World Art Magic Online: Become an NPC

World Art Magic Online: Become an NPC
Kembali Ke Desa Derlos



Beberapa saat kemudian Bira dan yang lainnya telah sampai di desa Derlos.


"Huff... Akhirnya sampai juga, mereka telah selesai berlatih ya...?"


"Kepala desa...!" Teriak seorang anak perempuan yang berumur sekitar sepuluh tahun, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Lina, adik dari Wina.


"Oh Lina, di mana ayahmu?"


"Ayah sedang membangun rumah untuk para wanita yang dimana dibawa oleh kepala desa tadi, sepertinya para wanitanya bertambah ya...?" Tanya Lina sambil melirik ke arah belakang Bira.


"Ya begitulah, kau urus mereka aku akan menemui Robert." Jawab Bira sambil melangkah pergi meninggalkan Lina dengan para wanita tersebut.


Bira pergi menuju ke tempat banyak pria yang sedang berkumpul.


"Hei Jon, dimana Robert...?"


"Ah kepala desa, Robert disana ia sedang membangun rumah yang sangat besar untuk para wanita itu, karena di desa kita tidak memiliki rumah yang cukup banyak, semuanya sudah ditinggali oleh para penduduk desa, jadi saat ada warga tambahan kita harus membangun rumah terlebih dahulu." Ucap seorang pria berwajah tampan dengan tubuh yang cukup bagus dan rambut berwarna biru bernama Jon.


"Oh makasih, aku akan pergi ke tempat Robert dulu." Bira pergi meninggalkan Jon seorang diri di sana.


"Hei Robert hentikan pembangunan ini..."


"Ah kepala desa, tetapi mengapa harus dihentikan kalau pembangunan ini dihentikan mereka tinggal dimana."


"Kau ini, bukankah sebelumnya aku pernah mengatakan bahwa aku bisa membuat bangunan didesa ini menjadi bagus, bahkan bisa membuat rumah dalam sekejap mata."


"Oh iya, maafkan saya kepala desa saya lupa soal hal itu, kalau begitu... semuanya ayo kita hentikan ini, kepala desa yang akan melanjutkan pembangunan ini..."


"Eh, kenapa kau bisa melupakan hal itu sih Robert."


"Benar kita capek tau."


"Sudahlah biarkan saja, kita juga melupakan hal itu jadi kita juga tidak bisa mengalahkan Semuanya kepada Robert."


"Ya sudah kalian pergi sana, istirahat dan bantu-bantu para wanita dan anak-anak untuk mempersiapkan makan malam bersama."


"Baik kepada desa..."


[Cari: Shop]


[Shop : Beli \= Big House, Dengan Lima Belas Kamar]


[Harga : 50 Gold]


'Hm hanya ada lima belas kamar, para wanita yang sebelumnya kubawa terdapat Tiga puluh dua wanita dan yang baru saja kubawa lima puluh delapan wanita, jadi jika di gabung totalnya sembilan puluh wanita, berarti aku membutuhkan enam Rumah Besar.'


'Kalau begitu aku akan menghabiskan 300 emas, kalau begitu berarti uang yang aku miliki tersisa 420 emas, sepertinya aku benar-benar mengalami bug.'


'Huff... dari pada mereka semua tidur didampingi oleh langit malam yang dingin, lebih baik aku menghabiskan uang yang kumiliki.' Ucap Bira dengan pasrah, karena harus menggunakan uangnya kembali, sambil menghembuskan nafas yang panjang.


...[Apakah Anda Ingin Membeli enam bangunan Big House]...


...[Yes/No]...


...[Yes]...


Secara tiba-tiba saja muncul cahaya di enam tempat sekaligus dan muncullah sebuah rumah yang besar yang berisi lima belas kamar.


"Whoa hebat sekali, ternyata seperti yang dikatakan oleh kepala desa, bahwa dia bisa membuat bangunan hanya dalam sekejap mata saja."


"Bahkan semua rumah yang dibangun oleh kepala desa semuanya terbuat dari batu, biasanya rumah atau bangunan yang terbuat dari batu harganya sangat mahal."


"Kau benar, kekuatan kepala desa memang sangat hebat."


Banyak orang yang membicarakan Bira, tetapi Bira hanya mengabaikannya saja, karena ia masih merasa sedih karena baru saja menghabiskan uangnya lagi.


Beberapa saat kemudian Bira dan semua warga desa sedang makan bersama, termasuk juga dengan para wanita yang dibawa oleh Bira, sebagian dari para wanita tersebut sudah mulai terbuka kepada yang lainnya, tetapi sebagian juga masih menutup dirinya, karena masih mengingat kejadian yang dimana mereka dibawa secara paksa dan desa mereka dihancurkan.


