
"Kalau begitu permisih, aku harus pergi sekarang." ucap Anathea kemudian.
Anathea pergi dengan langkah khasnya, tampak Marva yang masih memperhatikan Anathea yang berjalan meninggalkannya.
Tampa mempedulikan sekitar, Anathea bergegas masuk keruangannya.
Anathea yang sedang mencoba mengeringkan kertasnya yang basa, merasa prutasi karena usahanya tak berhasil.
"Bagus, sekarang ini basah, dan harus di kerjakan ulang." ucap gadis itu dengan nada jongkol.
Dengan sekuat tenaga akhirnya Anathea dan mengerjakan ulang semuanya meski memakan waktu yang lumayan lama dana harus menunda pekerjaannya.
Tanpa berpikir panjang, Anathea melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sampai ia harus melewatkan jam makan siang dan harus lembur.
Anathea yang baru sadar kalau hari sudah malam, dilihat pekerjaan selesai, ia membawa pekerjaannya itu, ikut pulang bersamanya.
Saat sedang menunggu lift, Anathea mendengar suara memanggil - manggil namanya.
"Ana! Kau baru pulang?" ujarnyanya, ternyata suara itu berasal dari Dean.
"Saya pikir, anda sudah pulang pak, apa yang anda lakukan malam - malam seperti ini?" tanya Anathea.
"Bukankah kau sendiri pulang malam?" tanya Dean balik.
"Pak, anda suka sekali berdebat saya, ya?" ucap gadis itu.
"Aku sedang tidak mengajak berdebat, aku rasa kau sudah salah paham." balas Dean
"Baiklah, kau benar." ucap Anathea menyerah, ia tahu percuma saja berdebat dengan atasannya itu.
Begitu lift terbuka mereka pun masuk, dan beberapa menit kemudian mereka keluar dari dari lift. Anathea yang segera berjalan keluar, lengannya di tahan oleh Dean.
"Kau belum makan, kan?" ucap Dean tiba - tiba.
"Apa?" tanya gadis itu, sambil menatap heran ke arah Dean.
"Ikut aku." Ajak Dean, seraya menarik tangan Anathea.
Tangannya yang di tarik Dean, mau tak mau ia harus ikut, karena ia tak mungkin menolak ajakkan Dean. Meskipun ia menolak, pasti ia akan memaksanya untuk ikut dengannya.
Pada akhirnya mereka makan bersama, Anathea terus menatap Dean yang saat ini tengah sibuk menyantap makanannya.
Dean yang makan dengan tenang, tapi tidak berlaku untuk Anathea yang memandang penuh curiga ke arah Dean.
"Berhenti melihatku, seperti itu." ujar Dean kemudian, dengan nada kesal.
"Katakan ada apa, tiba - tiba mengajakku makan malam?" tanya Anathea kemudiana dengan memicingkan matanya.
"Kau punya rencana apa, padaku?" ucapnya kemudian.
"Kau ini banyak nonton drama, ya?"
"Tidak ada hal seperti itu, makanlah dengan tenang." ujarnya Dean, mendengar itu Anathea menyantap makanannya, namun tetap tak bisa melepaskan pandangan dari Dean.
"Berhentilah menatapku, seperti itu." gerutu Dean kesal.
"Sudah aku bilang tidak, kenapa kau terus menuduhku." timpal Anathea dengan nada kesal, kemudian kembali fokus dengan makanannya. Kali ini ia benar - benar fokus pada makanannya.
Ia kemudian kembalikan perhatiannya pada Dean, tak perduli kalau Dean akan. Menggerutu padanya lagi atau tidak.
"Pak, wajahmu bersih sekali ya, kau perawatan apa?" tanya Anathea kemudian.
"Kau serius menanyakan itu?" tanya Dean balik.
"Mau gimana lagi, kau sama sekali tak mengajakku bicara," keluh Anathea kemudian.
"Pak, aku sedang makan dengan seseorang, bukan seorang diri." tambahnya.
"Apa kau tidak tahu, kalau ada aturan tidak boleh mengobrol saat makan." tanya Dean kemudian.
"Ya aku tahu, cuma rasanya canggung sekali, makan dengan atasan sendiri." gumamnya.
"Apa?" Sela Dean.
"Pak, aku hanya mencoba mencairkan suasana." ucap Anathea.
"Mencairkan suasana?" tanya Dean ulang.
"Lagian, apa kau sudah selesai?" tanya Anathea kemudian.
"Belum kenapa?" tanya Dean balik.
