Violet Ristallius

Violet Ristallius
Lelaki Bermata Biru



Violet terus berlari ke arah barat. Melewati lembah dan berbagai tempat.


Akhirnya dia sampai di sebuah desa kecil. Lelah menyerang nya. Violet berniat untuk beristirahat dahulu di desa tersebut. Namun saat melompat dari atap ke atap rumah, perhatiannya teralihkan oleh sesuatu.


Violet pun berhenti dan melihat sejenak. Dia melihat seseorang yang sedang dirampok. Seseorang dengan tudung menutupi wajahnya. Namun sekilas Violet bisa melihat mata biru dari balik tudung tersebut.


"Cepat berikan uang mu pada kami," ucap salah satu perampok seraya menonjok wajah korbannya. Karena dia tidak mau memberikan uang yang dia punya, alhasil dia dipukuli habis-habisan oleh perampok itu.


"Ckckck," Violet turun dari atap. Menarik pedangnya dan langsung menebas salah satu perampok itu tanpa peringatan.


"Ternyata sangat lemah," ujar Violet. Kemudian dia mengalihkan pandangannya pada perampok lainnya. Sorot mata merah membuat perampok itu bergidik ngeri.


"Hey, hey, jangan menyerang begitu dong," ucap salah satu perampok dengan nada menggoda pada Violet dan memandangi tubuh Violet dengan lekat.


Violet menjulurkan tangannya, "Tutup mulutmu," seketika orang tersebut membeku terkena elemen es. Violet menekan elemennya dan membuat tubuh orang tersebut hancur tanpa sisa. Hanya darah yang mengalir dengan derasnya.


"Siapa lagi?" tanya Violet dan membuat perampok sisanya kehilangan nyali dan berlari pergi.


"Ternyata semua nya pengecut," lanjut Violet seraya memasukan kembali pedangnya dalam sarung. Kemudian dia berjalan menuju pemuda yang dirampok tadi.


"Ada luka tidak?" tanya Violet dengan nada dingin.


"Saya baik-baik saja. Terima kasih," jawabnya dengan kepala menunduk.


"Angkat kepalamu. Jangan menunduk terus," ujar Violet.


Lelaki itu mengangkat kepalanya dan menatap Violet. Mata biru menyerupai berlian itu kini menatap Violet penuh arti.


"Wajahnya lebih tampan dari Scens," gumam Violet dalam hati dengan nada sedikit terkejut.


"Siapa namamu?" tanya Violet.


"Halley. Panggil saja saya Halley," jawabnya.


Violet memandang lelaki di depannya dengan tatapan menyelidiki, "Kamu Aethery perang?" tanya Violet dan membuat Halley terkejut. Tidak semua orang dapat menebak seseorang termasuk Aethery apa. Karena kemampuan itu hanya dimiliki oleh para petinggi atau pemimpin yang ada sejak dulu.


"Sa-saya bukan seorang Aethery perang," jawab Halley seraya mengeluarkan beberapa anak panah cahaya dari tangannya. Kemudian dia melarikan diri ketika Violet mencoba menghindar.


"Heh?! Kemari kamu sial*n!" Violet pun mengejar Halley melewati gang sempit desa. Sesekali dengan mengeluarkan sedikit elemen untuk menghentikan Halley. Namun Halley dapat menangkisnya dengan elemen cahaya miliknya.


"Jangan bercanda. Dia seorang Aethery Cahaya. Termasuk tiga Aethery perang terhebat yang menempati posisi kedua. Bagaimana lelaki lemah seperti dia mendapatkan nya?" gumam Violet. Dia terus berlari mengejar Halley.


Sampai Halley terpojok di gang buntu. Halley nampak bingung dan akhirnya Violet berhasil mengejarnya.


"Ayolah. Aku tidak bermaksud jahat," ujar Violet seraya mendekat ke arah Halley.


Namun Halley terlihat ketakutan dan jatuh terduduk di tanah.


"Perkenalkan. Namaku Violet. Aku datang kemari untuk mengerjakan misi," lanjutnya seraya mengeluarkan kotak obat untuk mengobati kaki Halley yang terluka.


"Saya hanya takut," jawabnya dengan menyesal.


"Kamu pikir aku hantu," ucap Violet seraya menusuk-nusuk dahi Halley. Kemudian Violet berdiri dengan seulas senyum manis yang tidak dapat dilihat oleh Halley.


