
Setelah sarapan, Kevlar dan Laudya bergantian menjaga Una saat ingin membersihkan diri. kini giliran Kevlar yang menjaga Una. Dan Laudya pergi membersihkan diri.
"Mau minum gak?" tanya Kevlar. Una menggelengkan kepalanya sambil terfokus pada layar tivi yang menyala.
"Mau makan?" Una menggeleng lagi.
"Pipis?"
"Mandi deh Mandi. yok, mandi yok!"
Una berdecak kesal saat Kevlar terus saja menggangu acara nontonnya.
"Uppa belicik!"
Kevlar cengo ditempatnya. dia tidak menyangka bahwa Una akan berkata seperti itu kepadanya. Langsung saja dia menarik kepala Una sampai batita itu terjungkal kebelakang.
"Siapa yang ngajarin?" ujar Kevlar tajam. dia tidak suka saat batita itu berkata seperti tadi.
Mata Una berkaca-kaca, dia merasa takut saat mata Kevlar menatapnya dengan tajam. dan tak lama kemudian Una menangis keras. Kevlar berdecak, lalu dengan cepat dia memeluk tubuh Una agar segera berhenti menangis.
"Kenapa nangis sih? orang cuma ditanyain doang!" kesal Kevlar. namun sikapnya berbanding terbalik dengan ucapannya. Kevlar justru bangkit dari duduknya lalu menggendong Una. dia menimang-nimang batita itu sampai tangisannya berhenti.
"Cengeng." ledek Kevlar saat tangisan Una sudah berhenti.
Una memalingkan wajahnya lalu minta diturunkan dan langsung berlari ke kamar Kevlar, berniat ingin mengadu pada Umma nya.
Seketika Kevlar langsung panik, dia mengejar batita itu, tapi sayang dia sudah terlambat. pintu kamarnya sudah terbuka lebar dan batita itu sudah berlari masuk.
Laudya yang berada didalam kamar hanya dengan menggunakan handuk terbelalak kaget saat Una memasuki kamar dan memeluk kakinya erat. lalu tak lama kemudian Laudya mendengar suara tangisan. Langsung saja Laudya membawa tubuh Una kedalam gendongannya dan melupakan bahwa sekarang dia masih menggunakan sehelai handuk untuk menutupi tubuhnya.
"Kenapa??" tanya Laudya sembari mengusap air mata Una.
Una menangis terisak di gendongan Laudya.
"Uppa, akal!" ucapnya sambil terisak. Laudya mengernyit, dia masih bingung.
"Emang diapain?"
"Uppa malahin Una, Umma." Laudya langsung terbelalak. lalu dia berjalan cepat keluar kamar dan menemukan Kevlar yang berdiri mondar-mandir di depan pintu. Laudya langsung menatap tajam Kevlar.
"Apa?" tanya Kevlar polos. dia malah salah fokus dengan penampilan Laudya.
"Kenapa marahin Una?" tanya Laudya tajam. sedangkan Una menatap tajam kearah Kevlar, sekarang dia merasa aman karena Laudya membelanya.
"Hah?" ucap Kevlar cengo. Dia sedari masih salah fokus dengan penampilan Laudya dan malah di beri pertanyaan.
"Hah-Heh-Hoh! jawab yang bener!" sentak Laudya.
Seakan paham dengan situasi, Kevlar langsung menatap tajam Una dan mengabaikan Laudya.
"Heh, ngomong apa Lo?!" tanya Kevlar kepada Una. Una yang merasa takut langsung kembali memeluk tubuh Laudya.
"Jangan melototin Una!" peringat Laudya. Kevlar berdecak kesal, entah apa yang batita itu katakan kepada Laudya. Kevlar langsung kembali keruang tengah sebelum salah fokus lagi.
Laudya yang merasa belum selesai dengan urusannya, mengikuti Kevlar sampai keruang tengah.
"Apalagi sihh??" ujar Kevlar sebal.
"Jawab dulu, kenapa marahin Una?" desak Laudya.
"Siap sih yang marahin? ada yang marahin dia aja enggak!"
"Bohong! Una sendiri yang bilang sama gue, kalau lo marahin dia."
"Dia tuh yang bohong! orang gue marahin dia enggak."
"Eh, anak kecil gak pernah bohong ya!"
Kevlar berdecak, kini dia tidak akan percaya lagi dengan teori yang mengatakan bahwa 'Anak Kecil Tidak Pernah Berbohong'
"Gue gak ngapa-ngapain dia, sumpah!"
"Coba, Una bilang sama kakak, kamu tadi dimarahin gak sama kakak itu?" tanya Laudya sembari menunjuk Kevlar. Una mengangguk sebagai jawaban.
Laudya langsung menatap Kevlar.
"Ck, dibilangin ngeyel!" kesal Kevlar. lalu dia membaringkan tubuhnya disofa membelakangi Laudya dan Una.
