
Setelah selesai melakukan pengenalan itu dia mematikan suara ponselnya dan beranjak menuju meja belajarnya untuk menyelesaikan tugas sekolahnya yang hampir selesai. Sisi lain Agung sedikit gelisah, dia tak henti melirik ponselnya dan kembali lagi pada laptopnya.
"Apa Icha tidur? Tapi gak mungkin ini udah mau sholat isya" argumennya sambil melihat jam yang terpasang di dinding atas pintunya.
Agung menghela nafas, baru ini dia bersikap begitu. Tak lama suara ketukan pintu menyapa daun pintu kamarnya dan samar suara wanita memanggil namanya. Pemuda itu berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Bunda? Ada apa?" sahut Agung sesaat membuka knop.
"Makan, ayo! Bapak udah nungguin" ucap wanita berparas teduh yang tampak mulai timbul kerutan di wajahnya.
Agung mengangguk dan keluar dari kamarnya. "Bunda masak apa?" tanya pemuda itu yang berjalan sejajar dan sang bunda.
"Serba ubi" singkat sang bunda. Agung hanya berdehem lirih.
"Gimana kuliahnya?" sambung sang bunda.
"Lumayan bun, tapi sedikit suntuk juga karena banyak kelas tambahan sebab dosen jarang hadir" jawabnya dengan wajah yang tersirat kesal.
"Maklum aja nak, namanya udah hampir penghabisan"
"Iya sih tapi dua tahun lagi bun, mana si Sandy bakalan pindah tahun ini"
"Sandy? Anaknya pak Adimas?" tanya bundanya yang sudah mendudukkan bokongnya pada kursi.
"Iya bun, kan tahun ini si Icha ujian kelulusan dan lagi om Adi dipindah tugaskan"
"Sayang banget kalau Sandy ikut juga" sahut pria yang tengah membenarkan kacamatanya.
"Iya pak, tapi gimana lagi. Sandy gak bisa ninggalin Icha sendiri" sambung sambil menyendok nasi dan sang bunda membagi lauk ke piring.
"Iya juga, secara pak Adi sering lembur bahkan keluar kota takutnya terjadi yang bukan-bukan" ucap ayah Agung.
"Terus berkas kelulusan Icha nanti bagaimana? Bukannya itu keluar belakangan?" tanya sang bunda pada Agung.
"Kata Sandy, dikirim lewat pos bun jadi gak perlu bolak-balik" sambil menyuap makanan kemulutnya dan mereka pun mengangguk lalu menikmati makan malam dengan tenang.
Isya telah lewat dan Icha pun telah selesai dalam rangka mengerjakan tugasnya dan beribadah, dia berjalan ke kasur. Tangannya meraih benda pipih yang ada di atas nakas, membuka sandi yang diminta sang ponsel.
Wajahnya datar dan berekspresi tak kala melihat pop up yang begitu banyak memenuhi ruang ponselnya. Suara decak kesal terkuar saat lidahnya dengan kasar terjatuh. Perlahan dia membuka satu persatu pesan yang masuk dari berbagai apk chatting tanpa membaca isi pesannya.
"Mas Agung? Hum .." jarinya menekan sebuah pesan dari Agung dan dengan singkat dia hanya membalas sebuah emot senyum lalu beralih ke aplikasi lainnya.
Kini dia membuka Wh*tsapp dan tak jauh beda dari sebelumnya sangat penuh dengan pesan yang belum dibaca. Dia menandai satu persatu pesan itu dan mengarsipkannya lalu beralih masuk ke grup chat yang beberapa jam lalu dimasukkan oleh masnya.
Gadis ini hanya membuka tapi tak membacanya dan banyak nomor baru yang memberi pesan pribadi pada gadis yang tengah bersandar pada kepala kasurnya.
"Nj*r dibaca doang?" gumam seorang pemuda yang tengah duduk di sebuah cafe bersama beberapa orang temannya.
"Kenapa lu?" tanya salah seorang temannya.
"Cuma di read doang, adek dia dingin bat kayaknya" sahut pemuda itu dan meletakkan ponselnya lagi di meja dan melanjutkan kegiatannya bersama temannya.
Sisi lain, seorang pemuda dibuat merona balasan dari gadis yang berbalut piyama walau sebuah emot senyum itu mampu membuat dia memanas bahagia. "Dia balas, aku gak mimpikan?" ucapnya tak percaya dan beberapa kali mengecek kalau yang membalas adalah ID sang gadis.
"Ternyata bener!! Dan dia beberapa menit yang lalu online?! Ya allah, kenapa hamba mu ini?" sambungnya masih tak yakin tapi tetap bahagia.
...****************...
Beberapa hari telah terlewat dan Icha tak membalas satu persatu pesan yang masuk bahkan seretan dari grup chat itu tak ia hiraukan. Gadis itu menonaktifkan aplikasi hijau dengan logo telepon itu dan melanjutkan gamenya, karena lebih penting daripada meladeni manusia nyata tapi dengan fake face.
Sandy yang melihat adiknya sangat sibuk dengan gamenya sedikit heran, karena gadis itu sangat santai pada gamenya seperti tak ada yang menganggunya. Sandy yang tak tahu menau soal grup chatnya belakang ini, karena dia mematikan ponselnya dan lebih banyak menghabiskan waktunya di depan monitor laptop, mengasingkan ponselnya kedalam lemari dan fokus pada tugas tambahannya.
