YOUNG PARENTS

YOUNG PARENTS
YOUNG PARENTS 4



Kevlar berdecak kesal saat dirinya harus menunggu diluar. Apalagi di saat magrib seperti ini. Dia menjadi santapan lezat nyamuk!


Saat sedang menunggu dengan jenuh, Kevlar merasakan pintunya dibuka, dan benar saja perempuan itu sudah berdiri dengan mengenakan tanktop nya saja.


"Lama amat!" kesal Kevlar.


"Berisik lo! lo kira bujukin dia gampang?!" ujar Laudya tak kalah kesal.


"Minggir-minggir! gue digigitin nyamuk nih."


Laudya terdorong kesamping saat Kevlar berjalan masuk. Laudya berdecak, lalu segera menutup pintu kontrakan nya agar nyamuk yang lain tak ikut masuk.


"Widih,, bocil udah mau nyusu tuh." ujar Kevlar mengambil duduk di sebelah batita itu.


"Uppa au?" tawarnya.


"Mau apa?"


"Mimi cucu…" tawarnya sambil menyodorkan sekotak susu yang ia pegang.


"Gak usah, gue gak doyan begitu."


"Ue??"


Laudya yang sedari tadi diam langsung menggeplak belakang kepala Kevlar.


"Ngomong nya!" peringatnya.


Kevlar langsung menatap tajam Laudya, berani-beraninya perempuan tak dikenal itu memegang kepalanya.


"Kelakuan lo juga! mencontohkan hal yang tidak baik!"


Laudya mengangkat bahunya acuh lalu memilih merebahkan tubuhnya di kasur kecil miliknya.


Kevlar berdecak, lalu melihat jam tangannya. sudah jam 18:30. Waw, tak terasa dia sudah sekitar 3 jam dia di kontrakan perempuan tak dikenal itu.


Kevlar segera bangkit dari duduknya hendak pulang kerumahnya, namun sebuah suara menghentikan kegiatannya.


"Mau kemana lo?" tanya Laudya yang langsung bangkit dari rebahannya.


"Pulang lah."


Mata Laudya membelak, lalu dengan cepat dia menarik tangan Kevlar saat laki-laki itu hendak keluar.


"E-eh,, Lo gak boleh pulang!" larang Laudya.


Kevlar mengernyit bingung. "Kenapa?"


"Ya pokoknya gak boleh. kalau lo pulang terus kabur gimana? terus anak itu siapa yang ngurus?"


Kevlar menghela nafas. perempuan ini benar-benar mengesalkan.


"Gue gak akan kabur!"


"Gue gak percaya!"


"Mau lo apa sih?!" sentak Kevlar. runtuh sudah pertahanannya untuk selalu sabar.


"Gue itu capek, seharian belum istirahat, belum makan, belum mandi. Gue pulang gak akan kabur! emang muka gue segitu mencurigakan nya Sampai Lo ngira gue bakal kabur?!"


Laudya mengangguk polos, membuat Kevlar gemas dan ingin menenggelamkan nya kerawa-rawa.


"Pokoknya gue mau pulang!" ujarnya final. Kevlar langsung melangkah cepat kearah mobilnya, mengabaikan teriakan keras dari perempuan itu.


"Kalau lo ga berhenti, anak ini akan gue usir!!" teriak Laudya.


Kevlar menghentikan langkahnya. tangannya mengepal kuat. dia berbalik menatap tajam Laudya, lalu menatap batita yang berdiri disamping Laudya sambil memegangi kotak susunya.


Kevlar berdecak. seharusnya dia acuh dengan ancaman perempuan itu, dan langsung pergi begitu saja. Namun di lubuk hatinya yang terdalam menentang pikirannya itu. Seakan ada sesuatu yang menghantamnya lubuk hatinya jika itu semua terjadi.


"Terus mau lo apa?" tanya Kevlar mencoba sabar.


Laudya mengangkat dagunya acuh, "Ajakin nih anak pulang sama lo." ujarnya.


Kevlar mengacak-acak rambutnya kasar. mana mungkin dia membawa batita itu pulang. Bisa digorok oleh maminya jika itu terjadi.


"Gak! bisa shok bonyok gue kalau tau gue pulang bawa bocah!" tolaknya mentah-mentah. selain itu Kevlar juga tidak bisa mengurus anak kecil.


Laudya memasang smrik andalannya, sudah dia duga bahwa Kevlar akan menolak. Lalu Laudya kembali memasang wajah angkuhnya. kali ini dia semakin yakin bahwa Kevlar tidak akan memiliki pilihan selain membawa batita itu pergi dari kontrakan nya.


"Kalau gitu, Bawa gue ikut sama lo! sekarang pilih mana? bawa pulang nih anak sendirian, atau bawa gue juga." ujar Laudya.


Dia yakin bahwa Kevlar akan membawa pergi batita itu dalam jangkauan nya. dan jika sudah begitu, Laudya bisa bebas seperti sedia kala.


Kevlar terdiam memikirkan ucapan Laudya. ingin rasanya dia benar-benar mengubur perempuan itu dirawa-rawa. Bisa-bisanya dia membuat pilihan yang Kevlar sendiri tidak bisa memilih.


