Violet Ristallius

Violet Ristallius
Berkah Peri yang Sesungguhnya



Keheningan melanda Halley dan Scens.


Halley menunggu jawaban Scens seraya memasang wajah datar.


"Aku tahu kamu pasti datang. Tetapi ka-,"


"Waktu kita tidak banyak Scens!" bentak Halley memotong kalimat Scens.


"Aku tahu tetapi.....," Scens menghentikan kalimatnya dan membuang muka ke arah tembok di sampingnya.


"Kamu pikir dengan menyembunyikan jati diri Violet, semua nya akan baik-baik saja?! Dia inti dari kekuatan kita berdua. Sampai kapan kita membiarkan kehidupan orang-orang menderita sebab perang tidak berarti ini?! Coba pikirkan lagi!


Saat perjalanan kemari aku melewati sebuah desa kecil yang miskin. Betapa menyedihkannya mereka, desa mereka tidak ada sinar matahari dan mereka dilanda kelaparan. Aku bahkan melihat banyak anak kecil yang rela memakan tanah demi bertahan hidup. Jika saja kamu dan para Dheta sial*n itu tidak menyegel kekuatan Violet, aku bisa memberi mereka tanah subur dan cahaya matahari dengan kekuatan berkah Peri. Sampai kapan pikiran konyol mu itu bertahan, Scens?!" ujar Halley seraya membentak Scens.


Scens sedikit tersentak dengan apa yang dikatakan Halley. Pasalnya sahabat nya itu jarang sekali tersulut emosi nya karena hal sepele.


Scens menghela napas panjang, "Segel yang ada dalam diri Violet sudah berkali-kali diperbaiki. Dan mungkin sebentar lagi dia akan lepas dari kekang segel itu," ujar Scens dengan nada pasrah.


"Sampai kapan? Perang akan diadakan akhir Minggu ini. Waktu kita hanya 3 hari untuk membangkitkan lagi kekuatan kita bertiga. Sepertinya tidak sempat jika menunggu segel itu lepas," ucap Halley seraya mengambil arloji sakunya. Dari arloji tersebut, keluar sebuah foto berbentuk hologram. Foto tersebut adalah Halley, Violet, dan Scens saat masih berada di pusat penelitian.


"Scens. Kita dikirim kemari untuk menyebarkan perdamaian. Bukan pemicu perang," lanjut Halley kembali menyimpan arloji sakunya.


"Dheta sudah ikut campur Halley. Kita tidak bisa bergerak bebas lagi," jelas Scens dengan nada pasrah. Mata hitam pekatnya berkilau seperti batu obsidian.


"Sebenarnya aku punya rencana," ucap Halley dengan memberi kepastian kepada Scens. Tanpa basa-basi ia pun mengangguk pada Halley.


••••


Burung-burung mulai berkicau di balik jendela kamar. Cahaya matahari pagi menerobos masuk dan membuat seisi kamar menjadi hangat.


Violet membuka matanya. Dia bangun terduduk di atas ranjang seraya memegang matanya kirinya.


"Sepertinya aku mengingat sesuatu yang seharusnya tidak aku ingat," gumam nya. Dia pun bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar ke arah suara bising dari meja makan.


"Vil, kamu sudah bangun ternyata!" teriak Celosia girang ketika melihat Violet masuk ke dalam ruang makan seraya menguap.


Meja makan kini terdapat 6 kursi. Satu kursi baru untuk Halley. Yang lainnya tidak mempermasalahkan Halley yang tiba-tiba bergabung dalam Tim Utama Nove. Mungkin di kepala mereka hanya ada kata 'Bukan urusanku' dan semacamnya.


Kelima kursi kini sudah penuh. Hanya tersisa satu karena Scens masih memasak.


Ini pertama kalinya semuanya berkumpul sebelum Scens memasak. Terkadang semuanya baru berkumpul jika Scens selesai memasak.


Semuanya masih terkantuk-kantuk termasuk Violet yang tengah membaca sebuah buku.


Walaupun di tengah terkantuk-kantuk, mereka masih sempat ribut dan membuat bising seisi ruangan.


"Jadi kamu juga seorang Aethery Utama. Keren! Aku hanya membaca tentang mereka di buku sejarah!!" girang Celosia dengan mata berbinar-binar di depan Halley. Mereka berdua mengobrol entah apa aku tidak tahu.