Sisi lain pada grup chatnya itu membahas dan seperti menyindir Icha yang masuk grup itu karena Sandy dan banyak beranggapan dia cuma numpang karakter atau hal negativ lainnya.
*Solar*
"Sumpah neh @Heejin songong banget anjim"
*Eunha*
"/kirim stiker marah
"Kalau cuma numchar cabut aja lu @Heejin"
*Jennie*
"Gue ngajak fembest cuma di R doang"
"Upppss ke tag"
"/stiker ketawa
*Sin-B*
"Bbg @Heejin lu ya?"
"/smirk
"Nyampah lu tau gak!"
Dan lain sebagainya di dalam grup itu, menyindir Icha yang berperan sebagai Heejin disana. Tak lama gadis itu telah usai dari gamenya dan beralih pada aplikasi hijau itu. Dan ya, ia mendapat semua chat hate dari grup chat itu.
Gadis itu tersenyum miring membaca satu persatu pesan itu dan mematikan data ponselnya lalu menulis sebuah pesan monohok yang membuat semua bungkam.
"Bbg? Jjkp? Nyampah? Kalian gk punya kehidupan nyata? Sadar ini hanya hayalan bukan kenyataan. Bilangi aku menjijikkan? You need mirror? Or something big? Kalau perlu pc alamat lu biar gue kirim"
"/stiker pisau berdarah"
"Hobi aku lebih menghasilkan dibanding aku harus layani kalian yang butuh belaian lewat virtual"
"Bangga karena desah secara garis miring?"
"Aku tau RP sekarang gak segokil dulu, walau aku awam tapi wawasan aku gak nyampah"
"Ngetag gue? Biar apa? Didepak dari ini grup chat? Silahkan! Tapi tau peraturan permainan inikan? Kalau gak tau berarti otak kalian sebatas desah"
"65% dari pemain RP WA itu anak dibawah umur. Kalau kalian bilang aku sok tau coba di telusurin lebih dalam, bukan nusuk dan desah lebih dalam"
"Pertama aku masuk sini karena neh anak @Doyoung a.k.a Sandy. Kedua dia mas gue yang lagi sibuk rl, ketiga gue lagi ngikuti pertandingan yang gak perlu kalian tau dan keempat baca dari awal sampai habis! Kalau gak bisa baca, minta tolong tetangga lu"
"Aku tau mayoritas dari kita adalah manusia yang kurang bersyukur sama kehidupan sekarang dan lebih banyak mengeluh"
"Mengeluh kenapa aku dilahirkan? Kenapa aku gak bahagia? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kita cuma menuntut tanpa berusaha"
"Aku ga niat kayak buat ngejudge anak RP tapi memang makin kesini banyak yang ngerusak, karena penyebaran bocil"
"Dan lagi sebenarnya males ngebacot karena gak guna juga tapi kalau gak kayak gitu lu semua bocil gak akan paham situasi apa yang bakal kalian hadapin di kemudian hari! Oke siapa aja adm disini gue cabut, enek aku"
Setelah mengetik pesan itu, Icha mengaktifkan datanya dan membiarkan semua pesannya itu terkirim dulu dan barulah dia keluar dari grup chat yang memuakkan itu.
"Cuma permainan bapernya jangan ke nyata" gumam Icha dan menghapus grup chat itu.
Semua yang ada didalam grup chat itu kaget termasuk Sandy yang melihat beberapa deret kalimat tak sopan dan meng-tag adiknya. Pemuda itu beralih pada grup chat yang isinya admin.
*Doyoung a.k.a Sandy*
"/dobrak pintu"
"Rata! Blok semua nomor mereka, kita ke line"
Tulis Sandy dan mengirim beberapa emot marah, tak lama ada yang membalas chat Sandy.
*Lucas a.k.a Surya*
"Gue mah hayuk aja, lagian yang dikata adek lu ada benernya, RP WA sekarang banyak bocil"
*Yuta a.k.a Izal*
"Se-7 gue sama neh kang kopi, menurut gue enakan di line. Secara gue jarang juga nimb karena di line lebih asik"
"/stiker makan pop corn"
*Jaehyun a.k.a Chandra*
"Mana enak lu bosQ"
"/stiker senyum terpaksa"
Tak lama dari perundingan singkat itu Sandy langsung meratakan grup chatnya dan memblokir semua yang ada kecuali tiga admin plus teman RPRL jauhnya.
Sisi lain, Icha tengah menikmati kelanjutan gamenya dan sekali-kali menyeringat seram tak kala habis melawan musuh yang curang. Gadis itu tak mengingat apa yang barusan ia lakukan di grup chat, sikap masa bodohnya memang diatas rata-rata kalau masalah virtual. Beda jika di kehidupan nyata.
..."Mianhae, kelamaan up ya? hehehe, lagi sibuk sama hidup ditambah lagi ada kerjaan jadi lama. Gak mau tau ya? Iya tau kok, kalian adalah pembaca yang baik jadi gak mau tau apa yang dialami kami penulis. makasih buat yang stay baca, I love You more!!!!"...