Will You Stay

Will You Stay
Kedatangan Marva



Setelah Jessica diberhentikan, perusahaan merekrut orang baru, dan dia seorang pria.


Namanya adalah Marva, ia berambut hitam, dan potongan rambutnya cukup rapih, selain tampan dan, memiliki kharisma.


Bayangkan saja baru beberapa hari ia bekerja, ia sudah menjadi populer, dan memiliki banyak teman karena sifatnya yang mudah akrab.


Namun terkadang ia tak jarang menyendiri, meski sifatnya yang mudah bergaul. Anathea duduk diam di keramaian seorang diri, karena kedua sahabatnya tidak bisa menemaninya karena masih menyesuaikan pekerjaan mereka.


"Hai." sapa Marva, sih anak baru, dengan nampan makanan di tangannya.


"Hai." balas Anathea.


"Boleh gabung?" tanyanya kemudian. Anathea mengangguk sebagai ganti jawaban.


"Wah, kau sangat bekerja keras, ya." ucapnya kemudian.


"Hah? Oh, terimakasih." jawab Anathea kemudian.


"Apakah pulang kerja, kau ada waktu?" tanya Marva.


"Kenapa?" tanya Anathea balik.


"Aku hanya ingin mengajakmu jalan - jalan." jawab pria itu.


"Jalan - jalan?" tanya Anathea ulang, pria itu menganggukkan kepalanya.


"Mungkin bisa, kita lihat saja nanti." ucap Anathea. pria itu tak berkomentar banyak lagi.


_


_


Anathea melangkah dilorong, dan ia melihat sosok Dean yang berjalan beriringan dengan sekertarisnya dan menuju ke ruangannya.


Sementara Anathea yang memperhatikan Wajah Dean, yang tidak mempedulikan untuk menatap sekitar.


"Hayo! sedang apa?" suara familiar itu, mengagetkan Anathea, Della entah dari mana datang saat ini ia sudah berdiri di sebelah Anathea.


"Mengangetkan saja." gerutu Anathea.


"Sedang lihat apa?" tanya Della kemudian.


"Tidak, tidak ada." ucap Anathea seraya meninggalkan Della.


Della tak melepaskan padanya dari sahabatnya Anathea yang berjalan meninggalkannya, disaat bersamaan ia merasa temannya itu telah menjadi aneh.


Diruangannya Anathea merasa telah sesuatu terjadi padanya, lebih tepatnya pada perasaannya.


Tak ingin larut dalam pemikiran itu, ia memutuskan untuk membuang jauh - jauh hal yang mengganggunya tersebut.


Gadis itu mulai fokus bekerja, namun tak ada bedanya. Tak lama Ayura datang keruangannya.


Ayura adalah sekretaris Dean, ia menatap wajah wanita itu.


"Ada apa?" tanya Anathea kemudian.


"Perlu sesuatu?" tanya Anathea lagi.Gadis itu menghampiri meja Anathea.


"Pak Dean, memanggilmu ke ruangannya." ucapnya.


"Baiklah." jawab Anathea kemudian, setelah mengatakan itu Ayura pergi meninggalkan ruangan Anathea.


Sementara itu Anathea pergi keruangan Dean, terlihat Dean tengah sibuk dengan dekumen di tangannya.


"Ada apa?" tanya Anathea kemudian.


"Duduklah," ujar Dean, gadis itupun duduk kini mereka saling berhadapan.


"Apa kau tahu, ada peraturan untuk berpacaran di kantor?" tanya Dean, mendengar itu, Anathea menatap Dean dengan tatapan bingung.


"Pacaran? Memangnya siapa yang pacaran di kantor?" tanya Anathea kemudian.


Gadis ini tampak tidak mengerti, kalau yang di bicarakan adalah dirinya dan Marva, karena sebelumnya ia melihat Anathea bersama dengan Marva.


Namun gadis itu sepertinya tidak mengerti apapun, " sudahlah lupakan, bagaimana dengan yang aku minta kemarin?" tanya Dean kemudian.


"Oh, soal designnya, masih aku kerjakan, bisa beri aku sedikit waktu lagi?" ucap Anathea dengan memohon.


"Tidak, semua harus aku selesaikan, begitu aku memintanya." timbal Dean.


"Ya, baiklah." ucap Anathea.


"Jika tidak ada lagi, auu pergi dulu." ucap Anathea kemudian.


"Tunggu." ucap Dean menahan Anathea pergi.


"Ada apa?" tanya Anathea kepada Dean yang menahannya.


