
"Jadi-- dia beneran bukan anak lo?" tanya laki-laki itu saat sudah mendudukkan tubuhnya di kontrakan kecil milik Laudya.
"Menurut lo? makanya jangan sok tau jadi orang! jadi ribet gini kan masalahnya."
Laki-laki itu hanya menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
"Tungguin dia dulu, gue mau ganti baju sebentar." Laudya menyerahkan batita itu pada laki-laki didepannya. lalu dia segera pergi ke bilik yang laki-laki itu yakni adalah sebuah kamar mandi.
Setelah kepergian Laudya, laki-laki itu menatap batita di pangkuannya.
"Oy!" ujarnya.
"Apa Uppa?"
"Uppa, Uppa, gue bukan bapak lo. nama gue Kevlar. Muhammad Kevlar lebih tepatnya." ujar laki-laki itu.
Dia adalah Muhammad Kevlar, laki-laki berusia 18 tahun. memiliki tubuh tinggi tegap disertai wajah rupawan membuat Kevlar semakin mempesona. Apalagi dia memiliki kehidupan yang banyak diimpikan oleh banyak orang, yaitu terlahir kaya raya.
Kevlar menatap batita itu yang tampak kebingungan menyaring perkataannya.
"Apa?" tanya Kevlar saat batita itu menepuk wajahnya.
"Uppa antik."
"Enak aja. Gue itu ganteng, bukan cantik."
"Ue??"
"Ck, repot deh ah!" Kevlar berdecak kesal. lalu tak lama kemudian, Laudya telah kembali menggunakan pakaian santainya.
Kevlar berdecak menatap pakaian yang dipakai oleh Laudya. Menurutnya baju yang Laudya pakai itu terlalu sexy. Bagaimana tidak, Laudya hanya mengenakan hotpants dan kaus pres body.
"Oiy!" panggil Kevlar. Laudya menoleh, gadis itu mengangkat sebelah alisnya.
"Lo gak ada baju lain??" tanyanya.
Laudya mengernyit, "Emang kenapa?"
Kevlar menghela nafasnya, masa cara berpakaian saja Laudya harus diajarkan terlebih dulu sih??
"Gue cowok, dan baru kenal sama lo beberapa menit yang lalu. Dan lo udah berani pakai baju kaya gitu didepan gue?"
Laudya mendengus kesal, namun tak ayal dirinya kembali pergi dan balik lagi sudah dengan pakaian yang cukup tertutup.
"Puas lo!" ujarnya kesal. Laudya mengambil duduk didepan Kevlar.
Batita yang sedari tadi duduk dipangkuan Kevlar kini berpindah kepangkuan Laudya. dan itu membuat Laudya berdecak kesal.
"Umma.. Mimi.." ujar batita itu sambil menepuk dada Laudya.
Laudya dan Kevlar membelak. lalu keduanya saling berpandangan.
"E-eh. ini gak boleh. Kakak ambilin minum sebentar ya." ujar Laudya cepat.
Diam-diam Kevlar membatin dalam hati. Mesum juga nih bocil.
Tak lama kemudian Laudya sudah kembali sembari membawa dua gelas air putih. yang satu untuk batita itu dan yang satu lagi untuk Kevlar.
"Sini minum." ujar Laudya. namun batita itu menggeleng cepat.
Laudya mengernyit bingung melihat tingkah batita itu.
"Loh,, kenapa? katanya tadi mau minum."
Batita itu duduk dipangkuan Laudya lagi, tangannya kembali menepuk-nepuk dada Laudya.
"Mau mimi ini Umma.."
Laudya tercengang. dengan cepat dia menurunkan batita itu dari pangkuannya dan segera menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
"Mesum lo!" ujarnya kesal.
Kevlar hanya bisa menggaruk pelipisnya. Sebenarnya dia sedikit salah tingkah saat melihat batita itu yang terang-terangan meminta minum dari sumbernya. Apalagi mereka baru saja bertemu beberapa menit yang lalu. Kelakuan batita itu membuat Kevlar dan Laudya menjadi canggung.
"B-bawa dia pergi deh! gue takut. Kayaknya dia mesum!" ujar Laudya sembari menunjuk batita itu.
Kevlar hanya diam, lalu mengangkat tubuh batita itu kepangkuan nya. Ditatapnya mata bulat yang sudah berkaca-kaca itu.
"Kenapa nangis??" tanya Kevlar.
"Uppa,,, Una mau mimi." ujarnya sambil menitikkan air mata.
Kevlar jadi tidak tega sendiri melihat nya. dengan cepat Kevlar memeluk tubuh batita itu. dielusnya rambut gondrong batita itu.
"Cup… Cup… jagoan gak boleh nangis loh."
Batita itu semakin terisak. kini tangisannya semakin terdengar keras. Laudya mengacak rambut nya kesal. lagi-lagi dia mendengar suara tangisan.
"Jangan nangis dong!" sentak Laudya.
Batita itu terkejut, dan kembali menangis. kini tangisannya lebih keras. Kevlar berdecak lalu menatap Laudya tajam.
