Will You Stay

Will You Stay
Secercah Cinta



Namanya Anathea Stephanie, teman - teman dan keluarganya sering memanggilnya dengan sebutan nama depannya yaitu Ana.


Dia adalah seorang gadis cantik, yang sangat senang menggambar, tentunya ia bercita - cita menjadi seorang desainer terkenal.


Usianya yang kini menginjak 25 tahun, selalu memberikan kesan yang luar biasa, tak heran karena talenta, dan karena selalu memberikan kesan ia sering mendapatkan tawaran menjadi desainer utama.


Tapi sayangnya pekerjaannya itu, terkadang tak sesuai yang ia inginkan. Terkadang ia merasa gagal, dan terkadang ia harus berhadapan dengan orang yang tidak suka dengan hasil gambarnya.


Kegiatan yang paling menyenangkan untuknya adalah menggambar, ketika ia menggerakkan pensil di atas kertas atau di sebuah buku, ia merasa telah menuangkan segala imajinasinya.


Anathea hidup bersama keluarga yang mementingkan pekerjaan, tak jarang ia sayang jarang berjumpa dengan orang tuanya, meski di pagi hari.


_


Suatu hari di pagi hari saat gadis itu sedang asyik dengan sarapannya, entah dari mana tiba - tiba kedua temannya kini berada di rumahnya, dan menghampirinya di ruang makan.


Fellani dan Della adalah dua sahabatnya yang ia kenal sejak bangku SD. mereka memliki dua kepribadian yang hampir mirip. tak jarang Anathea menyebut mereka dengan sebutan anak kembar.


"Ana! Ana!" Anathea hanya menanggapinya dengan acuh tak acuh, sambil tetap melahap sarapannya.


Mereka berdua mulai kesal dengan sikapnya yang terlalu santai." Ah, kamu ini, kalau udah tahu pasti bakalan pingsan," gerutu Della.


"Iya, nih!" tambah Fellani.


"Ada apa, sih?" ujarnya dengan nada santai.


Kemudian Anathea mencoba memusatkan perhatian pada mereka yang terlihat sangat serius. jantungnya berdegup kencang ketika mereka memberi tahu bahwa Julian mantan yang belum lama ini putus dengannya kini memiliki pacar lagi. Matanya mulai berkaca-kaca, sungguh sangat menyakitkan.


"Kamu nangis? kamu masih cinta, sama dia?" gadis itu segera menyeka air matanya yang tampah sadar kini membasahi pipinya. Anathea mencoba bersikap biasa saja, namun sayangnya terlalu sulit karena bagaimanapun perasaan itu masih melekat, dan ini kenyataan yang sangat menyakitkan baginya.


"Nggak, kok." ujarnya sambil menebarkan senyumnya.


"Kalian udah makan belum, yuk makan sama - sama." ajaknya. kedua sahabatnya pun itu ikut makan bersama dengannya, hingga beberapa menit kemudian mereka pergi ke tempat kerja mereka.


_


Mereka sangat sibuk dengan pekerjaan mereka, namun keadaannya masih terkendali. namun ada sesuatu yang berbeda dari Anathea, sejak gadis itu mendengar kabar tentang Julian gadis itu seolah kehilangan senyumannya.


Dari kejauhan seseorang yang memperhatikan Anathea, berjalan menghampirinya.


"Ana, kamu baik - baik saja?" tanyanya, Depan pria yang berdiri di hadapannya saat ini, adalah atasannya di perusahaan tempatnya bekerja. namanya adalah Dean tergambar sebagai seorang pria yang tinggi, berbadan tegap, dan matanya yang tajam dan tegas.


"Saya, baik - baik saja, pak." jawab gadis itu, sambil tersenyum.


"Oh, baiklah." timbal pria itu.


"Kalau tidak ada sesuatu, saya permisih kembali bekerja." yah begitulah sikap Anathea pada atasnya, lembut, sopan, dan berhati - hati dalam bersikap.


_


Ketika jam pulang, mereka bertiga seperti biasanya berjalan bersama, sebelum akhirnya berpisah di parkiran.


Karena mobil Anathea berada di bengkel, karena mengalami masalah, akhirnya gadis itu berjala menuju halte bus, disana ia menunggu taxi seorang diri. sebenarnya ia ingin menumpang pada temannya karena temannya sendiri sudah menawarkan, dan mengetahui permasalahan mobil Anathea , namun karena tidak enak, akhirnya gadis itu menolak tawaran sahabatnya.


akhirnya mereka berpisah, dan tinggalkanlah Anathea seorang diri. setelah di pesan, akhirnya taxinya pun sampai, dan membawanya ke tempat tujuannya.


_


Di suatu gang yang sepi, pada malam hari kira kira pukul 20 : 00 seorang gadis kecil, berambut lurus, dan panjang sebahu, duduk sambil menangis.


