Unpredictable Life

Unpredictable Life
Camping 2



Dara terlihat berjalan dibelakang Nadira dengan sangat kelelahan. Tiba-tiba seseorang menarik dan melepaskan backpack Dara dengan sangat perlahan.


“Tenda kamu disebelah mana?”


“Billy..”


“Hm? Tenda kamu disebelah mana?” Tanya Billy dengan suaranya yang berhasil membuat wajah Dara memerah.


“Nomor 2..” Jawab Dara sambil melihat kertas yang dibagikan oleh pak Reno.


Billy mempersilahkan Dara untuk jalan didepannya, mereka berdua bak sepasang burung yang sedang melakukan pendekatan. Tidak ada satu kata pun yang diucapkan Billy, sampai ketika mereka di depan tenda Dara pun Billy hanya mengembalikan backpack yang sedari tadi ia pegang sambil tersenyum.


“Makasih banyak..” ucap Dara pelan karena takut dilihat oleh banyak orang.


“Iya..” Billy pun bergegas pergi ke tendanya.


Dara tidak pernah mengetahui bahwa Billy punya sisi kepedulian yang amat tinggi, gadis itu hanya tersenyum setelah diperlakukan seperti itu oleh orang yang bahkan membuatnya menjadi penasaran. Tanpa diketahuinya pun, ternyata Devan juga menyaksikan mereka berdua.


Billy sudah sampai ditendanya, sebagai seorang pemimpin kelompok tentunya tanggung jawab ia adalah memeriksa kelengkapan seluruh anggotanya. Ketika ia mengabsen teman satu tendanya, satu orang tidak diketahui keberadaannya.


“Devan?”


“Devan kemana ya? Ada yang tau gak?” Billy bertanya pada teman sekelompoknya.


“Ke toilet mungkin?” Sahut salah satu temannya.


30 menit telah usai. Jarum jam menunjukan angka 14.00 WIB dan cuaca di area perkemahan ada diangka 17 derajat celcius. Para siswa dan guru tentunya memakai pakaian yang hangat dan kelengkapan lainnya seperti syal dan kupluk.


Mereka berkumpul ditengah-tengah yang disekelilingnya terdapat kumpulan tenda para siswa.


“Anak-anak tugas selanjutnya adalah mencari 2 gunduk tanah yang harus diteliti mana tanah yang sering terkena sinar matahari dan mana tanah yang memang tinggal di daerah lembab, dan untuk mengefektifkan waktu sebagian kelompok mencari air dan kayu bakar untuk persediaan api unggun malam hari. Sampai sini mengerti ya?” tanya Pak Reno.


“Pak toilet kan jauh, jaraknya juga mungkin ada 1 KM dari sini, apa bisa kita ambil air darisana?” Salah seorang murid kembali bertanya.


“Ya, betul. Toiletnya cukup jauh ya tapi sebetulnya ada mata air yang cukup dekat dengan kita dan itu tentunya harus dicari..........”


Dara menghela nafasnya cukup berat, wajahnya cukup malas mendengarkan instruksi dari Pak Reno. Sampai ketika waktu pun sudah memulai mempersilahkan siswa untuk mengerjakan tugas mereka.


Kelompok 1 yang dipimpin oleh Andra akhirnya mulai membagi tugas dan akhirnya disepakati untuk memisahkan kelompok menjadi 6 orang/tim. Tim pencari tanah dan tim pencari air dan kayu. Dara dan Nadira ada di kelmpok tim pencari air dan kayu begitupun dengan Arga dan 3 siswa lainnya. Sisanya mereka ada di kelompok tim pencari tanah.


Kelompok 2 yang dipimpin oleh Billy, memutuskan untuk mencari tanah, kayu dan air secara bersamaan dan tidak memutuskan untuk berpisah. Billy memalingkan wajahnya ke arah Devan yang baru ia sadari kehadirannya.


“Van? Dari mana aja tadi?” tanya Billy.


“Nganter Acha ke toilet.” Jawab Devan dengan wajah datar. Mungkin ia kesal karena melihat Billy membantu Dara tadi.


“Ketemu toiletnya?” tanya lagi Billy yang langsung diserobot oleh Acha.


“Ngga Bill, itu tuh jauh banget toiletnya serius deh kayanya kita bener-bener harus sedia air yang banyak buat cuci muka atau gosok gigi kecuali untuk buang air itu bener-bener harus kesana. Acha aja nyerah sama Devan, karena bener-bener sejauh itu..” jawab Acha dengan sangat bersemangat.


“Acha sama Devan ada apa nih? Ciee.. berduaan mulu” goda Laura yang dibalas oleh tawaan tersipu malu oleh Acha. Devan yang mendengar itu langsung memalingkan wajah ke arah lain dan kebetulan objek yang sedang ia tatap adalah Dara. Gadis yang ia sukai namun hubungan mereka tidak berjalan dengan baik.


“Andaikan lo tau Dar, gue pengen ada disana satu kelompok sama lo.” Batin Devan.


“Ya udah pokoknya nanti didalam hutan sana, jangan ada yang misah ya, kita harus tau posisi masing-masing” ucap Arga dan diiyakan oleh yang lainnya.


Mereka mulai masuk hutan untuk mencari kayu bakar dan air, Dara dan Nadira bak sepasang paus yang tidak ingin berdampingan, kemana pun Dara mengikuti Nadira, Nadira menghindarinya.


“Nadira tunggu..” Dara mencoba mengejar langkah Nadira yang terlihat terburu-buru.


“Nad jangan terlalu jauh..” teriak Arga dari belakang.


Nadira pun menghentikan langkahnya dan menunggu teman yang lain.


Kondisi didalam hutan begitu lembab dan menyeramkan, mereka ber enam mulai mengambil ranting-ranting kayu yang berjatuhan.


