
Pagi menjelang tapi Icha dan Sandy masih tertidur dengan pulas dan Adi hanya tersenyum kecil melihat kedua anaknya yang tidur satu ranjang.
"Yuki, apa kamu benar-benar tak ada niatan untuk melihat anak kita?" gumam Adi sendu dan memilih pergi memasak sarapan untuk kedua anaknya itu.
Icha bangun lebih dulu dibanding Sandy "Mas! Bangun" ucap Icha sambil mencubit pipi Sandy.
Sandy hanya berdehem dan tetap melanjutkan tidurnya. "Mas ini hari minggu, ayah juga ada dirumah. Ayo jalan-jalan" sambung Icha.
"Corona, gak boleh keluar" sahut Sandy dengan suara khas bangun tidur.
"Pakai masker mas, adek sedikit bosan di rumah"
"Hiss baiklah-baik" Sandy pun bangkit dan turun dari kasur Icha, berjalan sempoyongan keluar kamar Icha. Sandy pun masuk ke kamarnya dan mandi.
Icha dan Sandy telah selesai mandi, mereka langsung pergi ke dapur untuk membantu ayah mereka. Tapi sayangnya sang ayah telah siap memasak.
"Ya ~~ udah selesai" sengau Icha saat melihat semua sudah rapi di meja makan.
"Ayo sini makan" ajak Adi pada kedua anaknya dan mereka pun menurut.
"Maaf ya ayah, kita gak bisa bantu ayah" ucap Icha pada ayahnya dan memulai mengambilkan nasi kepada ayah dan mas nya. Lalu memulai makan.
...****************...
Mentari sudah sampai ke titik tengah bumi dan mereka bertiga pun sudah selesai menunaikan ibadah berjamaah. Sekarang mereka sedang santai di ruang tengah dengan Sandy dan ayahnya main catur, sementara Icha tengah melihat ponselnya. Bermain game online.
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari arah luar.
Tok
Tok
Tok
"Sana dek bukakan pintunya" perintah Sandy sambil fokus mengalahkan sang ayah.
Icha hanya berdehem kecil, meletakkan ponselnya di meja dan berjalan kedepan untuk membukakan pintu, melihat siapa yang datang. Saat daun pintu terbuka, terlihat sosok pemuda dengan tinggi yang menjuntai dengan kisaran 185 cm berdiri dekat dengan kursi yang ada di teras rumah.
"Maaf dek, Sandy ada dirumah?" suara itu keluar dari sang pemuda itu.
"Siapa?" tanya Icha sambil mengadahkan kepalanya melihat pemuda yang memakai masker.
"Teman kampus Sandy" jawabnya.
Icha hanya mengangguk "Sebentar ya" singkatnya dan masuk kembali menemui sang kakak.
"Mas, di panggil teman kampus kamu"
"Teman? Oh, yaudah kamu siapin cemilan sama minuman ya"
"Iya mas" Icha pun pergi ke dapur untuk menyiapkan apa yang dipinta sang kakak.
Sandy pergi menemui temannya yang sudah menunggu di depan "Eh kau! Kok gak bilang mau kesini?" ucap Sandy sambil menepuk bahu temannya pelan.
"Kepalamu lima, kau lihat hp mu spam ku semua" ketus temannya kesal sambil membuka masker.
Sandy terkekeh kecil "Hehe … Sorry aku lagi main catur sama ayah".
"Pantas" singkat, pemuda bernama lengkap Agung Wijaya Purnomo.
"Udah ayo masuk, adek ku udah menyiapkan semua" ucap Sandy sambil menarik Agung masuk kedalam rumah.
"Mas, udah semua. Kalau kurang ambil sendiri" sambil meletak nampan berisi cemilan di meja dan mengambil ponselnya.
"Temani mas dek"
"Teman kamu cowok mas, ngapain minta temani?"
"Mas takut di pedoin" jahil Sandy.
"San, ku gampar kau!!" pekik Agung yang mendudukan bokongnya pada sofa.
"Udah temani aja, kamu berbaur sini" pinta Sandy. Icha menghela nafas dan mengiyakan pinta kakaknya itu dengan duduk disebelah sang kakak.
Sandy dan Agung bercerita tentang masalah kuliah, dosen atau hal yang tak Icha mengerti. Namun dia masa bodoh dan mencari hal ini yang bisa dia mainkan.
"Cha? Kamu habis ini mau masuk Universitas mana?" tanya Agung pada Icha yang tengah fokus menonton tv dengan tangan mencoret-coret buku.
"Gak tau mas, lihat nanti mau masuk mana. Kalau bisa satu kampus sama mas Sandy" tanpa melihat lawan bicaranya.
"Maklum aja ya Gung, emang begitu dia"
"Iya San, udah biasa juga"
"Oh ya San, entar sore anak-anak kesini dan ngajak jalan ke taman kota"
"Tapi aku udah ada janji sama adek ku buat jalan"
"Ajak aja sekalian"
"Ayah ku juga ikut Gung, mana bisa"
"Yaudah kalau kalian mau pergi, ayah dirumah aja" sahut Adi yang sudah muncul di belakang.
