Will You Stay

Will You Stay
Dibalik Sikap Dean



"Udah yuk, kita pergi." ucap salah satu dari mereka, seraya meninggalkan Anathea.


Anathea menuju ruangannya, karena semua sedang makan karena masih jam istirahat. Perusahaan tampak sepi, lalu ia memasuki ruangannya, lalu mengambil rekaman Cctv- diruangannya.


Ia memutar Cctv- tersebut, dan mendapati Jessica sedang berada diruangannya. Anathea terus mempertahankan, sampai ia dibuat terkejut apa yang dilakukan Jessica pada akhirnya.


Anathea menyimpan rekaman tersebut, dan kemudian melakukan rencana selanjutnya.


Anathea menuju keruangan Dean, karena ia ingin menunjukkan rekaman Cctv- yang ia temukan. Namun ketika ia tiba, ruangan Dean Tampak kosong, Anathea duduk di kursi sambil menunggu.


Karena Dean tak kunjung datang, Anathea yang menunggu cukup lama beranjak dan hendak pergi dari ruangan Dean. Tapi sayangnya, ia harus berhadapan dengan Jessica, yang entah ada urusan apa, kini berada di ruangan Dean.


Jessica tampak terkejut melihat Anathea di ruangan Dean, Jessica kini menghadapkan dirinya di hadapan Anathea.


"Ada apa?" tanya Jessica. Ditatapnya gadis itu, kemudian Anathea memberitahu maksudnya berada di ruangan Dean.


"Pak Dean, sedang keluar, apa perlu sesuatu?" tanya Jessica kemudian.


"Aku rasa tidak ada urusannya, denganmu." timpal Anathea dengan nada sinis.


"Aku akan mencari sendiri." tambahnya kemudian meninggalkan Jessica seorang diri di ruangan Dean.


Anathea semakin curiga bahwa dirinya sendang di awasi oleh Jessica, karena gerak - geriknya merasa selalu di ikuti.


_


_


Anathea terus menunggu Dean, ia mencoba mengabari lewat pesan, namun tidak ada balasan hal itu membuatnya kesal.


"Sekarang apa yang harus aku, lakukan?" pikir Anathea.


Kembali Anathea menghela nafas, kemudian ia terpikirkan sesuatu, ia pergi keruang Jessica, setelah ia memastikan Jessica tidak ada diruangannya, ia masuk.


Setelah memeriksa bahwa tidak ada siapapun, ia menggunakan kesempatan tersebut untuk menggeledah ruangan Jessica.


Tak lama kemudian ketika Anathea masih ditengah pencarian di dalam ruangan Jessica, ia mendengar langkah kaki sedang menuju tempatnya.


Ia bingung apakah ia harus bersembunyi, namun ia tak bisa melihat adanya tempat untuk bersembunyi.


Tepat saat Jessica masuk keruangan miliknya, seperti yang diduga ia terkejut melihat Anathea berada di ruangannya. Anathea yang sudah terpojok, langsung berakting dengan seperti orang normal.


"Kamu sedang apa, disini?" tanya Jessica kepada Anathea.


"Aku? menurutmu sedang apa?" timbal gadis itu.


"Apa kau habis mencuri sesuatu?" tuduh Jessica kemudian.


"Benar aku mencuri emas, dari ruanganmu." timpal balik Anathea.


"Lucu sekali, tidak ada emas di ruanganku, mengerti?" ucapnya dengan nada sinis.


"Kenapa sinis seperti itu, aku cuma bercanda." jawab Anathea.


"Aku rasa kita tidak sedekat itu, untuk bisa saling bercanda." jawab Jessica.


"Aku juga tidak berniat dekat, dengan seorang pencuri." gumam Anathea.


"Apa?" tanya Jessica kemudian.


"Aku kesini karena harus menyerahkan berkas ini padamu." ucap Anathea, seraya meletakkan map di meja Jessica.


"Permisih ada berkas lain yang harus, aku antar." ucap Anathea yang, kemudian berjalan keluar sambil melewati Jessica.


"Wanita ini, apa yang dia rencanakan?" batin Jessica lalu berjalan ke mejanya.


"Cuma map, wanita itu pasti sedang mengerjaiku." gerutunya kesal.


Anathea berhasil membawa berkas dari ruangan Jessica, ia yakin Jessica cepat atau lambat akan menyadarinya.


Tak lama ponselnya berdering, sebelum ia mengangkatnya ia melihat nama yang tertera dilayar.


[ Dean ]


"Dasar, orang mencari dari tadi, sekarang menelpon, pergi kemana sebenarnya orang ini." dumel Anathea.


"Hallo." ucap gadis itu.


"Temui aku, Di caffe di depan." pintanya kemudian mematikan telpon begitu saja.