"Karena kita tidak bisa di disini lama - lama." jelas Anathea.
"Kenapa?" tanya Dean kini kepada Anathea, seraya menatap bingung.
"Karena kalau ada anak kantor liat, mereka bisa berpikir kita sedang berkencan, mengerti?" ujar Anathea.
"Biarkan, saja." timpal Dean tanpa merasa bersalah.
"Pak, mungkin scandal tidak akan berdampak padamu, karena kamu punya uang, tapi untukku, itu akan berpengaruh." ucap Anathea .
"Kenapa? Kau tidak punya uang?" tanya Dean, sontak Anathea menatap Dean dengan tatapan dingin.
"Pak, haruskah kau mengatakan itu?" tanya Anathea kemudian.
"Bukannya keluargamu, punya bisnis yang besar?" ucap Dean.
"Ah, ya ... itu punya orang tuaku, bukan aku." jawab Anathea.
"Tapi bagaimana, anda bisa tahu?" tanya Anathea dengan ekspresi penasaran.
"Apa yang aku tidak ketahui, soal karyawanku?" ucapnya.
"Pak, ucapanmu itu, menyebalkan kalau aku boleh bilang." gumam Anathea.
"Aku dengar!" ucap Dean dengan nada kesal.
_
_
Sepulangnya dari makan malam dengan Dean , Anathea langsung pergi ke kamarnya.
Beberapa menit setelah ia tiba di kamarnya, ia mendapatkan notifikasi dari ponselnya. Yang ternyata itu adalah dari Dean.
[ terimakasih untuk makan malamnya ]
Setelah ia membaca pesan itu, Anathea seketika kehilangan kata - katanya.
Meski ia di buat kehilangan kata - kata, namun ia harus tetap membalas pesan dari Dean tersebut.
[ Sama - sama ]
Dean tampak ingin memulai pembicaraan di chat dengan Anathea, namun saat ia tinggal mengirimkan pesanan, pesan tersebut di hapus, dan pada akhirnya chat tersebut berakhir disitu.
Untuk beberapa menit, ia terus memegang ponselnya, ia pikir Dean akan mengirimkan pesan lagi, namun setelah beberapa menit tak kunjung ada chat yang masuk, akhirnya ia meletakkan ponselnya.
_
_
_
Della duduk bersandar di mejanya, sambil memainkan ponselnya. Anathea yang sedang melihat sahabatnya itu, langsung menghampiri Della.
"Kamu kenapa, seperti orang galau begitu?" tanya Anathea kemudian.
"Emang lagi, galau." ucap Della, memasang wajah muram.
"Kamu kenapa?" tanya Anathea lagi.
"Aku di putusin." ucapnya dengan ekspresi ingin menangis.
"Hah? Kok bisa?" tanya Anathea.
"Mana aku tahu, makanya aku coba hubungin dia, tapi nggak bisa, An." ucap Della kemudian.
"Coba lagi, atau datangin aja tempatnya." ujar Anathea memberikan saran.
"Mau aku temani?" tawar Anathea.
"Makasih, tapi biar aku tangani sendiri." ucap Della.
"Lagi pula ini cuma masalah kecil, kalau dia mau putus harus berikan alasan yang jelas." tambahnya.
"Aku hanya ingin dia memberikan alasan." sambungnya.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." pamit Anathea yang kemudian berjalan meninggalkan Della di ruangannya.
dalam sebuah ruangan, Anathea terlihat Marva sedang mengerjakan pekerjaannya, Anathea mendekat untuk melihat apa yang Marva kerjakan.
"Marva." ucap Anathea memanggil namanya, pria yang mendengar namanya di panggil pun menoleh.
"Oh, kau sedang apa disini?" tanya Marva yang terkejut melihat Anathea berada di ruangannya.
"Aku hanya mampir, karena kelihatannya kau sedang serius sekali." jelas Anathea.
"Hahah, begitukah kelihatannya?" timpal Anathea.
"Anathea, aku punya sesuatu untukmu." ujar Marva kemudian.
"Apa?" tanya Anathea kemudian.
"Aku tidak tahu kau memerlukan ini atau tidak, tapi setidaknya aku akan memperlihatkan dulu." ucap Marva kemudian, menyerahkan sebuah brosur.
"S2 Fashion Design Di IFA Paris?" tanya Anathea melihat brosur itu, membuat mata Anathea berbinar - binar.
"Bagaimana?" tanya Marva.
"Dari seorang teman, bagaimana menurutmu?" tanya Marva.
