YOUNG PARENTS

YOUNG PARENTS
YOUNG PARENTS 9



Setelah menidurkan Una, Laudya menghampiri Kevlar yang sedang asik bermain PS diruang tengah.


Laudya menepuk pundak Kevlar pelan. Kevlar hanya bergumam saja untuk menanggapi. Laudya berdecak kesal. lalu kembali menepuk pundak Kevlar dengan keras.


"AW!!" pekik Kevlar. langsung saja Laudya membungkam mulut Kevlar agar tidak berteriak semakin keras. bisa-bisa Una bangun dari tidurnya dan menggagalkan niatnya untuk berbicara empat mata dengan Kevlar.


"Shttt,, jangan berisik! nanti Una bangun!" kesal Laudya. Kevlar langsung melepaskan tangan Laudya lalu menatapnya tajam.


"Lo duluan! ngapain mukul-mukul gue?!"


"Ya gue kesel sama lo, orang mau diajak ngomong serius malah asik main PS."


"Nanti-nantikan bisa!"


"Gak bisa ini penting!"


"Penting apa sih? sok penting iya."


"Bukan, ini bener-bener penting! ini tentang kita bertiga."


"Hah?" Kevlar menatap Laudya sejenak, lalu dia menghembuskan nafasnya dan segera mematikan PS nya. lalu dia mengambil duduk disebelah Laudya yang duduk disofa.


"Kenapa?" tanya Kevlar setelah beberapa menit terdiam.


"Masalah Una gimana?" tanya Laudya balik.


"Gue gak bisa kalau harus ngurus Una terus. apalagi besok gue udah sekolah."


"Kita harus cepet-cepet cari orang tua Una. dan setelah itu, kita kembali ke kehidupan masing-masing."


Kevlar terdiam. benar juga yang dikatakan Laudya. dia juga besok harus sekolah, apalagi di sudah kelas 12. Setelah menghabiskan waktu bersama Una dan Laudya, Kevlar hampir lupa kalau mereka mempunyai kehidupan masing-masing. Dan saat Memikirkan jika mereka akan kembali terpisah, entah kenapa perasaan Kevlar tiba-tiba tidak suka.


Dia sudah nyaman dengan keberadaan dua orang yang tidak dikenal itu, Una dan Laudya. Mereka telah memberikan satu hari yang berharga baginya. dan Kevlar ingin terus merasakan hari itu, selamanya.


"Lo kok diem aja sih? dengerin gue gak sih?!" sebal Laudya.


Kevlar berdecak, lalu mengangguk. mood nya tiba-tiba menjadi buruk. dia bangkit dari duduknya berjalan kearah kamar. Laudya yang melihat kepergian Kevlar langsung menarik tangan nya.


"E-eh, mau kemana? belum selesai!"


"Lo sekolah dimana?" tanya Kevlar tiba-tiba.


"Hah?" Laudya mengernyit bingung.


"Ck, cepet jawab! Lo sekolah di mana?"


"Kok tiba-tiba tanya sekolah si? kan kita lagi bahas Una!"


"Udah jawab aja apa susahnya sih."


"SMA Pancasila,"


Kevlar terdiam sejenak, lalu mengangguk dan berlalu meninggalkan Laudya.


"Gak waras itu orang." gumam Laudya.


...•••••YOUNG PARENTS•••••...


"Beneran Una sama lo?" tanya Laudya lagi. pasalnya dia hanya memastikan jika Kevlar tidak main-main dengan ucapannya.


"Iya, gak percayaan banget lo."


"Emang lo gak sekolah, atau kuliah?"


"Sekolah, udah deh tenang aja. Una aman sama gue."


"Lo sekolah dimana? kelas berapa?"


"Berisik! cepetan jadi gue anterin ke kontrakan gak nih?"


"Ya jadi lah." Laudya langsung bersiap-siap.


Sedangkan Kevlar beralih membangunkan Una yang masih terlelap nyenyak dalam tidurnya.


"Bangun." kata Kevlar sembari menggoyang- goyang pantat Una.


