
Della merasa hubungan yang ia bangun selama 3 tahu. Dengan kekasihnya itu percuma.
Karena itu ia merasa hancur, sejak awal Della sudah merasa curiga, kerena pacarnya itu selalu menghindar soal rencana pernikahan.
padahal gadis itu sangat berharap bahwa ia akan di nikahi, namun karena lelaki itu tak serius, atau hanya main - main setiap pembahasan soal pernikahannya itu, bukan hanya menghindar, tapi seperti menyinggung dirinya, karena ia kerap kali marah setiap membahas soal pernikahan.
Mengetahui temannya yang sedih Anathea dan Fellani mencoba untuk mencari cara untuk menghiburnya kini Anathea dan Fellani berada di ruangan Della, untuk menghibur Della yang sedih.
Della tersenyum melihat keterpedulian kedua temannya itu terhadapnya, semua yang ia pikirkan selama beberapa saat, hilang melihat kedua sahabatnya.
Akhirnya mereka bisa menghibur Della, kata Anathea dan Fellani dalam hati.
Handphone Anathea berbunyi, dan Anathea menjauh dari kedua temannya untuk menjawab telepon tersebut.
Della dan Fellina hanya mengamati dari tempat mereka, dan tak ingin banyak bertanya. Karena mereka tahu, Anathea akan cerita jika ada yang perlu di ceritakan.
Di tempat lain, tampak Marva tengah menyendiri sambil memainkan ponselnya.
"Kau tidak ada kerjaan?" tanya seseorang yang menghampiri Marva.
"Tidak ada urusannya denganmu." timpal Marva dengan nada dingin.
"Wah, dingin sekali." ucapnya.
"Ada urusan apa?" tanya Marva kemudian.
"Apa kau menyukai, Anathea." ucapnya.
"Kenapa kau tiba - tiba, menanyakan hal itu?" tanya Marva.
"Aku hanya bertanya." jawabnya.
"Itu urusanku, tidak ada kaitannya denganmu." ujar Marva dengan tegas.
"Baiklah, kalau begitu kau tidak akan mendapatkan Anathea." ujarnya.
"Kenapa?" tanya Marva dengan tatapan bingung.
"Karena kau, belum melakukan apapun untuk mendapatkan hatinya." ujarnya.
"Apa?" ucap Marva dengan alis di miringkan.
"Apa kau tahu, ada seseorang lagi yang ingin mendapatkan, Anathea." ujarnya memanasi.
"Apa?" siapa?" tanya Marva kemudian.
"Aku tidak bisa memberitahumu, tapi kau harus lebih cepat bergerak, kalau tidak mau kehilangan." ujarnya kemudian pergi meninggalkan tempat Marva.
Kembali ke Anathea, didalam ruangan Anathea, terlihat Anathea sendang sibuk dengan dasar yang ia pegang, ia ingin mengetahui kualitas bahan tersebut.
"Seperti ini bagus," ujarnya kemudian meninggalkan ruangannya setelah meletakkan dasar ia sebelumnya ia pegang.
Iapun pergi meninggalkan ruangannya, tak lama kemudian seseorang masuk.
Ia mengetahui kalau ada Cctv- di ruangan Anathea, maka dari ia sangat berhati - hati dalam bertindak.
Ia mencari, dimana letak Cctv-di ruangan Anathea, karena ia ingin diam - diam merusak Cctv-tersebut. Namun sebelum ia sempat melakukan aksinya, Anathea kembali ke ruangannya.
"Kau? Sedang apa di ruanganku?" tanya Anathea.
"A-aku sedang menunggumu." ucapnya kemudian.
"Apa? Kenapa?" tanya Anathea kemudian.
"Pak Dean bilang kau akan berpartisipasi dalam peragaan busana yang diselenggarakan di musim ini, aku ingin tahu sudah sejauh mana persiapanmu." ujarnya.
Gadis itu dari tadi tampak mencoba untuk tenang, namun tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya, karena takut rencananya ketahuan.
"Persiapanku? Aku belum melakukan apapun." ucap Anathea.
"Apa, kenapa? bukannya kau sangat ingin, berpartisipasi?" tanya dengan ekspresi terkejut.
"Tidak masalah, itu masalahku, aku akan mengatasinya." ujar Anathea.
"Baiklah, kalau Begitu sebaiknya aku pergi, sekarang." ujarnya. Lalu keluar dari ruangan Anathea.
