YOUNG PARENTS

YOUNG PARENTS
YOUNG PARENTS 10



Setelah upacara selesai, Laudya dan Sila memutuskan untuk pergi ke kantin terlebih dahulu. cuaca hari ini cukup panas, dan mereka membutuhkan yang segar-segar untuk membasahi tenggorokan mereka.


"Bu, es teh nya 2 ya." pesan Laudya kepada pemilik kantin.


"Siap neng, tunggu sebentar ya." Laudya hanya mengacungkan jempolnya untuk merespon pemilik kantin.


"Duh, gerah banget gue." kata Sila.


"Iya njir, baju gue aja sampe basah gara-gara keringet." timpal Laudya.


"Kalau tau gini mending tadi gue pura-pura pingsan aja."


Laudya mendengus mendengar ucapan Sila, "Udah telat kalii."


"Makannya itu! gue jadi nyesel," Sila menelungkupkan kepalanya di atas meja.


"Sil, Sil," panggil Laudya yang tak dihiraukan oleh Sila. "Jangan kayak gitu bego, beha Lo jiplak." sontak saja Sila langsung menegakkan tubuhnya.


"Beneran Lo?" tanyanya panik. lalu dia melirik ke sekitar kantin yang ternyata lumayan ramai.


Laudya hanya mengangguk santai. sontak saja Sila langsung memukul tangan temannya itu.


"Sakit anjir!" pekik Laudya sambil mengelus-elus tangannya yang baru saja di pukul Sila.


"Lagian kenapa Lo gak ngomong dari tadi? untung aja gak ada yang liat! kalau beneran ada yang liat gimana coba? kan gue malu!" omel Sila.


Laudya hanya memutarkan bola matanya jengah. Apa katanya, gak ngomongin? Emang siapa yang di panggilin gak nyaut-nyaut? Sila kan. Kenapa jadi Laudya yang disalahin.


"Serah Lo deh." ucap Laudya. dari pada berdebat dengan Sila, dia lebih baik mengalah saja.


Lalu tak lama kemudian pemilik kantin datang dengan membawa dua es teh pesanan Laudya. keduanya kompak berterimakasih saat pemilik kantin menaruh minuman mereka diatas meja.


"Ahhh... segernya." ucap Laudya.


Sila yang masih kesal kepada Laudya hanya menatapnya kesal. Namun Laudya tak menanggapi kekesalan Sila dan memilih mengacuhkannya.


"Eh,,, Lau, Lau." panggil Sila heboh. Laudya yang masih menikmati es teh nya hanya berdehem kecil.


"Liat kebelakang deh, Bukannya itu Most Wanted Boy sekolah kita ya?? Omaygatttt!" heboh Sila. sebenarnya bukan sila saja yang heboh, hampir seluruh kantin dihebohkan dengan kedatangan sosok Most Wanted Boy itu.


Laudya yang kebetulan membelakangi pintu kantin langsung membalikkan badannya. dan saat itu pula kedua matanya membelak sempurna. apalagi pekikan keras dari seorang batita yang sudah beberapa hari ini dia asuh.


"UMMA!!"


...•••••YOUNG PARENTS•••••...


Kevlar mencoba bersabar untuk menghadapi sikap rewel Una. Sebenarnya ini pertama kalinya dia benar-benar mengasuh Una, biasanya kan dia masih dibantu oleh Laudya, dan kini dia benar-benar sendiri. Ternyata mengasuh Una itu tidak segampang yang dia pikirkan. nyatanya sedari tadi Una terus merengek memanggil-manggil Laudya hingga membuat kesabaran Kevlar hampir habis.


"Umma, siapa sih?" tanya Vigo bingung. Sepertinya baru kali ini dia mendengar nama Umma. Cio dan Dapin yang memang tidak tau dengan kompak menggelengkan kepalanya.


"Uppa, mau sama Umma." rengek Una yang sudah hampir menangis. Kevlar berdecak, dia sudah lelah membujuk Una agar tetap mau bersamanya.


"Una, Umma kan masih sekolah, Una sama Uppa dulu ya." kata Kevlar yang entah sudah keberapa kalinya.


Una dengan cepat menggelengkan kepalanya, dia ingin bersama Ummanya, hanya Umma nya!


Lagi-lagi Kevlar berdecak kesal. Dia hampir lupa kalau Una ini memiliki sifat keras kepala seperti Laudya.