Una menggeliat dalam tidurnya, namun kembali terlelap. Kevlar terkekeh, sifat Una persis sekali seperti nya. apalagi soal tidur, mamanya bahkan sampai angkat tangan dalam hal membangunkannya.


"Loh, Una belum bangun?" tanya Laudya yang keluar dari kamar mandi.


"Belum."


Laudya berdecak, lalu menghampiri Kevlar.


"Sana lo siap-siap dulu. biar Una gue yang bangunin."


Kevlar menurut. dia segera berjalan kekamar mandi untuk bersiap-siap. sedangkan Laudya mulai membangunkan Una pelan.


"Una, sayang.. bangun yuk." ucap Laudya lembut.


Dengan segera Una mengucek matanya, menatap kearah Laudya.


"Umma??" panggil Una serak.


"Iya sayang,, bangun dulu yuk, Umma mau sekolah."


Ya, sejak perjanjian semalam, Kevlar terus memaksanya agar menyebut dirinya 'Umma' saat di depan Una. dan sebaliknya, Kevlar juga memanggil dirinya 'Uppa'


"Umma kolah?" tanya Una sembari berangsur memeluk Laudya.


"Iya, nanti Una sama Uppa ya?" Una menggeleng cepat.


"Gak mau Umma."


"Loh? Una sama Uppa dulu, nanti kalau Umma udah pulang, Una sama Umma lagi, ya? mau kan?" Una tetap menggeleng.


"Mau ikut Umma kolah."


"Gak boleh! nanti kalau Umma ajakin Una, Umma dimarahin ibu guru, emang Una mau Umma dimarahin?" Una menggelengkan kepalanya.


"Yaudah, nanti Una sama Uppa ya?"


Dengan terpaksa Una mengangguk. Laudya tersenyum senang, lalu mencium pipi Una gemas. dia senang dengan sifat Una yang selalu menurut dengan ucapannya.


"Udah bangun?" tanya Kevlar.


"Udah. Lo urusin ya? gue mau masak." ucap Laudya yang langsung diangguki oleh Kevlar.


Laudya segera pergi ke dapur untuk memasak sarapan. tak membutuhkan waktu yang lama, nasi goreng sudah siap dihidangkan.


...•••••YOUNG PARENTS•••••...


"Bye-bye, Umma sekolah dulu ya, Una yang nurut sama Uppa, okey."


"Oke Umma."


Laudya langsung turun dari mobil Kevlar. dia berjalan riang ke kelasnya. rasanya, saat di sekolah seperti ini, semua beban yang ia pikul selama ini menjadi hilang. apalagi saat bercanda ria bersama-sama temannya, Laudya langsung melupakan tekanan hidupnya.


"Laudya!!" panggil Sila riang.


"Hai, sil." balas Laudya.


"Kangen banget!"


"Dih lebay lo. cuma sehari gak ketemu udah kangen."


"Dih biarin."


"Yaudah ke-kelas langsung kuy, keburu bel bunyi." ajak Laudya yang langsung diangguki oleh Sila.


"Pulang sekolah ada acara gak?" tanya Sila sembari menaruh tasnya diatas meja.


Laudya menggelengkan kepalanya. "Enggak, kenapa?"


"Temenin gue mau? gue ada janji ketemuan sama doi sepulang sekolah." ucap Sila. sontak Laudya menggeleng cepat.


"Ogah! ketemuan sendiri aja."


"Ih, Lo kok gitu sih? nanti kalau gue di apa-apain gimana? Lo tega?"


"Terus,, kalau itu cuma akal bulus Lo doang biar gue mau ikut gimana? nanti disana gue yang jadi obat nyamuk lah, jadi tukang foto dadakan lah, dicuekin lah, pokoknya gue gak mau!" tolak Laudya sembari berjalan keluar meninggalkan Sila yang tengah cemberut.


"Lo bener-bener tega ya Lau, sama gue." rengek sila yang sudah berada disamping Laudya.


"Udah deh gak usah berisik. upacaranya udah mau mulai tuh."


"Ck, bener-bener gak setia kawan Lo."


Laudya tak menanggap lagi, dan benar saja upacara bendera hari senin mulai. untung saja cuacanya tidak terlalu panas, jadi Laudya tidak harus sibuk berteduh ditubuh teman-temannya yang berbadan tinggi.


