Will You Stay

Will You Stay
Ada Apa Dengan Della?



Setelah temannya pergi, juga pergi dengan mobilnya karena ia tak punya alasan untuk tetap berada di tempat itu.


Sore harinya, saat Anathea tiba di rumah, ia melihat Ayah dan ibunya sudah menunggu kedatangannya.


"Ma? Pa? Kalian sudah pulang?" tanya Anathea.


Anathea lalu menghampiri mereka, lalu ibunya mendekap putrinya itu kedalam pelukannya.


"Sayang, syukurlah kamu baik - baik saja." ucap wanita itu kepada Anathea.


"Ada apa, ini?" tanya Anathea kemudian.


Mendengar itu, ibu Anathea melepaskan pelukannya, lalu beralih menatap wajah putrinya.


"Mama, hanya khawatir, karena selalu meninggalkan putri Mama satu - satunya." ucap ibu Anathea, yang membuat Anathea merasa bersalah.


"Ma, kenapa harus khawatir, Anathea baik - baik saja, kan?" ujar Anathea untuk menenangkan ibunya.


"Iya, tapikan _ "


"Ma, Mau istirahat di kamar boleh?" tanya Anathea. Ibu mengangguk sebagai ganti jawaban.


"Kau lihat?" ucap Papa Anathea.


"Kau membuat putrimu, merasa tidak enak." tambahnya.


"Bagaimana juga aku ibunya, jelas aku mengkhawatirkan anakku." timpal Ibunya Anathea.


"Kau itu berlebihan, lagi pula dia bukan anak kecil." sahut Papa Anathea.


"Dia sudah dewasa, yang bisa mengurus dirinya sendiri." ucap Papa Anathea kemudian.


"Apa kau sama sekali, perduli pada putrimu?" tanya Ibu Anathea kemudian.


"Tentu saja aku peduli, itu sebabnya aku membantunya menuntaskan masalahnya." timpalnya.


"Aku juga menyuruh orang untuk menjaga dan mengawasinya." sambungnya.


"Jadi kau tidak perlu khawatir berlebihan, kita bekerja juga untuk menghidupi dia." tambahnya lagi.


Setelah mengatakan itu, Papa Anathea kemudian pergi. Sementara ibunya masih diam di tempatnya.


_


_


Seperti biasa Anathea berangkat bekerja, namun kali ini berangkat bersama Della, kerena Della mobilnya di pakai oleh Kakaknya.


Anathea menjemput Della ke rumahnya, dan setelah itu baru mereka sama-sama pergi ke kantor.


Anathea bergegas ke ruangannya, setibanya ia di kantor. Namun di halangi oleh Marva.


"Pagi, An." ucapnya.


"Pagi." balas Anathea.


Disela mereka saling sapa, tak lama kemudian Dean tiba.


Dean yang melihat Anathea bersama Marva, Anathea pikir Dean akan menghampiri mereka, namun tidak Dean melewati mereka berdua begitu saja.


Sontak di benak Anathea bertanya ada apa dengan Dean, ia berpikir apakah ia harus bertanya.


_


_


Anathea tengah sibuk menggambar dengan pensilnya, wajah serius tak pernah menghilangkan kecantikannya.


Anathea memang gadis yang cantik, namun selain itu yang membuat orang tertarik, adalah kerja kerasnya, dan selain itu ia juga penuh dedikasi untuk pekerjannya.


Di balik kehidupannya yang di anggapnya biasa biasa saja, tapi setiap ia menggunakan pensilnya ada hasil yang memuaskan semua orang yang melihatnya.


Saat ini Anathea di hadapi dengan setupuk kerja, dengan gambar yang ia buat. Anathea adalah orang yang gemar menggambar, karena itu ia mengambil jurusan fashion designer.


Seperti biasa, ketika jam istirahat tiba ia dan kedua sahabatnya akan pergi makan bersama. Disaat itulah mereka bisa menghabisi waktu bersama.


Della dan Fellina yang baru datang bergabung dengan Anathea yang tiba lebih awal karena kedua sahabatnya itu ingin menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu.


"Gimana soal, pacar kamu Del?" tanya Anathea kemudian.


"Kenapa pacar? Kenapa emangnya dengan di" tanya Fellani kemudian kepada Della.


"Mereka putus." ucap Anathea.


"Hah? Kok bisa?" tanya Fellani.


"Aku juga nggak tahu, sampai sekarang juga nggak bisa di hubungi." ujar Della dengan raut sedih.


