
Seorang wanita paruhbaya yang berumur sekitaran 45 tahun itu membuka pintu kamar sang anak dengan kasar, hingga membuat anaknya tersentak kaget.
"Astaghfirullah ma, kalau masuk kamar Aa teh, ketuk pintu dulu atuh." ujarnya seraya bangkit dari kasur.
Wanita paruhbaya itu langsung menarik telinga anaknya saat dia tau anaknya akan melarikan diri.
"Mau kemana kamu, Brian?" ujar Yaya tajam. Ya, nama wanita paruhbaya itu adalah Yaya, ibunda dari Kevlar dan Brian.
"Hehe, gak kemana-mana kok ma." balas Brian sambil menyengir lebar. Yaya berdecak melihat tingkah anaknya.
"Kenapa kamu gak bilang sama mama kalau A'kev nginep di apartemen nya?" tanya Yaya tajam. sontak Brian langsung membelak kaget.
"Loh, ma. A'kev teh gak ada ngomong sama A'bri."
"Jangan bohong, Brian! mama gak pernah ngajarin anak-anak mama buat bohong!"
Brian menghela nafas. jika mamanya sudah benar-benar menyebut namanya, tandanya mamanya sudah tidak main-main lagi.
"Iya ma, Brian minta maaf. Brian lupa bilang sama mama semalem." ucap Brian sambil menundukkan kepalanya.
Yaya menghembuskan nafasnya, mau marah juga sudah terlanjur.
"Emang semalam A'bri pulang jam berapa?" tanya Yaya yang sudah kembali seperti biasanya.
Brian meneguk ludahnya sendiri, gawat. pertanyaan yang menjebak.
"A-- A'bri, pulang jam 10 malem ma."
"Masa?? kok mama gak tau? padahal jam 10 mama masih nonton Drakor loh."
Tuhkan! apa Brian bilang. ini benar-benar pertanyaan yang menjebak dirinya.
"Brian pulang jam 2 pagi ma." Dengan berat hati Brian berkata jujur. Mamanya itu selalu mempunyai cara tersendiri untuk membuka mulutnya.
"Nah kan! sudah mama duga. mentang-mentang papa lagi keluar kota, kalian jadi pada enak-enakan keluar malem ya." ujar Yaya sembari menjewer telinga anaknya.
"Aw-aw sakit mah."
"Rasain, salah siapa udah berani bohong sama mama."
"Tapikan A'kev juga ma!"
"Nanti mama akan jewer A'kev juga kalau dia udah pulang."
"ASSALAMU'ALAIKUM!" Teriak seseorang dari luar.
Brian menghela nafas lega saat Dewi keberuntungan telah tiba. Mama nya melepaskan jewerannya dan berjalan keluar untuk membuka pintu.
"Waalaikumsalam." balas Yaya sembari membuka pintu. dia tersenyum kala melihat anak gadis sahabatnya yang sudah seperti anaknya sendiri.
"Halo, Taya." seru gadis itu sembari tersenyum cerah. dia sengaja memanggil Taya kepada Yaya karena singkatan dari 'Tante Yaya' itu sudah menjadi kebiasaan nya sejak kecil.
"Halo juga, Kina cantik," balas Yaya yang membuat Kina malu.
"Ayo masuk." Yaya dan kina berjalan beriringan menuju ruang tengah.
"A'kev kemana Taya?" tanya kina saat melihat kehadiran Brian, namun tidak bersama Kevlar. biasanya mereka berdua akan selalu bersama jika dirumah.
"Oh, A'kev lagi apartemennya." jawab Yaya.
Kina mendengus lesu ditempatnya, lalu dia mendudukkan tubuhnya disamping Brian yang kebetulan duduk disofa panjang. Kina menyandarkan kepalanya di bahu Brian.
"Kenapa sih nanyain A'kev Mulu kalau kesini? sekali-kali cariin gue kek." ujar Brian sembari mengelus lembut rambut Kina.
"Karena A'kev itu penting untuk Kina!"
"Terus, gue gak penting gitu?"
"Penting, tapi gak penting-penting banget."
