
*Brak..brak..
Tolong aku, aku mohon tolong aku....
Aku terkurung dalam ruangan yang terbakar. Asap mengepul dan.. tiba-tiba berganti tempat. Ughh, tempat yang sangat sempit. Dimana ini. Aku tidak tahu ini dimana, namun seperti tidak asing. Sangat dingin dan semakin dingin sampai menusuk tulang*
"Whoa!"
Seorang gadis cantik dengan rambut ungu berantakan bangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah. Mimpi buruk menyerangnya lagi. Entah kenapa dia selalu memimpikan itu. Setidaknya tidak sesering ini kan.
"Vil, kamu sudah bangun?" tanya seorang gadis yang merupakan teman satu tim Violet. Celosia. Gadis dengan mata kuning. Seorang Aethery Angin dari sinar rasi bintang Scorpio.
"Aku sudah bangun," jawab Violet. Celosia menghampiri Violet yang masih duduk di atas kasurnya.
"Vil, lihat matamu. Keren sekali, bagaimana bisa seperti itu?" tanya Celosia dengan girang setelah melihat mata Violet yang memiliki warna yang berbeda. Teman Violet satu ini memang terlalu over power girangnya. Saking girangnya dia sampai menciptakan angin topan kecil yang mengelilingi nya.
"Aku juga tidak tahu," jawab Violet. Kemudian dia mengambil perban dan menutup mata kirinya agar tidak ada yang tahu. Hanya beberapa orang saja yang tahu bahwa mata Violet berbeda.
Tuk..tukk...
Seseorang mengetuk pintu dan membukanya memperlihatkan matanya yang membara pertanda marah. Violet dan Celosia langsung mengalihkan pandangannya pada orang tersebut.
"Vil, bisakah kamu bekukan si air cerewet itu?" ucap nya. Ah, dia juga teman satu tim Violet. Si api Ruleus. Seorang Aethery Api dari sinar rasi bintang Capricorn.
"Hah," Violet menghela napas seraya berjalan ke luar kamar, "Bisakah kalian tidak bertengkar untuk sehari saja," ucap Violet. Dia berjalan menuju dapur yang berada di ruang tengah rumah mereka.
Tetapi saat memasuki pintu dapur Violet dikejutkan oleh siraman air yang membasahi seluruh tubuhnya.
"Er...itu bencana..." batin Celosia yang sejak tadi mengikuti Violet dari belakang.
"Ups...maaf.."
"Flave," Violet mengangkat satu tangannya dan mengeluarkan butiran salju yang kemudian menyelimuti Flave. Selang beberapa detik butiran salju itu menyatu dan mengurung Flave dalam elemen es berbentuk kotak.
"Wahhhh, karya mu bagus sekali, Vil," ucap Scens seraya tertawa kecil. Kemudian mereka semua duduk di kursi dengan meja melingkar tepat di tengahnya. Ah, kecuali Flave yang masih berada di dalam es dan Scens yang sedang memasak. Jangan remehkan Scens soal memasak, walaupun dia seorang lelaki yang tampan tapi dia chef terbaik di rumah Tim Nove.
"Ah, ya! Aku lupa. Scens, bisa kamu lelehkan es yang mengurung Flave," ucap Violet pada Scens yang sedang meletakan sup panas di atas meja.
"Tentu," jawabnya seraya mengeluarkan kabut dari jari-jari nya. Perlahan kabut itu mengelilingi Flave dan mencairkan elemen es milik Violet.
Sebenarnya elemen Scens adalah teka-teki. Bagaimana sebuah kabut bisa meleleh kan sebuah es abadi milik Violet? Karena sebuah elemen bisa menjadi apapun sesuai dengan imajinasi para Aethery nya. Jadi Scens bisa mengubah elemen kabutnya menjadi kabut panas yang dapat melelehkan apapun. Bahkan bisa digunakan untuk membuat kabut ilusi. Dan masih banyak lagi.
"Hihhh, benar-benar sangat dingin. Kamu sangat kejam Vil," gerutu Flave. Kemudian dia duduk di kursinya.
