Will You Stay

Will You Stay
Scandal



Disitulah Anathea terdiam sejenak untuk menarik napas panjang, dan membiarkan dirinya terhanyut.


Tak berapa lama waktu berselang, seseorang menepuk pundak Anathea, " Anathea." gadis itu berbalik, dan melihat wajah yang menepuk pundaknya.


"Pak, Anda disini?" berapa terkejutnya ia melihatnya bosnya itu, kini berada di pantai yang sama dengan, ia bertanya - tanya apa yang membuat atasannya itu berada di pantai.


"Hari ini, keluargaku ingin ke pantai." ucapnya.


"Itu mereka disana," tambahnya, seraya menunjukkan keberadaan keluarganya.


"Ah, begitu." timbalnya dengan mengangguk paham.


"Kau sedang apa disini, liburan?" tanya Dean kemudian.


"Ah itu ... ya begitulah." jawabnya dengan nada sedikit canggung.


"Selamat menikmati waktu anda bersama keluarga, saya akan pergi sekarang." ucap Anathea berpamitan.


"Kau mau pergi?" tanya Dean tiba - tiba.


"Aku mau pulang." jawab gadis itu.


"Ah, baiklah." timbal Dean kemudian.


"Kalau begitu, saya permisih." Anathea pun pergi, tampak Dean memperhatikan Anathea yang berjalan menuju mobilnya.


Di sela ia memperhatikan Anathea, seseorang menyentuh pundaknya, ia menoleh ternyata ibu dari Dean.


"Ada apa?" tanyanya.


"Apa kau, mengenal gadis itu, siapa dia?" tanyanya kemudian.


"Hanya karyawanku, dikantor." jawabnya lalu membawah Ibunya pergi, untuk bergabung dengan keluarga yang lain.


_


Setelah makan waktu lama di jalan, akhirnya Anathea tiba di rumahnya, Saat ia hendak membuka pintu, dari luar ia mendengar keributan di dalam.


"Aku sudah bilangkan, temanmu itu cuma mau menipumu!" teriak seorang wanita, yang tak lain adalah ibunya.


"Ya mana aku tahu, kalau dia akan menipuku!" ucapnya yang kini balas teriak.


Pertengkaran mereka berhenti setelah Anathea membuka pintu, sontak mereka mulai salah tingkah.


"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya ibunya kemudian.


"Kalian bertengkar?" tanya balik Anathea.


"Hah? oh, nggak." timbal Ibunya.


"Ana, masuk ke kamarmu, dan istirahatlah, kalau butuh sesuatu panggil bibi." ucap Ayahnya kemudian.


"Iya." dengan patuh dan tanpa bertanya apa yang terjadi, Anathea menaiki tangga yang menuju kamarnya. ia tergopoh-gopoh, dan langsung mengunci pintu kamarnya segitu tibanya.


Ibu Anathea yang mencemaskan putrinya itu, mendatangi kamar Anathea.


"An, boleh Mama masuk?" tanya Ibu Anathea di depan pintu kamar.


Gadis itu membukakan pintu, lalu mempersilahkan ibunya masuk.


"Ada apa, Ma?" tanya gadis itu kemudian.


Wanita itu menatap lekat wajah putrinya, lalu menyentuh wajahnya.


"Maaf, Mama nggak pernah ada waktu untuk kamu," ujarnya tiba - tiba.


"Ma?" ucap gadis itu.


"Mama, merasa Mama bukan Ibu yang baik buat kamu." ujarnya, yang kemudian dengan wanita itu mulai memeluk putri, tampak matanya mulai berkaca kaca, seperti menahan tangis, namun Anathea tak menyadari itu.


Ibunya kemudian melepaskan pelukannya, lalu sambil mengusap kepala putrinya ia berkata "Yasudah, kamu istirahat ya, Mama keluar dulu." gadis itu mengangguk dengan polosnya, ia kemudian memperhatikan Ibunya yang keluar dari kamarnya.


"Mama." gumamnya.


_


_


Anathea baru tiba di kantor, namun ia di perlihatkan oleh pemandangan yang terlihat sangat kacau.


"Ada apa ini?" tanya Anathea kemudian.


"Bos marah besar," jawab Jessica.


"Marah? Marah kenapa?" tanya Anathea kemudian.


"Iklan, yang kita pasang di sosial media,"


"Ada yang menghina produk kita kemarin," timbalnya.


"An, itukan pekerjaan, dan desainnya juga kamu yang buat, kok bisa kita kena hujat." tambahnya.


