You ...

You ...
Halo Garing ><



Benda pipih dengan ukuran 6,5 inci menempati ruang kosong di salah satu tapak jemari lentik seorang gadis muda dan jari terbesarnya menari dengan sangat indahnya di atas layar yang mengeluarkan cahaya.


Semilir angin mengusap lembut rambut yang tergerai panjang hingga sebatas pinggang, wajah lembut nan sejuk mengarah pada benda pipih tersebut. Dengan pupil mata berwarna coklat yang membesar layaknya sebuah boneka, jarinya terus menari diatas layar kaca benda tersebut sambil sesekali menyeringai penuh tanda tanya saat membaca pesan di aplikasi hijau berlogo gagang telepon rumah. Gadis itu terus menarik ke bawah isi pesan yang ada di dalam sana, tanpa dia sadari ada seorang pemuda dengan jas almamater yang di letak begitu saja pada bahunya dan tas ransel yang dia gendong samping.


Perlahan tangan kekarnya membuka knop pintu tanpa melihat siapa yang ada didalam, ia membuang asal tas dan almamaternya itu. Membuat gadis yang tengah duduk di meja belajar itu langsung menoleh pada sosok yang sekarang sudah tergeletak lemas di kasur sambil mengibas-ngibaskan tangannya, berharap ada angin yang keluar. Tapi lelah yang dia dapat.


"Mas" Suara lembut itu keluar dari bibir mungil gadis yang tengah melihat pemuda itu. Sontak membuat pemuda yang dipanggil dengan sebutan "mas" tadi langsung bangkit dan duduk tegak sambil melihat gadis dengan rambut tergerai dan raut wajah penuh tanda tanya.


"Kamu kok bisa di kamar mas?" Tanya pemuda itu. Pada gadis yang tengah duduk menatapnya dan ponsel yang masih dipegang sang gadis yang tak lain adalah adiknya. Namun bukannya menjawab gadis itu berdiri dan berjalan ke arah pemuda yang bernama lengkap Putra Pramana Sandy atau biasa dipanggil Sandy. 


Gadis itu mendaratkan bokongnya ke tepi kasur sang kakak sambil memberi ponsel yang dia pegang. "Ini mas, kamu sudah punya pacar kenapa gak kasih tahu adek?" tanya gadis itu dengan nada kecewa, Sandy pun heran dan bingung dengan kalimat yang baru saja dia dengar dari sang adik. Otaknya mencerna kalimat itu sambil menatap lekat sosok manis di hadapannya, detik berikutnya dia tersadar dan langsung menoleh pada ponsel yang sudah dia genggam.


"Apa kamu membuka ini?" sambil mengangkat ponsel itu dan gadis itu mengangguk. Sandy menghela nafas sambil tersenyum kecil.


"Mas gak punya pacar dek. Yang kamu baca itu bukan pacar sungguhan" jelasnya pada sang adik yang masih setia duduk dengan ekspresi meminta penjelasan lebih.


"Terus kalau gak pacar kenapa isi pesannya sayang-sayang? Dan mas banyak banget masuk grup chat" tutur gadis itu sedikit cepat yang terkesan sedang marah.


"Mas jelasin juga gak bakalan paham kamu dek, gini aja deh simplenya ya. Kamu sering mau game online kan?"


Gadis itu mengangguk pelan. "Terus apa hubungannya?"


"Makanya dengar dulu. Ihh kamu ini!! Jadi gini loh, kalau kamu main game pasti ada beberapa peran yang kamu gunakan. Kayak kamu main game Memories, Mobile Legend, PUBG, FF atau game lain"


"Tapi kan adek main itu gak pakek pacaran segala, mas main game pakai pacar-pacaran gitu. Jadi gak ada hubungannya dan lagi adek aduin ayah kamu mas" ucap sang adik dengan kesalnya dan memilih keluar dari kamar sang kakak.


"Astaghfirullah!!! Aku salah jelasin sama dia kan, matilah aku" gumam Sandy sambil menepuk keningnya pelan lalu dia beralih ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melepas penat seharian di kampus. 


...****************...


