
"Pak, apa yang terjadi?" tanya gadis itu, dengan tatapan bingung.
"Bisa anda jelaskan, kepada saya?" tanyanya lagi.
"Tadi orang kepercayaanku, memberitahu bahwa, produksi mengalami keterlambatan, bisa kau jelaskan?"
"Tidak pak, semua sudah di pasarkan sesuai yang diinginkan." jelas gadis itu.
"Apa kau yakin?" Dean balik bertanya.
"Ya pak, semua laporan ada di laporan yang aku simpan di flashdiskku." ujar gadis itu, penuh keyakinan, seraya menunjuk flashdisk yang ia maksud.
"Sialan, ternyata dia menyimpannya di dua flashdisk." batin Thania.
"Baiklah, perlihatkan." pintanya.
"Baik." gadis itu menuju ke komputer yang disediakan, lalu memasangnya. laporan terpapar jelas dilayar besar di ruangan itu.
Wajah Thania terlihat sangat tidak senang, sementara Anathea tampak tenang.
Anathea berjalan kearah Thania melirik ke arah Dean, yang kini memperhatikan Anathea, dan hal itu membuat Thania kesal.
Sebenarnya ia menyukai Dean, dan sejak Dean di kabarkan dekat dengan Dean membuat tidak senang karena cemburunya. Ia berniat menyingkirkan Anathea.
Anathea melihat ke arah Thania, dan pandangan mereka pun saling bertemu. Thania tahu apa yang terukir dari tatapan itu, ada sesuatu yang tersimpan. tapi, apapun itu Anathea ingin tahu dengan segala upaya yang ia bisa.
"Thania." ucap Anathea memanggil gadis itu.
"Apa?" tanya balik Thania.
"Apa kau, kecewa?" tanya gadis itu, sedang senyum penuh kemenangan di wajahnya.
"A-apa yang bicarakan?" tanya gadis itu, dengan nada terbata karena gugup.
"Oh, jadi kau tidak mengerti? baiklah, akan ku buat kau cepat mengerti, bagaimana?" Thania tertegun setelah mendengar ucapan Anathea, tak ada kata - kata yang mampu ia ucapkan.
Keadaannya benar - benar diluar kendali siapapun, tepatnya saat Anathea memperhatikan Cctv- di ruangannya.
"Thania, jelaskan apa yang telah kau lakukan?" ucap Dean dengan raut wajah menahan emosi.
"Pak, itu _ "
"Aku _ "
"Kau dipecat." ucap Dean kemudian.
"A-apa? pak kau tidak bisa memecatku, Anathea yang harusnya dipecat." ucapnya yang tak terima.
"Apa?" timbal Dean.
"Pak, aku menyukaimu, tapi wanita ini terus mendekatimu, itu membuatku cemburu dan ingin menyingkirkannya dari perusahaan ini." ucapnya yang kini tak bisa mengontrol bicaranya.
"Aku benci wanita ini, karena mencoba mendekatimu!" Semua yang ada di ruangan itu tertegun mendengarkan penjelasan dari Thania, tak ada kata - kata yang mampu ia keluarkan, selain terus mendengarkan apa yang Thania katakan.
"Maaf, tapi aku tidak bisa menerima alasanmu ini." ucap Dean, lalu berdiri di sebelah Anathea, sementara yang lain hanya melihat apa yang terjadi disana. Anathea seperti orang yang di buat bingung oleh situasi, sungguh ia tidak tahu harus melakukan apa.
Anathea mencoba menenangkan Thania " Thania, kau sudah salah paham, aku dan Pak Dean." ucap Anathea mencoba menjelaskan hubungannya dengan atasannya itu.
"Diantara kami berdua tak ada apa - apa, kami hanya atasan dan bawahan." tambahnya.
"Apa kau yakin?" tanya balik Thania.
"Hari ini, kemarin aku melihatmu berada dalam mobil yang sama dengan, Pak Dean." tambahnya.
"Bisa kau jelaskan itu?" lanjutannya bertanya.
"Soal itu _ "
"Aku tak mengerti kenapa aku harus jelaskan, tapi baiklah akan aku jelaskan."
"Mobilku rusak, saat aku menunggu taxi pak Dean tak sengaja lewat, jadi dia memberikan ku tumpangan."
"Hanya itu saja." tambahnya.
"Mengerti sekarang?" sela Dean.
"Aku tidak bisa memperkerjakanmu, sekarang terserah selanjutnya kau bagaimana." potong Dean.
