YOUNG PARENTS

YOUNG PARENTS
YOUNG PARENTS 1



...•••••SELAMAT MEMBACA•••••...


Seorang gadis cantik yang menggunakan seragam SMA itu berjalan kesal sambil menghentakkan kakinya. ini karena motor kesayangannya yang tiba-tiba bocor dan dia harus berjalan kaki menuju sekolah.


Dia melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. 06.50, tandanya 10 menit lagi bel masuk akan berbunyi namun dia belum juga sampai disekolah. ck, dengan cepat gadis itu berlari tergesa-gesa. mengabaikan tatapan aneh dari pengguna jalan lainnya.


"Hosh…hosh… akhirnya, sampai juga!" ujarnya saat sudah tiba didepan gerbang sekolahnya.


"Laudya!"


Gadis yang sedang berdiri didepan gerbang itu menoleh ke sumber suara. lalu dia melihat seorang gadis sepantarannya melambaikan tangan didepan sana.


Setelah nafasnya kembali teratur, gadis yang dipanggil Laudya itu berjalan menghampiri teman yang memanggilnya.


"Ck, abis ngapain lo? baju sampe lecek begini, keringetan lagi. padahal masih pagi." ujarnya heran saat melihat penampilan Laudya yang sangat acak-acakan dari biasanya.


"Si Perry tiba-tiba bocor. jadi gue harus jalan kaki, karena takut telat, jadi deh gue lari." jelas Laudya. dan 'Perry' adalah nama motor kesayangannya.


"Ck, bodoh! kenapa ga bilang sama gue? gue kan bisa jemput lo dulu."


"Ya gimana Sil? orang lagi panik, mana sempat kepikiran? mana tadi gue kesiangan."


"Udah deh, kesialan hari ini emang berpihak sama lo," ujar Sila, teman Laudya.


"Sialan lo!" umpat Laudya tak terima.


Sila hanya tertawa. lalu merangkul pundak Laudya dan berjalan beriringan memasuki sekolah saat bel masuk berbunyi.


...•••••YOUNG PARENTS•••••...


"Gue balik dulu deh," ucap Laudya saat dirinya selesai piket.


Sila mendengus kesal, "Gue kan belum selesai!"


"Gue pulangnya jalan Sil,"


"Gue anterin deh. tenang aja."


"Gak usah, rumah lo beda arah sama kontrakan gue. udah deh gak papa, lagian juga masih ada Rumi. iya gak rum?"


Rumi yang dimaksud yang sedang mengepel lantai mengangguk.


"Ya udah, sana lo balik!" usir Sila.


"Dih ngusir! yaudah gue balik dulu bye."


Laudya berjalan meninggalkan kelasnya. lalu dia turun dari lantai dua menuju gerbang sekolah.


Sekolahnya ini gedung bertingkat seperti sekolah-sekolah biasanya. Lantai satu digunakan untuk kelas 10, lantai dua digunakan untuk kelas 11, lantai ketiga digunakan untuk kelas 12, lantai keempat digunakan untuk aula, dan tempat-tempat olahraga lainnya, dan terakhir lantai lima digunakan untuk rooftop.


Enaknya lagi setiap lantai ada kantinnya masing-masing, jadi yang adik kelas tidak perlu takut untuk berhadapan dengan kakak kelasnya yang sebenarnya tidak perlu di takuti.


Laudya berjalan dengan tenang, tangannya menggenggam erat tali tasnya. perjalanan pulang kali ini cukup sepi karena bel pulang di sekolahnya sudah berbunyi sekitar 30 menit yang lalu. jadilah Laudya berjalan sendirian.


Saat akan berbelok di perempatan menuju kontrakannya, Laudya tersentak saat tangannya digenggam erat oleh seseorang.


"Astaghfirullah…" Laudya langsung menyentakkan tangannya dan menatap terkejut kearah batita kecil yang menggenggamnya itu.


"Copet ya lo?!" ucap Laudya spontan. dia langsung memeluk erat tasnya.


"Percuma kalau mau nyopet gue, gue gak punya uang!"


Batita itu hanya mengerjap bingung menatap Laudya, lalu tangannya kembali meraih tangan Laudya, namun Laudya segera menepisnya.


Mata batita itu langsung berkaca-kaca, "Umma…" dan langsung saja tangisnya pecah begitu saja.


Laudya kelabakan saat tangis batita itu semakin keras, beberapa orang yang melewati perempatan mulai menatap kearahnya.


Laudya langsung menundukkan tubuhnya, agar bersejajar dengan batita itu.


