Will You Stay

Will You Stay
Kedatangan Mereka



"Iya, terus ada apa?" tanya Mama Dean kemudian.


"Ma, Deankan sudah punya pacar." ujar Kakak Dean.


"Lagian, kenapa pacar Dean harus di atur sih, Ma." gerutu Kakak Dean.


"Memangnya kenapa, memangnya ada apa dengan pilihan Mama?" tanya Mama Dean dengan tatapan sinis.


"Bukan gitu Ma, cuma Deankan bisa nentuin sendiri." ujar Kakaknya Dean dengan nada prutasi, sepertinya gadis itu sudah mulai prutasi untuk meyakinkan kedua orang tuanya kalau adiknya itu bisa menentukan pilihannya sendiri.


"Adikmu saja diam, lalu kenapa kamu ini?" ujar Mama Dean, yang tak mau di bantah.


"Ma ... " lirih gadis itu.


"Ma dia bisa nentuin pilihannya sendiri, nggak mungkin dia pilih wanita yang asal - asalan." ujar Kakak Dean yang tetap mencoba meyakinkan Mama.


"Cukup, Mama tidak mendengar ini lagi." ucap wanita itu yang kemudian pergi meninggalkan putrinya.


"Dasar keras kepala," gumamnya.


_


_


Kembali pada Anathea yang sudah tiba di kantornya, setelah dari tempat laundry, Anathea kembali ke ruang kerjanya.


30 menit kemudian, Dean yang mencari Anathea mendatangi ruang kerja Anathea, dan dilihatnya Anathea sibuk dengan buku gambarnya.


"Anathea." ucap Dean, gadis yang mendengar namanya di panggil pun langsung menoleh.


"Pak, ada perlu apa?" tanya Anathea kemudian.


"Bagaimana dengan baju tadi?" tanya Dean kepada Anathea.


"Sedang di bersihkan, dan semoga bisa hilang." ujar Anathea kepada Dean, Dean yang mendengar itu menganggukkan kepalanya.


"Maaf, untuk perbuatannya." ujar Dean kemudian.


"Ah, tidak pak, anda seharusnya tidak meminta maaf." ucap Anathea yang mulai merasa tidak enak kepada Dean karena meminta maaf kepadanya.


"Apalagi untuk hal yang tidak anda lakukan " tambahnya.


"Tapi, apa dia selalu seperti itu?" tanya Anathea kemudian.


"Entahlah, aku tidak mengenalnya sejauh itu." ujar Dean yang membuat Anathea bingung.


"Bukankah anda tunangannya?" tanya Anathea.


"Kami belum resmi bertunangan, dan kami do jodohkan." ujar Dean.


"Dulu kami teman kecil, dan kami cukup dekat." ucap Dean kemudian.


"Tapi aku hanya menganggapnya teman, hanya itu saja." tambahnya.


"Begitukah? tapi sepertinya dia sangat mencintaimu." ucap Anathea kemudian.


"Begitukah? Tapi ada wanita lain yang aku cintai," ujar Dean yang membuat Anathea terkejut.


"Oh, ya? Siapa?" tanya Anathea kemudian dengan antusias.


"Bukan urusanmu, sekarang waktunya bekerja." ujar Dean, yang kemudian meninggalkan ruangan Anathea begitu saja.


"Dasar, padahal dia sendiri yang datang, dan mengajak ngobrol." gumam Anathea.


_


_


Anathea yang masih di ruangannya, dia buat terkejut dengan suara riuh - riuh di luar ruangannya.


Karena penasaran gadis itu akhirnya keluar, untuk memeriksa apa yang terjadi, ternyata mereka sedang menyaksikan berita.


"Lihat, para desainer terkenal bergabung dalam peragaan busana musim ini." ujar karyawan.


"Ia, mana model yang mereka bawah, mana cantik." timpal orang satunya.


"Benar, lihat pakaian modelnya, itu mengikuti trend fashion sekarang." sahut orang ketiga.


"Apa?" Mereka terkejut ketika melihat Anathea sudah berada di sekitar mereka, mereka tampak bingung di hadapan Anathea.


Tanpa mengatakan apapun, Anathea masuk keruangannya, karena itu seketika mereka merasa menyesal, dan merasa bersalah.


Sementara Della dan Fellina datang keruangannya, untuk menenangkan Anathea.


"An, kamu jangan marah sama mereka." ujar Della.


