Violet Ristallius

Violet Ristallius
Segel



Emely memasang kuda-kudaan bertarung dengan sebilah pedang panjang sudah siap menebas Violet.


"Jika kamu bisa merobek sehelai pakaian ku, akan ku anggap kamu menang," ujar Emely seraya tersenyum dan membuat Violet mengernyitkan keningnya.


"Tidak masalah. Aku bisa saja menebas kepalamu begitu saja. Jadi apa peraturan nya?" tanya Violet enteng. Dia menarik pedangnya dan mengelap nya dengan sapu tangan.


Mendengar hal tersebut Emely menggertakkan gigi nya.


"Peraturan nya sederhana. Kamu boleh menggunakan elemen mu. Kalau aku hanya mengandalkan pedang saja," jelas Emely.


Violet hanya mengangguk-angguk paham.


Kemudian keduanya memasang kuda-kudaan bertarung. Emely menyerang duluan dan melancarkan beberapa tebasan beruntun pada Violet. Violet hanya menghindar dan menangkis beberapa serangannya.


"Berhenti bertahan!" teriak Emely kembali menyerang Violet dengan brutal.


Kedua pedang terkunci dan satu sama lain saling bertahan.


"Berhenti bertahan bod*h!" desis Emely.


Violet tersenyum. Kemudian dia menangkis pedang Emely dengan kasar dan menciptakan bunyi gesekan pedang yang memekakkan telinga.


Ketika Emely jatuh tersungkur ke tahan, Violet langsung memukul pinggir leher Emely dengan tepi tangannya dan membuatnya pingsan.


"Waaaaaa!!!!!"


Sorak Sorai orang yang menonton dibarengi dengan tepuk tangan mengisi lapangan ketika melihat Violet memenangkan pertandingan tersebut.


"Kalian, tolong panggil petugas kesehatan kemari," suruh Violet kepada orang yang ia lewati seraya memasukan kembali pedangnya pada sarungnya.


Violet langsung bergegas pulang ke rumah Tim Utama Nove karena memang waktunya pulang.


•••


"Aku pulang," Violet membuka pintu rumah dan di sambut dengan teman-teman nya yang sedang bermain entah apa. Intinya seperti permainan monopoli. Kecuali Halley tidak terlihat di sana.


"Selamat datang, Vil! Kamu sedikit terlambat," sambut Scens yang sedang mengelap pedang kesayangan.


Violet mengacuhkan teman-teman nya yang tengah bermain. Pandanganya menyapu seluruh isi ruangan. Dia mencari-cari Halley yang tidak terlihat di mana-mana. Namun dia tidak mencari lagi karena tidak penting.


"Vil, kamu tidak mau ikut bermain?" tanya Flave yang sedang menjalankan bidak nya.


"Tidak," jawab Violet singkat dan langsung masuk ke kamar.


Scens melihat Violet dan kemudian melihat ke arah teman-teman nya.


"Apa Halley sudah di dalam?" tanya Scens khawatir. Apa yang sedang ia rencanakan dengan para temannya?


"Scens, apa ini memang seharusnya? Aku tahu kekuatan Violet sebagai Aethery Rarous sangat berarti untuk Peri dan keseimbangan para Aethery cabang seperti kita. Tetapi, aku sedikit tidak setuju jika cara Halley akan mempan pada Violet," tanya Ruleus ikut khawatir.


"Iya, kamu tahu bukan. Violet tidak pernah mempan jika dibegitukan oleh siapa pun," sambung Celosia.


"Kalian benar. Kita harus lebih percaya pada Halley untuk hal tersebut," ucap Scens. Dia mengingat kembali saat tadi ia membicarakan rencana untuk mematahkan segel milik Violet.


Jadi begini loh ya ceritanya. Tadi sebelum Violet pulang mereka sempat berkumpul untuk membicarakan hal tersebut. Kecuali Celosia yang bertugas menghambat Violet agar pulang agak telat.


"Halley bisa mematahkan segel tersebut. Namun, caranya dia tidak mau menjelaskannya padaku," jelas Scens pada teman-temannya.


"Itu rahasia. Jika kalian tahu aku tidak mau membantu," ucap Halley yang duduk di atas meja.


"Aku tidak begitu peduli apa yang kamu lakukan. Tetapi jika itu berbahaya untuknya, aku akan menaruh kepala mu di atas perapian," ancam Ruleus dengan mata membara dan membuat Halley merinding.


"Aku akan membantu jika itu diperlukan," ucap Flave seraya menguyah cemilan nya.