"Udahlah, jangan di bahas, bikin kesel tahu."


"Yaudah, kita pesen makanan aja, gimana?" tanya Fellani. Anathea dan Della mengangguk setuju.


Pembicaraan mereka berlanjut, setelah Fellani bercerita soal Jessica di tempat kerja barunya.


Sebagian orang menganggumi pekerjaannya, dan sebagian lagi ada yang ingin menarik Jessica untuk masuk ke tempat kerja mereka.


Sejak pertemuan terakhir dengan Jessica, ia benar benar membuat banyak perubahan terhadap hidupnya.


Della hanya tersenyum melihat Fellani dan Anathea bercerita, hari ini ia berbeda, biasanya ia bergitu bersemangat soal menceritakan seseorang.


Fellani dan Anathea yang sibuk bercerita dan kini menatap Della yang tampak melamun.


"Del? Kamu kenapa?" tanya Fellani.


"Kamu nggak Papa?" tanya Anathea kemudian.


"Entahlah, aku sendiri juga bingung, harus gimana." ujar Della kemudian.


"Del?" ucap Fellani.


"Aku nggak Papa, kok." timpal Della. Yang tak ingin membuat kedua temannya itu khawatir.


"Yakin?" tanya Fellani yang menatap curiga, kalau temannya itu tengah menyimpan sesuatu.


"Iya." jawab Della mencoba meyakinkan.


Anathea dan teman - temannya tampak makan bersama, setelah makanan yang mereka pesan sampai.


_


_


Anathea dan Kedua temannya kembali ke kantornya, didalam ruangan tampak seorang pria tengah duduk di kursinya. Tingkah Anathea terlihat cemas, ia bertanya - tanya siapa pria itu.


Ia berpikir pria yang duduk di kursinya itu adalah penyusup, ia mengambil sapu yang ada di ruangannya, ia berniat memukul penyusup itu, namun belum sempat ia melakukan aksinya, pria itu berbalik, dan terlihat ternyata yang duduk di kursinya adalah Dean.


"Pak, apa yang anda lakukan disini?" tanya Anathea bingung.


"Kenapa?" tanya Dean kemudian.


"Pak, anda tidak mungkin salah masuk ruangankan?" tanya Anathea lagi dengan nada sedikit kesal.


"Mungkin." timpal Dean yang membuat kesal Anathea sedikit bertambah.


"Pak, sebaiknya anda keluar, sebelum ada yang lihat ada sedang berada di ruangan saya." ujar Anathea meminta.


"Kalau aku tidak, mau?" tanya Dean dengan tetap pada keinginannya untuk tetap berada di ruangannya Anathea.


"Pak, apa anda tidak ada sesuatu yang harus dikerjakan?" tanya Anathea.


"Benar." jawab Dean dengan cepat.


"Pak, saya punya banyak pekerjaan, bisa pergi sekarang?" ucap Anathea dengan nada meminta.


"Kau bisa melakukan pekerjaanmu, aku tidak akan mengganggumu." ucap Dean.


"Tapi biarkan aku disini," pinta Dean.


"Baiklah, terserah kau saja." ucap Anathea pasrah, ia tahu ia tidak bisa berbuat apapun pada atasnya itu.


Anathea sangat fokus bekerja, sementara Dean masih berada di tempatnya sambil memperhatikan Anathea yang tengah bekerja.


Sebenarnya ia tak bisa fokus bekerja karena Dean, yang terus mempertahatikannya, namun Anathea paham betul ia tak bisa melakukan apapun pada atasannya itu.


Anathea memang gadis yang baik, selain itu juga ia gadis yang unik, dan itu yang membuatnya menarik.


Tak lama ia mendengar suara langkah kaki mendekat, mendengar itu membuatnya sangat panik, ia melihat ke arah Dean yang tampak tenang di kursinya.


"Pak, sembunyi." ucap Anathea.


Karena terburu - buru, membuatnya kehilangan keseimbangannya, karena sepatunya. Sehingga ia jatuh menimpa Dean.


Gadis itu menutup matanya, ia ketika ia membuka matanya ia sudah berada di atas Dean. dengan posisi tangannya yang berada di atas dada bidang Dean.


Tak lama langkah kaki yang mereka dengar semakin dekat, sontak Anathea membekap mulut Dean agar tak bersuara.


Anathea bangkit, kemudian menarik Dean untuk bersembunyi di bawah mejanya.


Jantung Anathea semakin berdetak kencang, saat mengetahui jaraknya dengan Dean yang sangat dekat.