Kelimanya pun menghabiskan makanan mereka. Namun, sarapan ini tidak sebising biasanya. Tidak ada perang pisau dan piring antara Flave dan Ruleus. Mungkin mereka memang ingin diam setelah melihat apa yang akan dilakukan oleh Violet.
"Vil," panggil Scens seraya mengelap mulutnya.
"Apa?" jawab Violet. Dia berdiri dan meletakan piringnya di bak cucian. Beberapa detik setelahnya yang lain ikut melakukan hal yang sama dengannya.
"Kamu tahu kabar dari perang Minggu lalu?" tanya Scens.
"Maksudmu perang di gerbang rasi bintang Pisces? Bukankah mereka kalah lagi," jawab Celosia seraya memainkan rambut pirang panjangnya.
"Cara bertarung mereka sangat payah," lanjut Ruleus. Jarang sekali dia mau bicara.
"Hmm, sepertinya mereka ingin meneliti lahirnya seorang Aethery," jawab Flave dan membuat Violet menyemburkan air yang sedang dia minum ke wajah Scens yang duduk di sebelahnya.
"Vil," ucap Scens dengan nada marah.
"Ahahaha. Ah, ya aku lupa. Aku ada kelas sebentar lagi. Aku pergi dulu," ucap Violet seraya berlari keluar untuk pergi dari amukan Scens.
"Kemari atau aku hajar kamu!" Scens pun bangkit dari duduknya dan pergi mengejar Violet yang terlebih dulu membuka teleportasi dengan elemennya dan meloncat tepat di depan kelasnya.
Sementara Violet dan Scens sampai di kelas, ketiga teman mereka malah sedang balapan dengan kendaraan yang mereka buat sendiri. Yah, tentu saja. Imajinasi mereka memang diluar batas. Celosia dengan burung anginnya, Ruleus dengan motor apinya, dan Flave dengan piring terbang airnya. Sudahlah aku lelah dengan kalian yang selalu balapan menuju sekolah kalian.
Author lelah dengan kalian :)
Sekolah para Aethery. Tidak seperti sekolah pada umumnya. Karena sekolah ini melatih seseorang menjadi seorang ksatria sejati. Belajar pedang, pengendalian elemen, dan masih banyak lagi yang mereka pelajari.
Hari ini di kelas Violet dan Scens sedang pelajaran seni pedang. Mereka semua berada di ruangan yang khusus digunakan untuk berlatih pedang.
"Baiklah, bapak ingin kalian bertarung satu lawan satu. Dengan adil dan jangan aktifkan energi elemen kalian! Dan sekarang Scens melawan Laude," mata pak Rashid menyapu seluruh siswa yang berada di depannya.
"Pak, boleh saya meminta lawan yang lain?" ucap Scens.
"Memang ada apa dengan Laude?" tanya Pak Rashid.
"Saya ingin menantang Violet Ristallius," seru Scens. Semua siswa pun melihat Violet yang sedang berdiri menyandarkan tubuhnya ke dinding seraya melipat tangannya di dada.
"Violet itu,"
"Matanya saja selalu diperban,"
"Apa dia bisa melihat?"
"Cantik tapi kok cuek,"
"Ih, cantikkan aku kali,"
Dan banyak lagi ocehan ocehan dari para siswa pada Violet.
Kenapa mereka sering menyindir Violet? Mungkin mereka belum melihat bagaimana Violet bertarung. Karena Violet adalah ketua Tim Utama Nove. Tim yang memiliki anggota dengan kekuatan luar biasa kuat dan kerjasama yang paling baik.
"Mau bertarung melawanku?" tanya Violet santai dan berjalan menuju arena bertanding.
Ketika Scens dan Violet memasuki arena, para murid pun langsung menonton mereka dengan sindiran sindiran yang membuat ruangan berisik.
"Baiklah, Scens dan Violet, silahkan mulai pertarungannya!" seketika ruangan diam dan menyisakan suara pedang yang berbenturan.
Violet Ristallius
*Hola hola, yang baca novel jangan melongo aja, komen sama like nya jangan lupa. Kalo ada yang bingung tanya aja di kolom komentar. Nanti author jawab kok
(Hmm)<- tumben elu diem
(Diem salah, sewot salah. Maunya apa sih Thor) ahhaha, iya ya*