"Apakah kau mau, mengambil S2? Disini?" tanya Anathea kepada Marva.
"Bukan aku, tapi adikku," ujarnya.
"Tapi S1." tambahnya.
"Bagaimana denganmu, apa kau tertarik?" tanya Marva.
"Aku sangat tertarik, tapi tidak dengan sekarang." ujar Anathea.
"Kenapa?" tanya Marva, dengan tatapan bingung.
"Aku menyukai pekerjaanku disini, aku tidak ingin meninggalkannya." ujar jelas Anathea.
"Tapi akan aku pertimbangkan." ucap Anathea kemudian, lalu meminta brosur itu untuk ia simpan, sebagai teman tentu ia memberikannya.
"Terimakasih, kalau begitu aku permisih." pamit Anathea untuk kembali keruangannya.
Di ruangannya, Anathea ia menatap brosur tersebut. Ia berpikir apakah ia harus melanjutkan sekolahnya atau tidak.
Tak ingin larut dalam memikirkan rencana S2nya, akhirnya ia menyimpan brosur itu di laci meja kerjanya.
_
_
_
Sudah satu Minggu, sejak Anathea mendapatkan berita soal brosur, dan sejak saat itu, juga ia tak pernah berhenti memikirkan soal S2 itu.
Di hari pekan, pada sore hari di sebuah Caffe, Anathea sedang menunggu seseorang.
30 menit berlalu, segelas jus yang ia pesan sudah di habiskan, tak lama pesanannya datang, selain sudah lapar, ia tak akan menunggu lebih lama lagi untuk makan.
"Terimakasih." ucap Anathea kepada yang mengantarkan pesanannya.
Ia makan dengan lahap, tak lama orang yang ia tunggu datang.
"Wah, kau sudah memesan lebih dulu?" ucapnya dengan ekspresi penuh heran.
"Aku berencana untuk pulang, karena bosan menunggu." timpal Anathea dengan nada dingin.
"Maaf, kau belakangan ini, jalanan sangat macet sekali." ujarnya.
"Katakan, ada perlu apa?" tanya Anathea kemudian.
"Bukankah kau harus pesan sesuatu?" tanyanya.
"Terserah, aku hanya memikirkan jika pacarmu melihat kita berdua, dia akan menyerangku." ucap Anathea kemudian.
"Pacar? Apa yang kau bicarakan?" tanyanya kembali kepada Anathea.
"Ada apa? Kau memintaku menemuimu?" tanyanya.
"Apa kau masih ingin, melajutkan S2mu?" tanya Anathea.
"Kenapa kau tiba - tiba menanyakan hal itu?" tanyanya.
Gadis itu menyodorkan brosur yang ia fotocopy, kemudian dilihatnya.
"Ini, Dari mana kau dapat?" tanyanya.
"Dari teman." Jawab Anathea.
"Teman?" tanyanya.
"Bukankah kau juga mau, melanjutkan S2?" tanyanya kemudian.
"Entahlah, aku masih mempertimbangkan." timpal Anathea kemudian.
"Kalau aku ambil, itu artinya aku harus LDR dengan Theo, An." ucapnya dengan raut sedih.
"Kenapa tidak tinggalkan saja, pacarmu itu." ujar Anathea.
"An, aku cinta dia, dengan segala kelebihan dan kekurangan dia." ucapnya.
"Terserah." ujar Anathea, yang malas berdebat.
"Jadi, kau akan ambil, atau tidak?" tanya Anathea.
"Akan aku bicarakan, dengan Theo." ujarnya.
"CK, kau ini." ujar Anathea seraya menatap malas, temannya itu yang terlalu bucin dengan pacarnya itu. Masalahnya itu, pacarnya itu bukanlah pria baik, pria itu hanya memanfaatkan uang yang ia punya, untuk kesenangannya dan teman - temannya.
Meskipun ia punya pacar, pacarnya tak pernah bersikap sebagai seorang pacar pada temannya itu.
"Baiklah, akan aku pertimbangkan." ujarnya.
"Terimakasih, sudah memberitahuku." ucapnya berterimakasih.
Melihat notifikasi yang terus-menerus berbunyi, membuat Anathea bertanya - tayuan siapa itu.
Semakin lama itu semakin menganggu, gadis itu tampak mengangkat telponnya. tak lama ia menyimpan ponselnya.
"An, sepertinya aku harus pergi, apa tidak masalah jika aku tinggal?" tanyanya kepada Anathea.
"Kenapa? Pacarmu?" tanya Anathea dengan nada dingin.