"Dampaknya, pesanan kita menurun drastis." tambahnya lagi.


"Apa?" Anathea mengeluarkan ponselnya, dan memeriksa kolom komentar iklan yang di post, ketika sudah berada di akun sosial perusahaan.


"I-ini." ucap gadis itu, tak mengerti kenapa bisa komentar negatif mendominasi kolom komentar, dan banyak yang percaya dan terpancing komentar negatif tersebut.


"Aku tidak mau tahu, kau harus selesaikan masalah ini." setelah mengatakan itu, Jessica pergi, sementara Anathea masih di tempatnya.


Tak lama Jessica pergi, Fellina dan Della datang menghampiri Anathea.


"An, kita harus gimana, sekarang?" tanya Della.


"Iya, kita banyak banget nerima hujatan, bilang bahannya jelek lah, pas pesen ukuran nggak sesuai lah," tambah Fellani.


"Belum lagi, katanya desainnya mirip sama desainer Anggina." ucap Della kemudian.


"Jadi Kamu di bilang plagiat." ujarnya Fellina.


"Ka-kamu nggak, plagiat design orang, kan?" tanya Della kemudian.


"Gila! nggak mungkin aku lakuin itu!" Anathea yang tak terima atas tuduhan itu, langsung berhambur pergi dengan wajah kesal. Sementara kedua temannya, masih diam di teman merasa tidak enak atas perkataan mereka sendiri.


_


Anathea duduk di dengan dengan memasang raut wajah yang gusar, ia kembali membaca kolom komentar, ia tak menyangka akan terjadi hal seperti ini.


Ia bangkit dan kemudian berjalan keluar dari ruangannya. ternyata ia pergi ke ruangan Dean, Tampak ia menunggu Dean di ruangan Dean, di karenakan Dean saat ini sedang bertemu beberapa tamunya di ruang rapat.


Tak lama pintu ruangan itu terbuka, serta merta Anathea terkejut melihat wajah Dean yang tampak kesal, dan ia berjalan menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Dean kepada Anathea.


"Pak, soal _ "


"Tidak perlu di jelaskan, saya mencari tahu apa yang terjadi." ucap Dean kemudian setelah memotong ucapan Anathea.


"Pak, sungguh saya tidak melakukan itu, saya siap membuktikannya jika itu di perlukan." ucap Anathea dengan raut wajah yang sungguh - sungguh.


"Itu memang harus dilakukan, kau tahu itu akar awal dari masalah ini, kan?" tanya Dean kemudian. Gadis itu menjawab dengan anggukkan kepala.


"Untuk sekarang ini, kamu tidak di perbolehkan masuk, sampai permasalahan ini selesai." tambah Dean.


"Aku harap kamu, bisa mengerti." tambahnya lagi.


"Iya, saya mengerti pak." jawab Anathea dengan perasaan hancur.


"Kalau begitu saya permisih." Anathea keluar dari ruangan Dean, dengan perasaan yang sangat hancur.


Bukan hanya ia diragukan atas pekerjaannya, namun ia tidak di perbolehkan untuk bekerja, apa ia terancam akan kehilangan pekerjaannya?


Saat ini ia tak berpikir apapun lagi, saat ini satu - satunya yang ia pikirkan adalah mendapatkan pekerjaannya kembali, dan membersihkan namanya.


Anathea kembali keruangannya, di dalam ruangan Anathea, ia melihat Jessica berada di ruangannya.


Ia merasa Jessica melakukan gerak - gerik yang mencurigakan, sebenarnya apa yang sedang ia lakukan.


"Jes, kamu sesaat apa?" tanya Anathea, yang membuat Jessica terperanjat.


"A-a-aku, sedang mencarimu." ucapnya dengan ekspresi gugup.


"Mencariku, atau mencari sesuatu di ruanganku?" tanya Anathea kemudian.


"Me-mencari sesuatu?"


"Apa maksudmu? Emangnya ada sesuatu di ruanganmu, yang bisa aku ambil? CK."


"Kalau tidak tahu apa - apa, jangan bicara sembarangan."


Jessica hendak melewati Anathea, namun Anathea, mencengkram lengan Jessica untuk menahannya pergi.


"Jes, apa kau tahu karena masalah ini, aku hampir kehilangan pekerjaanku?" tanya Anathea.


"Oh ya? Ya ampun ..."


"An! aku rasa kau harus segera membereskan masalah ini secepatnya, atau kau bukan hanya dipecat, tapi akan berurusan dengan polisi." tambahnya.


