Violet Ristallius

Violet Ristallius
Aethery Kegelapan



"Jadi, siapa yang akan anda cari?" tanya Halley pada Violet yang sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding di gang sempit dan sepi.


"Hanya memata-matai seorang Aethery dari Planet Thartarub," jawab Violet seraya membuka matanya yang tadi sempat tertutup.


"Apa orang itu sangat pen- hup," Tiba-tiba Violet menutup mulut Halley sebelum Halley sempat menyelesaikan ucapannya. Violet kemudian menaruh jari telunjuk nya di bibir menandakan bahwa Halley harus diam.


Halley menjawabnya dengan anggukan. Violet mengintip ke arah lain dinding. Posisi Violet kini adalah di persimpangan jadi dia bisa mengintip ke arah belakang nya.


Di sana Violet dapat melihat seorang gadis yang sedang menerima barang dari seseorang yang bertudung hitam.


"Apa dia yang anda cari?" bisik Halley pada Violet.


Violet hanya menjawabnya dengan anggukan. Tanpa peringatan, Violet langsung berlari ke arah gadis tersebut seraya menarik pedangnya.


"Kena kau," ucap Violet dalam hati ketika bilah pedangnya akan mengenai leher gadis tersebut.


Namun gadis tersebut dapat menghindari serangan Violet. Alhasil tebasan pedang Violet mengenai dinding yang dan membuat nya hancur berantakan.


Di antara serpihan-serpihan es yang beterbangan, Violet berdiri seraya mengambil ancang-ancang untuk menyerang lagi.


"Wahhh, nona sangat keren!!! Tunggu sebentar, bagaimana jika aku ikut bermain juga?" ucap Halley dalam hati seraya tersenyum kecil.


"Siapa kamu? Bisakah sedikit tunjukan sopan santun padaku?" ucap gadis tersebut seraya membersihkan debu yang menempel di bajunya.


Mata hijaunya bersinar ketika menatap Violet. Gadis tersebut adalah Veliana Holloway. Aethery dari Planet Thartarub yang sering mengambil barang di pasar gelap.


"Aku tidak diizinkan untuk menyebutkan nama ataupun identitas. Jadi, maaf," ujar Violet. Dia melesat ke arah Veliana dan hendak menebas nya. Namun, Veliana menangkap pedang Violet dengan elemen nya.


Elemen yang tidak termasuk dalam ke-12 rasi bintang. Elemen Kegelapan. Kebanyakan Aethery dari Planet Thartarub tidak lahir dari rasi bintang, melainkan hasil eksperimen manusia besar-besaran.


Dengan mudah Veliana menepis pedang Violet.


"Aku pikir pedang di pinggang mu itu berguna, tapi ternyata hanya hiasan, ya," sindir Violet dan membuat Liana menggertakkan gigi nya.


(Namanya Veliana di singkat jadi Liana)


"Jangan menggangu," ucap Liana seraya menghempaskan Violet menggunakan elemennya. Elemen hitam pekat yang hampir tidak terlihat di kegelapan membuat Violet tersenyum tipis nan mengerikan.


Aethery kematian adalah sebutan Violet saat di medan perang. Siapa yang tidak takut ketika melihat Violet menggunakan beberapa teknik pedang disertai elemen es?


"Pinjami aku kekuatan mu, wahai es abadi," seketika semuanya membeku oleh es. Kaki Liana bahkan Halley ikut terperangkap dalam es dingin.


"Apa-apaan ini?!! Lepaskan aku!" teriak Liana seraya mencoba melepaskan diri dari es tersebut.


"Huaa, Nona anda jahat sekali," gerutu Halley yang masih bersembunyi di balik dinding.


Perlahan es tersebut terus merambat sampai ke leher orang yang beku terkena elemen Violet.


Langkah kaki Violet terdengar menginjak es. Dia berjalan ke arah Liana seraya tersenyum. Pelan-pelan Violet mengangkat tangan kanannya. Kemudian sebuah batang bunga mawar yang terbuat dari es muncul tiba-tiba dan mengekang Liana.


"Akhh, lepaskan aku!!" teriak Liana namun tidak didengar oleh Violet.


Batang bunga mawar yang penuh duri tersebut mengekang Liana makin kuat dan membuat darahnya keluar.


Violet mendekat tepat ke depan wajah Liana.


"Siapa yang akan dikirim oleh Planet Thartarub ke medan perang? Ada berapa Aethery perang? Kamu salah satu nya bukan?" tanya beruntun Violet membuat Liana ketakutan.


