You ...

You ...
What?



Mentari sudah berada pada titik tengahnya, tapi Icha masih sendiri dirumah karena Sandy dan sang ayah belum pulang juga. Gadis itu sudah selesai tugas sekolahnya, dia memilih bermain game online hingga lupa untuk makan siang.


Tiba-tiba perutnya terasa perih dan agak mual. "Ugh?! Aku kan udah makan tadi " batinnya sambil memegang perut bagian kirinya.


Icha tak hanya minus akan sikap dingin dan sakit maag nya tapi dia juga minus dalam daya ingat walau dia berprestasi. Dia berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air putih sambil melihat jarum pendek jam yang mulai ke angka satu.


"Humm … Apa mas ada kelas tambahan?" batinnya dan berjalan kembali ke tempat dimana dia berada tadi. 


Dia balik memainkan ponselnya dan mengabaikan perih di lambungnya itu, perlahan sakit yang dia rasa menjalar ke kepalanya. Icha meletakkan ponselnya dan memejamkan mata dengan tubuh yang mengeluarkan keringat dingin.


Tiba-tiba dia menepuk keningnya sendiri saat menyadari suatu hal. "Ini udah lewat jam makan siang ku, ya allah tapi ini udah sakit banget" gerutunya yang masih memejamkan mata.


Wajahnya pucat pasih, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin karena menahan sakit pada lambungnya dan kepala yang mulai terasa kian berat. Namun layaknya Tuhan tahu jika Icha harus mendapat pertolongan, Agung di datangkan ke rumah Adi karena perintah Sandy yang tak sempat memegang ponsel dan lupa memperingatkan Icha agar tak telat makan. 


Agung memarkirkan motornya pada halaman yang berhias pohon-pohon kecil dan mulai mengetuk daun pintu berwarna coklat dengan motif bunga teratai. Dia mengetuk beberapa kali namun tak ada jawaban dari dalam.


Agung mulai cemas, ia memilih untuk mengintip dari luar jendela dan memastikan Icha tak kenapa-kenapa. Tapi sayang, netran nya menangkap sosok yang dia khawatirkan tengah terkulai lemas di sofa dengan lengan yang menutupi wajah gadis itu.


"Icha!!" gumamnya dan langsung saja dia mendobrak daun pintu itu. Ia berlari menuju Icha.


"Mas?" ucapnya dengan nada kecil hampir tak terdengar. "Mas udah pulang?" suaranya kedengaran jelas sangat lemah.


"Mas Sandy ada kelas tambahan sampai sore,ini mas Agung" jawab Agung. "Kamu belum makan kan?" tanya Agung khawatir.


Gadis itu mengangguk lemah. "Adek lupa. Adek kira udah makan tadi" sahutnya.


"Kalau begitu kamu disini dulu, mas akan siapkan makan siang dan obat maag kamu"


"Mas tahu kotak P3K dimana?" 


"Iya mas tahu, mas kan sering kesini" jawabnya dana berjalan ke dapur, menyiapkan makanan dan obat untuk Icha.


Agung duduk meleseh di dekat Icha. "Sekarang makan, ayo?!" sambil menyuapkan sendok berisi makanan pada Icha. Gadis itu membuka mulutnya kecil dengan posisi dia masih tidur di atas sofa.


"Maaf merepotkan mas" ucapnya dengan mata sayu yang menatap Agung.


"Iya gak masalah, lagian mas udah anggap kamu sebagai adek sendiri" sahut dengan sedikit perih karena ulah sendiri.


Icha hanya mengangguk dan menerima suapan yang terus di beri Agung padanya hingga selesai. "Kamu bisa duduk?".


"Bisa mas, cuma sedikit perih" 


"Yaudah gak masalah, kamu duduk pelan-pelan aja" sahutnya sambil membantu Icha duduk.


Agung memberi minum dan obat yang sudah dia ambilkan untuk Icha. Beberapa menit kemudian Icha sudah tertidur lagi dengan posisi duduk, Agung membenarkan posisi tidur Icha dan tetap berada disamping gadis itu.


"Aku harus bersyukur atau merasa ini musibah, sekarang aku hanya berdua dengan gadis yang ku suka dan satu sisi pikiran ku jauh" batin Agung yang merasa aneh, karena pikirannya menyuruh dia untuk pulang namun hatinya memerintahkan tetap disamping Icha.