"Semoga masalahmu cepat selesai, ya." ucap gadis itu, yang kemudian berlalu pergi dengan santainya.


_


_


_


"Ma?" tegur gadis itu.


Diam hanya terdiam kemudian berjalan mendekati putrinya. setelah mereka saling berpandangan, ibunya kemudian memeluknya," Sabar ya, Mama tahu kamu nggak lakuin semua itu." ucapnya menenangkan.


Gadis itu hanya diam, ternyata berita itu sudah sampai ke ibunya. Ia tidak tahu harus harus berkata apa pada ibunya.


"Ma, Ana janji akan mengatasi masalah ini." ucap gadis itu kemudian.


"Mama akan dukung kamu, kalau kamu butuh bantuan bilang sama Mama." ucap Ibunya yang membuatnya merasa kembali di percaya .


"Makasih, Ma." ucap gadis itu, yang kemudian memeluk ibunya.


_


_


Selama satu minggu permasalahan Anathea tak kunjung selesai, hal itu membuat Anathea prutasi.


Anathea mencoba menunjukkan bukti, kalau ia sama sekali tidak mengambil design milik orang lain, dan itu murni karyanya. Namun tidak ada yang percaya.


Ia sendiri bingung, kenapa tidak ada yang percaya terhadap bukti yang ia berikan. meski ada beberapa yang mulai percaya, tapi ada beberapa yang tidak percaya dan terus menggiring opini kalau dirinya bersalah.


Seharian penuh Anathea berada di dalam kamar, mengingat - ingat dimana kejadian berawal. Ayah dan ibu Anathea yang baru saja pulang dari pekerjaan mereka, segera menemui anak mereka, untuk memeriksa keadaannya.


Diketuknya pintu kamar Anathea," sayang boleh kami masuk." ujarnya dengan permisih.


Beberapa menit menunggu jawaban, tapi tak ada jawaban. Ia mulai mencemaskan putrinya dan langsung membuka kamar putrinya itu.


"Sayang?" tegur ibunya. Dan langsung mendekati putrinya, terlihat raut khawatir di wajah wanita itu.


"Ana, kamu baik - baik saja?" tanya Ayahnya.


"Aku baik, Pa." jawab gadis itu.


"Kalau begitu bisa kita bicara?" tanya Ayahnya kemudian.


"Beberapa hari terakhir, Papa ikut menyelidiki kasus yang menimpamu." ujarnya Ayahnya.


"Dan ternyata, yang mengirim komentar jahat, mereka adalah orang yang ingin menjatuhkanmu." lanjutnya.


"Maksud, Papa?" tanya gadis itu dengan ekspresi bingung.


"Mereka melakukan itu, karena mereka tidak senang denganmu." timpal Ibunya.


"Aku?" gadis itu tambah bingung, pasalnya gadis itu merasa tidak memiki musuh.


"Dan setelah diselidiki, justru karyamu yang diambil orang lain." ucap Ayahnya kemudian.


"Apa?" tanya Anathea.


"Ada yang diam - diam mencuri, dan menjual karyamu secara bebas." jelas Ibu Anathea.


"Lalu mereka klaim kepemilikan atas nama mereka, kerena mereka sudah membeli mereka pikir itu milik mereka sepenuhnya, padahal itu adalah tidakkan ilegal." tambah Ayah Anathea.


"Kasus ini, sudah diambil alih, oleh pengacara Papa, nama kamu akan segera di bersihkan." ucap Ayah Anathea.


" Pa, terimakasih." ucap gadis itu sambil memeluk Ayahnya. sekarang gadis itu, bisa sedikit tenang karena namanya akan segera bersih.


"Tunggu _ "


"Designku, ada yang menjual?"


Ia teringat dengan tindakan mencurigakan yang dilakukan Jessica, meski tak ada bukti kini ia mencurigai Jessica, yang diam - diam mencuri designnya.


_


_


Keesokan harinya, pagi itu Anathea bangun pagi - pagi sekali, membereskan perlengkapan pekerjaannya yang akan ia bawah.


Anathea yang segera menutup pintu kamarnya, dan langsung mencari keberadaan orang tuanya untuk berpamitan.


"Ana, tumben sepagi ini?" tanya ibunya.


Sejak namanya akan dibersihkan, ia terlihat sangat semangat, setelah beberapa lama ia kehilangan semangatnya.


Anathea merasa harus bangkit dari keterpurukannya, dan harus segera memperbaiki keadaan. ia yakin ia bisa mengatasi masalahnya, karena ia tahu ia tidak melakukan kesalahan.