"Cup…cup… jangan nangis dek." ucap Laudya sambil mengelus kepala batita itu.


"Maafin kakak ya." lanjutnya.


Batita itu berhenti menangis, lalu dengan segera dia memeluk tubuh Laudya erat.


"Umma…"


Laudya mengernyit namun tak ayal membalas pelukan batita itu. "Eh… nama kakak Laudya Shakira, bukan Umma."


"Umma… Umma…" teriaknya. Laudya yang kebingungan hanya mengangguk saja.


"Eh…iya-iya. jangan teriak-teriak ya sayang."


"Umma…"


Laudya menatap bingung, orang-orang disekitarnya juga sudah mulai melanjutkan aktivitas nya. Dengan pelan Laudya melepaskan pelukan batita kecil itu.


"Nama adek siapa?" tanya Laudya.


Batita laki-laki itu terdiam sejenak, lalu matanya menatap keatas seperti sedang berpikir.


"Una." lirihnya.


Laudya mengernyit, "Nama kamu Una?" tanyanya memastikan.


Batita itu menggeleng. "Una!"


"Iya, Una?"


"Kan Umma, nama Una, Una!" jelasnya dengan cadel. Laudya hanya mengangguk mengiyakan tanpa mau menanggapi lagi. orang dia bilang sendiri namanya Una giliran ditanyain malah jawab bukan!


"Adek Una rumah nya dimana?" tanya Laudya lagi. Batita itu mengernyit bingung.


"lumah?"


"Iya rumah, nanti kakak antar adek pulang kerumah."


"Una, Ndak punya lumah, Umma."


Laudya jadi bingung sendiri. oke mungkin dia salah mengajukan pertanyaan.


"Kalau mama sama papa kamu dimana?"


"Mama??"


Batita itu menunjuk kearah Laudya. "Umma, mama."


Laudya menghela nafas, lalu berdiri kembali. Dia menatap ke sekeliling namun tidak menemukan seseorang yang mencurigakan. Karena tidak mau menambah masalah Laudya berjalan pergi meninggalkan batita itu sendirian.


Biarlah dia di cap sebagai orang jahat, nyatanya dia tidak seperti itu. Masalahnya sudah cukup rumit dan dia tidak ingin menambah masalah lagi.


Tangisan batita itu terdengar keras, mulutnya terus mengucapkan kata 'Umma' sambil menunjuk Laudya yang sudah berjalan agak jauh.


Tiba-tiba seorang laki-laki yang juga mengenakan seragam SMA menarik tangan Laudya kasar.


"Heh mbak! Jangan sembarangan ninggalin anaknya gitu aja! Gak bertanggungjawab banget jadi orang!" cerca laki-laki itu.


Laudya merasa kesal saat orang itu menuduhnya, dia balik menatap tajam laki-laki yang menggendong batita itu.


"Jangan asal nuduh ya mas! Gue baru ketemu dia tadi."


"Gak mungkin! Nyatanya dia manggil lo mama."


"Gue juga gak tau kenapa dia manggil gue mama, pokoknya yang jelas gue bukan mamanya!" tegas Laudya.


"Gak bertanggungjawab banget lo! Makanya kalau belum siap punya anak, main aman dong."


"Eh mulut lo kalau ngomong bisa dijaga gak? Jangan kurang ajar dong!"


"Loh, gue benerkan? Nyatanya lo buang anak lo sendiri."


Dan aksi adu mulut mereka berdua mulai disaksikan oleh banyak orang. Bahkan ada yang merekamnya juga.


Tiba-tiba seorang ibu-ibu datang menghampiri nya. "Permisi, mbak, mas."


Laudya yang tadinya menatap tajam laki-laki itu beralih menatap kearah ibu-ibu.


"Mbak, sama mas kalau ada masalah rumah tangga, mendingan dibicarakan baik-baik dirumah. Malu mbak, mas dari tadi jadi bahan tontonan orang-orang. Kasian juga sama anaknya udah mau nangis tuh." ucap ibu-ibu itu.


Laudya langsung menatap ke sekeliling, benar saja mereka sudah menjadi tontonan. Lalu matanya beralih menatap kearah batita yang berada digendong laki-laki itu. Benar saja mata batita itu sudah memerah dan berkaca-kaca.


Sedetik kemudian Laudya merasakan tangannya ditarik. Dan Laudya menghela nafas saat laki-laki itu lah menariknya kesebuah mobil mewah yang terparkir cantik dipinggir jalan.


