
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
" Kamu siapa "......
" Pa itu kopi udah si..... Ap, Arya " Dhuha terkejut
"Ohhh udah siap, kenapa tu muka" Rasya
" Hah.... Gak kenapa2 kok pa" Dhuha
Ya.... Udah pastilah itu babang aca, opa rasya alias opa2 gaul abad ini, dhuha udah ketar ketir pasalnya dia belum bilang dengan keluarga siapa Arya. Rasya ngambil piring untuk naruh kue yg dibawa Arya, dhuha langsung sigab membantu bapak mertuanya itu, yg mulutnya suka sadis kalok ngomong.
" Kamu mau berdiri disitu aja ngeliat saya sama menantu ganteng saya ini " Rasya
" Eh... Maafkan saya yg tidak sopan, saya Ar-" Arya
" Ohhh kamu ngerasa gak sopan, padahal saya gak bilang begitu, tapi itu jadi catatan buat saya, danish ngapain ngupet kamu" Rasya
Danish langsung keluar dan menghampiri opanya itu, dhuha hanya bisa pasrah. Jauh sebelumnya dhuha sudah berusaha ingin bertemu, tapi kesibukan kakek ngentrik itu menghambat semua. Dhuha bahkan sempat menelpon niat mau ngomong masalah riza, papanya itu justru ingin bertemu saja sampai hari ini rencana ia akan bilang dan gagal lagi. Arya udah keringat dingin menghadapi rasya, Arya tidak mengenal secara detail tentang keluarga riza dan sifat mereka yg sesungguhnya.
" Siapa yg ngumpet opa, orang i... Ini juga mau kesitu" Danish
"dasar gak tanggung jawab jadi laki-laki itu harus berani, jangan cuma macarin anak orang dan ngaku2 hal yg gak pantas, kamu kira dengan status keluarga yg hebat dan kaya bisa seenak udelmu sama cewek nish, dasar abang kamprett mana coba, yg ngajarin adiknya kayak begitu" Rasya
Arya terkejut dengan ucapan rasya yg secara tidak langsung menyinggung dirinya. Danish sekali lagi megagumi kemampuan keluarga besarnya yg warbiasa, dia siap kena omel saat ini.
" Siapa yg begitu opaku yg ganteng, orang "Β Danish
" Ya... Kamu, tuh siapin semuanya opa tunggu" Rasya
Rasya berlalu meninggalkan 2 orang itu, dhuha yg melihat Arya yg udah grogi hanya bisa menghela nafas.
" Bang kamu jangan coba2 ikut campur, cukup diam dan dengarkan saja, ya...kalau ditanya cukup jawab seperlunya, siapin ruang tengah kita mau liat pertunjukan " Dhuha berlalu
" Pe... Pertunjukan apa" Danish bingung
" Pertunjukan tradisi keluarga kita" Rayhan
" Astagfirullah... " Arya dan danish terkejut
Rayhan tiba-tiba datang mengejutkan keduanya, Rayhan yg kebetulan pulang karena ada rapat di MABES. Arya menceritakan apa yg dia ketahui secara garis besar, tentang tradisi keluarga Sumantri dan Pramono yg sudah turun temurun dari almarhum 4 jendral . Mereka menyiapkan segalanya dan tidak lupa camera tersembunyi yg diaktifkan, tidak lupa timnya yg handal sudah menyiapkan sesuatu. Sebuah hadiah untuk orang tua Arya, live streaming yg bisa diakses oleh seluruh keluarga Wijaya. Adehh bener2 usahanya tim ini gak main2 buat sebuah momen hihi...
" Opa... Masuk aja, lagian udah malem" Rayhan
" Ok genkkk..... the show starts" Rasya penuh makna
" Ok.... Siap " Semua
" Gila... Serem amat ya" Gumam Rayhan
Mereka semua duduk dengan hikmat menikmati cemilan yg ada, para wanita udah diungsikan ke rumah rasya 5 menit yg lalu. Rasya mengernyitkan kening, menoleh kesana kemari seolah mencari cewek cantik.
" Kemana tu bocah " Rasya
" Bocah siapa opa" Danish
" Bentar Rayhan panggil opa" Rayhan
Tak lama Arya datang bersama Rayhan, Arya duduk sendiri dan dihadiahi tatapan maut dari semua orang. Atmosfer ruangan itu tiba-tiba mencekam, dingin dan menakutkan tingkat akut. Biar bagaimana Arya harus bisa melewati tantangan ini dengan baik, danish dan Rayhan hanya bisa diam. 2 saudara itu jika diposisi Arya mungkin akan kabur, bayangkan 2 jam hanya ditatap. Arya sendiri ingin rasanya dia kabur, untung saja dia sudah makan siang kalau tidak entah apa yg terjadi.
" Mampus rasanya pingin kabur aja, mending dikasih tugas berat dari pada begini" Arya dalam hati
" Wah... Ternyata begini, ok kita nikmati aja, kasian Arya " Batin Rayhan
" Gila situasi macam apaini woi....., sukur banget dapet mertua yg modelan setengah baik π walaupun banyak sarafnya yg keputusπ" Batin danish
Bukan hanya diruangan itu saja yg tegang, bahkan yg lagi nonton aja dibuat tegang. Rasya menghela nafasnya membuat semua mata, melihat pada dirinya.