Jarak yang begitu dekat, membuat Anathea bisa melihat bola mata Dean yang menurutnya sangat indah. Bahkan ia bisa melihat pantulan wajahnya di mata Dean.


"Anathea!" panggil seseorang yang masuk.


"Apa? Tidak ada orang? Kemana perginya?" seseorang itu me menutup pintu dan kemudian pergi.


Mereka berdua kemudian keluar dari sembunyikannya, tampak Anathea yang kini salah tingkah didepan Dean.


"Pak, sebaiknya anda pergi, sebelum ada yang melihat dan salah paham," ucap Anathea yang masih berusaha mengatur detak jantungnya yang tak beraturan.


"Tapi aku tidak mau pergi, apa kau masih mau mengusirku?" tanya Dean. Dean benar - benar pria yang keras kepala.


"Baik, kalau itu membuatmu tenang, aku pergi." ucap Dean.


"Aku pergi sekarang." ujar Dean.


Dean keluar dari ruangan Anathea, dan akhirnya Anathea bisa bernafas lega.


_


_


_


seminggu kemudian Anathea yang memperhatikan Della, yang ada perubahan di wajah Della. Wajah Della yang terlihat pucat, ia berpikir Della sedang sakit.


"Dell, kamu sakit?" tanya Anathea yang khawatir pada sahabatnya itu.


"Tidak, aku balik kerja dulu." ucap Della kemudian meninggalkan Anathea begitu saja.


"Ada apa? Apa aku membuatnya kesal?" batin Anathea yang melihat sikap Della.


30 menit kemudian ia datang keruangannya Della untuk melihat keadaannya.


"Del, gimana kondisi kamu?" tanya Anathea kepada Della.


"Aku baik - baik saja, ada apa kemari?" tanya Della dengan nada dingin, tak ia tampak acuh tak acuh terhadap Anathea.


"Dell? kamu serius baik - baik aja? terus kenapa sikap kamu, gini ke aku?" tanya Anathea yang kebingungan terhadap perubahan sikap Della.


"Sikapku? Kenapa dengan sikapku?" tanya Della, dengan nada dingin.


"Sudahlah jangan seperti anak kecil." ucap Della lagi.


"Moodku sedang tidak baik, jadi tolong beri aku waktu sendiri." tambah Della lagi.


"Baiklah, kalau begitu aku permisih ucap Anathea.


Anathea tampak ragu meninggalkan Della sendiri, namun ia tak punya pilihan selain meniggalkan Della, dan memberikan waktu untuknya.


Di ruangannya Anathea, tampak memikirkan Della yang mengalami perubahan terhadap sikapnya, ia berpikir ada yang harus membuat temannya itu membaik.


Della yang biasanya memperdulikan temannya, tak biasanya bersikap acuh terhadap teman baiknya.


Kembali ke ruangan Della, didalam Della yang sedang mengerjakan pekerjaannya. Anathea hanya terdiam, kemudian berjalan meninggalkan ruangan Della, di saat bersamaan ia berpapasan dengan Marva.


"An, kamu kenapa?" tanya Marva.


"Tidak ada, aku hanya dari ruangan Della." timpal Anathea.


"Oh, Della belakang jadi lebih pendiam, dan berdiam di ruangannya, kamu tahu kenapa?" tanya Marva kemudian.


"Ah, mungkin dia butuh waktu sendiri."! Anathea pun pergi tanpa menghiraukan Marva. ternyata bukan hanya dirinya yang melihat perubahan Della, sebenarnya ada apa dengan Della?


_


_


_


Esok harinya, tidak seperti biasanya Fellani seorang diri, biasanya ia akan bersama dengan Della.


"An!" panggil Fellani. Anathea yang di panggil oleh temannya, langsung mendekat kepada Fellani.


"Kamu tahu nggak sih, Della belakang kenapa?" tanya Fellani.


"Kenapa?" tanya Anathea kemudian.


"Iya, belakang ini, ia sering datang terlambat, dan sekarang dia malah nggak masuk kerja." ujar Fellani.


"Sebenarnya di kenapa, sih?" tanya Fellani.


"Kemarin aku liat dia pucat, mungkin itu penyebabnya dia nggak masuk, aku sendiri juga tidak tahu, dia kenapa." ujar Anathea panjang lebar.


"Apa kita perlu lihat, kerumahnya?" tanya Fellani kemudian.


"Baiklah, kita lihat dia kerumahnya." timpal Anathea setuju.