Dia menangis seorang diri di malam hari, karena tidak tega melihatnya akhirnya gadis itu memutuskan untuk mendekati gadis kecil itu.


"Hei, ada apa?" tanya Anathea. tiba - tiba gadis kecil itu memeluk pinggangnya, Anathea yang terkejut hanya mematung.


"Kakak, aku tersesat." ucap gadis itu, kemudian kembali menangis.


"Hei, dengar coba bangun dulu, kemudian cerita apa yang terjadi." gadis itu bangkit dan memberanikan diri menatap wajah Anathea.


"Sekarang coba ceritakan, apa yang terjadi padamu," pintanya.


Gadis kecil itu menceritakan apa yang terjadi, Anathea tampak serius mendengarkan.


"Astaga, kenapa kau harus mengalami ini, katakan dimana rumahmu?" tanya Anathea kemudian.


"Kakak akan, mengantarmu pulang bagaimana?" Gadis kecil itu tersenyum lega ketika mendengarnya, lalu ia memberitahu alamatnya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di rumah anak kecil itu.


Pintu rumahnya tertutup, gadis itu menghampiri pintu rumahnya lalu mengetuknya.


Tak lama pintu terbuka, ia terkejut ketika mendapati yang membuka pintu adalah atasannya.


"Pak, anda?" ucap gadis itu terkejut.


"Paman." gadis kecil itu berhambur memeluk pria itu, sedangkan gadis itu tidak tahu harus bereaksi seperti apa karena terkejut.


"Lana, masuk kedalam, cuci kakimu dan pergi tidur," pintanya.


"Baik paman," timbalnya.


"Paman, jangan lupa terimakasih pada kakak cantik ini, dia sudah menolongku." tambahnya, sebelum akhirnya ia masuk kedalam.


"Pak, jadi dia keponakanmu?" tanya Anathea.


"Benar." jawabnya singkat.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." ucap gadis itu, yang hendak berpamitan.


"Kau kesini naik, apa?' tanya pria itu. gadis itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kalian berjalan kaki?" tanyanya lagi, gadis itu menjawab dengan anggukkan.


"Tunggu sebentar aku akan mengantarmu, aku ambil kunci mobil dulu." ucapnya, sebelum akhirnya pria itu masuk dan mengambil kunci mobilnya.


"Tapi, pak _ " tidak bisa protes, tangannya di tarik ke arah mobi, tak ada pilihan lain ia harus terima di antar oleh atasannya sendiri.


Karena tak ada saling bicara, suasana di dalam mobil begitu canggung. atasannya itu masih diam, namun dia sudah terlanjur di dalam mobil.


"Terimakasih sudah mengantar keponakanku, berkatmu dia pulang dengan aman." ucap atasannya itu tiba - tiba, yang membuatnya sedikit terkejut.


"Ah, iya sama - sama, pak." timbalnya.


"Dia bilang hanya pergi sebentar, dan di temani oleh security di rumah kami, tapi ternyata dia pergi sendiri." ucap pria itu kemudian.


"Oh, begitu." jawabnya canggung.


"Apa kau, canggung?" tanyanya.


"Ah, itu _ "


"Santai saja, kau tidak perlu merasa cemas." ucapnya, yang memotong ucapan Anathea.


"Aku tidak akan macam - macam, denganmu." tambahnya.


"Ah, bukan begitu, Pak." ucapnya ingin menyangkal.


"Kita sudah sampai." ucap Dean.


Gadis itu perlahan mengedarkan pandangannya. Benar saja ia sudah ada di halaman rumahnya.


"Bagaimana dia tahu?" batin Anathea yang kini merasa heran.


"Terimakasih, kalau begitu saya masuk dulu," ujarnya buru - buru keluar.


Setelah Anathea keluar, dan menutup pintunya. Dean kembali kerumahnya dengan mobilnya. sementara Anathea gadis itu, masuk ke dalam rumah dengan rasa penasaran sebelumnya.


_


Keesokan harinya Anathea berangkat ke kantornya, Anathea menunggu taxi pesanannya karena mobilnya baru selesai di perbaiki 3 hari lagi.


Anathea memperhatikan sekitarnya, yang mulai ramai oleh orang - orang yang mulai beraktivitas. tak lama sebuah mobil berhenti di depannya, ia kira itu adalah mobil pesanannya, ternyata mobil atasnya.


Kaca mobilnya turunkan, sehingga terlihat orang yang ada didalamnya.


"Hai, kak." sapa gadis kecil itu, dengan raut wajah ceria.


"Ha-hai, sedang apa kalian disini?" tanya Anathea.


"Kami kebetulan lewat ini, paman bilang rumah kakak disini, jadi kami mampir," ujar gadis polos itu.


"O-oh, begitu."


"Naiklah." pinta atasnya tiba - tiba.