"Apa nanti malam kau, ada waktu?" tanya Dean tiba - tiba yang membuat Anathea bingung.


"Alana ulang tahun, dan kau di undang." jelas Dean.


"Baiklah." timpalnya. Dean terdiam, sementara Anathea meninggalkan ruangannya.


_


_


Perjalanan ke rumah Dean cukup memakan waktu, sementara Dean dan keluarganya berada di tengah acara.


Ketika Anathea datang, sontak orang - orang melihat ke arahnya. Melihat kedatangan Anathea, seorang gadis kecil langsung menyerbu dan memeluk Anathea.


"Kakak, terimakasih sudah datang." ucap Alana gadis kecil itu kemudian.


"Sama - sama, maaf kakak datang terlambat." ucapnya. gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Alana?" panggil seorang wanita yang menghampiri mereka. Alana yang mendengar namanya di panggil menoleh, begitu juga dengan Anathea.


"Mama, kenalin ini Kakak cantik." ucapnya memperkenalkan Anathea.


"Kakak cantik?" tanya Mamanya dengan tertawa melihat tingkah anaknya.


"Maaf ya, Alana memang seperti itu." ucapnya.


"Hah? I-iya." jawab Anathea.


"Namaku, Bulan." ucapnya memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya, seolah mengajak berjabat tangan.


"Anathea." balas Anathea memperkenalkan diri.


"Oh, Alana sering bercerita tentangmu, apa kau pacarnya Dean?" tanyanya kemudian.


"Hah?" ucap gadis itu, bingung harus menjawab apa.


"Aku _ "


"Iya, dia pacarku, Kak." ucap Dean yang menyela di antara mereka berdua.


"Hah?" tampak gadis itu kebingungan dengan apa yang sudah dilakukan oleh atasannya itu.


"Wah ... Dean kau sungguh pintar." timpal Kakak perempuannya itu.


"Ma, liat pacar Dean, cantik sekali." ucapnya seraya meninggalkan mereka berdua.


Anathea melihat ke arah Dean, segera mendekati Anathea.


"Pak, yang kau katakan?" tanya Anathea kemudian.


"Tidak ada?" timpal Dean tanpa merasa beban.


"Pak." ucap Anathea dengan menatap Dean dengan serius.


"Apa?" tanya Dean yang kemudian mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Anathea.


"Ke-kenapa kau mendekatkan wajahmu?" reflek Anathea menjauh.


"Hei, ayo kita mulai acaranya." ajak Kakak Dean yang kembali menghampiri mereka.


Terlihat Kakak Dean menggandeng tangan Dean, dan Alana, dan semua berkumpul di satu tempat termasuk Anathea.


Acara dimulai dengan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Alana, sambutan, dan meniup lilin, kemudian memotong kue.


Setelah itu, pesta dimulai dengan makan - makan.


_


_


Begitu Acara selesai, Anathea segera berpamitan untuk pulang, hatinya begitu senang, Karena hadir di acara tersebut.


Malam itu, Anathea berencana pulang sendiri, namun Dean menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.


_


_


Keesokan harinya, setelah jam makan siang dan sedikit berbincang - bincang dengan temannya, Anathea segera masuk keruangannya.


Selesai mengerjakan pekerjaannya, Anathea berencana mengerjakan hal lain.


Tak lama pintu ruangannya di ketuk, ia melihat sosok yang mengetuk pintunya itu yang mulai masuk keruangan.


"Marva? Ada apa?" tanya Anathea.


Kebungkaman Marva membuat Anteha kesal, entah apa yang sedang dipikirkan oleh laki - laki di dapannya ini. Dia masih saja diam seribu bahasa." Marva?" tanya Anathea ulang.


"Aku mau mengajakmu diner, apa kau keberatan?" tanya Marva kemudian.


"Diner?" tanya Anathea ulang. Marva mengangguk, ia menatap Anathea penuh harap, melihat itu Anathea merasa tidak enak untuk menolak.


"Baiklah," ujar Anathea, mendengar itu membuat Marva bahagia.


"Baiklah, kalau begitu aku akan menjemputmu, nanti kau kirim saja alamatmu, ok?" ucap Marva dengan semangat, dan di jawab dengan anggukkan.


Tak lama kemudian, saat Anathea sedang memeriksa bahan dasar pakaian sebelum di buat.


Kring - kring suara telpon melengking memanggil.


"Aku ingin bertemu denganmu" pintanya.


