
Agung yang melihat Icha tengah santai di bawah pohon dengan ponselnya tersenyum kecil. "Gadis ini benar-benar gak ingin bersosialisasi" batinnya.
Sandy yang melihat Agung begitu lembut menatap adiknya sedikit luluh "Apa kau benar-benar menyukai Icha? Atau hanya penasaran? Hah … Ya allah" batin Sandy sambil berjalan ke arah Agung.
"Gung!" panggilnya dan pemuda itu menoleh.
"Tolong kasih ini sama Icha aku mau ke toilet dan anak-anak lain pada mencar jadi jagain bentar ya" pinta Sandy pada Agung sambil memberi bungkusan berisi cemilan dan minuman.
"Jangan lama-lama aku tak enak"
"Ya, tapi tergantung perut ku"
"Ya sudahlah. Asal kau gak tidur didalam sana" ujarnya dan Sandy pun pergi.
"Ya allah kenapa aku deg degan?" batin Agung yang mulai melangkahkan kakinya ke arah Icha. "Jangan buat hambamu ini makin salah tingkah ya allah"
Agung telah berdiri tepat di depan Icha yang tak sadar akan kehadiran Agung, ia masih asik dengan gamenya, menikmati semilir angin yang menyapu wajahnya. Agung pun perlahan berjongkok.
"Jangan terlalu serius dek" ucap Agung sambil menurunkan maskernya dan memberi senyum manisnya.
Icha menoleh pada Agung "Iya mas" lembutnya dengan netran yang kembali lagi ke ponsel.
"Mas kamu ke toilet jadi aku disuruh jagain kamu" tutur Agung.
"Oh gitu, apa mas ada belikan sesuatu?" tanya Icha yang masih fokus pada ponselnya.
"Ada, ini" sambil memberi bungkusan plastik yang berisi makanan yang diberi Sandy.
Icha langsung mematikan ponselnya dan mengambil bungkusan itu "Mas Sandy emang yang terbaik" pujinya yang melihat ada bungkusan bakso dan beberapa makanan pedas lainnya.
"Dia suka makanan pedas, harus ku ingat" batin Agung sambil menatap Icha yang membuka wadah berisi makanan.
"Mas, ini untuk mas" ucap Icha sembari memberi makanan lain. Agung pun menerimanya dan mereka pun makan bersama.
Jauh dari Agung dan Icha ternyata ada beberapa orang yang tengah mengamati kedua insan itu termasuk Sandy. Mereka tersenyum gemas melihat keduanya.
"San kalau Icha ditembak Agung apa reaksi lu?" tanya Alex.
"Adekku orang yang gak gampang nerima cinta orang, dia bakalan cerita sama aku atau gak ayah dan dia bisa dikategorikan sedikit pemilih" jelas Sandy.
"Kayak lu yakan?" sahut Bobby
"Anj*r gak ya!" tampik Sandy
"Gak kata lu? Gue penggal pala lu mau?" pekik Dimas. "Lu di kampus aja banyak banget anak ayam yang mau nempel sama lu, bahkan curi-curi foto lu" jelasnya.
"Urusan mereka mah, aku bodo amat ya. Selagi Icha bisa bahagiain mas nya kenapa harus cari yang belum pasti disaat aku aja masih suka minta ayah" sindir Sandy secara halus pada teman-temannya.
"Wah wah!! Ngajak gelut neh anak sumpah!!" pekik Alex sambil mengunci leher Sandy pada ketiaknya.
"Eh lepas!! Sakit ******!!" rintih Sandy.
Yang lain hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua pemuda yang masih bergelut itu dan Nazwa makin merona tak kala melihat senyum manis Sandy. Jantung gadis itu berdegup kencang, lalu bagaimana dengan Bobby yang jelas-jelas pacarnya? Apa pemuda itu diam saja?.
Bobby sejak awal tahu jika Nazwa memiliki hati pada Sandy, namun dia berjanji pada diri sendiri untuk berjuang agar Nazwa selalu melihat dan menganggapnya walau sedikit sulit tapi Bobby tak akan kalah dari hal itu. Karena sejak awal dia juga menyukai Nazwa dan berjuang mendapatkan hati Nazwa hingga akhirnya Nazwa menyerah dan mengiyakan pernyataan Bobby dengan syarat Bobby tak cemburu jika sang gadis menatap Sandy penuh kasih. Jahat? Ya mungkin, tapi namanya cinta Bobby akan terus berjuang memalingkan Nazwa dan hanya melihatnya.
