Violet Ristallius

Violet Ristallius
Tiga Aethery Utama Pemilik Elemen Rarous



Beberapa Tahun Silam


"Apa yang akan terjadi jika dunia ini tidak memiliki cahaya?"


Halley kecil sedang memandang lagi yang mulai kelabu tertutup awan hitam. Dia berdiri di tengah taman.


Halley sejak kecil sudah berada di gedung utama Planet Therios. Gedung ini memang sangat besar dan berisi banyak tempat. Namun, Aethery biasa hanya bisa memasuki ruang akademi dan perpustakaan. Karena selain tempat tersebut, semuanya adalah tempat terlarang atau hanya para petinggi dan Aethery kelas tinggi yang dapat memasukinya.


Tetapi kenapa seorang anak kecil seperti Halley dapat masuk ke dalam tempat yang merupakan tempat terlarang bagi para Aethery lainnya? Jawabannya hanya satu. Halley adalah salah satu dari sekian banyak anak yang memiliki elemen langka dan dijadikan kelinci percobaan.


Sedari kecil Halley dibuang oleh keluarga nya dan akhirnya dipungut oleh Dheta. Ia dijadikan bahan percobaan seperti pemisahan elemen dan penggabungan elemen. Tujuan para Dheta hanya satu. Yaitu membuat Aethery yang dapat menyamai kekuatan para Peri.


Kekuatan para Peri meliputi Kristal, Cahaya, dan Kabut. Karena Peri ingin perdamaian dunia, jadi mereka memisah kekuatan inti mereka menjadi tiga bagian. Sedangkan ketiga bagian itu memecah lagi dan menjadi cabang dari elemen lain. Bisa dibilang tiga elemen ini adalah elemen dasar yang merupakan elemen induk dari elemen lain. Hanya Aethery yang dipilih oleh Peri langsung yang dapat mengunakan elemen ini. Ada yang mengatakan jika ketiga Aethery tersebut bersatu maka kekuatannya dapat menyamai bahkan melampaui para Peri. Namun Aethery dengan elemen ini sangat jarang turun ke planet. Karena mereka adalah penyebab utama ketamakan Aethery yang sangat menginginkan kekuatan.


Sudah bermiliar-miliar tahun ketiga Aethery Utama pemilik Elemen Rarous tidak turun ke planet. Walaupun salah satu dari ketiga Aethery Utama turun ke planet hidup mereka tidak akan lama bertahan lama. Karena ketiga Aethery tersebut saling memberikan berkah kehidupan satu sama lain. Jadi jika mereka selalu bersama, maka mereka bisa hidup sampai ratusan tahun bahkan ribuan tahun lamanya.


Karena kekuatan mereka bisa melampaui para Peri, jadi banyak Aethery lain yang mengincar mereka dan menjadikan mereka sebagai bahan percobaan karena mereka masih bisa hidup walaupun jantung mereka dicopot sekalipun.


Itulah alasan kenapa Halley ada disini. Dia adalah juga termasuk dalam Aethery Utama di posisi kedua, seorang Aethery Cahaya.


"Apa yang kamu lihat?"


Seorang gadis kecil tiba-tiba datang dan mengangetkan Halley. Gadis manis dengan rambut berantakan dan mata dengan warna yang berbeda. Dia Violet saat kecil.


"Cahaya langit mulai dimakan oleh awan," ucap Halley pada Violet dan membuat Violet memiringkan kepalanya.


"Aku selalu tidak paham dengan apa yang kamu katakan," ucap anak laki-laki yang menghampiri mereka berdua. Mata hitam pekatnya terlihat seperti langit malam.


"Jangan menasihati ku dengan nada seperti itu, Scens," jawab Halley.


Yap, anak laki-laki tadi adalah Scens. Seorang Aethery Kabut yang merupakan salah satu dari Aethery Utama pemilik Elemen Rarous di posisi ketiga.


°°°


"Vil, apa matamu tidak terasa sakit?" tanya Halley seraya melahap semangka yang ada di tangannya.


Violet mengelus mata kirinya, "Tidak terasa sakit. Tetapi kadang bola matanya bersinar. Kemudian BUUMMMM!!!!" Violet meninggikan nada bicaranya. Membuat Halley dan Scens tersedak biji semangka yang ada di mulut mereka.


"Uhuk, uhuk, biji semangkanya meluncur ke dalam, uhuk uhuk," ucap Scens.