Setelah selesai makan Bira berdiri dan mulai berbicara. "Semuanya dengarkan, mulai sekarang dan seterusnya kalian semua para wanita akan tinggal di rumah besar itu, besok pagi kalian bisa keluar dan datang ke tempat ini lagi untuk sarapan, baiklah sekarang kalian bisa beristirahat dan mulai tidur karena kalian pasti capek."


Bira menyuruh Syla untuk membersihkan semuanya dan meminta semua para warga desa untuk beristirahat, Bira juga pergi menuju ke rumahnya dan mulai beristirahat.


Keesokan paginya Bira terbangun dengan wajah yang kurang tidur, karena semalaman ia masih memikirkan tentang uang miliknya.


"Huh, sebaiknya aku tidak terlalu memikirkan soal uang karena uang tidak bisa dibawa mati, oi Bira kau sudah mati tau tapi kau masih memikirkan soal uang."


"Benar juga aku telah mati, tetapi uang masih saja kupikirkan."


"Oh iya, saat aku mati apa yang aku rasakan saat itu ya...?"


"Ah, kalau tidak salah perasaan seluruh tubuh menjadi tidak merasakan apa-apa, setelah itu muncul kegelapan saat aku bangun aku sudah di dalam dunia game, sepertinya kematian tidak terlalu begitu menakutkan."


"Tidak seperti yang dibilang oleh orang-orang kalau kematian itu sangat menakutkan dan mengerikan, apakah orang-orang tersebut pernah merasakan kematian yah...?" saat berbicara sendiri Bira malah kebingungan dengan sebuah fakta tentang kematian.


"Ya sudahlah biarkan saja, sekarang yang harus aku pikirkan adalah apa yang harus aku lakukan selanjutnya, oh iya latihan mereka selanjutnya adalah memanah, dilanjutkan dengan berlatih menggunakan pisau dan yang terakhir, latihan daya tahan."


"Uuh," Bira mengangkat kedua tangannya ke atas dan meregangkan tubuhnya.


"Sebaiknya aku keluar dan sarapan di tempat tadi malam, karena tidak enak rasanya membiarkan mereka semua makan di sana, sementara aku makan di rumah Robert." Bira beranjak pergi keluar rumahnya.


Saat Bira menutup pintu rumahnya ia melihat banyak orang yang sedang duduk bersama, Bira pun bergegas menuju ke sana.


"Mengapa kalian berada di sini, bukankah aku hanya memberitahukan kepada mereka untuk makan di tempat ini, mengapa kalian semua ikut-ikutan...?"


"Oh kepala desa, memang anda tidak menyuruh kami makan disini tetapi sekarang kita semua warga desa Derlos tentu saja saat seseorang makan di luar, maka kami juga akan ikut makan diluar."


"Benar yang dia katakan, kami ingin makan bersama-sama juga, apa jangan-jangan anda memang merencanakan untuk makan sendiri disini, dengan didampingi oleh para wanita itu...!"


"Hah, tentu saja tidak mana mungkin aku akan merencanakan hal itu...!" Ucap Bira dengan nada yang keras dan wajah yang tersipu malu.


"Oh benarkah itu...?" ledek salah seorang warga desa.


"Khe, terserah kalian saja, aku hanya ingin makan."


"Haha, kami hanya bercanda kepala desa..."


"Benar yang dia katakan, maafkan kami kepala desa..."


"Hem... Baiklah kali ini aku maafkan kalian, tetapi jika lain kali... Aku tidak tau apakah aku akan memaafkan kalian atau tidak." Ucap Bira dengan nada yang datar.


Mereka mulai makan bersama-sama, beberapa saat kemudian setelah selesai makan Bira mengumpulkan semua orang.


________________<>________________


...Halo semuanya jangan lupa Klik Like+Comment+Rate+Favorite agar kalian tidak ketinggalan, sampai bertemu kembali....


...Oh ya Comment lah biar lebih ramai Spam juga boleh asal tidak berkata kasar...


________________<>________________


Sebelumnya saya mau berterimakasih kepada salah satu pembaca karena Comment miliknya, Kalau tidak salah begini Comment miliknya....


kalo si tokoh utama kecewa dengan Class Job saat ini mengapa dia nggak ganti class Job di Level tertentu.


Akan Author jawab yang pertama.


Dari awal author sudah membuat konsep ceritanya seperti ini.


Kedua, kalau MC yang memiliki class Job petarung sudah banyak, tetapi jika MC yang bukan dari class Job petarung tetapi bisa bertarung baru jarang.


Ketiga, Author suka sama Class Job Healer, karena dulu author pernah bermain game RPG tetapi author sering kehabisan Potion karena itulah author sering bergantung kepada para healer di tim author dulu, dan yang paling penting karena mantan author dulu yang menggunakan Class Job Healer makanya author suka Healer.


Sudah sampai segitu aja dulu, oh iya ini author Crazy up walaupun hanya Tiga Chapter tetapi masih dimaksud Crazy up bukan... tunggu kelanjutannya ya sampai jumpa....


________________<>________________