"Ha?"


"Mobilmu masih, di perbaikikan?" tanyanya, gadis itu mengangguk.


"Naiklah." pintanya.


Gadis itu mematung untuk beberapa saat, sebelum akhirnya gadis kecil itu menyadarkannya.


"Kakak, ayo naiklah." gadis itu masuk dalam mobil pada akhirnya, sungguh ia tidak tahu harus merasa senang atau tidak. tapi yang pasti jantungnya saat ini berdetak tak karuan.


Kami memperhatikan dari kejauhan, setelah ia masuk kedalam sekolahnya kamipun melanjutkan perjalanan.


Sepanjang perjalanan hatinya tak tenang, karena saat ini dia sedang bersama atasannya. Banyak hal yang menganggu pikirannya, bahkan ia merasa sesuatu akan terjadi padanya saat tiba di tempat kerjanya.


Sesuatu seperti gosip tentangnya, hal yang paling ia benci bahkan bisa ia bayangkan. setiap kali ia memperhatikan di luar jendela, ia berpikir dimana ia harus di turunkan.


sambil menatap langit - langit, dan memandang ke luar jendela mobil, ia seperti membayangkan sesuatu, sampai ia tak sadar kalau ia sudah sampai di tempat kerjanya. ia benar - benar gelisah.


Ternyata atasannya itu mulai sadar yang kini tingkah Anathea memang terlihat aneh, dia mencoba untuk mencari tahu, terlihat kecemasan dari raut wajah Anathea yang terlihat sangat jelas "Kau kenapa?" tanyanya kemudian, Anathea kini menatap ke arah atasannya itu, yang menatapnya dengan tatapan serius.


Anathea Tertegun, pandangannya tertuju pada bola mata Dean atasannya tersebut, yang kini menatap aneh dirinya." nggak, cuma khawatir aja, dilihat sama karyawan lain," jelasnya.


Tampa pemberitahuan, Dean membuka pintu di samping Anathea, sontak ia mematung karena tindakan yang tiba - tiba itu.


"Keluar." pintanya.


"A-Aah, baik." Anathea terus melihat sekitarnya, Dean dengan acuh tak acuhnya mendahului masuk ke kantornya.


"Ah, bisa - bisanya dia santai begitu." gurutunya, kemudian ikut melangkah masuk ke dalam kantor.


Anathea pun duduk di kursinya, di ruangannyan, suasana di luar ruangan tampak riuh. Tapi Anathea merasa itu bukan masalah besar, jadi ia tak pergi keluar untuk melihat.


Tanpa basa - basi, pintu ruangannya di buka. "Apa yang terjadi?" tanyanya.


"Untuk event musim semi Minggu depan, kenapa begitu lambat pengerjaannya?"


Namanya adalah Kara, dia adalah kepala penanggung jawab di tempatnya bekerja.


"Apa?" Anathea balik tanya kepada Kara.


"Kalau tidak bisa mengambil tanggung jawab, lebih baik berhenti saja dari pekerjaan ini." ucapnya dengan intonasi keras.


"Aku heran, kenapa perusahaan ini bisa mempekerjakanmu." tambahnya.


Anathea hanya diam membisu, mendengarkan perkataan Kara yang sangat menyakitkan perasaannya.


"Apa kau tahu prose pekerjaannya, butuh berapa lama?" tanya Anathea.


"Apa?" balik Kara.


"Apa kau tahu, berapa jumlah banyak yang kita produksi?" tanya Anathea kemudian.


"Kau _ "


"Sabarlah, yang terpenting sebelum event itu di mulai, produksi sudah selesai, tinggal di edarkan dan di jual belikan, mengerti?" gadis itu terdiam, ia tak menyangka kalau Anathea sanggup membuatnya mati kutu.


"Ini masih pagi, dan masih jam kerja, bisa biarkan aku melanjutkan pekerjaanku?" dengan kesal tangannya di kepal, seperti hendak menahan emosi, namun kemudian ia keluar dari ruangan Anathea.


Tak lama, pintu ruangannya di ketuk, kemudian muncul sosok sahabatnya di balik pintu.


"Del, ada apa?" tanya Anathea kemudian, setelah melihat temannya itu menghampirinya.


"Kenapa tuh, cewek ular kesini?" tanya Della kemudian.


"Biasa, Lo sendiri ada perlu apa?" timbal Anathea.


"O, ya! gue hampir lupa!" serunya, lalu kemudian meletakkan map di meja Anathea.


"Apa ini?" tanya Anathea kemudian.


"Itu laporan, dari ketua produksi." ucapnya.


"Oh, makasih ya." ucapnya sambil tersenyum, setelah itu, Della yang selesai dengan urusannya, kembali keruangannya.


Anathea memeriksa berkas yang diberikan Della, setelah selesai, ia membawa berkas itu menuju ke ruangan Dean.