"Ahaha, maaf. Soalnya saat bola mata ini bersinar, pasti aku merusak dinding kamarku dan membuat nya berlubang," jelas Violet.


"Ahhh, kan Halley. Aku kan sudah mengatakannya padamu, asap itu bukan elemen ku," ucap Scens pada Halley.


"Hah, memangnya aku tahu bahwa Violet meledakan dinding. Kukira itu asapmu, ternyata hanya debu yang Violet buat karena ledakan," sangkal Halley yang sedang meneguk air minum.


"Memang nya elemen Scens kenapa lagi?" tanya Violet penasaran.


"Kamu tidak tahu ya. Elemen Scens terkadang hampir meledak dan berubah menjadi asap. Sangat mengerikan, beberapa kali kami dipukuli saat mencoba berlatih namun gagal," ujar Halley.


Note : Meledak adalah suatu kondisi ketika elemen yang akan dibentuk sesuatu imajinasi Aethery nya malah gagal. Kegagalan ini dapat disebabkan oleh kurangnya konsentrasi. Jadi, jika elemen itu tekanan nya lebih tinggi daripada konsentrasi Aetherynya, maka elemen itu bisa balik mengendalikan bukan dikendalikan.


"Kalian dipukuli. Aku bahkan tidak tahu sebenarnya apa yang kita lakukan disini," ucap Violet dengan nada sedih.


"Mana aku tahu. Aku tidak mau mengurusi orang lain," jawab Scens.


"Ahh, maksudmu orang yang sering menggoda kita dengan sebutan 'anak peri' itu kan?" tebak Violet.


"Iya, dia juga yang sering memukul kita tanpa alasan," lanjut Scens.


"Dia mati saat melatihku Minggu lalu," jawab Violet dan membuat kedua sahabatnya kembali tersedak biji semangka.


"Hah, uhuk uhuk. Yang benar saja, dia mati? Mati begitu saja? Atau kamu membunuhnya?" tanya beruntun Halley mengisi kepala Violet.


"Vil, selamat kamu menjadi pembunuh," ujar Scens seraya meneguk segelas air.


"Aku tidak membunuhnya," sanggah Violet.


"Lalu bagaimana dia bisa mati begitu saja?" tanya Scens.


"Ahh, Minggu lalu saat dia melatihku, tanpa sengaja mata merah ku menyala sangat terang, tapi aku tidak menghancurkan dinding. Malah sinar merah nya berubah menjadi sebilah pedang putih. Karena sulit dikendalikan pedang itu melayang ke mana-mana dan tanpa sengaja malah menusuk orang tersebut. Dheta tidak mau hal itu bocor sampai ke telinga masyarakat, jadi kematiannya disembunyikan," jelas Violet.


"Pedang? Kamu benar-benar bisa mengeluarkan pedang tersebut?" tanya Halley tertarik.


Violet menjawabnya dengan anggukan.


"Maksud nya pedang peri kan?" ucap Scens santai dan membuat kedua sahabatnya itu penasaran.


"Pedang peri itu apa? Soalnya bentuk pedangnya tidak kelihatan," ujar Violet seraya menggigit biskuit cokelat di tangannya.


"Aku juga tidak begitu tahu. Tapi ada ingatan yang tertinggal saat aku masih di Plosion. Kita ini Aethery perang bukan? Kekuatan kita melebihi Aethery lainnya. Dan kita punya senjata yang disebut sebagai Pedang Sang Peri. Tapi sayangnya hanya itu yang aku tahu," jawab Scens seraya menghela napas.


Ketiga nya kembali murung. Seperti langit mendung yang kini menutupi seluruh langit Planet Therios.


••••


"Ukhhh," Violet bangun dari tidur nya. Selama beberapa detik Violet menguap dan melihat sekeliling.


"Anda sudah bangun?" tanya Halley seraya tersenyum ke arah Violet yang baru bangun tidur.


"Hmmm. Sudah siang ternyata," jawab Violet seraya beranjak dari tempat tidurnya.


"Apa anda punya pekerjaan?" tanya Halley penasaran.


"Tentu saja. Kamu pikir aku orang yang bisa seenaknya kabur seperti mu?" jawab Violet. Dia mengikat rambutnya kemudian meletakan pedangnya di pinggang.


Violet sedikit melirik ke Halley ketika hendak pergi. Kemudian menghela napas panjang.


"Ikutlah denganku," ucap Violet dan membuat Halley mengangguk senang.


"Terima kasih, Nona,"


*Violet Ristallius


Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak* ^^