"Cepetan!!" desak Laudya.


"Udah deh bawa aja tuh boc--"


"Oke!" jawab Kevlar cepat.


Laudya langsung melebarkan senyumnya. tepat seperti dugaannya. Langsung saja dia mendorong tubuh batita itu untuk segera menyusul Kevlar, lalu dia hendak menutup pintu kontrakan nya, namun suara Kevlar menghentikan nya.


"Ngapain lo masih disitu?" ujarnya.


Laudya mengernyit bingung. dia menunjuk dirinya sendiri. "Gue?"


Kevlar berdecak, lalu menggendong tubuh batita itu dan berjalan menghampiri Laudya.


"Cepet ganti, gue tunggu di mobil."


"E-eh,, Mak-sudnya apa?" tanya Laudya terbata.


Kevlar langsung menjitak kepala Laudya keras, sehingga membuat perempuan itu mengaduh kesakitan.


"Cepatan ganti. gue pilih opsi yang ke dua. ngajak lo dan batita ini kerumah gue!" ujar Kevlar tegas. dia langsung berlalu meninggalkan Laudya yang masih menegang ditempatnya.


...TIN!! TIN!!...


Laudya tersentak saat mendengar klakson mobil Kevlar.


"Cepetan! malah bengong kaya orang bodoh!" teriaknya keras.


Laudya berdecak, lalu dengan segera memasuki kontrakan nya sembari menutup pintu kencang. Bisa-bisanya laki-laki itu malah memilih opsi kedua dari pada yang pertama.


Argh! Laudya mengacak rambutnya kesal.


Aha! dia punya ide.


Laudya terus mengumpat kesal. saat ini dia sudah berada didalam mobil laki-laki itu. Niatnya ingin melarikan diri dari masalah, malah dia sendiri yang terkena masalah.


Bagaimana tidak, Laudya berniat untuk meninggalkan Kevlar dan batita itu dengan cara mengunci pintu kontrakannya dan mengabaikan kebisingan yang Kevlar lakukan, malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.


Para tetangganya yang merasa terganggu mulai berdatangan dan menegur Kevlar. Namun karena alasan bohong yang laki-laki itu berikan, para tetangganya malah menggedor pintu kontrakannya dan memaksanya dia keluar dan segera ikut bersama Kevlar.


Karena terus dipaksa walaupun sempat mengelak, akhirnya Laudya terpaksa ikut dengan laki-laki itu kala batita yang berada digendong Kevlar menangis keras ingin ikut bersamanya.


Dan jadilah sekarang, Laudya sudah didalam perjalanan kerumah laki-laki itu.


"Masih lama kah?" tanya Laudya tak sabar. pasalnya kakinya sudah kesemutan karena terus memangku batita yang sudah tidur didalam pangkuannya.


"Bentar lagi." jawabnya.


Dan benar saja, tak lama kemudian mobil laki-laki itu berbelok memasuki sebuah gedung bertingkat tinggi. Laudya mengernyit, ini bukan seperti rumah.


"Ini dimana? Katanya mau kerumah lo?" tanya Laudya.


Kevlar berdecak, lalu setelah selesai memarkirkan mobilnya di basement dia menjawab pertanyaan Laudya.


"Yang ngomong mau kerumah gue siapa?"


Laudya langsung panik. benar, laki-laki ini memang tidak mengatakan akan pulang kerumah, dia hanya mengatakan akan pulang saja. pantas saja dia mau membawa Laudya ikut serta, jadi laki-laki ini memiliki niat yang...


Pletak!


"Aw..." Laudya mengusap keningnya yang disentil keras oleh laki-laki itu.


"Sakit!!" ujar Laudya kesal.


"Makanya jangan mikir yang aneh-aneh. Tenang aja gue gak akan ngapa-ngapain Lo kok."


"Bisa aja lo emang niat nyulik gue!!"


"Heh. gak usah kepedean. Gak ada untungnya gue nyulik perempuan keras kepala kaya lo ini." ujarnya sakras. Lalu Kevlar keluar dan memutari mobilnya membuka pintu Laudya.


"Ini apartemen gue. tenang aja aman kok." ucapnya meyakinkan. Kevlar tau ada keraguan serta ketakutan dalam diri perempuan itu.


Laudya bernafas lega. Setidaknya laki-laki ini bukan orang jahat. Kenapa Laudya bisa seyakin itu? Entahlah hanya feeling saja.


Laudya menyusul langkah lebar Kevlar yang sudah dulu berjalan didepannya sembari menggendong batita itu. Laudya berdecak, tidak taukah Kevlar kondisi kakinya yang sekarang sedang kesemutan ini sulit untuk digerakkan.


Setelah sampai di lift, Laudya langsung saja menyembur Kevlar dengan segala makiannya.


"Anjir, lo jahat banget! kaki gue kesemutan tapi lo malah jalan cepet banget ninggalin gue! Kalau aja gue bawa dompet atau uang, udah balik gue dari tadi daripada ngikutin Lo sambil terseok-seok kaya tadi!!" kesal Laudya.