"Bisa lembut sedikit gak sih? anak kecil nih!" ujar Kevlar tajam.
Laudya memutar bola matanya malas, lalu dengan cepat dia mengambil tubuh batita itu dan menggendongnya.
"Cup... cup... anak ganteng gak boleh nangis. nanti gantengnya ilang loh." ujar Laudya memenangkan.
Lambat alun suara tangisan batita itu mereda lalu dia menenggelamkan wajahnya diceruk leher Laudya.
"Adek haus? minum air putih dulu ya?" bujuk Laudya.
Batita itu menggeleng cepat. masih tetap pada pendiriannya sambil menepuk-nepuk dada Laudya.
Terlanjur bingung, Laudya menatap Kevlar yang sedari tadi hanya diam memperhatikan.
"Bantuin dong." ujarnya.
Kevlar mendekat, menepuk pelan pundak batita itu. "Hei." ujarnya.
"Katanya haus, minum ini dulu." Kevlar ikut membujuk sambil menyodorkan segelas air minum.
Batita itu masih menggeleng. "Gak au."
"Kenapa?" ujar Laudya dan Kevlar bersamaan.
"Mau mimi cucu."
Kevlar mengangguk paham. lalu dia melihat kearah Laudya.
"Lo punya susu?" tanya nya.
"Ya punya lah!"
"Mana?"
"Lah ini, ngegantung di dada. gak liat lo?"
Kevlar berdecak kesal, lalu tangannya menjitak kepala Laudya. "Bukan yang itu maksud gue!"
"Oh, bilang dong!"
"Ya tadi gue udah bilang! Lo aja yang mesum, pikirannya langsung kesana."
"Enak aja. pertanyaan lo tuh yang ambigu!" ujar Laudya tak terima.
"Udah ah. Punya atau enggak nih?" tanyanya lagi.
"Kalau susu yang beli gak punya, kalau yang alami punya."
PLETAK!
"Adaw!! sakit njir!" seru Laudya saat merasakan nyeri di dahinya yang di sentil.
"Jil." tiru batita itu.
keduanya kompak menatap batita yang berada di pangkuan Laudya. Kevlar menghela nafas, lalu segera bangkit.
"Eh,, mau kemana lo? jangan lepas tanggung jawab ya!"
Kevlar berdecak, lalu segera menjawab. "Gue mau beli susu buat nih anak."
"Kalau gitu gue ikut! gue gak jamin kalau lo gak akan kabur."
Lagi-lagi Kevlar berdecak, namun tak ayal dia mengangguk kan kepalanya.
...•••••YOUNG PARENTS••••••...
"Pilih yang putih aja."
"Ogah, mending yang coklat."
"Kalau yang putih, hampir menyerupai yang alami. emang ada ASI warna coklat? dikira ASI basi kali ah!"
"Ck, cerewet amat lo jadi laki!"
"Enak aja, gue ini cum--"
"Umma,,, Uppa,,," instruksi Batita itu menghentikan perdebatan kecil antara Kevlar dan Laudya.
"Kenapa?" tanya Laudya.
"Mau mimi." ujarnya.
Kevlar langsung menunjukkan kedua kotak susu yang ada ditangannya. lalu dia mengarahkan keduanya untuk dipilih oleh batita itu.
"Ini, pilih rasa coklat atau vanilla?" ujarnya.
Namun batita itu menggeleng cepat. lalu tangannya kembali menepuk-nepuk dada Laudya.
"Mimi ini."
Laudya langsung menyerahkan Batita itu kepada Kevlar. untung saja Kevlar cepat tanggap. jika tidak, mungkin tadi batita itu sudah jatuh.
"Kebiasaan! hati-hati kek, anak orang nih." peringatnya.
Laudya menatap negeri kearah Kevlar. "Gue bener-bener curiga kalau nih bocah udah disetting jadi cabul."
Langsung saja Kevlar melayangkan sentilannya pada dahi Laudya.
"Aduh,, sakit!"
"Lagian omongan lo ngaco banget. Kalau di lihat wajar kali ni bocil masih nyariin ASI. kayaknya gue liat-liat, umurnya baru sekitaran dua tahun."
Laudya ikut mengamati batita didepannya. Benar saja, batita itu memang masih cukup kecil.
Ya,iyalah. Namanya juga Batita. '(Anak) Bawah tiga tahun' Ya masa segede Kevlar. kan gak mungkin.
"Terus gimana dong? masa gue harus nyusuin dia? ogah banget. anak gue bukan, siapa-siapa gue bukan masa gue yang nyusuin." ujar Laudya dramatis.
Kevlar berdecak, dia juga ikut bingung memikirkan langkah apa yang harus mereka ambil untuk batita ini. sedangkan batita itu terus meminta minum dari sumbernya langsung.
TRING!
Kevlar punya ide.
"Gue tau."
Laudya mengernyit saat melihat keantusiasan laki-laki didepannya itu.
"Tau apa?"
Kevlar menatap lekat kearah Laudya dan batita didalam gendongannya bergantian.
"Satu-satunya cara adalah... Lo harus menyusui dia."
...•••••BERSAMBUNG•••••...