"Yaelah Kev, dari pada nangis itu anak orang, mending dibalikin aja gih sama orangtuanya." celetuk Cio. pusing juga dia sedari tadi melihat kerewelan Una.


"Hust... jangan nangis." kata Kevlar. namun Una tidak mendengarkan perkataannya. Batita itu malah semakin mengeraskan suara tangisannya hingga membuat Cio, Dapin dan Vigo dengan kompak menutup telinga.


"HUAA... UMMA..." jeritnya keras.


Kevlar yang sudah tidak tahan lagi akhirnya memilih bangkit dan menggendong Una. dia terus mencoba menenangkan Una, namun sepertinya usahanya sia-sia. batita itu tidak mau berhenti menangis sama sekali.


"Laper kali, Kev." celetuk Cio yang sudah cukup pusing mendengar tangisan Una.


"Iya, pengen makan kali tuh bocah. makanya rewel." timpal Dapin.


"Coba ajak jajan," sambung Vigo.


Benar juga. dengan cepat Kevlar melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. pukul 08:30. pantas saja Una rewel. pasti batita itu merasa lapar. pasalnya tadi yang sarapan hanya dirinya dan Laudya. sedangkan Una hanya meminum segelas susu saja. pantas sedari tadi Una mencari Laudya. kan yang biasanya memberi makan Una adalah Laudya.


"Una mau makan?" seketika tangisan Una terhenti.


"Kan?" (Makan?)


"Iya, Una lapar?"


Una mengangguk, "Kan.." (Makan..)


"Oke. kita beli makan dulu ya." dengan cepat Kevlar membawa Una kekantin. meninggalkan Vigo, Cio dan Dapin yang terbengong di markas mereka.


"Lah? tungguin gue Kev!" Cio berteriak keras sambil menyusul Kevlar. tak mau ketinggalan, Vigo dan Dapin juga ikut berlari menyusul Kevlar yang sudah berjalan cukup jauh.


Kini tujuan Kevlar hanya satu. Membawa Una ke kantin terdekat disekolahnya. dan setibanya di kantin, keadaan yang tadinya hening itu tiba-tiba menjadi ramai. apa lagi penyebabnya kalau bukan dirinya. ditambah lagi batita lucu yang berada di gendongannya, membuat siswi-siswi disekolahnya berteriak histeris sangking gemasnya.


Una yang dasarnya penakut langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Kevlar. sehingga membuat sang empunya merasa risih dengan tingkah batita itu.


Walaupun begitu, Kevlar membiarkan Una yang bersembunyi di lehernya. dia terus berjalan hingga menemukan tempat duduk yang kosong. namun ketika dirinya ingin duduk, tiba-tiba suara pekikan Una mengagetkan dirinya.


"UMMA!!!" teriak Una sambil memberontak turun di gendongannya.


langsung saja matanya tertuju pada salah satu gadis yang duduk tak jauh dari tempatnya. dia bisa melihat ekspresi terkejut gadis itu ketika melihat kehadirannya beserta batita yang ada di gendongannya.


"Umma... Una mau Umma!" Kevlar dengan sigap memeluk erat tubuh Una ketika batita itu terus memberontak di gendongannya hingga membuat tubuhnya oleng.


"Hust.. diem. Nanti uppa jatuh." peringat Kevlar yang tidak didengarkan oleh Una.


Huft... Apalah daya Kevlar jika Una sudah bertemu dengan Laudya.


Namun ketika ingin menurunkan Una, mata Kevlar tak sengaja melihat gelengan kepala Laudya. gadis itu seakan-akan melarangnya untuk menurunkan Una dari gendongannya.


Sejenak dia menghentikan pergerakannya. membuat Una yang sedari tadi sudah ingin turun merengek kesal.


"UMMA!!" jerit Una keras.


Laudya pun langsung berbaik memunggungi Kevlar dan Una. Matilah kalau Una benar-benar menghampirinya dan memanggilnya dengan sebutan Umma. pasti dalam sekejap dirinya akan menjadi tranding topik di grup lambe turah sekolahnya.


"Adeknya Kevlar lucu banget..." pekik sila dan beberapa gadis lainnya.


sedangkan Laudya yang mendengarkan pekikan sahabatnya hanya bisa terdiam.


Adik? coba saja sila tau kalau Una itu anak temuan dari dirinya dan Kevlar. pasti sila akan syok berat.