"Masuk!" ujarnya sambil mendorong tubuh Laudya masuk kedalam mobilnya.


Lalu tak lama kemudian laki-laki itu memutari mobilnya dan ikut masuk menyusul Laudya.


"Dimana rumah lo?" ucapnya datar.


Laudya tak bergeming ditempatnya. Dia hanya menatap datar kearah depan.


Laki-laki itu menggeram tak suka saat Laudya mengabaikan nya. Jika saja Laudya ini laki-laki, sudah dia jamin Laudya bakal habis ditangannya.


"Gak punya telinga lo? atau gak punya mulut!" ucapnya lagi.


Laudya menghela nafas, lalu menatap laki-laki itu tajam. "Lo siapa sih..." tanyanya akhirnya.


Laki-laki itu mengernyit menatap Laudya. Sedang mengajak berkenalan, huh?


"Dateng-dateng memfitnah orang, dateng-dateng bawa masalah buat orang. Gini ya, masalah gue tuh udah banyak, gue gak mau nambah masalah lagi. Dan sekarang, masalah gue udah bertambah gara-gara ke-sok-tauan Lo!" sambung Laudya tajam. Kini matanya menyiratkan emosi yang begitu kentara.


Laki-laki itu terdiam. Dia merasa sedikit bersalah kepada gadis disampingnya. Namun wajahnya tidak menyiratkan rasa bersalah itu, malah terlihat datar-datar saja.


Laudya membuka pintu mobil dengan kasar, namun tangannya segera dicekal oleh laki-laki itu.


"Mau lo apa sih?!" Teriak Laudya, runtuh sudah pertahanannya.


Batita yang berada dipangkuan laki-laki itu terkejut, tak lama kemudian suara Isak tangis memenuhi setiap sudut mobil.


Laki-laki itu menatap datar Laudya, lalu dengan sekali sentak, tubuh Laudya sudah kembali duduk di kursi sebelah. Dia bergeser sedikit dan tangan panjang nya terulur untuk menutup pintu mobilnya kembali, lalu sebelah tangannya menekan kunci otomatis agar Laudya tak bisa kabur lagi.


"HUAA Umma..." tangisan itu terdengar semakin keras.


Laudya yang tidak menyukai anak kecil hanya menatap datar kearah batita itu.


Laki-laki itu mencoba menenangkan batita itu, namun sang batita mengulurkan tangannya kearah Laudya meminta untuk digendong.


Dengan malas Laudya menggendong batita itu dan menaruhnya kedalam pangkuannya.


"Rumah lo dimana?" tanya laki-laki itu dengan sedikit lembut.


"Jalan aja, nanti gue kasih tunjuk."


Laki-laki itu mengangguk dan mulai menjalankan mobilnya.


"Umma..." panggil batita itu dengan terisak.


"Hmm?" gumam Laudya. Dirinya benar-benar tidak mood untuk berbicara.


"Umma, malah?" tanyanya.


Laudya menganggukkan kepalanya, "Gak!"


Sedangkan laki-laki disamping Laudya menatap Laudya heran. Mulut dan perlakuannya tidak sejalan. Dasar perempuan.


"Una,, minta maaf Umma." lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Laudya menghela nafas berat, dirinya benar-benar muak saat harus melihat air mata lagi.


"Una..." panggil Laudya lembut. Kini dia membalikkan tubuh batita itu menghadap kearahnya.


"Iya Umma?"


"Una... Kakak tanya sekali lagi ya, mama sama papa Una dimana? Biar kakak yang antar Una pulang kerumah."


Batita itu terdiam. Lalu tak lama kemudian dia menjawab. "Umma mamanya Una..." lalu batita menunjuk laki-laki disebelah Laudya. "Itu Uppa, papanya Una."


Cit!


Mobil yang ditumpangi Laudya mengerem mendadak. Untung saja Laudya sudah mengenakan sabuk pengaman dan langsung memeluk tubuh babita itu erat, jika tidak mungkin mereka berdua akan menghantam dasboard dengan keras.


"LO GILA?!" maki Laudya. Laki-laki itu menatap horor kearah batita dipangkuan Laudya, dan mengabaikan tatapan tajam yang dilayangkan oleh gadis itu.


"Coba ngomong sekali lagi?" ujar laki-laki itu.


Batita itu mengernyit, lalu membuka suara, "Umma mamanya Una, Uppa papanya Una." jelas batita itu sembari menunjuk laki-laki itu dan Laudya bergantian.


...•••••BERSAMBUNG•••••...