Karena Anathea mengira Dean menelpon karena ada hal penting, akhirnya ia segera menemui Dean diruangannya.


Mereka bertemu, namu suasana di kantor begitu sepi, ia bingung kemana perginya semua orang karena sepertinya hanya ada mereka berdua.


"Pak, ada apa anda memanggil?" tanya Anathea kemudian.


Dean masih saja diam, wajahnya seperti ingin marah. Dalam diamnya ia terus menatap Anathea, hal itu membuat Anathea kebingungan.


"Karena aku tak bisa bertemu denganmu, setiap saat." Anathea tertawa kecil, dia mengira Dean dengan bercanda dengannya.


"Pak, apa ada sesuatu yang harus saya kerjakan?" tanya Anathea.


"Ada event fashion, di New York." timpal Dean kemudian.


"Aku ingin kamu mempersiapkan diri, karena perusahaan kita akan ikut berpartisipasi." ucap Dean.


"Baik, aku akan mempersiapkan segalanya." ucap Anathea.


Ketika mereka tengah berbicara, tak lama seseorang masuk keruangan Dean. Dan ternyata itu adalah Marva.


"Oh hai, Ana." sapa Marva.


"Hai." balas Anathea.


"Ada perlu, apa?" tanya Dean dengan nada dingin.


"Ah, aku kemari ingin menyerahkan ini pekerjaanku, dan ini laporan yang diminta untuk diserahkan padamu." ucapnya kemudian.


"Baiklah, taruh saja dimeja." ucap Dean dengan nada dingin.


"Ada apa? kenapa dia jadi dingin?" batin Anathea yang melihat sikap Dean kepada Marva.


"Kalau begitu aku kembali bekerja," pamitnya.


"Sampai jumpa, nanti malam Anathea." ucapnya yang kemudian pergi.


Anathea terdiam, sementara tatapan Dean mulai menjadi tajam.


"Sialan, tuh anak kenapa harus bilang disini." batin Anathea.


"Apa nanti malam, kalian berdua ada rencana?" tanya Dean kemudian.


"Soal itu, Marva mengajakku untuk makan malam." timpal Anathea. mulut seketika kembali mengatup ketika ia merasa seharusnya ia tidak mengatakan hal tersebut.


"Makan malam? Hanya berdua?" tanya Dean.


"Itu ... " tak bisa berkata - kata lagi, akhirnya Anathea menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kau boleh pergi sekarang." ucapnya.


"Baik." pamit Anathea, yang kemudian meninggalkan ruangan Dean.


Tak lama kemudian, ia baru saja tiba di ruangan setelah dari ruangan Dean. Tiba - tiba ia mendapatkan notifikasi pesan di ponselnya.


Ia melihat ponselnya dan membaca pesan yang masuk tersebut, ternyata ada pemberitahuan ada makan malam bersama seluruh karyawan.


"Apa ini, mendadak sekali? Sepulang jam kerja?" ia menatap penuh tak percaya di layar ponselnya, ia hampir mengira ia salah dalam membaca pesannya.


"Apa ada perayaan?" batin gadis itu.


Tanpak sebuah keriuhan diluar ruangan, pasalnya Dean tidak pernah mengandakan makan malam bersama karyawan.


Sementara diluar sedang riuh, Anathea tampak sibuk dengan pikirannya sendiri, pasalnya itu artinya ia harus membatalkan rencananya dengan Marva.


_


_


Melihat Anathea yang berjalan keluar dari ruangannya, tampak Marva yang mencoba mengejar. Tak lama Anathea terlihat memasuki lift bersama karyawan lainnya.


Marva yang mengejar hendak ingin masuk lift, namun ia kalah cepat.


Anathea berdiri di samping mobilnya, tampak ia ingin berangkat bersamaan dengan yang lainnya. Marva yang akhirnya keluar, terlihat tersenyum melihat Anathea lalu ia menghampiri Anathea di tempatnya.


"Hai." sapa Marva.


"Hai." jawab Anathea.


"Maaf, seperti rencana kita harus batal." ucap Anathea dengan raut wajah menyesal.


"Ah, kenapa kau harus minta maaf, inikan di luar rencana." timpal Marva.


"Mau berangkat bersama?" tanya Marva kemudian.


"Ah, tidak usah, aku bawah mobilku." ucap Anathea.


"Ah, baiklah." balas Marva.


Entah dari mana, Dean muncul dan berdiri bersebelahan dengan Marva.


"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Dean.


"Ah, tidak ada." timpal Anathea. Dean tersenyum, namun ada sesuatu dengan senyumannya.