"Apa maksudnya pria ini, sebenarnya." ia menyimpan ponselnya kembali, lalu melirik jam yang ada di tangannya. ternyata jam menunjukkan hampir memasuki jam pulang, "sudah berapa lama, aku menunggu pria ini di kantor?" ucap Anathea dalam hati.


_


_


"Kakak cantik." ucap seorang gadis kecil, yang langsung berhambur kepelukkannya.


"Hei ... Kamu juga disini?" tanya Anathea kepada Alana.


"Lana, kemari." pinta Dean, dengan patuhnya gadis kecil itu menurut ketika di panggil.


Anathea langsung mengambil tempatnya, terlihat gadis kecil itu senang ketika melihat kedatangan Anathea, begitu juga sebaliknya.


"Aku tidak menyangka, Lana disini." ucap Anathea.


"Orang tuanya pergi dinas, orang tuaku tidak bisa menjaganya, makanya dia bersamaku sekarang." jelas Dean dengan nada datar.


"Begitukah?" tanya Anathea kemudian.


"Lana, jadi kamu sering di tinggal?" tanya Anathea pada gadis kecil itu, dengan polosnya ia menganggukkan kepala, sebagai ganti jawaban iya.


"Wah, ternyata begitu." ucap Anathea mengangguk - anggukkan kepalanya, sementara Dean memperhatikan interaksi mereka berdua.


"Untung Pamanmu, mau menjagamu ya." tambahnya.


"Itu karena Mama, kalau Mama tidak memaksa, Paman mana mau." ucapnya dengan polos.


"Lana." timpal Dean, seraya mengasih tatapan tak terima ke arah ponakannya itu.


"Hei, Lana?" gadis itu menoleh ketika di panggil.


"Apa pamanmu, itu takut pada Mamamu?" tanya Anathea kepada gadis kecil lugu itu.


Gadis kecil itu, dengan ekspresi lugunya mengangguk, sontak hal tersebut membuat Anathea tertawa, Alana yang melihat Anathea tertawa jadi ikut tertawa, sementara Dean hanya diam memperhatikan, dengan tatapan dinginnya.


"Anathea, apa kamu sudah bosan bekerja?" tanya Dean kemudian dengan nada mengintimidasi.


"Maaf." ucap gadis itu.


"Kakak, kapan - kapan mainlah kerumah kami," ujar Alana.


"Baiklah, kapan - kapan Kakak akan datang." timpal Anathea kemudian.


"Aku dengar kau mencariku, ada masalah apa?" tanya Dean.


"Oh, soal itu _ "


"Kamu benar, jangan khawatir polisi akan menangkapnya." ucap Dean kemudian.


"Apa? Siapa?" tanya Anathea dengan ekspresi kebingungan.


"Bukannya kita butuh bukti, apa anda sudah mendapatkan dan mengumpulkan semua buktinya?" tanya Anathea kemudian, Dean menganggukkan kepalanya sebagai ganti jawaban iya.


Gadis itu terdiam, apakah benar pelakunya bisa di tangkap?


"Kakak! Paman! Kalian sedang membicarakan apa?" ucap Alana.


"Bukan apa - apa, bukan urusan anak kecil." timpal Dean.


"Khuff ... " melihat Alana yang cemberut ke Pamannya, membuat Anathea terkekeh. ia bingung kenapa Pamannya suka sekali mengganggu keponakan itu.


_


_


Anathea saat ini dalam perjalanan pulang, butuh waktu lama untuk tiba di rumahnya, di tambah lagi, ia harus menghadapi kemacetan di jalan


_


_


Anathea yang masih pulas tidur, dibuat terkejut hingga terbangun ketika mendengar suara teriakan.


Ia memeriksa jam, kemudian dengan keadaan masih setengah mengantuk keluar kamar untuk memeriksa keadaan.


"Ma, ada apa?" tanya Anathea.


"Thea, akhirnya nama kamu dibersihkan." ucap Ibunya dengan nada senang.


"Mmm?"


"Makanya buka mata kamu, liat berita di Tv." kondisi mata yang masih berat, gadis itu membuka matanya perlahan.


Matanya membulat ketika, ia membaca tulisan dilayar. Ia hampir tak percaya, berita tentang muncul.


Tak lama pelakunya di munculkan, ia terkejut ternyata pelakunya adalah teman lamanya di kantor, yang belum lama ini di pecat oleh Dean.


"Sayang, bukannya itu ... mantan karyawan di kantor kamu?" tanya ibunya kemudian.


"Ma, Ana kekamar dulu." dengan sergapannys gadis itu langsung pergi ke kamar. Lalu ia langsung tertuju pada ponselnya.