Anathea dari tadi berusaha untuk tenang, karena melihat tingkah mencurigakan dari sekertaris Dean itu. Kemudian ia menduduki kursinya, dan berusaha melupakan masalah itu sebentar.
"Hai, Marva." ucap seorang gadis yang menghampiri Marva.
"Ya? Ada apa, Joy?" tanya Marva kemudian.
"Aku butuh bantuanmu, bisahkah kau membantuku?" tanyanya dengan penuh harap.
"Tentu, apa yang bisa aku bantu?" tanya Marva kemudian. gadis itu menuntut jalan, dan Marva tampak mengikuti di belakang.
Ia memperlihatkan pekerjaannya pada Marva, dan bertanya soal hasil pekerjaannya sebelum ia serahkan.
"Bukan begitu, Joy." tampak Marva kemudian mengajari gadis itu, mata Marva yang fokus ke komputer, namun Gadis itu tampak tak berhenti menatap Marva.
Gadis itu sekekali memperhatikan penjelasan Marva, namun ia tak bisa lepaskan pandangannya dari Marva. Sepertinya gadis itu menyukai Marva.
Handphone Marva berbunyi, dan itu berhasil mengalihkan perhatiannya. Marva tampak melihat layar ponselnya, untuk melihat siapa yang menelpon, gadis itu tampak masih menatap Marva.
"Jadi, begitulah caranya." ujar Marva kemudian kepadanya joya.
Joya adalah karyawan seperti Marva, ia gadis yang imut, namun pelupa, dan kadang suka ceroboh, dan bertubuh mungil.
"Sudah mengerti kan?" tanya Marva kepada gadis yang ada di hadapannya itu.
"Iya, terimakasih sudah membantuku." ucap gadis itu sambil tersenyum.
"Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Marva, yang kemudian pergi, sementara gadis itu masih memperhatikan Marva hingga Marva menghilang dari pandangannya.
Anathea yang tengah bekerja tampak serius , dengan apa yang ia kerjakan, tak lama pintunya di ketuk.
"Boleh aku masuk?" tanyanya, dan ternyata itu adalah Marva.
"Ya, silahkan." ucap Anathea, yang kemudian menyimpan pekerjaannya.
"Kau sedang apa?" tanya Marva kemudian.
"Tidak ada, hanya mengerjakan pekerjaanku." ucapnya.
"Ada apa?" tanya Anathea kemudian.
"Oh, aku membawakan beberapa design, yang mungkin bisa membantumu,"
"Bisa menginspirasi maksudku." ucapnya.
"Terimakasih, akan sangat membantu." ujar Anathea.
"Mmm ... Ana, mau makan siang bersama?" tanya Marva kemudian.
"Makan siang?" tanya Anathea ulang, tampak pria itu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah," ujarnya, dengan cepat raut wajah pria itu tampak sumringah, sepertinya ia sangat senang kerena ajakkannya di terima.
Sementara itu diruangannya Dean, tampak Dean tengah memeriksa design untuk peragaan busana yang akan dilangsungkan.
Namun ada sebuah gambar yang tak bisa lepas dari perhatiannya, yaitu gambar yang dibuat oleh Anathea.
Mungkin berlebihan, namun gambar yang ia buat sangatlah bagus, seperti orang yang mempunyai bakal alami.
setelah puas dengan gambar Anathea, Dean melihat gambar lain, dan beberapa karya bisa di ikut sertakan dalam peragaan busana.
Tak lama pintu ruangan terbuka, seseorang muncul dengan tingkah khasnya.
"Kakak, kau sedang sibuk?" ucapnya dengan nada yang di imutkan.
"Aku sedang sibuk, sedang apa kau disini?" tanya Dean dengan dingin.
"Kenapa dingin begitu? Kau tidak suka aku datang?" tanya wanita itu.
"Bianca ... "
"Mamamu yang memintaku kemari, dia bilang aku harus sering - sering untuk melihat calon tunanganku." ujar Bianca.
"Kita belum resmi bertunangan, dan jangan bicara tidak - tidak." ujar Dean dengan nada kesal.
Bianca adalah teman masa kecil Dean, sejak kecil gadis itu memang sudah terobsesi untuk menjadi pasangan Dean.
Dean sudah beberapa kali menolak, tapi apapun yang dilakukan Dean sama sekali, tidak membuat gadis itu menyerah dengan mudah