"Jadi apa yang harus kami lakukan, Halley?" tanya Scens seraya menengok ke arah Halley.


Kembali ke waktu sekarang


Violet masuk ke dalam kamar dan meletakan pedangnya di samping pintu. Dia melihat tepat ke jendela. Orang yang ia cari ternyata sedang duduk di sana dengan santainya.


"Apa yang kamu lakukan di kamarku?" tanya Violet dengan nada psikopat nya dan membuat mata merahnya menyala.


"Jangan marah dulu," Halley mendekat ke arah Violet, "Aku hanya mau membantumu," sambungnya. Dia memegang dagu Violet dan mencium bibirnya yang merah.


Cahaya keunguan muncul dan perlahan menyelimuti Violet. Violet tidak tinggal diam, dia menggigit bibir Halley yang membuatnya berdarah. Kemudian dia menendang Halley agar menjauh dari nya. Cahaya keunguan yang tadi menyelimuti Violet pun sirna dalam sekejap.


"Ahhh, beraninya kamu menggigit ku. Padahal itu ciuman pertama ku lho," ucap Halley seraya mengelap darah yang ada di bibirnya.


"Sial*n kau! Inikah balas budimu?! Kurang ngajar!" Violet mengeluarkan es dan membuat suhu ruangan tersebut nyaris -100°C. Namun tidak bertahan lama. Es yang hendak menelan Halley lenyap dan tidak menyisakan apapun.


Violet terkejut melihat elemennya sia-sia melawan Halley.


"Kenapa? Kenapa ini tidak berfungsi?!" tanya Violet seraya berteriak.


Halley mendekat pelan-pelan ke arah Violet, "Kamu ingin tahu, kenapa elemenmu tidak berfungsi padaku?" Halley mengusap pelan pipi Violet.


"Apa yang kamu rencanakan?" tanya Violet gemetaran jika pedangnya tidak ia letakkan tadi, dia bisa saja menebas Halley.


"Karena, itu bukanlah elemenmu," Halley kembali mengecup bibir Violet. Violet tidak bisa melepaskan diri karena tenaga nya seakan menghilang begitu saja. Pandanganya mulai kabur, dia bisa melihat Scens yang masuk ke dalam kamar dengan kabut yang menyelimuti dirinya.


Cahaya ungu menyilaukan semuanya yang ada di sana. Tiga tanda muncul bersamaan dari tubuh Violet, Halley, dan Scens dengan warna dan bentuk yang berbeda.


Kristal ungu berbentuk belah ketupat milik Violet, cahaya kuning bintang milik Halley, dan lambang kabut hijau milik Scens.


Ketiga tanda tersebut memancarkan cahaya dan terbang ke atas beriringan dan menghiasi langit Planet Therios saat itu juga. Semua orang yang melihat hal tersebut terkagum-kagum dan penasaran akan cahaya tersebut.


Violet tidak sadarkan diri di pelukan Halley sedangkan Scens terkapar bersandar di pintu. Ketiga temannya masuk dengan raut wajah khawatir dan menolong Scens serta Halley dan Violet.


"Scens kamu baik?" Celosia mencoba menepuk pelan pipi Scens dan membuatnya membuka mata.


"Aku baik," jawab Scens lemah, "Violet dan Halley bagaimana?" sambung Scens mencoba berdiri namun gagal. Alhasil dia harus dipapah oleh Flave.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Ruleus kepada Halley yang masih memeluk Violet padahal sudah jatuh terduduk di lantai.


"Dia baik-baik saja. Mungkin dia akan mengalami sedikit mimpi," jawab Halley seraya tersenyum dan menggendong pelan Violet.


"Bibir mu itu kenapa?" tanya Ruleus seraya menunjuk bibir Halley yang terluka.


"Itu rahasia,"


"Apa yang kau lakukan pada Violet bede*h!"


Samar-samar Violet mendengar celotehan Ruleus yang memarahi Halley dan suara Celosia yang menyuruh Ruleus untuk diam.


Namun kemudian semuanya gelap.


"Ini di mana?" tanya Violet, namun dia menyadari sesuatu. Tubuhnya menjadi anak kecil. 'Nyuttttt' kepalanya pening dan ada serpihan memori meliuk bagai Aurora di kepalanya.


Violet Ristallius


*Hello all...


How are you??


Semoga baik ya~ Terima kasih atas kesetiannya untuk novel ini. Jangan lupa like, komen, and rate ya~


Thanks*...