Baru saja Brian bersiap untuk terbang, namun dia langsung merasa dijatuhkan begitu saja.
...•••••YOUNG PARENTS•••••...
Kevlar menghela nafas saat Laudya terus mendiaminya. Saat gadis itu terbangun dari tidurnya dan melihat tubuhnya tengah dipeluk erat oleh Kevlar, Laudya langsung berteriak histeris seperti pagi tadi dan berujung mendiaminya sampai sekarang.
Kevlar mengacak-acak rambutnya kesal. Jika tau begini keadaannya, dia tidak akan memeluk tubuh Laudya.
"Umma, Mimi." seru Una.
Dengan diam, Laudya berjalan ke dapur mengambilkan Una sekotak susu. Setelahnya dia kembali dan menyerahkan susu itu kepada Una. Una meminum susunya dengan diam, matanya menatap lurus kerah Kevlar yang sedari tadi terus bergerak gelisah.
"Uppa napa?" tanya Una.
"Hah? gak-- gak papa." balas Kevlar kelabakan.
Una mengernyit tidak percaya, lalu dia turun dari sofa dan berjalan menghampiri Kevlar yang duduk disofa seberangnya.
"Uppa atit?" tanya Una lagi. Kevlar menggeleng sebagai jawaban.
"Benelan?"
"Iya, gu- eh, maksudnya kakak gakpapa. beneran."
Una mengangguk percaya lalu merentangkan tangannya lebar meminta digendong Kevlar. lalu dengan segera Kevlar mengangkat Una dan menaruhnya dalam pangkuannya.
"Uppa, Umma napa?" tanya Una saat melihat Laudya yang sedari tadi terus diam.
"Marah kali," jawab Kevlar pelan.
"Malah? emang malah kenapa Uppa?"
"Gaktau, Mungkin karena dipeluk tadi."
Una mengernyit bingung ditempatnya, dia tidak paham dengan Maksud Kevlar. Kevlar yang mengerti tidak pahaman Una langsung berdecak. salahnya sendiri berbicara seperti itu dengan batita.
"Emang kalau masih kec--"
"Husttt.... diem-diem. jangan banyak tanya."
Una langsung diam di tempatnya. Sedangkan Laudya hanya duduk diam di single sofa. Dia malas berbicara karena sedang tidak mood karena Kevlar.
Laudya akui, dia bukanlah gadis yang alim atau terlalu menjaga dirinya. dia juga bukan gadis yang dengan begitu mudahnya menyerahkan diri kepada laki-laki. Laudya hanyalah gadis yang urakan dan tidak punya malu, namun disisi lain dia juga sangat berhati-hati dan menjaga diri.
Okelah untuk yang tadi pagi Laudya masih bisa menoleransi karena adanya Una yang menghalangi tubuh mereka berdua. namun untuk siang ini, Laudya tidak menoleransi lagi. karena Kevlar dengan sengaja memeluknya.
"Lau," panggil Kevlar. Laudya hanya diam. tidak menggumam dan tidak menyahut.
"Laudya."
"Umma!" kini Una ikut membantu Kevlar untuk memanggil Laudya.
"Umma, kata Uppa, Umma lagi malah ya?" tanya Una. Laudya langsung menatap tajam Kevlar. bisa-bisanya cowok itu menggunakan Una untuk membuatnya bicara.
Sedangkan Kevlar menggeleng cepat ditempatnya. dia tidak bermaksud seperti itu. Dia juga tidak menyangka bahwa Una akan mengerti maksudnya tadi.
Kevlar berdecak, kenapa dihadapan Laudya dia selalu menjadi pihak yang kalah? padahal sebelumnya dia menjadi seseorang yang kuat dan ditakuti karena sikap dingin dan tatapan tajam nya. Sedangkan jika bersama Laudya malah kebalikannya. Kevlar akan merasa sedikit tidak nyaman saat melihat tatapan tajam gadis itu. Yang Kevlar mau hanya senyuman dan perhatian kecil dari Laudya.
Kevlar berdecak kesal. dia tidak tahan dengan keterdiaman Laudya dan suasana yang berubah menjadi akward ini.