Flave asik bermain dengan Ruleus. Mereka juga ribut karena berdebat. Seperti biasa Ruleus selalu mengusili Flave.


"Vil?" panggil Ruleus dan membuat Violet melirik nya lewat sudut matanya.


"Perang kali ini, hanya tim kita yang maju ke medan perang?" tanya Ruleus dengan nada serius dan membuat yang lainnya fokus padanya.


"Tentu saja," jawab Violet seraya menutup bukunya, "Dheta tidak mengirim bantuan. Aku akan membawa Halley ke sana. Hanya beberapa Aethery yang dikirim oleh Planet Thartarub. Tidak mungkin tim kita kalah bukan?" jawab Violet yakin. Di matanya tidak ada setitik keraguan.


"Tentu saja! Tim kita tidak akan kalah!" lanjut Flave dengan antusias.


"Ayo, kita makan. Sup jamur kesukaan Flave sangat panas dan enak," ucap Scens seraya meletakan sup panas di atas meja.


Semuanya pun langsung mengambil bagiannya masing-masing.


•••


Di sebuah tempat gelap tanpa cahaya sedikitpun. Seorang perempuan dengan jubah perak berdiri seraya mengotak-atik sebuah kotak berwarna hitam pekat.


"Lapor Dheta," ucap seseorang yang datang dengan jubah hitam menutupi seluruh tubuhnya.


"Apa yang kamu dapatkan?" jawab Dheta Ryumi seraya tersenyum lebar.


"Halley berhasil keluar dari sana dan sekarang bersama dengan Violet," lapornya kemudian menghilang bagai bayangan.


Dheta Ryumi tersenyum penuh arti, "Hehhh, ternyata serangga kecil kita sudah berkumpul. Kira-kira apa yang akan mereka tunjukan selanjutnya?"


°°°


"Hahhhh," Violet menghela napas berat, "Jiwa ku serasa meninggalkan badan," keluh nya yang tengah berjalan di lorong akademi.


Hari sekolah yang berat membuat Violet serasa mau mati saja.


Violet menghentikan langkahnya. Pandangannya beralih ke arah lapangan yang berada di tengah-tengah akademi.


Dia melihat seseorang sedang bertarung dan dikelilingi oleh banyak murid lainnya.


Violet lagi-lagi menghela napas panjang setelah melihat siapa pelaku yang sedang bertarung.


Karena bosan Violet menghampiri kerumunan yang sedang menonton pertarungan tersebut.


Violet tidak akan menghampiri mereka jika bukan salah satu dari orang yang bertarung adalah rekan satu tim nya.


Tentu saja, yang bertarung adalah Celosia dan bunga sekolah. Bunga sekolah yang katanya paling cantik, paling lembut, dan idaman laki-laki.


"Kalau tidak salah dia Aethery Air. Sama seperti Flave. Tetapi banyak rumor yang mengatakan dia tidak pandai mengendalikan elemennya. Ha, cuma modal tampang cantik ternyata ckckck," gumam Violet dalam hati seraya tertawa kecil.


Beberapa menit Violet menonton pertarungan Celosia dan Emely. Hasilnya si Bunga Sekolah menang. Sepertinya Celosia menahan diri. Karena Violet tidak melihat sedikit pun luka di tubuhnya.


"Siapa lagi yang mau menantang aku bertarung?" teriak Emely penuh percaya diri.


Semua yang menonton pun diam. Karena tidak mau mengambil masalah dengannya.


"Hahhh, kekuatan nya bukan main," keluh Celosia yang sudah berada di samping Violet.


"Begitu kah? Ku pikir dia hanya mengandalkan pergerakan cepatnya saja," ujar Violet. Dia memberikan buku yang sedang dia bawa kepada Celosia dan berjalan ke tengah lapangan menghampiri Emely.


Serasa cukup dekat dengan Emely Violet langsung menantangnya untuk bertarung.


"Bisakah aku melawanmu? Nona sok kuat," ajak Violet dan membuat Emely marah. Sepertinya dia salah mengambil keputusan untuk melawan Violet. Karena Violet adalah Aethery terkuat di akademi.


"Tentu saja, aku akan melawanmu," ucap Emely matang dan membuat senyum Violet mengembang.


Violet Ristallius