
Kelas terus berlanjut sampai matahari tenggelam. Entah sudah berapa mata pelajaran yang terlewati begitu saja. Sampai membuat bosan.
Sangat bosan. Apalagi pelajaran kali ini adalah sejarah lahirnya Aethery. Hanya mendengarkan Pak Easy mendongeng sampai membuat mengantuk.
Tetapi di tengah-tengah pelajaran, seseorang mengetuk pintu dan membuat dongeng pak Easy terhenti.
"Ya, silahkan masuk,"
Seseorang dengan tudung dan jubah perak. Siapa lagi kalo bukan seorang Dheta.
Dia membuka tudungnya dan memunculkan wajahnya yang sangat cantik.
"Ternyata Dheta Ryumi," sambil Pak Easy seraya membungkuk hormat.
Dheta Ryumi hanya membalasnya dengan senyuman.
"Violet, Scens, ikut ke ruangan pribadiku sekarang," ucap Dheta Ryumi kemudian menghilang dengan teleportasi.
Tanpa berkata apapun, mereka berdua menyimpan buku-bukunya dan langsung keluar dari kelas. Di depan kelas Scens menjulurkan tangannya ke depan dan mengeluarkan kabut yang lama kelamaan berbentuk bulat besar.
"Seharusnya ini langsung mengarah tepat di depan pintu Dheta Ryumi," ucap Scens seraya melangkah masuk ke dalam kabut itu diikuti oleh Violet di belakangnya.
Di lantai 13 yang merupakan lantai tertinggi di gedung utama Planet Therios. Gedung yang digunakan untuk pelatihan dan uji coba ini sudah ada sejak dulu. Entah siapa yang membangunnya.
Lantai 13 tidak seperti lantai-lantai sebelumnya. Lantainya terbuat dari batu emerald dan langit-langit yang berbentuk cekung berhiaskan sinar dari ke 12 rasi bintang. Berkilauan dan sangat tenang.
Scens dan Violet sampai di ruangan pribadi Dheta Ryumi. Tetapi sepertinya kabut teleportasi Scens agak bermasalah.
"Uhuk...uhuk..uhuk, seharusnya aku saja yang membuat teleportasi," ucap Violet seraya mengibaskan tangannya untuk menghilangkan kabut yang berubah menjadi asap tebal.
"Masih beruntung aku bisa mengendalikannya. Jika tidak kita akan terpotong-potong menjadi beberapa bagian karena elemen ini meledak, uhuk...uhuk..," ujar Scens seraya melakukan hal yang sama dengan Violet.
Duk.. Violet memukul kepala Scens.
"Dasar bod*h! Uhuk...uhuk...asapnya masuk ke dalam mulutku semua," gerutu Violet.
"Kenapa kamu memukulku??! Memangnya kamu tidak pernah melakukan kesalahan?!"
Akhirnya mereka pun beradu mulut seraya mengungkit kesalahan kesalahan yang pernah mereka lakukan. Violet dan Scens memang sering adu mulut jika salah satu dari mereka melakukan kesalahan dan yang satunya mengungkit semua kesalahan di masa lalu.
"Ehemmm..."
Dheta Ryumi membuka pintu ruangannya karena di luar terdengar sangat berisik seraya berdehem.
"Kalian berdua ini memang tidak pernah akur atau bagaimana?" tanyanya dengan nada dingin.
"Maaf kan kami," ucap Violet dan Scens seraya menunduk hormat pada Dheta.
Dheta Ryumi hanya menghela napas.
"Kalian berdua kemari masuk," ucap Dheta Ryumi masuk kembali ke dalam ruangannya diikuti oleh Violet dan Scens.
Di dalam ruangan pribadi Dheta Ryumi hanya ada satu meja kerja dan kursinya serta satu lemari penuh dengan arsip.
"Jadi apa yang ingin Dheta katakan pada kami?" tanya Violet to the point karena dirinya tidak mau lama-lama di sana.
"Ini tentang pelatihan ganda kalian berdua," jawab Dheta Ryumi seraya membalik beberapa lembar kertas yang sedang dia pegang.
"Apakah hanya kami berdua yang mendapatkan pelatihan itu?" tanya Scens.
"Seharusnya ada 10 Aethery perang yang mengikutinya, namun kebanyakan dari mereka tidak bisa lepas dari kebiasaan menggunakan Elemen dalam setiap serangan. Kalian pasti mengetahui bahwa terlalu banyak menggunakan Ropis mengakibatkan kelelahan yang berlebih. Jadi kami para Dheta ingin melatih kalian berdua yang sudah biasa menggunakan pedang tanpa bantuan Elemen," jelas Dheta Ryumi seraya melepas kacamatanya.