"Ayo semua, aku tahu tempat makan yang enak disini, malam ini aku yang traktir." ucap Dean yang berjalan mendahului.


"Terimakasih, Bos!" sorak semua karyawan yang ikut.


Mereka berjalan beriringan, setelah melewati beberapa blok, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah makan yang terlihat ramai.


"Wah, ramai sekali." ucap salah satu karyawan.


"Apa tiba apa - apa?" tanya yang lain.


Dengan perlahan mereka masuk, dan tak lama pelayan di tokoh itu menghampiri mereka dan menuntun mereka ke tempat mereka yang sudah di pesan.


Mereka dipersilahkan duduk, tampak mereka kagum dengan Dean yang ternyata sudah menyiapkan semuanya.


Pelayan mulai datang, mengantar pesanan mereka, yang di pesan 30 menit setelah sampai.


Mereka mulai melahap makanan mereka, terlihat raut wajah senang tergambar di wajah mereka.


Anathea yang tetap merasa ada yang aneh, namun masih menikmati makan malamnya.


"Semuanya terimakasih atas kerja keras kalian." ucap Dean tiba - tiba.


"Makan malam ini, untuk kerja keras kalian." tambahnya.


"Jadi silahkan di nikmati." sambungnya.


"Terimakasih, Bos!" ucap semua karyawan yang tampak sangat berterimakasih.


Malam itu penuh canda tawa, dan ada beberapa dari yang dari mereka saling bertukar cerita.


Dean tampak memperhatikan Anathea yang asyik bercerita dengan Fellani dan Della, disisi lain ada juga Marva yang ikut memperhatikan Anathea, apa ini? Apakah ini cinta segitiga?


"Oh ya, Anathea." ucap seorang karyawan yang hadir.


"Ya?" timpal gadis itu.


"Aku dengar kau dekat dengan, Marva."


" Sebenarnya kalian ada hubungan, apa?" tanyanya, sontak Anathea terbelalak karena mendengar pernyataan itu tiba - tiba.


"Kenapa menanyakan itu, tiba - tiba? Kami hanya teman." jelas Anathea.


Anathea yang kemudian melihat ke arah Marva setelah menjawab pertanyaan itu, Marva yang juga menatap Anathea. Terlihat ada raut sedih dan kecewa di raut wajahnya.


"Benar, kami hanya teman." ucap Marva kemudian.


"Ah, begitu rupanya." ucap orang tersebut.


Pada akhirnya karena pertanyaan itu, Suasana menjadi sedikit canggung, terutama untuk Anathea dan Marva.


_


_


_


Pagi ini Anathea berangkat dengan tergesa - gesa, kira - kira pukul 07 : 40 ia baru tiba.


Turun dari mobil, dan lari melewati koridor. Ditengah perjalanan matanya tertuju pada ruangan yang tampak sepi, yaitu ruangan Marva, kemana perginya Marva?


Anathea merasa gelisah, karena ia terlambat. Ia sebenarnya mencoba datang tepat waktu, namun di tengah perjalanan ia mendapat masalah, mobil yang ia kendarai tiba - tiba bannya pecah.


Karena masalah itu, ia datang terlambat. Padahal ia sudah sangat berusaha untuk datang tepat waktu.


Anathea yang kini sedang memandang baju yang ia buat, karena merasa ada yang salah ia melakukan rombak pada baju tersebut.


Anathea yang dari tempat Della, dalam perjalanan kembali keruangannya tak sengaja Anathea menubruk Marva yang sedang memegang segelas minuman.


Sebagian seragamnya, terguyur oleh minuman yang di bawah oleh Marva, namun kertas yang Anathea bawah dari ruangan Della ikut basah.


"Sorry." ucap Anathea dengan raut wajah menyesal.


"Tidak masalah, aku bisa buat lagi." timpal Marva.


"Tapi bajumu?" tanya Anathea yang khawatir karena seragam yang Marva kenakan menjadi kotor.


"Tidak apa - apa, aku punya gantinya." jawab Marva.


"Syukurlah," ucap Anathea lega.


"Nanti berikan saja baju kotor itu padaku, akan aku cuci saat di rumah." ucapnya kemudian.


"Tidak, tidak perlu." jawab Marva.


"Tidak, ini salahku, jadi biarkan aku bertanggung jawab." ucap gadis itu.


"Tapi bagaimana dengan, kertasmu itu." ucap Marva.


"Eh .. Akan aku tangani sendiri." ucap Anathea.