
Saat bersalaman, dokter erika memperhatikan pergelangan tangan mira sekilas lalu memandang ke arah nabila yang kemudian nabila memberi anggukan untuk menjawab tatapan dokter erika.
“ kita ngapain ketemu dokter ini? “ bisik mira pada nabila
“ nggak ada, Cuma mau ngobrol-ngobrol aja “ jawab nabila tenang
“ ngapain ngobrol sama orang asing sih bil? gue mau pulang aja kalau kayak gini” ucap mira mulai kesal
“ bentar aja kok mir, please... demi gue “ pinta nabila dengan tatapan sedih
Mau tidak mau mira mengikuti kemauan nabila karena tidak tega dengan tatapan sedih nabila, mira tidak mau mengecewakan nabila karena selama ini nabila juga selalu ada untuk mira.
“ kamu sudah berapa lama berteman dengan nabila? “ tanya dokter erika pada mira
Mira mulai berpikir dan menghitung dari tahun pertama bertemu nabila sampai sekarang “ hem... mungkin sekitar 14 tahun “ jawab mira
“ wah.. sudah lama sekali ya “ “ boleh saya bertanya lagi? “ ucap dokter erika agak ragu
“ tanya aja “ jawab mira cuek
“ apakah suasanya hati kamu sering kali berubah-ubah? “ tanya dokter erika
“ ya.. lumayan sering “ ucap mira pendek
“ apakah kamu sering mendapat tuntutan dari orang sekitar kamu? “
Mira memandang dokter erika dengan tatapan kesal “ apa perlu saya jawab pertanyaan dokter? “ ucap mira dengan nada sedikit naik
“ please mir, jawab aja pertanyaan dokter erika, gue mohon sekali ini aja “ pinta nabila dengan suara lirih
Mira menghela napasnya lelah, “ oke. Orang tua saya selalu mengatur semua yang akan saya jalani, bahkan saya tidak pernah sekalipun mempunyai kesempatan untuk mengemukakan keinginan saya. Saat saya mulai melakukan apa yang diinginkan orang tua saya, saya selalu merasa saya tidak berguna karena selalu diatur. Rasanya saya selalu ingin pergi menjauh dan tak ingin lagi berada di dunia ini “ ucap mira dengan wajah datar
“ baiklah, cukup untuk hari ini “ ucap dokter erika yang kemudian menulis sesuatu di selembar kertas. “ nabila, setelah ini kamu tebus obat ini ya, minggu depan kita ketemu saja di klinik saya” jelas dokter erika
“ mira, saya harap kamu jangan terlalu membebani diri kamu sendiri. Kalau kamu ingin menolak kamu katakan saja, jangan dipendam sendiri. Saya mohon kamu jangan sakiti dirimu lagi “ ucap dokter erika tulus sambil menggengam kedua tangan mira dan mira hanya diam saja tanpa menjawab ucapan dokter erika
“ baiklah, kalau begitu saya duluan ya. Bye nabila bye mira “ pamit dokter erika
“ terimakasih dok “ ucap nabila dan diangguki oleh dokter erika, sedangkan mira hanya diam saja
“ ini terakhir kali gue ketemu itu dokter ya bil. nggak ada lagi lain kali “ ucap mira setelah dokter erika pergi
Nabila terpaksa menggangguk, padahal dia punya rencana untuk membuat mira berkonsultasi lagi. “ oke. Tapi kita harus tebus obat lo dulu dan lo harus minum ini obat” perintah nabila dan diangguki oleh mira padahal dalam batinnya dia sangat malas
Setelah menebus obat di apotek, mereka kembali kerumah karena sudah lelah dan ingin beristirahat. Mira naik ke atas untuk kekamarnya, sedangkan nabila duduk bersantai dipinggir kolam renang.
Kring... kring...
“ halo ma assalamualaikum “
“ waalaikumusalam. Gimana kamu disana mir?” tanya mama ratna seberang telepon
“ baik. Disana gimana ma? “
“ semuanya baik kok, kemarin acara kakakmu juga lancar semua. Keluarga besar kita dan keluarga bimo datang semua, cuma kamu yang nggak ada”
Mira hanya terdiam mendengar celoteh mamanya.
“ kamu udah daftar ulang? Kapan mulai masuk? “
“ kemarin daftarnya, minggu depan baru mulai ospek”
“ inget ya mir, kamu jangan centil-centil. Mama nggak mau kamu nanti disukai sama orang yang nggak mama suka. Kamu juga jangan suka sama siapapun karena mama udah pilihin jodoh kamu “
Mira mencengkeram ponselnya kuat-kuat, ingin rasanya dia berteriak pada mamanya tetapi dia tidak bisa melakukannya.
“ kamu kok diem aja sih, jawab mama dong mir”
“ iya ma. Udah dulu ya ma, mira lagi sibuk ni”
“ ya udah kamu hati-hati disana, jangan sampai kamu buat malu keluarga “
Panggilan pun berakhir setelah mama ratna berkata seperti itu. Mira langsung melemparkan ponselnya ke dinding sampai ponsel itu hancur berserakan dilantai.