"Jangan terlalu terbawa emosi Vil," ucap Scens menenangkan Violet.
"Kami tahu Vil, tetapi ini demi peradaban kita. Jika kita terlalu bergantung pada Elemen, bagaimana jika suatu saat nanti kita para Aethery kehilangan Elemen kita," Dheta Ryumi membela diri dan membuat Violet semakin muak. Entah kenapa Violet selalu ingin memberontak dari kekang para Dheta. Padahal selama ini ingatannya menghilang.
"Jadi anda ingin mengkhianati berkah yang di berikan Peri?" ucap Violet dengan nada dingin membuat Dheta Ryumi marah. Dia menjentikkan jarinya dan sebuah jarum hampir mengenai kepala Violet namun Violet dapat menghindar. Jarum itu mengenai perban yang dia pakai dan membuatnya terlepas. Mata merah menyala kini terlihat dan menatap mata Dheta Ryumi dengan dingin.
Scens yang melihatnya hanya terdiam karena hal ini sudah biasa terjadi. Ketika Dheta Ryumi memberikan perintah yang menyangkut peradaban Aethery atau apalah itu pasti akan ditolak mentah-mentah oleh Violet. Bahkan dulu mereka pernah bertarung sampai babak belur dan hasilnya mereka seri.
"Elemen Logam. Hanya anda yang mempunyainya," ucap Violet seraya memegangi mata kirinya.
"Kamu barusan melawan perintahku. Sikap tercela apa itu?" Dheta Ryumi memasang kembali kacamatanya.
Violet melontarkan seulas senyum simpul dan membungkuk hormat, "Maafkan kelancangan saya. Saya akan melakukan apa yang anda perintahkan," ucap Violet. Dia menegakkan kembali badannya dan menyelimuti dirinya dengan salju kemudian menghilang.
"Teleportasi tingkat tertinggi! Sejak kapan Violet menguasainya? Seharusnya hanya para Dheta yang bisa melakukannya. Apa ingatannya kembali lagi?" gumam Scens dalam hati.
"Ingatannya pulih kembali," ucap Dheta Ryumi membuat Scens mengalihkan pandangannya tepat ke mata Dheta Ryumi.
"Maksud anda, segel itu akan terlepas?" tanya Scens khawatir.
"Mungkin saja. Tetapi kali ini kita akan membiarkan nya saja,"
"Itu berbahaya. Bukankah lebih baik jika kita memperbaiki segel itu segera," bantah Scens.
"Sudah lah kamu keluar sekarang," suruh Dheta Ryumi dan dituruti oleh Scens walaupun sebenarnya dia tidak mau. Tetapi ini perintah.
...
"Sekarang aku paham," gumam Violet yang sekarang sudah berada di kamarnya.
Dia berdiri di dekat jendela seraya memegang mata kirinya yang kini memancarkan warna merah darahnya karena terkena cahaya matahari terbenam.
Violet kemudian berjalan ke arah pedangnya yang tergeletak manis di meja sebelah lemarinya. Pedang yang memancarkan warna putih salju ini sering disebut sebagai pedang milik para Peri. Memang benar karena pedang ini hanya dimiliki oleh pemimpin perang secara turun temurun. Dan Violet adalah pemilik ke-37 dari Pedang Sayap Salju ini.
Tuk..tuk...
Seseorang mengetuk jendela kamar Violet. Seekor burung merpati pembawa pesan datang. Violet membuka jendela dan mengambil kertas kecil yang diikatkan ke kaki burung merpati itu.
Pergilah ke arah barat tempat para Aethery dari Planet Thartarub menukar barang. Cari informasi tentang Aethery yang bernama Veliana Holloway. Kamu ku izinkan untuk membunuh.
Salam dari Dheta Ryumi.
"Veliana Holloway? Bukankah dia yang akan maju ke medan perang selanjutnya," gumam Violet seraya tersenyum mengerikan dan meremas kertas yang ada di tangannya.
Dia bergegas mengganti bajunya dan memakai jubah bertudung berwarna hitam. Meletakan pedang di sarung yang sudah menempel indah di pinggang Violet.
"Mereka masih berani memerintah diriku ternyata," gumam Violet seraya membuka pintu dan pergi keluar melewati teman-teman nya yang sedang lalu lalang di rumah.
"Mau pergi kemana Vil?" tanya Flave di depan pintu rumah ketika Violet hendak melewatinya.
"Misi," jawab Violet kemudian melanjutkan larinya menuju sebuah kota di barat.
Violet Ristallius
Gimana ceritanya?
Terus dukung Author ya~~ Jangan lupa komen, like, sama ratingnya juga jangan lupa
^-^