Violet Ristallius

Violet Ristallius
Rangkaian Memori



Setelah diturunkan dari Plosion, Violet langsung berada di tengah-tengah medan perang yang sedang ricuh.


"Ahhh, sayang sekali. Padahal aku lebih suka bersama dengan Halley dan Scens," gumam Violet menyayangkan nasib dirinya yang terpisah dengan jiwa nya yang lain.


Violet turun dari langit layaknya bidadari yang akan menghentikan peperangan.


"Lihat, seorang Aethery Utama lahir!!!" riuh suara orang-orang yang melihat Violet turun dari langit makin menjadi.


Kaki mungil Violet menyentuh tanah. Violet sempat bingung dengan apa yang harus dia lakukan.


"Huuuuu..." Violet mengambil napas panjang dan "haaaaahhhhh....." menghembuskannya. Kemudian kedua matanya menyala dengan warna masing-masing. Dia mengangkat tangan kanannya dan membuat angin berhembus kencang.


"Kalian yang sudah melanggar sumpah pada Ibunda Peri, meminta ampun lah sekarang!" Violet mengeluarkan cahaya ungu menyilaukan dari tangan kanannya.


Krakk..krekkk...krak...


Kristal ungu keluar dari tangan Violet dan membuat beberapa anak panah.


"Jika kalian tidak berhenti maka itu akhir dari hidup kalian!" teriak Violet seraya melempar anak panah tadi ke arah kerumunan prajurit yang tengah berperang. Anak panah tadi menancap di tanah dan menciptakan kristal lain berbentuk runcing yang terus merambat dan mengurung semua orang yang berada di sana.


"Eh, sepertinya aku kelewatan," gumam Violet yang berdiri di salah satu kristal yang menjulang tinggi.


Syunggg....jleb...


Sebuah benda runcing dan kecil melayang di langit dan menancap tepat di jantung Violet.


"Uhukk...," Violet pun memuntahkan darah dari mulutnya. Dengan cepat Violet menarik benda runcing tersebut yang merupakan Ropis dari elemen logam.


Violet menyapu seluruh pandangannya. Kemudian matanya berhenti pada seorang perempuan dengan jubah perak. Di tangannya sudah ada Ropis elemen logam yang berbentuk jarum sangat besar.


"Sudah ku duga. Kau benar-benar Aethery Utama," gumamnya seraya melihat Violet.


Perempuan itu memperlihatkan senyum jahatnya. Dia adalah Dheta Ryumi saat remaja. Violet hanya tidak bereaksi apa-apa melihat Ryumi yang tadi membuat jantung Violet hancur.


"Yang tadi itu sakit, lho. Tega sekali kamu menyakiti anak kecil seperti ku," ujar Violet sambil memegangi dadanya yang berlubang. Sinar ungu muncul dari tangan Violet dan luka Violet tertutup kembali seperti semula.


"Anak kecil sepertimu tidak seharusnya ada di sini!" Ryumi membuat Ropis berbentuk pedang. Dan dia melesat ke arah Violet untuk menebasnya.


"Aku, tidak bisa mati," ucap Violet seraya mengeluarkan pedang nya dan menangkis serangan Ryumi.


Namun tidak lama setelah Ropis yang baru saja Violet buat meledak dan membuat ia serta Ryumi terpental hingga 25 meter ke belakang.


Boommm...


Violet terpental dan menghantam deretan bebatuan besar.


"Uhouk....," darah segar keluar dari mulutnya setelah punggungnya menghantam batu besar. Rasanya tulang belakang Violet patah setelah menghantam batu besar tersebut. Namun rasa sakitnya perlahan menghilang karena kemampuan penyembuh Violet.


"Tidak mungkin. Ada apa dengan elemen ini?!" tanya Violet dalam hati seraya memandangi tangannya.


Di tengah kebingungan tersebut tiba-tiba rantai logam datang dari bawah tanah dan mengekang Violet. Kini Violet terkunci.


Ternyata Ryumi belum menyerah, dia mengikat Violet dengan elemennya agar ia tidak bisa bergerak.


"Kamu tidak bisa lari lagi," ucapnya seraya tertawa kecil.


Violet hanya meringis kesakitan karena tangan dan kakinya sama sekali tidak bisa di gerakkan. Apalagi rantai yang mengikatnya ini menggores kulitnya dan membuat darah segar mengalir di sekujur tubuh Violet.


"Ukhh," tenaga Violet hilang begitu saja.


"Tidak mungkin. Sebenarnya apa yang dia gunakan?" gumam Violet dalam hati seraya menatap Ryumi dari ujung kaki sampai kepala.


Pupil Violet pun berhenti pada sebuah lembaran kertas yang dipegang oleh Ryumi.


"I itu, kertas segel?!!" seru Violet yang kini tidak bisa apa-apa lagi.