"Benar, mereka cuma anak magang yang nggak tahu apa - apa." ujar Anathea kemudian.


"An, terus masalah bajumu itu gimana?" tanya Della.


"Tenang, noda itu seharusnya nggak bakal membekas," ujar Anathea menenangkan kedua temannya.


Padahal ia sediri tidak yakin, tapi ia berusaha untuk positif thinking. Ia menunggu sampai mendapatkan kabar, bajunya itu selesai dibersihkan.


Ia menunggu cukup lama, sampai akhirnya ia mendapatkan kabar kalau seseorang sudah mengambil gaun Anathea sudah sangat lama, dengan mengaku di suruh oleh Anathea. Anehnya ia tak pernah menyuruh siapapun.


Dan benar ia beberapa waktu lalu, kehilangan bukti struknya. Ternyata seseorang mengambil bukti tersebut, dan mengambil gaun Anathea.


Setelah di cari tahu, ternyata yang mengambil seorang wanita, menurut keterangan yang mengelolah tempat laundry tersebut.


Anathea mulai panik, karena gaun ia akan dia gunakan pada Peragaan busana hilang, ia tak tahu harus bagaimana, karena ia yakin tak akan sempat mengejar waktu yang tersisa.


Ia juga tidak tahu, harus menjelaskan bagaimana menjelaskan dengan Dean, jika ia menanyakan gaunnya.


Ia pergi dari tempat itu, dengan tangan kosong, dengan perasaan tak karuan. Karena pekerjaan yang ia kerjakan dalam waktu yang tak singkat, hilang dan ia harus mengerjakan ulang semuanya.


Seninnya, ia datang ke perusahaannya dengan waktu lebih lambat dari biasanya, karena Anathea yang selalu datang lebih awal.


Di ruangan Anathea, tampak Anathea yang kurang sehat, tengah mengerjakan sesuatu.


Tak lama, dia luar ruangan Anathea, tampak orang - orang menjadi riuh ketika Ayah dari Dean datang ke perusahaan bersama istrinya yaitu ibu dari Dean.


Anathea yang tidak tahu akan kedatangan pimpinan perusahaan, tampak tetap fokus dengan apa yang ia kerjakan.


Kedatangan mereka membuat, semua orang di perusahaan bertanya - tanya ada apa, karena, sejak mereka memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Dean, mereka hampir tidak pernah terlihat.


Della datang keruangan Anathea, dan melihat Anathea sedang mengerjakan sesuatu, sontak gadis itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"An, ikut aku cepat !" ucap della, seraya menarik Anathea keluar dari ruangannya sementara itu Anathea yang tampak bingung, hanya bisa menggerutu.


Saat Anathea mengetahui siapa Yaang datang, Anathea langsung diam dan tak berkutik.


Wanita itu langsung mendekat Anathea, dan dalam waktu beberapa saat, wanita itu sudah berada di hadapan Anathea.


Wanita itu menatap aneh Anathea, ia memperhatikan Anathea dari atas kepala sampai ujung kaki, seperti seorang mertua, sedang melihat calon menantunya.


"A-ad apa?" tanya Anathea kemudian.


"Kamu cantik." ucapnya, membuat Anathea re terkejut, dan kemudian tersipu.


Tak lama, Dean keluar dari ruangannya, lalu terkejut melihat kedua orangtuanya.


"Ma, Pa?" ucap Dean yang terlihat terkejut.


"Kami perlu bicara denganmu," ujar Papa Dean.


"Yasudah, masuk keruangan Dean." ujarnya.


"Kamu juga ikut." ujar Mama Dean, yang membuat Anathea kebingungan, sebenarnya kenapa ia ikut masuk?


"Kenapa?" tanya Mama Dean, yang melihat Anathea tak bergeming dari tempatnya.


"Hah?" ucap Anathea yang tampak masih kebingungan.


"Ayo!" serunya, dengan mau tak mau, gadis itu ikut masuk ke ruangan Dean. meski ia tak tahu maksud dan tujuannya.


Ibu Dean bisa melihat ketegangan dari raut wajah Dean dan Anathea. Padahal mereka tidak melakukan kesalahan apapun, tapi mereka berekpresi kalau mereka akan di hukum karena melakukan kesalahan.


"Ini, ada apa?" batin Anathea.


"Berasa mau di sidang calon mertua, astaga!" ucap Anathea dalam hati.