"Ayo, sarapan dulu." ajak ibunya itu.


"Iya, baik." jawab gadis itu. Anathea segera menghabisi sarapannya, setelah itu bergegas pergi dengan mobilnya.


Ibunya hanya tersenyum bahagia, melihat tingkah anaknya itu.


Setelah sekian lama di perjalanan, Anathea kini berada di depan tempatnya bekerja. Untuk beberapa saat Anathea berdiam diri di mobil, sampai akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari mobil.


Anathea memasuki perusahaannya, dan ia melihat ekspresi terkejut semua karyawan termasuk kedua sahabatnya.


"An, kamu udah masuk kerja lagi?" tanya Fellani dengan raut wajah bahagia, gadis itu hanya menjawab dengan senyuman.


"Iya, mana kita kirim pesan nggak dibalas, kamu kenapa jadi hilang kabar sih?" tanya Della kemudian.


"Sorry, tapi ada yang lebih penting yang harus gue urus," jelas Anathea kepada kedua sahabatnya itu.


Mendengar itu sontak Della dan Fellani saking pandangan, " gimana?" tanya Fellani ke Anathea.


"Jangan khawatir, semuanya akan segera selesai." ucap Anathea.


"Syukur deh kalau, gitu." ucap Della.


"Oh ya, masalahnya udah selesai?" sahut Jessica yang datang secara tiba-tiba.


Ia melihat kedatangan Jessica, Anathea sontak menatap Jessica dengan tatapan sinis.


"Kenapa?" tanya Jessica bingung, karena melihat Anathea menatapnya dengan sinis.


"Tidak ada," timpal Anathea, lalu pergi melewati Jessica. Ia hanya diam, sembari memperhatikan Anathea yang berjalan menuju keruangan Dean.


Karena penasaran apa yang ingin dilakukan Anathea di ruangan Dean, akhirnya Jessica mengikuti Anathea ke ruangan Dean.


_


Diruang Dean :


"Apa? Apa kau bilang?" tanya Dean setengah tak percaya.


"Jadi ada yang mencuri design yang kau buat untuk perusahaan, terus menjualnya?" tanya Dean kemudian.


"Benar." timpal Anathea.


"Gawat!!!" batin Jessica, yang menguping diluar.


"Baiklah, akan aku tangani masalah ini." ucap Dean.


"Gawat, kalau begini aku dalam masalah, aku harus menyingkirkan barang bukti." batin Jessica, yang kemudian pergi meninggalkan tempatnya.


Diruangan Jessica, tampak Jessica yang mulai cemas, kalau perbuatannya akan ketahuan. saat ini di kepalanya, adalah bagaimana cara membuat dirinya agar tetap tidak tahuan.


Jessica dari tadi berusaha untuk tenang, namun tidak bisa, kemudian seseorang datang keruangan membuat dirinya harus mengontrol diri.


_


_


Anathea yang sedang mencuci tangan di dalam kamar mandi, tak sengaja mendengar pembicaraan orang diluar yang tengah bergosip.


"Kau tahu, saat aku ke ruangan Jessica, tingkahnya aneh sekali." ujarnya.


"Aneh kenapa?" tanya lawan bicaranya.


"Yang seperti orang ketakutan." jawab kemudian orang tersebut.


"Kau tahu, aku sering melihat Jessica keluar masuk keruangan Anathea." ucap lawan bicaranya kemudian.


"Apa? Untuk apa dia keuanganku?!" batin Anathea.


"Untuk apa?" tanya orang tersebut.


"Aku juga tidak tahu, tapi waktu keluar dia tidak bawah apa - apa yang mencurigakan."


"Jadi aku pikir, bukan masalah besar." tambahnya.


Ketika selesai mencuci tangannya, Anathea keluar, tampak dua orang itu terkejut dengan keberadaan Anathea.


"Ana, kau sejak kapan di dalam?" tanya mereka bersamaan.


"Mmm ... Kenapa?" tanya Anathea kemudian.


"A-apa kau dengar pembicaraan kami, barusan?" tanya salah satu dari mereka.


"Apa? Aku tidak mendengar apapun karena aku pakai earphone di telingaku," ujarnya, padahal dia hanya berpura - pura.


"Oh begitu." ucapnya lega.


"Kalian, lagi bergosip tentang apa?" tanya Anathea kemudian.


"Ti-tidak, kami tidak bergosip." ucapnya yang kemudian bergegas meninggalkan Anathea.


Sementara Anathea hanya menatap datar, melihat tingkah mereka.