Ya, Sandy adalah seorang mahasiswa disalah satu universitas ternama di kota medan, dia mengambil bidang perbisnisan. Game yang dia maksud adalah RolePlayer, jika kalian tidak tahu apa itu RolePlayer? Kalian bisa mencobanya di kolom pencarian Google atau Chrome yang kalian punya, maka kalian akan lebih paham jika dapat penjelasan dari sana atau bisa kalian tanya langsung pada pemain game tersebut.


Kini gadis itu tengah berada di ruang tengah dengan beberapa buku yang dia bawa dari dalam kamarnya dan gadis itu mulai mengerjakan tugas yang diberikan oleh sekolah melalui online. Tenang dan terkesan sangat tekun itu yang terpancar dari gadis itu sekarang. Sementara itu, pria paruh baya memasuki halaman rumah dengan mobil dinas yang diberi instansi untuknya. Saat keluar dari mobil tiba-tiba gadis manis itu sudah ada disamping, siap mengambil tas dinas pria paruh baya yang tak lain adalahnya ayahnya. Dia tersenyum manis pada sosok pria tegap dengan rambut yang mulai memutih, berbalut baju dinas seorang pegawai negeri.


"Ayah mau makan apa malam ini?" tanya gadis itu lembut pada sang ayah.


"Apa saja asal anak gadis ayah yang masak dan lagi apa mas kamu sudah pulang?" tutur pria itu dengan mengulas senyum, penat nya hilang saat sampai kerumah dan melihat anak perempuannya. Gadis itu seperti obat penenang yang mampu membuat siapapun bisa melupakan lelah dalam bekerja.


"Baiklah malam ini kita makan nasi goreng dan suwiran ayam, ya!" seru gadis itu sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah yang diikuti oleh sang ayah di dekatnya.


"Hm… Baiklah. Ayah ke kamar dulu untuk membersihkan diri" ucap pria paruh baya yang bernama lengkap Bimantoro Adimas. Dia  seorang single parent yang harus mengurus kedua putra putrinya karena di tinggal sang istri yang tak terima jika sang suami di PHK dari sebuah instansi besar dan masuk ke instansi kecil dengan gaji yang hanya cukup untuk kebutuhan makan dan biaya sekolah anak-anaknya.


Gadis itu mengambil apronnya dan mulai memasak di dapur, memainkan alat dapur dengan sangat terampil. Sisi lain Sandy telah selesai mandi lalu keluar untuk melihat adiknya dan jika diizinkan membantu dia akan membantu.


"Adek?" panggil Sandy pada adiknya yang tengah memindahkan hasil masakannya pada mangkuk ukuran besar berisi nasi goreng. Yang dipanggil menoleh melihat sumber suara itu.


"Ada apa mas?"


"Jangan bilang ayah dong, kan itu gak sungguhan" melas Sandy sambil mendudukkan bokongnya di kursi.


"Terus itu apa? Kalau gak sungguhan kenapa mesra sekali" sinis gadis itu sembari melepas apronnya.


"Habis makan malam mas kasih tahu tapi jangan bilang ayah, bisa-bisa uang jajan dipotong" 


Tanpa mereka berdua sadari Adi sudah ada di belakang mereka berdua dengan perlahan mengusap rambut kedua anaknya itu. " Akan ayah potong kalau kamu gak akur sama adek" ucap Adi dan berjalan ke kursi di depan kedua anaknya.


"Karena ayah sudah disini, ayo kita makan" 


Mereka bertiga pun mulai makan dan menikmati masakan yang dibuat anak bungsu itu. Sesekali sang ayah memuji hasil masakannya membuat si gadis bersemu dan tersenyum kecil.


Beberapa menit sudah terlewat dan kini mereka telah selesai dengan acara makan malam. "Ayah istirahat saja, nanti mas bawakan teh untuk ayah" ucap sang gadis lembut dan Adi mengangguk lalu pergi ke teras rumah untuk menikmati sejuknya angin malam.