Anathea merasa canggung untuk mengetuk pintu, tapi akhirnya ia mencoba memberanikan diri.


Anathea mengetuk pintu, dan membuka perlahan pintu ruangan Dean, yang memperlihatkan sosok Dean yang berada di mejanya.


Dean yang menyadari keberadaan Anathea, memanggilnya, Anathea kemudian mendekat seraya membawa map yang ada di tangannya.


"Ada apa?" tanya Dean kemudian.


"Saya membutuhkan tanda tangan anda, silahkan dilihat dahulu." jawab gadis itu.


Gadis itu menyodorkan map tersebut, yang kemudian disambut oleh Dean. Saat ia mendapatkan Map tersebut, tampak Dean membaca dengan sesama isi yang ada di map tersebut.


Anathea memperhatikan Dean yang, tampak serius dengan berkasnya. Alih - alih menganggumi Dean yang begitu serius, gadis itu tanpa sadar menganggumi ketampanannya.


"Kalau dia kayak gini, ketampanannya kenapa bertambah berkali - kali lipat, ya?" batin Anathea.


Anathea yang melamun, tidak sadar kalau berkasnya sudah kembali disodorkan kepadanya.


"An? Anathea?!" gadis itu tersentak kaget, lalu mulai salah tingkah di depan Dean.


"Ma-maaf, Pak." ucap gadis itu, kepalanya tertunduk karena malu. Setelah mengambil berkas dari tangan Dean, ia dengan cepat kembali menundukkan kepalanya.


"Ka-kalau begitu, saya kembali kerja dulu." setelah berpamitan, ia dengan cepat bergegas meninggalkan ruangan Dean.


Dean yang melihat itu, hanya mematung karena bingung melihat Anathea yang salah tingkah di depannya.


Jam istirahat makan akhirnya tiba, kedua sahabatnya datang keruangan Anathea untuk mengajaknya makan siang bersama.


"An, udah jam makan siang."


"Kamu masih, kerja?" tanya Della kemudian, setelah yang melihat Anathea yang tengah sibuk di mejanya.


"Maaf, hari ini aku nggak ikut, nggak papa ya?" ucap gadis itu.


"An _ "


"Soalnya banyak kerjaan yang belum selesai, kalian makan aja sama yang lain." tambah Anathea.


Fellani dan Della, hanya bisa menghela nafas, lalu mendekati meja Anathea.


"Kita pesan delivery aja, bagaimana?" tanya Fellani kemudian.


"Tapi _ "


"Nggak ada penolakan." timbal Della.


"Lagian nggak baik, nunda jam makan tahu." tambah Fellani.


"Yaudah, deh." ucap gadis itu akhirnya.


Anathea tersenyum menatap kedua sahabatnya, yang kini ikut membantu pekerjaannya.


Seketika Anathea merasa beruntung mempunyai sahabat yang selalu memperhatikan dan mendukung dirinya.


Bahkan disaat seperti ini, Anathea tidak dibiarkan merasakan seorang diri. dia berharap persahabatannya akan bertahan selamanya.


_


Setelah jam pulang


Saat sedang menunggu jemputannya, beberapa orang datang dan Anathea tak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


"Eh, gimana rencana pestanya, jadi nggak?" tanya seorang karyawan wanita. yang kemudian keduanya berjalan melewati Anathea.


"Pesta?" ucap Anathea dalam hati?"


_


_


Hari ini adalah hari dimana acara event yang direncanakan dilaksanakan, ini kali pertama Anathea bertanggung jawab untuk event yang tergolong penting.


Dean menyerahkan tanggung jawab kepada, karena itu Anathea berusaha keras agar tidak mengecewakan.


Fellani Dan Della tampak tengah mengobrol dengan tamu lain, tampak terkejut melihat kedatangan Anathea yang datang dengan penampilan yang berbeda dari biasanya.


Bukan hanya sahabatnya yang terkejut, semua yang datang pun ikut di buat terkejut.


Anathea yang melihat semua tampak menatap aneh dirinya, ia hanya bisa menunjukkan ekspresi kebingungannya.


"Duh ... apa penampilanku, ada yang salah?" batin Anathea.


Seseorang menghampiri Dean, lalu membisikkan sesuatu. entah apa yang dibisikkan oleh pria itu, tak lama setelah itu, Dean menghampiri Anathea dengan ekspresi kesal.


"Bukankah kau sudah di beri, kepercayaan?" tanya Dean kemudian.


"Kenapa kau bisa tidak, tanggung jawab seperti ini?"ucapnya dengan nada marah.


"Apa?"


Anathea terkejut mendengarnya, bahkan tamu yang datang ikut terkejut, dan menanyakan apa yang terjadi.


"Pak ... "


"A-anda ini bicara, apa?"