Anathea mencoba menghubungi Dean, untuk pemberitaan yang beredar. namun tak ada jawaban.


Anathea yang melihat ibunya masih berada di ruang Tv, langsung berpamitan.


Sementara itu, diruangannya Jessica tampak cemas, dia merasa takut kalau namanya akan terbawah. Padahal selama ini, ia hanya menjalankan perintah karena dibayar.


"Kalau Thania buka suara soal aku, bisa habis aku." batinnya.


Sementara itu, suasana di luar tampak riuh, mereka membicarakan Thania yang kini dalam penangkapan Polisi.


Sementara suasana sedang tidak kondusif, Anathea tiba di kantor tak lama kemudian.


"An, kita ikut senang kamu akhirnya bisa terbebas dari berita itu." ucap Della.


"An, kamu kenapa?" tanya Fellani kemudian ketika melihat raut wajah Anathea.


"Tidak ada apa - apa, aku ke ruangan Jessica dulu." ucap Anathea yang kemudian berlalu pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu.


Setibanya di ruangan Jessica, tampak Jessica terkejut melihat Anathea yang datang keruangannya.


"Ada apa?" tanya Jessica berusaha bersikap sewajarnya.


"Mau sampai kapan, menutupin?" tanya Anathea kemudian.


"Hah? Maksudnya." ucap Jessica yang masih tak mengerti maksud Anathea.


"Kenapa?" tanya Anathea kemudian dengan nada dingin.


"Hah?"


"Kenapa harus aku?" tanya Anathea yang berjalan memojokkan Jessica perlahan


"Kamu ini bicara, apa?" tanya Jessica, yang akhirnya terpojok.


"Kamu sudah mencuri buku designku, dan menfoto copy, benarkan?" tanya Anathea dengan nada mengintimidasi.


Terlihat dari raut wajah Jessica bahwa ia sangat terkejut mendengar perkataan Anathea, ia tidak menyangka kalau Anathea sudah mengetahui perbuatannya.


"I-itu tidak benar, jangan asal tuduh, memang punya bukti?" ucap gadis itu, dengan nada sedikit terbata - bata karena gugup.


"Jawab dengan jujur, atau akan aku laporkan ke polisi?!" ucap gadis itu, dengan nada penuh luapan emosi.


"Aku tidak melakukannya, aku sudah mengatakannya dengan jelas!" Teriak Jessica kemudian.


"Baik, kau tidak mau jujur." ucap Jessica kemudian.


"Akan di pastikan, kau akan di penjara bersama, Thania." tambahnya.


"Jangan sembarangan, kau tidak punya bukti." timpal Jessica.


"Siapa bilang?" balas Anathea.


Anathea hendak meninggalkan Jessica di ruangannya, namun pergelangan tangannya ditahan oleh Anathea.


"An, bukti apa yang kau temukan?" tanya Jessica, yang mulai terlihat panik.


"Cctv- dan lain - lain." ungkap Anathea.


"Jessica yang mendengar itu terdiam, ia sadar ia sudah tak bisa mengelak lagi, tangannya yang mengait di pergelangan tangan Anathea terlepas.


"Baiklah, aku akan jujur." ucap Jessica kemudian.


"Tapi aku melakukan itu, karena di bayar oleh, Thania." tambahnya.


"Ia memaksaku, dan memberikan aku uang yang cukup banyak." tambah Jessica lagi.


"Kau tahu, aku butuh ia itu, untuk _ "


"Untuk memenuhi gaya hidupmu?" sela Anathea.


"Kamu jangan coba - coba mengomentariku, kau tidak tahu apapun tentangku." timpal Jessica dengan tatapan sinis.


"Baiklah, aku tidak akan mengomentari apapun," balas Anathea.


"Lagi pula, aku memang tidak tahu apapun tentangmu." tambahnya.


"Aku tidak tahu, kau yang selalu ingin mengikuti gaya hidup orang - orang."


"Aku tidak tahu, kau yang selalu ingin terlihat lebih baik dari orang lain."


"Aku tidak tahu, kau yang mengabaikan kondisi keuangan keluargamu, demi memenuhi gaya hidupmu."


"Kau yang ingin terlihat lebih baik."


"Kau yang gengsi, kau yang _ "


"Cukup!" teriak Jessica.


"Kau pikir, kau tahu segalanya tentangku?" tanya Jessica kemudian dengan ekspresi tidak senang.


"Kita tidak sedekat itu, benarkan?" tambahnya.


"Jadi berhenti bicara, katakan apa yang akan kau lakukan." sambungnya.


"Entahlah, kita lihat saja nanti." jawab Anathea.


"Lagi pula, buktinya sudah aku serahkan ke kantor polisi." tambahnya.