...****************...
Icha mengangguk dengan pipi yang menggelembung naik turun mengunyah makanan. Agung gemas akan raut wajah Icha, ingin sekali rasanya dia mencubit pipi gadis itu.
"Mas Sandy juga akan ikut kesana" ucap Icha sesaat setelah dia menelan makanannya.
"Kenapa? Bukannya nanggung banget ya?"
Icha menghardik bahunya "Adek juga gak tau" sambil menyuap kembali makanan kedalam mulutnya.
"Mas rasa dia ikut karena gak mau kamu sendiri"
Icha menganggukan kepalanya dengan hidung yang memerah karena menahan pedas, membuat Agung tak tahan akan rasa gemasnya pada Icha. Ia mencubit gemas hidung Icha yang memerah. Sandy yang melihat hal itu dari kejauhan kaget, begitupun yang lainnya.
"Astaga San!!! Adek lu gak sukchi lagi!!" pekik Alex tanpa dosa.
"Ko mulut ya ko!!" sahut Karin
"Apa sayang mau kiss?" timpal Alex sambil mempoutkan bibirnya.
"Najis anj*ng!!" tungkas Dimas sambil menempelkan daun ke bibir Alex.
"Dimas, bicaranya dijaga ya" sambung Ayu sambil mengeluarkan senyum yang membuat Dimas berkedik ngerih.
"Ampun by, ga lagi kok" cengir Dimas.
Bobby menepuk bahu Sandy "San, biarkan Agung berjuang jika dia lelah pasti akan mundur" ucap Bobby sekaligus menyindir Nazwa.
Sandy hanya mengangguk tapi hatinya beradu, sementara Nazwa hanya bisa tersenyum kecil pada Bobby yang mengeratkan genggaman tangannya.
Icha kaget saat pucuk hidungnya ditarik oleh Agung yang sekarang tersenyum manis. Icha hanya bisa diam dan tak lepas menatap Agung.
"Kamu menggemaskan dek" ucap Agung sambil mengusap kepala Icha dengan lembut.
Icha hanya mengangguk kecil "Makasih mas atas pujiannya" sahut Icha dengan debug normal sementara Agung ingin pingsan saat itu juga.
"Apa yang aku lakukan? Aku menyentuh hidung bahkan rambutnya! Ya Allah, hamba ga berniat tapi hamba tak sanggup!!" batin Agung.
Icha melanjutkan acara makannya dengan tenang beda dengan Agung yang gelagapan bingung, malu dan detak jantungnya yang tak bisa diajak bersahabat karena berdetak sangat kencang.
Sandy memilih balik ke adiknya dan Agung bukan takut tapi dia? Hah entahlah, Sandy juga sulit menjelaskan kenapa dia tak bisa lama meninggalkan Icha pada orang lain.
"Hoi!" tegur Sandy sambil duduk di samping Icha.
"Darimana mas?" tanya Icha yang sebenarnya tahu, tapi tetap dia tanya.
"Toilet dek, sakit perut" jelas Sandy dan seperti biasa Icha sedikit respon.
Agung sedikit merapat ke Sandy dan berbisik "San, humm boleh gak aku minta line adek lu?" Bisiknya dengan keberanian yang dia kumpulkan.
Sandy sedikit tersentak tapi kembali netral lagi "Aku tak melarangmu, lakukanlah" balas Sandy sambil tersenyum tak rela.
Agung bernafas lega dan tersenyum lapang mendapat jawaban yang menyenangkan dia, ia pun menatap Icha yang menikmati makanannya dengan ponselnya yang berbunyi karena banyak notif dari para teman gamenya di virtual beda dengan Sandy ponsel penuh dengan grup chat yang tak henti mengirim chat padanya bahkan CP dia di RP mulai emosi menunggu balasan dia.
......"Makasih ya masih mau baca cerita aku >< jangan bosen ya buat terus baca dan jangan lupa kasih pendapat atau saran" ......