Kevlar bangkit dari duduknya lalu memberikan Una kepada Laudya.
"Cepet siap-siap. Kita akan pergi belanja kebutuhan Una." seru Kevlar yang langsung berjalan ke kamarnya.
Laudya mengumpat kesal.
"Emang siapa sih yang mau pergi sama dia?!"
Una yang berada dipangkuan Laudya mendongak. "Apa Umma?" tanya Una. dia berpikir bahwa barusan Laudya berbicara dengan nya.
Laudya menghela nafas, lalu menggeleng.
"Enggak papa kok, ayo kita siap-siap." seru Laudya.
"Mau pelgi ya Umma?"
"Iya,"
"Mau pelgi kemana Umma?"
"Kemana ya? Kakak juga gak tau."
"Kakak?" tanya Una bingung. Laudya mengernyit sebentar lalu mengangguk. dia memang selalu menyebut dirinya 'Kakak' walaupun Una selalu memanggilnya 'Umma'
"Kakak itu apa Umma?"
"Emm-- kakak itu panggilan buat orang yang lebih tua dari kita. contohnya kakak, kakak kan lebih tua dari Una. jadi Una harus panggil kakak, kakak Laudya, bukan Umma. paham?"
Una mengangguk.
"Paham Umma." serunya.
Laudya menghela nafas, dia sudah menyerah menyuruh Una untuk memanggilnya kakak namun batita itu terus menyebutnya Umma, Umma dan Umma.
...•••••YOUNG PARENTS•••••...
Laudya dan Kevlar berjalan beriringan memasuki sebuah mall yang berada di Jakarta. Keduanya tampak seperti pasangan muda apalagi dengan keberadaan Una yang ada digendongan Kevlar membuat mereka semakin terlihat seperti sepasang keluarga.
Mereka berjalan kearah toko yang menyediakan berbagai keperluan batita. Laudya berjalan kearah pakaian, karena pakaian milih Una yang berada di apartemen Kevlar sangat terbatas.
Kevlar berjalan sembari mendorong troli dibelakang Laudya. dia juga sudah menaruh Una untuk duduk didalam troli. Keduanya benar-benar nampak serasi. apalagi saat Laudya bertanya kepada Kevlar untuk memilih baju yang cocok.
"Menurut lo, yang pink atau yang biru?" tanya Laudya sembari menunjukkan dua baju tidur dihadapan Kevlar.
"Birulah! Una kan cowok, masa pakai pink." ujar Kevlar cepat.
"Ih, tapi yang pink gemes tau."
"Tapi bagusan yang biru."
"Pink, soalnya cerah gitu."
"Enggak! pokoknya warna biru."
"Kenapa sih biru Mulu!"
"Karena Una cowok!"
"Ini juga bisa kok buat cowok." kekeh Laudya.
Tanpa mereka berdua sadari, perdebatan mereka menjadi perhatian pengunjung lain. Apalagi ekspresi Una yang kebingungan menambah kesan gemas.
Seorang pegawai perempuan menghampiri Kevlar dan Laudya yang tengah berdebat.
"Maaf mbak, mas." seru pegawai itu.
Kevlar dan Laudya langsung menatap pegawai itu tajam.
"Ehm. maaf mengganggu. tapi bisa tolong hentikan perdebatan kalian? soalnya pengunjung lain merasa terganggu."
Kevlar dan Laudya langsung mengedarkan pandangannya. dan benar saja. pengunjung lain sedang menatap kearah mereka. Laudya dan Kevlar dengan spontan menunduk dan mengucapkan maaf kepada para pengunjung. mereka juga meminta maaf dan berterima kasih kepada pegawai yang menegur mereka.
"Yaudah beli dua-duanya aja." suruh Kevlar.
Tanpa menolak, Laudya langsung memasukkan keduanya kedalam troli. kini keduanya kembali mengitari toko dan mencari keperluan Una yang lain.
...•••••BERSAMBUNG•••••...
NOTE : Kalau kalian suka cerita ini, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terus dukung aku dengan cara vote dan komentar dicerita ini. terimakasih.