" Seperti yg saya tanya tadi, kamu itu siapa ARYA ANANDA WIJAYA " Rasya
"Hah.. Kok" The alfatih
" Siap salah " Arya
" Saya rasa ada yg perlu anda jelaskan, atau saya yg perlu menjelaskan semuanya " Rasya
" Mohon maaf opa sa-"Arya
" Sejak kapan saya jadi opa anda dan memangnya saya keliatan tua banget kamu panggil begitu" Rasya kesel
" Ya.... Elah berasa muda aja, umur udah seabad gak sadar " Semua berbisik
" Ehem.. Ehem.. Ok, kamu tau kesalahamu yg buat saya yg penyabar ini marah marah " Rasya
" Apaan penyabar" Gumam Semua
Rasya yg denger begitu langsung melotot pada Orang2 sirik disekitarnya. Dhuha cuma bisa diam dengan wajah datar andalannya, sementara yg nonton udah ngakak ternyata tidak seseram rumor yg beredar, tapi entahlah mereka semua menunggu.
" Siap salah, ijin mohon saya diberi waktu menjelaskan ndan "Arya
" Ya... Saya kasi waktu 5 menit untuk menjelaskan apa yg terjadi " Rasya
" Siap ijin ndan, perkenalkan kembaliΒ saya Arya Ananda Wijaya, usia saya genap 30 tahun seminggu yg lalu, saya anak ke 2 , saya putra dari" Arya
" Kamu putra kedua dari Krisna adipati Wijaya merupakan putra tunggal dari Rendra adipati Wijaya dan Helda chen putri bungsu dari pengusaha Kasino terbesar di Makau. Kauuuuu... haruskah saya cerita tentang betapa ohh.... Dhuha sebelum kamu cerita kepapa nak, papa sudah tau semuanya, karena papa gak sengaja dengerin bocah tengil ini di minimarket malam itu, ok lanjutkan dan jangan buat saya marah, karena saya tidak perduli kamu dari keluarga mana" Rasya garang
" Pa.... Sabar, dhuha juga yg salah biarin riza masuk dalam bahaya " Dhuha
" Udah ini bukan salah dhuha, ok saya mau kamu selesaikan masalah ini danish tanpa melibatkan riza, kamu bocah jangan dekat dengan cucu saya, kalian berbeda, saya tidak mau cucu saya menderita dengan terbawa perasaan sama kamu, saya tau kamu hanya menjalani tugas dan yg paling penting keluarga kami sadar diri dan saya rasa riza juga akan paham bagaimana dia harus bersikap, terimakasih sudah bertugas dengan baik Arya " Rasya lembut
Semua orang tersenyum kearah rasya, termasuk danish dan Rayhan yg paham maksud opanya itu. Selama ini mereka mendukung Arya, tapi mungkin sekarang mereka tau bagaimana untuk bersikap.
" Hey.... Dimana para wanita dirumah ini hah" Rasya
" Ohh... Pada ngumpul di rumah papa" Dhuha
" Emm... Eh... Dimakan genk, apaan dianggurin, kamu juga makan Arya, sana panggil yg lain dulu" Rasya
Arya pergi meninggalkan ruangan itu untuk memanggil mereka yg diluar, Teman2nya lebih memilih makan diluar. Arya masuk lagi namun dia lebih memilih bersembunyi, untuk mendengarkan apa yg diobrolin.
" Opa Rayhan makin ngidolain opa tau" Rayhan
" Tapi apa gak terlalu sombong lo jadi orang, masak gak mau gitu besanan ama mereka" Javin
" Lahh iya bang, itung2 nambah keluarga Sultan " Hendra
" Si gila, udah tua gak berubah lo pada, denger itu tinggal terserah Allah aja, harta, tahta, cinta itu udah ada porsinya masing2. Keluarga kita ini hidup dalam kesederhanaan dengan mengabdikan diri pada negara, masalah usaha juga kita gak ada apa2nya. Tadi gue sempat mikir buat jalanin tradisi kita, tapi gue inget bang bio ngomong apa
rasya jangan menantang hukum alam kalau kamu tidak bisa jamin akan aman, apakah semua baik jika kamu jawab iya. Abang gak mau ikut campur kalau kamu masih ragu dengan keputusanmu, lebih baik menghindar kalau tidak mau menginjak ranjau.
Kalau gue yg bakal disakiti dengan senang hati gue rela tanpa melawan, tapi keluarga gue broo... Gue gak bakalan sanggup. Apalagi Riza anak itu begitu lembut dan rapuh, gak kayak mamanya, yg gue masih bisa santai karena rasy itu luar biasa. Riza paling nangis dan nyimpen semuanya sendiri, Riza itu kayak Kanaya sifatnyasifatnya" Rasya
" Iya pa, dhuha sangat paham apa yg papa sampaikan" Dhuha
" Dhuha kita bukan standar keluarga Wijaya yg luar biasa berpengaruh tidak hanya di Asia bahkan dunia. Bukan papa merendahkan diri kita, tapi papa adalah kakek yg takut cucunya disakiti, Papa yakin riza akan paham dengan semuanya, papa udah ngomong, sebelum dia ke lombok curhat dulu ke papa minta saran, ahhh papa gak larang riza buat deket ama anak itu, papa cuma bilang buat siap2 aja jika dekat dengan kaum elite. Hal terburuk dulu yg disiapin itu yg papa bilang" Rasya
" Pa dhuha begitu beruntung punya ayah mertua kayak papa, makasih papa tetep sehat dan selalu ada buat kita " Dhuha
" Huf... Keluarga kita gak pernah ikut campur dalam urusan milih pasangan, mau dia dari kalangan apa saja, kita cuma memastikan saja itu tugas. Yg jalani hubungan mereka kita cuma dukung dan doain sudah " Rasya
" Ahhh sayang opa" Para cucu
Mereka berhenti dan memandang seseorang yg baru saja berlutut, dengan air mata yg hampir jatuh. Wohooo... Next part
Tkn. 03 Januari 2021
Jangan lupa vot dan komen
Makasih ππππππππππ