Gadis itu terduduk, tatapannya kosong. Sementara itu Anathea meninggalkan ruangan Jessica.


Tak lama Fellani dan Della yang menunggu Anathea keluar dari ruangan Jessica, langsung menghampiri Anathea.


"An, kamu nggak kenapa - napa?" tanya Della, sambil memeriksa keadaan Anathea.


"Aku baik - baik aja, ada apa? tanya Anathea yang melihat kedua sahabatnya itu khawatir terhadapnya.


"Aku pikir dia, bakal macam - macam." timpal Fellani.


"Hah?" jawab Anathea dengan ekspresi bingungnya.


"Ada apa? Apa semua ada hubungannya dengan dia?" tanya Della.


"Nggak bukan begitu, tadi cuma bicara soal kerjaan." jawab Anathea.


"Masa sih? terus kenapa kalian teriak - teriak?" timpal Fellani.


"Aduh udah kita cuma bertengkar dikit kok, bukan masalah besar." jawab Anathea, entah kenapa ia menutup apa yang terjadi didalam, namun ia merasa permasalahan ini cukup ia dan Jessica yang tahu.


"Oh, begitu." ucap Della, dengan ekspresi kecewa.


"Kenapa ekspresinya gitu?" tanya Anathea kemudian, ketika melihat ekspresi kecewa para sahabatnya.


"Bukan apa - apa, kok." jawab Fellani dan Della bersamaan, sementara Anathea memberikan tatapan curiganya.


"Yaudah, kita balik kerja yuk." ucap Della, kemudian yang seraya menarik Fellani untuk meninggalkan Anathea, sementara Anathea hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya itu.


_


_


3 hari kemudian


Karena permasalahan yang terjadi, Dean yang mengetahui ada campur tangan Jessica, langsung memecat Jessica.


Jessica yang menyadari kesalahannya, tak banyak protes soal pemecatannya.


Siang itu tepat pukul 13 : Jessica tengah berada di ruang tunggu di kantor polisi, ia menunggu kedatangan Thania. kebetulan ia berencana, untuk bicara dengan Thania. Karena sebelumnya, Thania mengabarinya yang meminta untuk menemuinya.


Tak lama kemudian, Ia mendengar langkah kaki. Dan ia melihat sosok Thania yang datang bersama polisi.


Kemudian polisi itu pergi meninggalkan mereka berdua, namun tidak pergi jauh.


Thania hanya mengulum senyum, melihat wajah Jessica, kemudian mereka berdua duduk saling berhadapan.


"Apa kau sudah puas, sekarang?" tanya Jessica kemudian.


"Aku kehilangan pekerjaan berhargaku karenamu." tambahnya.


"Katakan, bagaimana caramu bertanggungjawab?" sambung Jessica lagi.


"Diamlah, kau pikir hanya kau yang hancur?" timpal Thania dengan raut wajah sinis, jelas tak ada penyesalan di wajahnya.


"Dengar, sebentar lagi aku akan bebas, setelah aku keluar dari sini, kau harus membantuku." tambahnya.


"Bebas? Apa maksudmu?" tanya Jessica.


"Kau tidak perlu tahu, yang jelas kau mau membantuku atau tidak?" tanya Thania kemudian.


"Kau sudah gila? setelah semua ini, kau masih ingin melanjutkan?" tanya Jessica setengah tak percaya.


"Diam, jangan mencoba mengguruiku, akan aku bayar 10 kali lipat, dari sebelumnya." ucap Thania mencoba membuat Jessica tertarik untuk bekerja sama lagi.


"Jika kau, masih mau bekerjasama." tambahnya.


"Tidak, aku tidak bisa." jawab Jessica.


"Apa?" tanya Thania dengan tatapan tidak senang karena di tolak.


"Aku tidak mau, terlibat lebih jauh." jelas Jessica.


"Kau serius?" tanya Thania kemudian.


"Aku serius," jawab Jessica penuh keyakinan.


"Lalu untuk apa kau menemuiku disini?" tanya Thania.


"Kau yang meminta." jawab Jessica.


"Kau bodoh." timpal Thania.


"Iya, sebelumnya aku memang bodoh, tapi aku tidak akan merusak hidupku, dengan mempertaruhkan diriku di penjara." jawab Jessica.


"Aku harap kamu segera berubah." tambah Jessica.


"Aku bilang jangan mengguruiku!" teriak Thania kemudian.


"Terserah jika kau tidak mau mendengarkanku, yang jelas aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan." ucap Jessica, yang kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Mau kemana kau, aku?!"


"Aku belum selesai, Thania!"


Gadis itu terus teriak, hingga polisi menarik paksa karena ia menolak di bawah kembali ke tempat tahannya.Sementara itu, Jessica pergi dengan mobilnya.