“ arghh....” teriak mira sambil membanting semua barang yang ada diatas nakas
“ arghhh... “ mira mulai berteriak tak terkendali dan meleparkan selimut, bantal dan gulingnya ke lantai, saat ini kamar mira benar-benar seperti kapal pecah.
Nabila tersentak kaget karena mendengar teriakan mira dikamarnya, nabila langsung berlari menaiki tangga lalu menggedor pintu kamar mira.
Dok.. dok... dok...
Dok... dok.. dok..
Nabila kembali menggedor pintu kamar mira karena tak ada jawaban apapun, dia mencoba menarik handle pintu kamar mira namun pintunya terkunci dari dalam. Nabila menjadi sangat khawatir, dia takut terjadi apa-apa pada mira.
Nabila lari menuju meja dekat kolam renang untuk mengambil ponselnya, dia menscrol nomor seseorang lalu mulai memanggil nomor tersebut.
“ halo mas”
“...”
“ mas tolong mas “ ucap nabila dengan panik
“...”
“ tolong kesini secepatnya mas”
“...”
Setelah panggilan terputus, mira berlari keluar rumah untuk meunggu seseorang datang. Selang dua puluh menit, terdengar suara mobil dari luar gerbang. Nabila membuka pintu gerbang itu lalu mengajak orang yang turun dari mobil itu masuk kedalam rumah.
“ ada apa bil? “ tanya orang itu yang ternyata adalah emir
“ tadi bila denger mira teriak tapi saat mira menggedor pintu kamar mira, mira nggak buka pintunya sama sekali. Bahkan pintunya juga dikunci mas. Nabila khawatir terjadi apa-apa sama mira” jelas nabila dengan wajah paniknya
Mendengar penuturan nabila, emir langsung berlari menaiki tangga ke kamar mira. Emir mulai menggedor pintu kamar mira namun tak juga pintu itu terbuka. Akhirnya emir memutuskan untuk mendobrak pintu kamar mira.
Sampai tiga kali dobrakan, pintu tak kunjung terbuka.
Brak....
Keempat kalinya dengan tenaga yang super kuat terbukalah pintu tersebut dengan paksa yang mengakibatkan engsel pintu dan handle pintu menjadi rusak.
Emir masuk kedalam dan diikuti oleh nabila, saat ini kamar mira dalam keadaan yang sangat berantakan dimana semua barang bercampur menjadi satu.
“ mas, mira nggak ada “ ucap nabila dengan panik setelah mencari disekeliling kamar
Emir terdiam lalu menatap pintu kamar mandi, emir bergegas membuka pintu kamar mandi. Alangkah terkejutnya emir melihat pemandangan yang ada dikamar mandi.
“ mira!” teriak nabila yang tiba-tiba sudah berada di belakang emir
Emir bergegas masuk untuk mengeluarkan mira dari dalam bath-up lalu membawanya keluar kamar mandi dan membaringkan mira diatas tempat tidur.
“ bil, cepat kamu cari kain untuk menutup luka mira “ ucap emir
Dengan cekatan nabila membuka lemari pakaian milik mira lalu mengambil salah satu baju mira.
“ ini mas”
Dengan telaten emir membungkus luka di pergelangan tangan mira dengan pakaian yang diberikan nabila lalu mengikatnya.
“ ayo kita bawa kerumah sakit “ titah emir dan diangguki oleh nabila
Emir menggendong mira sampai kemobilnya lalu meletakkan tubuh mira kekursi penumpang yang dibelakang dan tubuh mira dipegangi oleh nabila sedangkan emir mengemudikan mobilnya.
Tiga puluh menit kemudian sampailah mereka dirumah sakit terdekat. Emir kembali menggendong mira menuju IGD.
“ tolong teman saya dok “ ucap nabila pada dokter yang menangani mira
“ saya akan berusaha menyelamatkan pasien, tolong anda tunggu diruang tunggu saja “ jelas dokter
Tidak berselang lama, dokter itu kembali mendatangi nabila. Dokter itu mengatakan bahwa pembuluh darah mira terputus jadi harus dilakukan operasi untuk menyambungnya kembali.
“ lakukan apapun untuk menyelamatkan teman saya dok “ pinta nabila
“ saya akan berusaha, tolong hubungi walinya untuk mengurus berkas operasinya “ ucap dokter kemudian berlalu.
“ apa kamu sudah menghubungi orang tua mira? “ tanya emir
“ mas, saya nggak bisa kasih tau orang tua mira. Kalau sampai orang tua mira tau mira mencoba bunuh diri pasti mira akan semakin terus ingin mati. “ pinta nabila dengan tulus
“ jadi bagaimana kita akan mengurus berkas operasinya bil kalau walinya tidak ada” ucap emir bingung
“ mas, bagaimana mas emir saja yang jadi walinya.” Bujuk nabila pada emir
“ mana bisa saya jadi walinya mira bil. saya bukan siapa-siapa mira” jelas emir
“ mas nabila mohon mas, bilang aja mas emir calon suami mira. Kita nggak bisa kasih tau siapa-siapa tentang maslah ini mas. Bila mohon sama mas “ pinta nabila sambil menangis