"Anu, bisakah anda membawa saya?" pinta Halley.


"Apa maksudmu? Kamu pikir dirimu itu kucing yang dapat dipungut begitu saja?" jawab Violet dengan datar dan membuat Halley sedikit kecewa.


Melihat Halley yang terduduk tidak berdaya membuat hati Violet bergetar. Sesuatu serasa mencairkan hati Violet yang selalu membeku.


"Sepertinya aku mulai tidak waras," gumam Violet dalam hati.


"Apapun akan saya lakukan jika bisa bersama anda," jawab Halley dengan mantap dan membuat pipi Violet sedikit merona.


Violet hanya membalasnya dengan tertawa kecil dan mengajak Halley ikut dengannya.


Beberapa Jam Kemudian Di Sebuah Penginapan


Sebuah penginapan yang berapa di ujung jalan kini sudah penuh karena hari sudah mulai larut.


Di depan meja kecil yang sudah penuh dengan satu set teh dan beberapa cemilan. Dua kursi nya sudah diisi oleh Violet dan Halley. Violet yang sedang sibuk dengan buku yang entah dapat dari mana dan Halley yang sedang menghangatkan tubuhnya dengan teh karena suhu di sini benar-benar sangat dingin.


"Nona, sebenarnya misi apa yang sedang anda jalankan?" tanya Halley penasaran.


"Hanya mencari beberapa informasi untuk perang selanjutnya," jawab Violet dengan pandangan yang sudah mulai redup karena mengantuk.


"Ada yang ingin saya katakan. Tetapi mungkin sedikit membuat anda terkejut," nada bicara Halley mulai serius dan membuat Violet tertarik mendengar nya.


"Katakan saja,"


"Anda sebenarnya bukan Aethery Es," ujar Halley dan membuat Violet terkejut.


"Apa maksudmu?"


"Ini sulit dijelaskan. Anda seharusnya pernah mendengar tentang tiga Aethery Perang Peri. Posisi pertama adalah Kristal, kedua Cahaya, dan yang ketiga adalah Kabut. Ketiga Aethery ini selalu berkerjasama jika dalam perang. Itulah mengapa mereka selalu terhubung. Jika ada salah satu yang tidak ada, maka perang tidak akan pernah berakhir. Anda harusnya tahu bukan, perang antara Therios dan Thartarub tidak pernah berakhir," jelas Halley dan membuat kepala Violet serasa mau pecah.


"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan," jawab Violet seraya memegangi kepalanya yang sakit. Rasanya ada yang hilang dalam diri Violet.


Halley berdiri dan menghampiri Violet, "Maaf, sepertinya ini tidak sopan," Halley menyentuh kepala Violet dan cahaya terang terpancar dari tangan Halley.


Namun tiba-tiba cahaya Halley meredup dan malah membuat keduanya terpental. Tangan Halley terluka sedangkan kepala Violet sedikit memerah.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Violet seraya memegangi kepalanya.


"Kekuatan suci ku tidak bisa membuka segelnya," ucap Halley tanpa memperdulikan pertanyaan Violet.


(Aethery cahaya sebagian besar merupakan titisan dari Peri langsung. Jadi mereka bisa menggunakan kekuatan suci untuk menyembuhkan orang lain. Biasanya kekuatan Aethery Cahaya disebut sebagai Berkah Suci)


°°°°


"Kepala ku sakit," keluh Violet yang sedang diobati oleh Halley.


"Maaf nona, sepertinya memang anda harus mematahkannya dengan kekuatan anda sendiri," jelas Halley dan sekali lagi membuat Violet bingung dan kesal.


"Sudahlah aku mau tidur saja,"


Setelah beberapa menit merebahkan tubuhnya ke atas kasur, Violet terlelap dan tinggal Halley yang sedang duduk di dekat jendela. Karena hanya tersisa satu kamar jadi mereka berdua harus bersama malam ini.


Halley mengalah dan menyuruh Violet untuk istirahat. Sedangkan dirinya lebih memilih untuk berjaga.


Di tengah kegelapan malam. Pandangan Halley menembus jendela kamar dan melihat keluar. Dia memasang ekspresi tidak seperti biasanya.


"Sekarang aku yang akan melindungi mu, Vil,"


Violet Ristallius


*Author mau nanya


Kalo dikasih genre romantis kalian setuju gak?


Jangan lupa di jawab di kolom komentar ya*