“Hati-hati ya temen-temen takutnya ada binatang yang nempel dikayu..” ucap Arga.


Dara pun mengiyakan perintah Arga dan mulai mengambil beberapa ranting namun, matanya berhenti pada Nadira yang terus melangkah semakin menjauh tanpa mencari apapun. Langkahnya hanya berjalan lurus ke arah barat dimana tidak ada jalur disana.


“NAD MAU KEMANA?!” Teriak Dara yang langsung disadari oleh teman-temannya.


“Eh Nadira mau kemana itu?!”


Mereka berlima panik dan meninggalkan kayu-kayu yang sudah sebagian mereka bawa dan memutuskan untuk mengikuti Nadira.


“Nad! Nadira mau kemana?” Dara mencoba mempercepat langkahnya. Teman-temannya berada dibelakang Dara cukup jauh namun Dara tidak ingin kehilangan jejak Nadira.


Gadis itu tidak menggubris panggilan teman-temannya dan malah berjalan semakin cepat seperti berlari. Dara yang jaraknya paling dekat merasa kelelahan dan memutuskan menunggu Arga yang terlihat berlari dibelakangnya.


“Kemana dia Dar?” tanya Arga dengan panik.


“Kesana, jalannya cepet banget..” jawab Dara.


Mereka berlima pun kembali bersatu, menelusuri jejak Nadira. Panggilan dan teriakan “Nadira” tak hentinya bersuara ditengah hutan itu.


“Dari tadi emang ada yang aneh dari anak itu, dia gak bersuara sama sekali dan pandangannya kosong..” ucap Dara dan akhirnya mereka kehilangan jejak Nadira yang dirasa aneh.


“Kita gak bisa kembali ke area perkemahan tanpa Nadira, semuanya bawa senter kan? Ikuti saya dan saling berpegangan tangan ya biar gak berpisah.” Balas Arga dan disetujui oleh yang lainnya.


Mereka melanjutkan perjalanan dengan modal nekat untuk mencari Nadira. Ditengah perjalanan tak disangka mereka bertemu dengan kelompok 2 yang sedang mencari kayu dan tanah.


“Hhh... m-mereka ada disini berarti mereka pasti lihat Nadira lewat..” ucap Dara kepada teman-temannya. Arga pun memutuskan untuk menghampiri Billy sang ketua kelompok dan mejelaskan semuanya.


“Ngga liat.. kenapa?” Billy mulai memasang wajah serius.


“Ilang bro.. dia jalannya cepet banget.” Keluh Arga dengan nada pelan agar tidak banyak orang tau karena khawatir akan jadi panik.


“Dara kok cuman berlima? Yang lainnya kemana?” tanya Devan yang terlihat sengaja menghampiri Dara yang sedang terlihat panik.


Gadis itu pun menjelaskannya dengan cara berbisik ditelinga Devan, seketika laki-laki itu membulatkan matanya tak percaya.


“Hah kok bisa?” tanyanya.


“TEMEN-TEMEN.. yang udah ada kayu bakar dan tanah bisa kembali ke area kemah ya, sisanya biar saya yang cari. Sebelum hari gelap harus udah ada di area kemah..” titah Billy dan diiyakan oleh kelompoknya.


Kini di posisi itu, ditengah hutan yang mencekam hanya da 7 orang selain dari kelompok tim pencari kayu bakar, Billy dan Devan memutuskan untuk mencari Nadira bersamaan.


“Yang lainnya jangan pisah jarak ya, kita cari bareng-bareng..” ucap Billy terdengar seperti seorang pemimpin yang baik.


Mereka bertujuh mulai menelusuri hutan yang rimba untuk mencari Nadira yang hilang, jalurpun dibuat oleh Billy yang ada dipaling depan.


SREEET..


BUGHH!!


Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara ranting jatuh dan otomatis semua berbalik ke arah suara.


“Arrghhh”


“Devan!”


Devan menjadi korban dari jatuhnya ranting yang mengenai kepalanya, untungnya ia berhasil melindungi diri dengan tangannya namun tampaknya ada darah disana.


“Van gak apa-apa?!” tanya Billy didepan sana.


“Hati-hati van!”


“Iya gak apa-apa ayo lanjut..” jawab Devan sambil menutupi tangannya.


Dara yang ada didepan Devan nampak sedikit khawatir karena luka di tangan Devan nampak cukup besar.


“Van, sakit banget ya? Ini aku ada syal segitiga, sini aku lilitin ditangan kamu biar darahnya gak bercucuran.” Ucap Dara dan diiyakan oleh Devan sambil tersenyum.


Dara pun memutuskan untuk mengobati Devan sebelum melanjutkan perjalanan. Teman-temannya berjalan tidak terlalu jauh dan masih bisa dikejar.


“Makasih ya Dar, aku seneng kamu mau bantuin aku.” Ucap Devan membuat Dara berdecak tertawa.


“Apasih?!”


Dara sibuk mengobati lengan Devan dan tiba-tiba terdengarlah teriakan..


“NADIRA!!”


Dara dan Devan menoleh kearah teman-temannya dan tak lama kemudian tibalah, Billy terlihat menggendong Nadira dipunggungnya yang terlihat lemah. Jaket yang digunakan Billy pun terlihat menutupi punggung Nadira yang terkulai.


Dara yang melihat itu berekspresi bahagia namun raut wajahnya berubah seketika karena matanya dan mata Billy bertatapan. Dimata Billy ia melihat Dara yang memegang tangan Devan yang sedang mencoba ia lilit tangannya dengan syal segitiganya. Dimata Dara ia melihat Billy menggendong Nadira yang sedang memeluknya.


“Aku cemburu?”


To be continued...