Setengah jam berlalu Agung masih bergelut dengan pikiran dan hatinya yang tak sejalan, tapi tiba-tiba ponsel Icha yang tergeletak diatas berdering dengan tulisan "SQ PUBG" yang artinya itu adalah panggilan grup. Agung ragu untuk mengangkatnya tapi akan semakin tak enak membiarkan ponsel itu terus berdering karena Icha akan terbangun.


"Eh bukan Icha?" ucap salah seorang dari mereka.


"Hooh bukan Icha" sahut tiga orang lainnya bersamaan.


"Bang? Icha mana?" 


Dengan wajah yang tak enak karena cemburu Agung pun menjawabnya. "Dia lagi sakit" singkat Agung.


"Oh yaudah bang, makasih ya" dan mereka pun mematikan sambungan teleponnya.


Agung menghela nafas. "Saingan ku luar biasa" gumamnya dan meletakkan ponsel Icha ke tempat semula.


"Aku kecurian sama teman game Icha, mereka udah jauh melakukan komunikasi bahkan berani VC" sambungnya. "Sedangkan aku? Baru kemarin minta id Linenya".


Agung menghirup O² yang disediakan dan meletakan kepalanya pada meja, menghilangkan pikiran menyerahnya untuk mendapatkan hati Icha karena dari sinilah dia diuji dan tak tahu seberapa lama dia akan tahan perasaannya.


"Ya allah kuat kan hamba dalam memenangkan hati umatmu" batinnya dan mulai menutup matanya.


Alhasil Icha dan Agung tertidur disatu ruang yang sama namun tempat yang berbeda, hingga sore menjelang mereka berdua masih terlelap dalam nirwana indah masing-masing.


Ponsel Agung berdering dengan nama sipemanggil Sandy, berkali-kali dia menelpon Agung bahkan menelpon Icha dan mengirim spam kepada kedua insan yang masih terlelap.


Icha yang jika sakit dia tak akan mendengar apapun walau seberisik apapun, begitu juga Agung dia tak akan bangun jika badannya lelah secara fisik. Sandy yang sudah kalang kabut memikirkan Icha dan Agung yang dia pikir tak berani kerumah mengecek keadaan Icha memilih izin pada dosen.


"Maaf bu" ucap Sandy sambil mengangkat tangannya.


"Iya ada apa San?"


"Bisa tolong ibu kirim saja materi pembelajaran yang ketinggalan? Saya cemas pada adek saya bu, dia pelupa dan dia punya sakit maag" jelas Sandy dengan nada bicara secepat kereta api.


"Baiklah, karena cuma kamu sendiri yang ikut kelas tambahan jadi saya akan kirim ke email kamu" ucap dosennya dan Sandy langsung keluar kampus dan mencari angkutan umum.


Didalam angkutan umum dia sangat cemas hingga lupa menggenakan masker, hingga ada seorang bapak-bapak dengan atribut TNI menegurnya.


"Nak kemana masker kamu?" tegur bapak itu lembut.


Sandy menatap bapak itu lalu meraba area wajahnya. "Eh? Maaf pak saya terburu-buru jadi lupa" sambil mengambil masker yang ada di saku kemejanya.


"Lain kali jangan lupa ya" timpal bapak itu lembut.


Sandy mengangguk. Tak lama angkutan umum yang dia tumpangi ia berhentikan dan dia langsung lari kedalam sebuah perumahan. Sebelumnya dia sudah membayar jadi langsung lari begitu saja.


Sesampai di depan rumah dia tak melihat motor Agung yang jelas-jelas terparkir didekat garasi tapi karena sudah kepalang cemas dengan Icha dia tak kelihat sekitar dan langsung masuk kedalam.


Namun sayang saat dia melihat kedalam hal tak terduga terekam jelas oleh netrannya, membuat dia kaget. Sandy mematung di depan Icha dan Agung dan sesekali mengedipkan mata bahwa ini bukan mimpi atau ilusi tapi ini nyata.


..."M**akasih buat yang masih stay baca, kira-kira apa yang di lihat Sandy? Janga pernah bosen ya ^^ maaf gantung"...