"Bawah dia keluar," pinta Dean, karena menolak untuk keluar, Thania terpaksa harus di bawah keluar dengan paksa, sementara suasana di ruangan sudah tidak kondusif.
Melihat suasana tersebut, Dean akhirnya memutuskan untuk membubarkan semua orang. Semua orang telah bubar, dan kembali ke tempat mereka kecuali Anathea.
"Pak, saya minta maaf," ujar gadis itu.
"Maaf? kau tidak perlu minta maaf, karena semua ini bukan salahmu." timbal Dean.
"Sekarang kembali bekerja, karena acara ini sudah tidak bisa di lanjutkan." setelah mengatakan itu, tanpa mengatakan sepatah katapun lagi, Dean pergi meninggalkan Anathea.
Anathea yang masih merasa tidak enak hati, mencoba menenangkan diri, lalu pergi ke ruangannya.
_
_
_
Sudah dua Minggu Thania di pecat, ada beberapa yang mendapatkan kabar tentangnya setelah di pecat.
Ada berita yang mengatakan Thania sekarang bekerja, di perusahaan tempat di mana perusahaan tersebut menjadi saingan perusahaan Dean.
Namun saat Anathea mencoba mencari keberadaannya, semua informasi tentangnya yang kini bekerja di perusahaan yang tak lain menjadi rival perusahaan Dean seolah sengaja di hilangkan.
Hari ini adalah hari Minggu, dimana dia libur dari pekerjaannya. Anathea yang masih di dalam kamar menengok ke keluar jendela.
Sebenarnya ingin rasanya ia jalan - jalan, tapi ... ada tugas yang sebelumnya harus ia kerjakan. Anathea termangu sendirian di dalam kamar yang luas, dingin dan sepi.
Anathea memutuskan untuk keluar rumah, ia tahu ia harus memberikan waktu untuk dirinya sendiri.
Anathea dan mobilnya berhenti di parkiran mall, suasana disana begitu ramai, mungkin karena hari minggu.
Satu persatu tempat di mall itu, ia datangi saat dia berada di sebuah tokoh yang menjual baju, ia melihat Julian mantannya bersama pacar barunya. Anathea terlihat sangat murka, tapi sudahlah Anathea merasa tidak perlu memperdulikan mereka.
Entah bagaimana mereka berpapasan, sedikit ada rasa penyesalan karena sudah datang ke mall itu, di tambah melihat tingkah menyebalkan pacar baru mantanny itu.
"Hai, Kamu Anathea kan?" tanyanya.
"Aku Ghea, pacar barunya." tambahnya.
"Oh, senang berkenalan, tapi maaf aku tidak punya banyak waktu." timbal gadis itu.
"Maaf, sudah merebut Julian." ucap gadis itu tiba - tiba.
"Apa?" tanya balik Anathea.
"Kau pasti cemburukan, karena melihat kebersamaan kami?" ujarnya, mencoba memanas - manasi Anathea.
"Apa? cemburu? Aku rasa kau telah salah paham." balas gadis itu.
"Salah paham?" tanya gadis itu dengan ekspresi bingung di wajahnya.
"Haruskah aku memberikan, peringatan untukmu?" mereka mulai bertatap muka, gadis itu menatap wajah Anathea dengan ekspresi bingungnya.
"Pacarmu itu, sangat suka melihat wanita cantik di mall ini, jadi kalau kau tidak mau diselingkuhi, lebih baik berjaga - jaga." ucapnya memperingatkan.
"Apa maksudmu," ucap Julian tak terima. Anathea yang dengan acuh - tak acuhnya mengabaikan ucapan Julian, kemudian Anathea pergi meninggalkan mereka berdua.
"Sayang, jangan bercaya ucapnya itu, ya?" rayunya mencoba mengambil kepercayaan lagi pacar barunya itu.
_
_
"Sial, bisa - bisanya bertemu dengannya sih, tukang selingkuh itu." Gerutu Anathea di dalam mobil.
Setelah menenangkan dirinya, ia menyalakan mobilnya, iapun membawah mobilnya pergi dari mall itu.
Anathea berniat untuk mencari tempat yang tenang dan nyaman, akhirnya ada sebuah pantai, yang suara ombaknya seolah mengundangnya untuk kesana.
Akhirnya Anathea memakirkan mobilnya, dan langsung mencari tempat yang tenang di pantai itu.