Sementara Sandy tengah mencuci alat makan dan si bungsu membuatkan teh untuk sang ayah dan menyiapkan sedikit cemilan. "Habis kasih ke ayah mas jelasin sama kamu apa yang mas mainkan, oke?" ucap Sandy sambil mengeringkan telapak tangannya dan berjalan ke ruang tengah.


"Eh mas mau kemana? Antar ini dulu untuk ayah" tahan gadis itu sambil memberi nampan berisi teh dan kue kering. Sandy menerima dan memberi pada ayahnya yang sudah damai diteras.


"Makasih Sandy" ucap Adi pada anak sulungnya dan Sandy menangguk sambil mengulas senyum dan berlalu masuk kedalam lagi.


Sandy memang sedikit canggung dengan Adi karena dia jarang melihat sang ayah berada dirumah, bukan karena Adi melakukan hal aneh diluar sana hingga tidak pulang. Hanya saja Adi lebih banyak di tugaskan keluar kota, kalau bukan karena adiknya yang sering video call sang ayah mungkin Sandy makin canggung dan memilih diam.


Sandy masuk dan berjalan ke ruang tengah dengan gadis yang sudah duduk dengan manis menatap layar berukuran besar di hadapannya. Gadis bernama Chasandra Jesicca Putri atau bisa disapa Icca ini, gadis yang lumayan pendiam dan tak terlalu suka keramaian, dia akan menepi jika berada dalam kerumunan.


Sandy langsung duduk di samping sang adik yang tengah fokus menatap televisi. "Dek, mas jelasi ya" suara itu memecah konsentrasi Icha dalam menonton acaranya dan beralih melihat sang kakak.


"Humm … Jelasin gih, adek mau dengar" sahut sang adik dengan tangan memegang remot televisi.


"Jadi mas itu main game yang namanya Roleplayer, game dimana mas harus memakai semua name fake, foto fake dan semua kepalsuan lainnya" jelas Sandy.


"Pantas foto Wh*tsapp mas pakai member NCT" potong adiknya.


"Nah kamu tahu itu, mas di dunia virtual itu berlakon kayak idol atau seseorang tapi fake jadi gak nyata atau sama sekali gak ada hubungannya sama real. Kayak kamu sering baca atau nonton drama, sifat asli sama drama beda kan?" sambung Sandy dan Icha menangguk paham. "Kamu paham?" tanya Sandy memastikan.


"Kalau mas jelaskan ke orang lain mungkin mereka akan tanya ulang, tapi adek paham dan selebihnya adek cari di internet"


"Buat apa kamu cari di internet? Ikut main aja" rayu Sandy.


"Gak, adek penasaran saja mas. Habis mas seru banget natap hp kadang kayak orang gila"


"Kalau kamu mau ikut entar mas masukin ke grup chat mas, di sana banyak yang sebaya dengan mas jadi kamu bisa diajarin sama mereka"


"Iya mas iya, kalau adek minat. Kalau gak mas main sendiri aja"


"Nyesel loh kalau gak ikut main, seru tahu" bujuk Sandy perlahan. "Yakin gak mau? Entar kamu kena gak mau udah".


"Serah mas. Dan lagi apa mas gak ada tugas kuliah?" ucap Icha mengalihkan pembicaraan.


"Tugas? Humm… " Sandy terdiam sejenak dan langsung melompat begitu saja. "Ya allah!! Mas lupa" teriak Sandy dan langsung masuk ke kamarnya.


"RolePlayer? Game yang semuanya palsu. Humm … Lebih baik cari tahu aja dulu" batin Icha sambil mematikan televisi dan mengambil ponsel yang ada diatas meja. Ia mencari semua hal yang berbau permainan yang dikatakan sang kakak padanya, dia mencari semua bahkan istilah-istilah atau singkat-singkatan dalam RolePlayer.


Icha terus mencari dan memahami permainan itu lewat tulisan yang berjajar rapi di halaman itu. Apakah dia tertarik? Atau sekedar membaca dan menghilangkan rasa ingin tahunya?.


...****************...


"makasih ya sudah kasih waktu buat baca cerita Blue >< Jangan lupa kasih kritik dan saran, agar kedepannya bisa lebih baik lagi, sampai ketemu di part selanjutnya ^^"


...****************...