"Tapikan ayah …" kalimat Sandy dipotong
"Sudah pergilah, lagian kan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ayah percaya adanya penyakit tapi ayah lebih percaya dengan Allah, hidup dan mati seseorang bukan virus yang mengatur" jelas Adi sambil menepuk bahu putranya dan pergi keluar entah kemana.
"Baiklah ayah, dek kamu ikut?" tanya Sandy sambil melihat Icha.
Icha mengangguk "Iya mas, asal ada mas. Adek ikut" sahut Icha sambil tersenyum tipis.
Agung yang sejak lama menaruh hati pada gadis manis itu hanya mampu menahan gemas dan pingsan saat pujaan hatinya menampilkan raut manis itu. Jujur saja dia sangat ingin menyatakan perasaannya pada Icha tapi dia memikirkan pertemanannya dengan Sandy, dia masih belum yakin dan takut mengecewakan adik Sandy. Awal rasa cinta Agung dimulai saat semester lima kuliah, dia dan beberapa orang lainnya membuat tugas presentasi di rumah Sandy dari situlah muncul rasa cinta pada Icha.
"Jalan-jalan aja atau singgah ke cafe buat makan atau sampai malam?" tanya Sandy memecah lamunan Agung yang menatap adiknya tanpa berkedip sedikitpun.
"Ah … Humm itu, entahlah" sahut Agung sedikit gugup.
Sandy mengangguk, dia paham akan rasa yang ditaruh Agung pada adiknya. "Gung, maaf aku tak mengizinkan siapapun menyentuh Icha" batin Sandy.
"Gung bentar ya aku mau ambil hp" ucap Sandy sambil bangkit.
"Mas sekalian power bank adek isi ya" sandy mengangguk dan melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya.
Suasana canggung tercipta tapi hanya Agung yang merasa begitu, karena hanya dia yang menaruh hati bukan Icha. Dia menatap gadis yang ada di sampingnya tengah menatap ponsel dengan jari yang menari di sana, rasanya ingin sekali dia akrab tapi tak bisa seperti ada yang aneh di hatinya.
"Mas dimakan kue nya, jangan dilihat terus" ucap Icha dan itu makin memperparah degup jantung Agung.
Agung diam sejenak "Demi apa ya allah, suara umat mu tak pernah berubah" batinnya.
"Iya dek, nanti mas makan" sambil mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela agar sang jantung bisa stabil.
Sandy melihat hal itu sedikit lucu akan tingkah temannya karena saat berada di kampus dia terkenal dengan sebutan Fake Boy dengan segelintir gadis di dekatnya namun sekarang yang dilihat oleh Sandy adalah seorang Agung dengan sejuta rasa gugupnya disamping sang adik.
"Ternyata ini sifat aslinya" batin Sandy dan berjalan ke arah sepasang insan yang tengah santai, menikmati kegiatannya masing-masing.
Sandy mendudukan bokong ke tempat semula dimana dia jadi pembatas antara Icha dan Agung "Lama lagi anak-anak yang lain muncul?"
"Mungkin sebentar lagi, kau tahukan padatnya kota kita walau pandemi begini"
"Iya sih tahu, ah sudahlah. Mau main PS?"
"Boleh tuh, mumpung mereka belum nongol juga"
"Oke sip" Sandy bangkit lagi dan mengeluarkan perlengkapan PS nya, Agung juga ikut membantu. Sementara Icha dia memilih masuk kedalam kamar agar lebih nyaman.
Sandy dan Agung memulai permainannya, mereka memilih bermain sepak bola. Awal permainan mereka berdua tenang namun saat pertengahan, Sandy mulai mengeluarkan suaranya.
"Ya!!!! Kau curang Gung!!"
"Curang kepala kau hitam itu! Kau lihat tadi dah jelas aku main jujur!!" pekik Agung.
"Kau menjegal pemain ku"
"Hei! Hei!! Bagus tuh mulut ya, pemain mu aja yang ke mentelan, bagus-bagus aku bawa bola ngapain direbut"
"Eh, Sukanto emang gitu mainnya"
"Wah bangsul kau Adi, tapi gak kau jegal juga kambing!!"
"Kapan aku jegal kau Sukanto?!!"
"Mata kau kemana Adi? Apa kau gak lihat tadi hah? Pemain mu yang nomor punggung 17 jegal aku"
"Mampuslah kau, mana salah aku. Kan aku gerakin yang nomor 09"
"Curang kau sekali lagi habis kau"
"Adi baperan anj*r. Ini cuma game loh"
Itulah insiden di atas kalau Sandy dan Agung tengah bermain game, jika salah satu ada yang kalah atau curang akan menyebut nama orangtua. Layaknya anak kecil, sementara Icha tengah mengotak atik laptopnya mencari lagu yang akan dia putar sembari bermain game offline.
......"Makasi selalu aku ucapkan sama kalian yang selalu stay baca cerita ku ini, aku harap kalian suka dan aku nunggu kritik saran kalian" ......