"An, udah ya ... Aku pergi sekarang."
Setelah temannya pergi, juga pergi dengan mobilnya karena ia tak punya alasan untuk tetap berada di tempat itu.
Sore harinya, saat Anathea tiba di rumah, ia melihat Ayah dan ibunya sudah menunggu kedatangannya.
"Ma? Pa? Kalian sudah pulang?" tanya Anathea.
Anathea lalu menghampiri mereka, lalu ibunya mendekap putrinya itu kedalam pelukannya.
"Sayang, syukurlah kamu baik - baik saja." ucap wanita itu kepada Anathea.
"Ada apa, ini?" tanya Anathea kemudian.
Mendengar itu, ibu Anathea melepaskan pelukannya, lalu beralih menatap wajah putrinya.
"Mama, hanya khawatir, karena selalu meninggalkan putri Mama satu - satunya." ucap ibu Anathea, yang membuat Anathea merasa bersalah.
"Ma, kenapa harus khawatir, Anathea baik - baik saja, kan?" ujar Anathea untuk menenangkan ibunya.
"Iya, tapikan _ "
"Ma, Mau istirahat di kamar boleh?" tanya Anathea. Ibu mengangguk sebagai ganti jawaban.
"Kau lihat?" ucap Papa Anathea.
"Kau membuat putrimu, merasa tidak enak." tambahnya.
"Bagaimana juga aku ibunya, jelas aku mengkhawatirkan anakku." timpal Ibunya Anathea.
"Kau itu berlebihan, lagi pula dia bukan anak kecil." sahut Papa Anathea.
"Dia sudah dewasa, yang bisa mengurus dirinya sendiri." ucap Papa Anathea kemudian.
"Apa kau sama sekali, perduli pada putrimu?" tanya Ibu Anathea kemudian.
"Tentu saja aku peduli, itu sebabnya aku membantunya menuntaskan masalahnya." timpalnya.
"Aku juga menyuruh orang untuk menjaga dan mengawasinya." sambungnya.
"Jadi kau tidak perlu khawatir berlebihan, kita bekerja juga untuk menghidupi dia." tambahnya lagi.
Setelah mengatakan itu, Papa Anathea kemudian pergi. Sementara ibunya masih diam di tempatnya.
_
_
Seperti biasa Anathea berangkat bekerja, namun kali ini berangkat bersama Della, kerena Della mobilnya di pakai oleh Kakaknya.
Anathea menjemput Della ke rumahnya, dan setelah itu baru mereka sama-sama pergi ke kantor.
Anathea bergegas ke ruangannya, setibanya ia di kantor. Namun di halangi oleh Marva.
"Pagi, An." ucapnya.
"Pagi." balas Anathea.
Disela mereka saling sapa, tak lama kemudian Dean tiba.
Dean yang melihat Anathea bersama Marva, Anathea pikir Dean akan menghampiri mereka, namun tidak Dean melewati mereka berdua begitu saja.
Sontak di benak Anathea bertanya ada apa dengan Dean, ia berpikir apakah ia harus bertanya.
_
_
Anathea tengah sibuk menggambar dengan pensilnya, wajah serius tak pernah menghilangkan kecantikannya.
Anathea memang gadis yang cantik, namun selain itu yang membuat orang tertarik, adalah kerja kerasnya, dan selain itu ia juga penuh dedikasi untuk pekerjannya.
Di balik kehidupannya yang di anggapnya biasa biasa saja, tapi setiap ia menggunakan pensilnya ada hasil yang memuaskan semua orang yang melihatnya.
Saat ini Anathea di hadapi dengan setupuk kerja, dengan gambar yang ia buat. Anathea adalah orang yang gemar menggambar, karena itu ia mengambil jurusan fashion designer.
Seperti biasa, ketika jam istirahat tiba ia dan kedua sahabatnya akan pergi makan bersama. Disaat itulah mereka bisa menghabisi waktu bersama.
Della dan Fellina yang baru datang bergabung dengan Anathea yang tiba lebih awal karena kedua sahabatnya itu ingin menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu.
"Gimana soal, pacar kamu Del?" tanya Anathea kemudian.
"Kenapa pacar? Kenapa emangnya dengan di" tanya Fellani kemudian kepada Della.
"Mereka putus." ucap Anathea.
"Hah? Kok bisa?" tanya Fellani.
"Aku juga nggak tahu, sampai sekarang juga nggak bisa di hubungi." ujar Della dengan raut sedih.
"Udahlah, jangan di bahas, bikin kesel tahu."