Ryumi hanya tersenyum kemudian dia menunjukan beberapa kertas lagi yang serupa dengan yang ia pegang.


"Berhenti bercanda! Kertas segel sudah dilarang oleh para Peri. Tidak mungkin Aethery yang sudah tidak murni seperti mu bisa memiliki nya!!!" geram Violet.


"Apa maksudmu dengan tidak murni?!!" desis Ryumi dengan marah.


"Elemenmu bahkan sudah bercampur dengan kotoran (maksudnya kotoran itu adalah hasil penggabungan dari elemen lain, eksperimen ilegal). Seharusnya kamu malu menunjukkan wajahmu di peperangan," ucap Violet seraya meninggikan nada bicaranya.


"Cih, benar-benar membosankan!" teriak Ryumi melempar kertas yang ia pegang tadi dan menempel tepat di dahi Violet.


Petir pun datang dari kertas tersebut dibarengi dengan suara teriakan Violet yang memekakkan telinga.


Violet terjatuh lemas tidak berdaya. Ryumi tersenyum jahat kemudian mengangkat tubuh Violet.


Apa yang terjadi dengan Violet setelah itu?


Dia dijadikan alat perang karena elemennya yang lepas kendali. (Prolog)


Kemudian setelah kebakaran Violet tinggal bersama dengan Scens di gedung pusat Planet Therios. Di sanalah Violet, Scens, dan Halley berkumpul namun misi mereka belum terlaksana.


Mereka menyembunyikan jadi diri mereka dengan berpura-pura hilang ingatan. Namun, para Dheta memperalat Scens dengan diiming-imingi kebebasan.


Halley mengetahui semua yang dilakukan Scens, namun dia menutup mulutnya rapat-rapat. Karena saat dia menceritakan nya pada Violet, Violet kira Halley hanya membual dan tidak mempercayai apa yang dikatakannya.


Setelah Violet berhasil mengeluarkan Pedang Sang Peri, Halley kabur dan pergi ke arah barat. Dia terus berlari ke barat dengan kaki-kaki mungilnya. Sebenarnya ia tidak rela meninggalkan belahan jiwa nya, namun dia lebih memilih pergi sendirian daripada harus berurusan dengan pada Dheta.


Di barat Halley menyucikan beberapa tempat dengan kekuatannya. Namun dia butuh waktu lama agar cahaya matahari bisa menyinari tanah yang dilahap kegelapan itu lagi. Karena jika dia jauh dari Aethery Utama lainnya kekuatannya terbatas. Bahkan ada beberapa tempat yang gagal disucikan oleh Halley.


•••


Setelah itu Violet menjalani sebuah tes. Tujuan Dheta saat itu adalah menggabungkan elemen Violet dengan Scens. Namun belum jalan setengahnya, kekuatan Violet yang melampaui batas itu berhasil meledakan seperempat dari Planet Therios. Saat itu pun elemen Violet disegel. Awalnya Dheta sama sekali tidak bisa menyegel Violet, tetapi Scens menyuruh para Dheta untuk menghapus ingatannya dahulu sebelum menyegelnya. Akhirnya Violet kekuatannya tersegel dan hanya menyisakan serpihan yang membentuk Elemen Es.





Kini Violet mengingat semuanya. Dia mengalami masa kecil yang sangat berat setelah bereinkarnasi untuk kesekian kalinya.


"Aku mengingat semuanya. Kekejaman Planet Therios pada kami sangat menjijikkan," gumam Violet.


"Vil, apa yang kita lakukan selanjutnya?" tanya Scens seraya menunjuk para pasukan yang mulai bangkit.


"Bunuh saja semuanya," desis Violet dan membuat Scens merinding mendengarnya.


"Oke, Nona. Sekarang kita mulai berpesta," ujar Halley seraya mengeluarkan Pedang Sang Peri miliknya. Tetapi milik Halley tidak berbentuk pedang, melainkan busur cahaya dengan anak panah yang tidak terbatas.


Violet hanya tersenyum tipis. Kemudian pandangan Violet menyapu seluruh pasukan yang mulai bangkit. Kemudian pupil nya berhenti pada seorang wanita dengan jubah perak.


"Dheta Ryumi," ucap Violet seraya melesat menembus pasukan.


"Eh ehhhhh! Apa yang harus kami lakukan?!" seru Flave yang melihat Violet maju sendirian menembus lawan.


"Lakukan saja semau kalian!!" jawab Violet tanpa menoleh ke arah belakang.


•••


"Ukhh, sialan!" gumam Dheta Ryumi yang mulai bangkit.


"Ketemu kau!"


Namun ketika baru bangkit dirinya malah disambut hangat dengan tebasan pedang mematikan Violet. Belum lagi dengan kristal ungu yang bertebaran dimana-mana setiap Violet mengayunkan pedangnya.


Violet Ristallius