_


_


_


Sepulang dari tempat bekerjanya, Anathea dan Fellani bersama - sama mendatangi tempat rumah Della.


Mereka mengetuk pintu, dan terlihat wanita yang membukakan pintu untuk mereka. ternyata wanita itu adalah ibu dari Della.


"Hallo Tante, kami kesini untuk melihat Della." ujarnya menjelaskan maksud kedatangan mereka berdua.


"Oh, kalian berdua masuklah." ucapnya mempersilahkan Fellani dan Anathea untuk masuk.


"Terimakasih kasih sudah datang, tapi Della tidak bisa di temui." ujarnya kemudian.


"Kenapa Tante?" tanya Fellani penuh heran.


"Tante juga tidak tau, itu kemauan dari Della." ujarnya menjelaskan.


"Baiklah, kalau begitu Tante." ucap Anathea.


"Kalian mau minum, sesuatu?" tawar ibu Della yang menawarkan minuman kepada Anathea dan Fellani.


"Tidak usah repot - repot, Tante." ujar Anathea.


"Ah, tidak kok, tunggu ya." Ibu Della kemudian pergi untuk mengambilkan minuman untuk tamunya.


"Gimana sekarang?" tanya Anathea kemudian.


"Entahlah, mungkin kita tunggu sebentar, atau pergi ke kamarnya della?" tanya Fellani.


"Kalian berdua Disni?" saat menoleh ke sumber suara, bertapa terkejutnya ketika ia melihat Della, Della pun berjalan menghampiri Fellani dan Anathea.


"Kalian mau apa?" tanya Della kemudian.


"Della, kita mau lihat kondisi kamu." timpal Fellani.


"Terimakasih, tapi aku cuma butuh istirahat." ucap Della.


"Kamu kenapa Dell? Kalau ada sesuatu kamu tahu kan, bisa cerita ke kita." ujar Anathea kemudian.


"Iya aku tahu, terimakasih ya." ucap Della.


"Syukurlah, kamu udah mau keluar kamar, Della." ucap ibunya yang datang membawakan minuman.


"Terimakasih, sudah datang untuk menjenguk Della." ucap Ibunya Della.


"Sama - sama, Tante." ucap Anathea dan Fellani bersamaan.


Mereka bertigapun mengobrol, mereka senang temannya itu baik - baik saja.


Sedikit ada rasa tenang di hati Anathea dan Fellani, karena Della temannya itu masih mau berbicara dan menemui mereka berdua.


"Kalau begitu kami permisih dahulu, ya." pamit Anathea dan Fellani.


Iya karena sudah malam kami harus pulang." ucap Fellani kemudian.


"Iya, kalian hati - hati, ya." ucap Adella yang ikut keluar mengantar kedua temannya itu.


Setelah Anathea dan Fellani pergi dengan mobil Mereka, Della sedang berjalan masuk kedalam rumahnya.


"Mereka sudah pulang?" tanya Ibu Della


"Iya, Ma." ucap Della kemudian.


"Mereka teman yang baik." ucap Ibu Della lagi.


"Iya." jawab Della, yang kemudian pergi ke kamarnya.


"Anak itu kenapa lagi?" batin ibu Della.


_


_


Seharian Della berada di dalam kamar, dan hari ini kembali ia tidak masuk dengan alasan yang sama yaitu sakit.


Papa Della baru saja pulang dari luar kota, dan tampak masuk kekamar untuk melihat keadaannya.


"Kamu nggak papa?" tanya Papa Della.


"Cuma demam biasa." timpal Della.


"Mau kerumah sakit?" tanya Papa Della.


"Tidak, Pa." jawab Papa Della.


"Yaudah, kalau butuh sesuatu bilang ke Papa, ya." ucap Papa Della.


"Iya." ucap Della.


Sebenarnya ada beberapa hal yang membuat Della seperti itu, bukan karena sakit.


Sebenarnya gadis itu baik - baik saja, tapi hatinyalah yang hancur.


Beberapa waktu yang lalu, ia pergi ke sebuah tempat makan. Dan saat ia tengah menunggu makanannya, ia melihat pacarnya yang tiba - tiba memutuskan hubungan, tengah bersama wanita lain.


melihat pacarnya bersama wanita lain, sontak hal tersebut membuat hati Della hancur dan terluka.


Akhirnya ia tahu, alasan kenapa ia tiba - tiba di putuskan, padahal ia sama sekali tak ada masalah dengan pacarnya.


Ternyata putusnya mereka bukan karena ada masalah, tapi karena ada pengganti nya.