Laudya berdecak melihat tingkah Kevlar, lalu dia berniat memberikan Una lagi kepada laki-laki itu namun Una menolak dan tidak ingin bersama Kevlar.
"Sebentar aja Una, kakak mau selesain ganti baju dulu." bujuk Laudya. Una tetap menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya pada leher Laudya.
"Bantuin Kev!" ujar Laudya sebal.
Kevlar berdecak kesal, lalu dia bangkit dari tidurnya dan menghampiri Laudya. dia mengangkat tubuh Una cepat, namun karena pegangan tangan yang sangat kuat pada leher Laudya, Kevlar melepaskannya lagi.
"Orang dianya gak mau kok!"
"Ya dicoba lagi kali! masa gue seharian gak pake baju sih?"
"Yaudah gak usah pake baju aja. ribet amat."
"Enak aja, yang ada Lo malah napsu sama gue!"
Kevlar yang sudah terlanjur kesal langsung menarik paksa tubuh Una hingga terlepas dari Laudya. Una menangis keras dan terus memberontak di gendongan nya. Laudya langsung berlari kedalam kamar dan segera memaki baju Kevlar yang kebesaran ditubuhnya. setelah selesai dia balik lagi keruang tengah dan menenangkan Una yang menangis sesenggukan.
"Ck, pantes banget tuh jadi anak lo!" ujar Kevlar kembali merebahkan tubuhnya disofa.
Laudya mendengus, lalu dia kembali menenangkan Una dalam gendongannya.
...•••••YOUNG PARENTS•••••...
Kevlar berdecak kesal saat tidur gantengnya terganggu dengan suara dering ponsel yang memekikkan telinga. dengan mata terpejam dia meraba-raba sofa dan menemukan ponselnya.
"Halo?" ucap Kevlar dengan suara seraknya.
"Aa dimana? kenapa gak pulang kerumah?" tanya seseorang diseberang sana. Kevlar berdecak kesal lalu menatap layar ponselnya yang tertera tulisan 'Mama'
"Kevlar di apartemen ma."
"Kenapa gak ngabarin orang rumah? buat mama khawatir aja kamu tuh!"
"Kevlar udah ngabarin Brian, ma." ucap Kevlar sembari menyertakan nama adiknya.
"Tapi Brian gak bilang sama mama, kalau Aa nginep di apartemen."
"Kevlar gak tau, tanya Brian sendiri. udah dulu ya ma, Kevlar masih ngantuk." ucap Kevlar seraya memutuskan panggilan nya sepihak.
Kevlar sedikit membenarkan posisi tidurnya, lalu dia mengernyit saat merasakan sesuatu yang aneh. Kevlar langsung bangkit dari tidurnya lalu memungut kaos yang tergeletak dilantai. dia menatap sekeliling apartemen nya yang terasa sepi.
Kevlar berjalan cepat kearah kamarnya lalu bernafas lega saat mendapati kedua orang yang dicarinya sedang tertidur sambil berpelukan dikasur. Kevlar mengernyit, kok sudah tidur lagi? emang jam berapa?
Kevlar memutar kepalanya dan melihat jam dinding dilamarnya yang menunjukkan pukul 12:30. pantas saja kedua orang itu tidur.
Kevlar menyusul keduanya dan ikut tidur dikasur. kini bukan Una yang tidur ditengah-tengah, melainkan Laudya. gadis itu tidur sambil membelakangi Kevlar.
Kevlar berdecak, dia mengambil selimut untuk menjadi batas antara dia dan Laudya. dia tidak ingin drama tadi pagi terulang kembali karena dua tidak sengaja memeluk tubuh gadis itu. setelah selesai membuat batas, Kevlar menyamankan posisinya dan tak lama kemudian dirinya sudah menyelami alam mimpi.
Sekarang ketiga manusia itu sama-sama menyelami alam mimpi, namun tak lama kemudian kejadian aneh terjadi.
Tanpa sadar Kevlar melepas bajunya dan membuang selimut yang menjadi batas antara dirinya dan Laudya, lalu dia mendekat kearah gadis itu dan memeluk tubuhnya erat.
Kevlar memposisikan wajahnya di tengkuk leher Laudya sambil menghirupnya kuat. bau parfum Laudya jadi sama seperti nya karena Laudya memakai sabun dan parfumnya. entah kenapa, biasanya Kevlar selalu kesal saat ada orang lain yang memiliki bau tubuh yang sama dengan miliknya, tapi khusus Laudya dia menyukainya.
Kevlar semakin mendekatkan tubuhnya dan memeluk Laudya erat. dia sudah kembali tenggelam kealam mimpi, dan melupakan amukan Laudya tadi pagi saat mengetahui Kevlar memeluk tubuh nya.
...•••••BERSAMBUNG•••••...
NOTE : Kalau kalian suka cerita ini, jangan lupa tinggalkan jejak ya. Terus dukung aku dengan cara vote dan komentar dicerita ini. terimakasih.