Tanpa disadari Violet, ternyata Liana akan menyerang Violet dari belakang dengan elemennya.


"BUMM!!!"


Sebuah palu raksasa menghantam Violet. Namun elemen es Violet melindungi nya dan membuatnya tidak terluka. Sayang sekali Liana berhasil kabur.


"Dia melarikan diri," ucap Violet seraya melenyapkan elemennya yang menutupi seluruh bangunan di sekitar nya.


"Sebenarnya apa yang ingin anda lakukan?" tanya Halley seraya berjalan ke arah Violet.


Violet berpikir sejenak dan kemudian menghela napas.


"Apa kamu tidak punya tempat tinggal?" tanya Violet pada Halley. Mata ungu Violet menatap Halley dengan lelah. Teknik elemen Violet tadi menguras banyak energinya.


"Apa anda baik-baik saja?" tanya Halley khawatir namun Violet malah menatapnya dengan galak.


"Jangan berbalik bertanya bod*h," jawab Violet dan membuat Halley tersentak.


"Hahh, lebih baik kamu ikut aku kembali kembali ke akademi," ujar Violet.


"Terima kasih Nona sudah menerima saya," jawab Halley seraya tersenyum seperti anak kucing yang sangat imut. Seketika membuat wajah Violet agak merah.


••••


Akhirnya Violet sampai ke akademi pagi hari.


Di Rumah Tim Utama Nove


Pagi hari rumah Tim Utama Nove terlihat sudah ramai. Tidak seperti biasanya, padahal ini hari libur. Libur dari akademi dan misi.


"Selamat pagi," ucap Violet seraya membuka pintu rumah dan disambut oleh teman-temannya.


"Viiiiioooooleeeetttt, aku merindukanmu!" teriak Celosia seraya berlari dan kemudian memeluk Violet.


Tidak lama kemudian Scens menghampiri Violet dengan mangkuk sup di tangannya.


"Selamat datang, Vil. Kamu terlam....bat," Scens melihat Halley dan membuat mangkuk yang ada di tangannya jatuh ke lantai.


"Prang!!"


Suara pecahan mangkuk membuat semua pandangan teralihkan pada Scens.


"Apa ada yang salah Scens?" tanya Violet penasaran. Sedangkan Halley yang tahu langsung memasang wajah polosnya seakan tidak tahu apa-apa.


"Scens kenapa, ya?" bisik Celosia pada Flave yang sedang duduk di meja.


"Kerasukan iblis mungkin," jawab Flave tanpa berpikir.


"Siapa yang ada di belakangmu, Vil?" tanya Scens gemetaran seraya menunjuk Halley yang berada di belakang Violet.


"Ahh, dia Halley. Aku bertemu dengannya saat misi. Dia tidak punya tempat tinggal, mungkin jika Dheta tahu dia seorang Aethery Cahaya, mereka akan menerima nya di akademi," jelas Violet seraya berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"Aethery Cahaya!!! Wahhh, dia Aethery Utama!!!" girang Celosia mengisi rumah.


"Diam Cel," gertak Ruleus dan membuat Celosia seketika diam.


"Aku sangat lelah. Jadi tidak ikut sarapan. Ah, Scens, tolong antar Halley ke kamar mu saja," ucap Violet seraya menutup pintu kamarnya. Kini tersisa Halley dengan wajah polosnya, Scens dengan amarahnya yang akan meluap, Celosia yang sedang dimarahi oleh Ruleus, dan Flave yang tidak peduli dengan semuanya.


Scens menghela napas," Hahh, kalian bertiga sarapan saja dulu, aku harus menyiapkan tempat untuk Halley," suruh Scens dan dibalas anggukan oleh tiga sahabatnya.


"Kemari lah," ucap Scens seraya berjalan ke arah kamarnya diikuti oleh Halley, "Akan aku beri pelajaran dirimu," bisik Scens dan membuat Halley merinding.


Di Dalam Kamar Scens


"Apa rencana mu bod*h?" tanya Scens pada Halley yang sudah duduk di kasurnya.


"Ahahahaa, jangan memasang raut wajah seperti itu," jawab Halley seraya tertawa dan membuat Scens mengkerut kan keningnya.


"Aku hanya ingin tahu. Berapa lama lagi kalian menyembunyikan salah satu dari anak Peri?" tanya Halley dengan nada mengerikan dan membuat Scens kaget.


*Violet Ristallius


Tinggalkan jejak ya shayank kuh*