Will You Stay

Will You Stay
Bianca



Bianca yang minta diantarkan, untuk melihat perusahaan Dean, namun Dean menolak dengan alasan banyak pekerjaan.


Akhirnya dengan raut wajah yang kesal, ia keluar dari ruangan Dean, dan memutuskan untuk keliling sendiri.


Anathea yang tengah sibuk dengan karyawan lain, tidak begitu memperhatikan keberadaan Bianca.


Melihat semua sibuk dengan pekerjaan mereka, Bianca mencoba menarik semua perhatian semua orang.


"Perhatian semua." ucap Bianca dengan pandangan angkuh.


"Aku adalah calon istri Dean, atasan kalian." ucap Bianca.


"Penerus perusahaan ini, Bianca." ucapnya memperkenalkan diri.


"Selamat datang." ucap semua orang seraya memberikan hormat.


"Kau." ucap Bianca dengan jari menunjuk ke arah Anathea.


"Aku?" tanya Anathea kemudian.


"Ya, buatkan aku jus sekarang." ucapnya dengan nada memerintah.


"Apa - apaan ini, memerintah seenaknya." ucap Anathea dalam hati.


"Maaf, tapi aku bukan _ "


"Apa? Mau membantahku?" ucap Bianca dengan tatapan tajamnya.


"Maaf, biarkan aku saja." ucap seorang.


"Baiklah, terserah." ujar Bianca kemudian.


Bianca yang menyadari orang - orang kini menatapnya dengan tidak senang, mulai menegur, seraya memasang kembali ekspresi angkuhnya.


"Apa? Kembali bekerja, mau di pecat?" ujar Bianca mengancam.


Terhitung setengah jam menghabiskan waktu dengan minumannya, sembari memperhatikan orang - orang yang bekerja.


Melihat Anathea yang fokus bekerja, terlintas di benaknya untuk mengerjai Anathea.


Saat perhatian Anathea teralihkan, Bianca mendekati meja Anathea yang terdapat pekerjaan Anathea yaitu, pakaian yang akan di bawah pada acara peragaan busana ternama.


Ia yang kini berada di dekat meja Anathea, sembari mengawasi keadaan sekitar sebelum melancarkan aksinya, tak lama Bianca menumpahkan minumannya ke gaun milik Anathea.


"Ups ... Maaf." ucap gadis itu, dengan ekspresi tak merasa bersalah.


"Apa yang kau lakukan," ucap Anathea sembari memeriksa gaunnya yang menjadi kotor karena jus Bianca.


"Maaf, aku sudah ceroboh." ucap Bianca kemudian.


Anathea yang melihat, gelas yang berisi sisa jus Bianca, dengan sergap ia meraih gelas itu dari tangan Bianca lalu menumpahkannya ke baju Bianca.


"Apa yang kau lakukan!" ucap Bianca dengan nada teriak, dan memasang ekspresi tak terima atas perbuatan Anathea.


"Maaf, aku tak sengaja." ucap Anathea kemudian, membalas ucapan Bianca sebelumnya.


"Apa kau membalasku, bukannya sudah aku bilang aku tidak sengaja." ujar Bianca yang masih terlihat kesal.


"Aku juga bilang tak sengaja." ucap Anathea.


"Kau _ "


"Dengar, kita baru bertemu, jadi aku tak pun tak punya masalah denganmu." ujar Anathea, sembari berdiri tepat di depan Bianca.


"Aku tak pernah mencari musuh, tapi jikau berani melakukan hal ini lagi." ucap Anathea .


"Aku tak akan segan," tambahnya dengan tatapan tajam.


"Aku tidak perduli apa yang kau ingin kau lakukan disini, tapi tetap jaga sikapmu." sambungnya.


"Kau bukan anak kecil, yang harus aku ajarkan tata Krama kan?" di tengah perdebatan mereka, Dean keluar dari ruangannya karena mendengar keributan dari ruangannya.


"Ada apa ini?" tanya Dean.


"Bianca, kau masih disini? Aku pikir kau sudah pergi." ujar Dean kemudian.


"Dean, liat perbuatan karyawan mu itu." ujar Dean, sembari bergelayutan manjan di lengan Dean.


"Ada apa dengan bajumu?" tanya Dean kemudian.


"Dia, dia yang melakukannya." ujar Bianca seraya menunjuk ke arah Anathea.


"Ana, apa yang terjadi?" tanya Dean.


"Dean _ "


"Diam." ujar Dean, memotong ucap Bianca yang ingin bicara lagi.


"Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk bicara, sekarang diam." ujarnya lagi.


"Dia merusak gaunku." ujar Anathea, sambil memperlihatkan gaunnya.


"Apa itu untuk peragaan busana, perusahaan kita?" tanya Dean, Anathea menganggukkan kepalanya.


"Dean, aku _ " ucap Bianca namun di potong oleh Dean.


"Kau sadar apa yang kau lakukan?" tanya Dean dengan menahan emosi.


"Tapi aku tidak sengaja, sungguh." ujar Bianca.


"Kau yakin tidak sengaja?" tanya Dean.


"Kau tahu disini ada Cctv-, bagaimana kalau kita pergi periksa?" tanya Dean kemudian.


"Aku _ "


"Baiklah, aku tahu aku salah, maaf." ujar Bianca.


"Tapi kau tidak mungkin marah, padakukan?" ucapnya sembari memeluk manja Dean.


"Berhenti memelukku, dan pergilah." ucap Dean kemudian.


"Apa kamu mengusirku?" tanya Bianca dengan tatapan tidak terima.


"Ya, pergilah." ujar Dean kemudian kembali keruangannya.


"Ih, Dean!" teriak gadis itu, kemudian pergi dari perusahaan Dean.


Anathea duduk bersandar pada kursinya, sambil memandangi pekerjaannya yang sudah di rusak.


"An, gimana sekarang?" tanya Della.


"Semoga bisa hilang, dan ninggalin bekas ya." ucap Anathea kemudian.


"kita bantu ya, atau mau di Laundry aja?" tawar Fellani.


"Iya, laundry biasanya lebih bersih." ujar Della.


"Begitu ya? yasudah kalau gitu." ucap Anathea, yang kemudian mengikuti saran kedua sahabatnya itu.


Mereka pun menuju ke tempat laundry pakaian, yang untuk kesana untungnya tidak memakan waktu karena cukup dekat dengan jarak ke kantornya.


Setelah di bawah ke laundry Anathea menunggu dengan gundah, ia berpikir bagaimana jika tidak sesuai harapannya.


"Tenang, Laundry biasanya kerjanya bagus, kok." ujar Della. Yang mengerti kegundahan Anathea sahabatnya itu.


"Kita balik ke kantor gimana?" tanya Fellani kemudian.


Sementara itu di kantor, tampak Joya yang menghampiri tempat kerja Marva duduk di depan Marva dengan perasaan menggebu dan penuh harap.


"Apa ini?" tanya Marva yang di sodorkan sebuah kota di hadapannya.


"Buka aja." timpal Joy.


"Wah ... Jam tangan ini kan sangat mahal, ini untukku?" tanya Marva. Gadis itu mengangguk dengan memasang ekspresi malu, sontak hal itu membuat Marva merasa aneh.


"Tapi dalam rangka apa? inikan bukan ulang tahunku." ujar Marva.


"Itu anggap saja hadiah." ujar gadis itu.


"Tapi tetap harus ada alasannya." ujar Marva.


"Bagaimana kalau untuk, karena sudah membantuku kemarin?" tanya gadis itu kemudian, sepertinya ia tak akan menyerah sampai hadiahnya di terima oleh Marva.


"Tapi berlebihan, jam ini terlalu mahal untuk bantuan kecil seperti itu." ujar Marva kemudian, yang masih berat untuk menerima hadiah dari Joy.


"Tapi itu untukku bukan bantuan kecil, itu bantuan besar." ucap Joy.


"Tolong jangan tolak hadiah dariku, aku hanya ingin melakukan sesuatu untuk, Marva." ucap Joy kemudian.


"Sesuatu untukku?" tanya Marva, dengan ekspresi bingung di wajahnya. Gadis itu mengangguk dengan polosnya.


"Tapi kau tidak perlu, melakukan sesuatu untukku." ujar Marva.


"Kalau kau mau lakukan sesuatu, lakukan sesuatu untuk dirimu sendiri, jangan untuk orang lain." ujar Marva kemudian.


"Karena kau akan sakit, begitu mengetahui akhirnya." tambah Marva.


"Tapi Marva _ " ucap Marva.


"Tidak ada tapi, yang terpenting kau paham maksudku." ujar Marva kemudian yang membuat gadis itu terdiam.


Di tempat lain, tepatnya di rumah Dean, tampak Kakak Dean berjalan menghampirinya Mamanya yang tengah santai sambil membaca majalah.


"Ma." ucap gadis itu memanggil Mamanya.


"Mama, menjodohkan Dean?" tanya gadis itu kemudian.