. Sebanyak ini mau habis kapan. Mungkin satu bulan gak bakal habis."
"Dan ini mba satu lagi," kata Samuel lagi memberikan satu kotak rokok hitam dan memberikan black cart nya. "Semuanya bawa keluar yah By!" Ujarnya dan pergi keluar dahulu.
Dara mematung di tempatnya karena kelakuan Samuel yang menurutnya sangat romantis. Saat ini hati DARA sudah berbunga-bunga.
"Oh iya mba. Makasih." Dara keluar dari swalayan itu dengan plastik bercapkan nama alfamart itu sudah sarat di tangannya karena saking banyak snack yang dibeli Samuel.
Â
"Gitu ceritanya," kata Dara yang masih membayangkan kejadian tiga hari yang lalu.
"Udah berapa lama Dar?"
"Tiga hari,"
"Langgeng ya Dara!" Ujar Dien
"Makasih,"
"Pp nih atau pj?" Tanya Yobela menaik turunkan Alisnya.
"Apaan sih tuh pp, pj?" Tanya Dara yang membuat Yobela menghembuskan nafasnya sambil memutar bola matanya malas.
"Pp. Pajak pacaran. Pj. Pajak jadian, jadi mau pilih yang mana?"
"Sama doang, yaudah besok lo semua gue traktir di sekolah, "
"Mantap tuh,"
"Lo tuh, asal aja makanan. Lo mah harus yang paling pertama,"
"Yah iyalah. Siapa sih kalau lo tawarin makanan bakalan nolak?"
_
Dien mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sekolahnya itu. Mungkin dia terlalu cepat datang makanya tempat itu kelihatan masih sepi. Dien berjalan menuju kelasnya. Masih di depan kelas, tangan Dien sudah ada yang menarik.
"Temanin gue!" Ujarnya begitu saja menarik Dien menuju sebuah tempat.
"Pelan-pelan Zee!" Ujar Dien karena kewalahan menyerupai langkah Zee yang begitu cepat.
...BERSAMBUNG.........
......**JANGAN LUPA DI VOTE, KOMEN DAN DI LIKE......
......TERIMA KASIH ATAS SEMUA YANG SUDAH MEMBACA SAMPAI SINI**......