Kevlar hanya memutar bolanya tanpa perduli. Lift berdenting dan terbuka dilantai yang mereka tuju. Kevlar langsung keluar dan berjalan cepat menuju apartemen nya.


Sedangkan Laudya lagi-lagi hanya bisa mengumpat. kali ini kakinya benar-benar sulit digerakkan. tapi dia tidak bisa terus berada didalam lift seperti ini. dengan paksa, Laudya menggerakkan kakinya untuk segera keluar.


Kalian pernah ngerasain gak? saat masih kesemutan terus dipaksa jalan? Ya,, begitulah yang dirasakan Laudya sekarang.


Kevlar berdecak saat melihat perempuan itu yang masih berjalan terseok-seok dibelakangnya. rasanya dia ingin segera menyeret paksa agar cepat sampai di apartemen nya. sungguh, bandan nya benar-benar lelah. Kevlar sangat membutuhkan istirahat.


"Cepetan! Lelet amat!"


Laudya tak mengindahkan gerutuan Kevlar. dia malah menghentikan langkahnya sampai rasa kesemutannya benar-benar hilang. setelah menunggu beberapa menit akhirnya Laudya bisa berjalan seperti semula.


Dengan cepat dia menyusul Kevlar yang sudah berdiri didepan pintu sembari berdecak kesal kearahnya.


"Ck, lama!" sungutnya. Kevlar lalu menempelkan sidik jarinya ke ganggang pintu, dan pintu terbuka. dia berjalan cepat memasuki apartemen nya, meninggalkan Laudya yang masih terus mengikuti langkahnya.


Kevlar berjalan kearah kamar, menidurkan batita itu di tengah-tengah kasur Kingsize miliknya. Saat hendak berbalik Kevlar terkejut saat menemukan Laudya yang berdiri tepat dibelakangnya.


"Ngapain disini?! ngagetin aja!" kesal Kevlar. Dia kira perempuan itu akan menunggu nya diruang tamu, eh ternyata dia mengikuti nya sampai kamar.


Laudya berdecak, lalu berjalan cepat keluar kamar yang diikuti oleh Kevlar dibelakangnya.


"Kamarnya cuma satu?" tanya Laudya.


Kevlar mengernyit. bagaimana Laudya bisa tau kamar di apartemen nya cuma satu? padahal dia baru saja membawanya masuk tanpa House tour terlebih dahulu. Kevlar juga heran, kenapa Laudya tidak terpenggah dengan kemewahan apartemen nya. padahal jika di bilang, Laudya adalah orang yang berasal dari kalangan bawah. dan dia tidak menunjukkan kekagumannya sedikit pun. Padahal teman-temannya yang derajatnya sama sepertinya saja sangat terpenggah saat melihat kemewahan apartemen nya. sedangkan perempuan itu hanya acuh seperti sudah bisa melihat hal-hal mewah.


"Iya kenapa?" jawab Kevlar acuh.


"Terus gue tidur mana??" tanyanya sambil mengikuti Kevlar yang berjalan kearah dapur.


Kevlar membuka kulkas dan mengambil sebotol air putih, lalu meneguknya. dia mengangkat bahunya acuh kearah Laudya.


"Terserah, lantai kan ada."


Laudya mendengus, lalu menarik salah satu kursi kosong yang tersedia didapur.


"Gini aja, gue tidur dikamar Lo sama tuh anak, terus lo tidur disofa ruang tengah. Yaya?"


Kevlar menggeleng cepat. enak saja, dia yang punya rumah, dia yang diatur. apalagi hari ini badannya benar-benar lelah, dan apa katanya tidur disofa? big no! sofa ruang tengah terlalu kecil untuk tubuhnya yang besar.


"Gak bisa! enak aja inikan rumah gue, ngapa jadi lo yang ngatur-ngatur!" cibir Kevlar.


Laudya hanya menghela nafas panjang, benar juga apa yang dikatakan laki-laki itu. tapi dia tidak mau tidur disofa. Badannya akan menjadi pegal-pegal saat pagi tiba. dan Laudya tidak mau itu sampai terjadi.


"Terus gue tidur dimana?"


"Gue kan udah bilang, ada lantai!"


"Lo kok tega banget sih! kalau gitu gue balik aja deh." ujarnya seraya berjalan keluar.


Kevlar langsung mencekal lengan perempuan itu. "Ck, ribet lo!"


"Ya gimana, gue gak diperlakukan selayaknya tamu!"


"Emang lo memperlakukan gue selayaknya tamu?"


Laudya menyengir polos, lalu kepalanya menggeleng teratur.


"Ck, karena kamarnya cuma satu,,, mau gak mau kita tidur seranjang."


Laudya membelak. dia membuka suaranya hendak protes.


"Sttt!! tenang aja, gue gak akan ngapa-


ngapain Lo. kan ada bocil tuh, nah dia ditaro ditengah-tengah antara lo dan gue."


...•••••BERSAMBUNG•••••...


NOTE : Kalau kalian suka cerita ini, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terus dukung aku dengan cara vote dan komentar dicerita ini. terimakasih.