Sedangkan dilain tempat, Kevlar berdecak kala teman-temannya melemparkan tatapan aneh, Hingga membuat Una terus mengeratkan pelukannya dileher Kevlar karena takut dengan tatapan teman-teman Kevlar.


"Adek Lo Kev?"


"Siapa Kev?"


"Anak siapa tuh yang Lo bawa?"


Pertanyaan-pertanyaan langsung dilemparkan kepada Kevlar saat dia dan Una telah tiba disebuah tempat yang persis seperti tempat bersantai dibandingkan kelas.


"Uppa,," lirih Una.


Kevlar berdecak, lalu menatap tajam para sahabatnya.


"Jangan diliatin. penakut anaknya." peringat Kevlar.


Para sahabatnya pun langsung membuang mukanya kearah lain, namun mereka masih tetap bertanya kepada Kevlar.


"Dia siapa?" tanya laki-laki yang terlihat judes, Vigo.


Kevlar mengambil duduk disofa panjang, berniat menurunkan Una, namun batita itu tidak mau. dengan terpaksa Kevlar memangku tubuh Una.


"Manusia," jawab Kevlar acuh.


"Kita tau dia manusia, tapi yang kita maksud itu, dia siapanya Lo, kok sampek diajak kesekolah??" timpal laki-laki yang berpawakan besar, Dapin.


"Iya tuh," sambung yang lainnya, Cio.


Kevlar menghela nafas, lalu memejamkan matanya. ternyata membawa Una kesekolah bukan pilihan yang tepat. batita itu bahkan terus menyembunyikan wajahnya diceruk leher Kevlar.


"Jawab kek Kev!" kesal Vigo.


"Ck, gue Nemu kemarin dijalan."


"HAH?!" ucap sahabat Kevlar berbarengan.


"Biasa aja kali,"


"Una duduk disebelah Uppa aja ya? kaki Uppa pegel kalau Una duduk dipangku terus." kata Kevlar lembut, dan itu berhasil membuat para sahabatnya melongo tidak percaya.


"Atut Uppa." lirih Una


"Takut sama siapa? sama mereka?" Kevlar menunjuk satu persatu sahabatnya. Una mengangguk polos.


"Iya,"


"Una jangan takut, kakak-kakaknya gak galak kok. nanti kalau mereka nakalin Una, bilang sama Uppa, biar Uppa hajar. oke?"


Una hanya diam. dia tetap menyembunyikan wajahnya.


"Gue curiga," cicit Cio pelan.


Vigo dan Dapin yang berada di samping Cio langsung mengernyit.


"Curiga kenapa?" tanya Vigo.


"Curiga, kalau itu anaknya Kevlar,"


Langsung saja Dapin memukul belakang kepala Cio keras, hingga membuat sang empunya mengaduh.


"Sakit anjim!" seru Cio tak terima.


"Makannya kalau ngomong difilter." balas Dapin.


"Iya, gue juga gak setuju sih kalau Cio bilang itu anaknya Kevlar. Secara kalian tau kan Kevlar tuh pendiem nya kaya apa, gak mungkinlah dia kayak gitu." ujar Vigo mengeluarkan pendapatnya. Dapin mengangguk setuju.


Ya, Kevlar itu terkenal dengan sifat pendiam dan sakras nya. banyak perempuan-perempuan yang mencoba mendekati nya, namun dengan perlahan mereka akan mundur sendiri. Walaupun begitu, sifat asli Kevlar tetap akan keluar jika bersama orang-orang terdekat saja. seperti keluarga dan para sahabatnya.


Namun khusus Una dan Laudya, beda. Kevlar bahkan langsung mengeluarkan sifat aslinya kepada dua orang baru itu. Intinya, Kevlar selalu bisa menempatkan dirinya seperti orang yang memiliki kepribadian ganda.


...•••••BERSAMBUNG•••••...


NOTE : Kalau kalian suka cerita ini, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terus dukung aku dengan cara vote dan komentar dicerita ini. terimakasih.


...Jangan lupa follow IG aku @Siin.suss dan @Sndsmt👌...