
Selepas dari ruang konseling, Dara kembali ke kelasnya untuk mengambil tas karena bel pulang sudah berbunyi, suasana sepi dan tinggal tas Dara beserta seseorang yang terlihat sedang menunggunya..
Gadis itu berjalan dengan perlahan namun pasti, ia cukup gugup karena seharusnya ia menghindari orang ini. Namun nampaknya orang yang ia hindari malah menunggunya.
"Aku mau ngomong sama kamu, malam ini di cafe tofi deket jembatan.. "
"Sekalii inii aja, aku tau kamu lagi benci sama aku tapi untuk kali ini aja.. " mohon orang itu dengan wajah memelas.
"Oke Devan, nanti aku kesana.. " jawab Dara dengan gugup sambil perlahan mengambil tasnya.
"Oh ya, tadi Billy minta nomor kamu. Mungkin nanti bakal ngehubungin.." ucap Devan memberikan setipis senyumannya.
"Oh gitu.. Ya udah kalo gitu.. aku pulang dulu" Dara membalas senyuman Devan dengan amat sangat canggung.
"Iya.. aku disini tadi nungguin tas kamu, silahkan duluan" ucap Devan yang dibalas anggukan oleh Dara. Gadis itu pergi meninggalkan Devan, sedangkan Devan membuntutinya dari belakang.
Dara berniat untuk langsung pulang ke rumah, lantas ia menunggu bis sekolah di halte biasa. Dara menyadari bahwa ada orang lain selain dirinya di halte itu, seorang siswi memakai jaket yang menutupi kepala sambil membaca novel.
"Mau aku tunjukin sesuatu gak?" tanya orang itu secara tiba-tiba membuat Dara menoleh kr arah sumber suara.
"Nadira?"
"Kamu gak masuk grup kelas kan? disana rame gara-gara foto Devan berdiri dipinggir jalan pake seragamnya yang lusuh.. orang-orang pada ngomongin dia" jelas Nadira sambil memberikan handphonenya memperlihatkan isi chat grup kelasnya.
Dara membulatkan matanya terkejut dan ia sedikit menutup mulutnya, matanya berbicara seolah Devan sedang merasakan apa yang ia rasakan.
#Grup LENI
*Kelas I3
"*Guys aku punya foto si anak baru itu loh.. liat deh lagi berdiri dipinggir jalan.. "
"Itu bukannya daerah rumah si Dara ya?"
"Nganterin pacarnya kali?"
"Ya ampun bajunya kusut banget, kucel lagi kenapa sih gak bisa enak diliat"
"Mukanya aja cakep tapi ya gitu... ups*"
Dara mengembalikan handphone milik Nadira dan ia pun terdiam beberapa saat.
"Mumpung kamu masih bisa komunikasi sama dia, coba deh bilangin.. gak usah pura-pura jadi orang miskin lagi, gak usah turun dari mobilnya jauh banget dari jarak ke gerbang sekolah, dan yang terpenting aku udah muak dengan pembullyan gara-gara anak miskin. Padahal Devan orang tajir kan?" Nadira memasang headsetnya dan kebetulan bis jurusan rumahnya telah datang, Dara pun pergi meninggalkan Nadira sendirian.
19.00 WIB
#Rumah Kayu Dara & Karel
"Hey Darong! Itu kenapa tidak kau ganti baju seragamnya. Malah asik saja main handphone baru." ucap Mesya yang terlihat sedang menonton tv sambil makan kacang.
"Males.. " Dara berbaring di sofa dan sibuk dengan handphonenya.
"Men, main ps mau gak.. " ajak Karel yang bicara dari arah dapur.
"Ayokkk siapa takut!" jawab Mesya sambil bergegas memasang pes yang baru saja ia bawa dari rumahnya.
Drrt... drrrt...
**Chat LENI
Devan : Aku udah di depan rumah kamu.
Seketika Dara langsung berdiri dengan sigap, ia panik bukan kepalang dan merapikan rambutnya yang berantakan. Ia bergegas ganti baju dengan gaya casual dan rambut di urai. Beberapa menit kemudian ia keluar rumah menemui Devan yang sudah siaga menggunakan jaket abu-abunya.

"Hey.. " Devan menyapanya dan Dara pun membalasnya dengan senyuman.
"Cafe nya ada dimana?" tanya Dara.
"Deket kok dari sini, aku jamin gak bakal lama juga.. " jawab Devan dan dibalas anggukan oleh Dara.
Mereka akhirnya jalan berdua menuju Cafè Tofi yang diselimuti cuaca dingin persis suasana malam ini. Tidak ada yang memulai obrolan kala itu sampai akhirnya Devan memberanikan diri untuk bersuara.
"Tadi siang aku udah ngobrol sama Nadira.. " ucap Devan dengan sangat gugup, ia menatap wajah Dara yang datar.
"Terus.. "
"Dia bilang, kalau dia tau aku bukan orang miskin dan dia ngasih tau itu ke kamu.. " Imbuhnya membuat Dara berdecak kesal.
"Langsung aja ke intinya.. "
"Aku bakal jelasin pas udah sampe di cafe.. " ucap Devan yang berhasil membuat Dara menatapnya sinis dan lalu berjalan cepat di depannya.
"Isssh.. " ketus Dara.
Sesampainya di Café Tofi, suasana nampak sepi dan mereka duduk di kursi berkapasitas 2 orang dekat tangga dan sebelah kaca.
"Apa yang mau kamu jelasin?" tanya Dara sambil tersenyum, ia mencoba untuk terlihat tenang dan tidak terburu-buru emosi.
2 cup coffee tersedia didepan mereka masing-masing, tentu saja Devan yang membayarnya.
"Tentang siapa aku sebenarnya, Nadira betul soal aku yang datang dari kalangan orang kaya dan pura-pura jadi orang miskin. Tapi aku punya alasannya, dari kecil aku sekolah homeschooling baru-baru ini aku pindah ke sekolah formal yang menurut aku gak terlalu buruk juga. Aku coba nyamar jadi orang miskin untuk nyari tau siapa yang mau berteman tulus sama aku.. Memang awalnya aku kasian sama kamu karena kamu terus di Bully sama yang lain, sampai akhirnya Billy cerita kalo kamu udah terbiasa dengan semua itu." Devan menelan salivanya sebelum meneruskan kalimatnya.
"Inget gak? akhirnya kita disatukan sebagai kelompok di mata pelajaran matematika, aku kira kamu bakal gak mau sekelompok sama aku. Saat itu aku memang bilang kalo rumah aku kecil sampai gak bisa setrika seragam karena aku mau ngetes kamu, apa kamu tetep mau berteman sama aku."
Pada pertengahan ketika Devan menjelaskan, Dara terlihat berkaca-kaca dengan raut wajah yang kecewa.
"Cuma ngetes? Kasian? " Dara bersuara dengan nada menekan.
"Ya karena--"
"Kamu pikir aku apa? Asal kamu tau ya, aku dari awal gak pernah tuh mau sekelompok sama orang dikelas apalagi anak baru. Karena aku tau mereka gak bakal mau punya temen kaya aku!" Ucap Dara memotong pembicaraan Devan.
"Tapi kan--"
"Aku.. gak mau punya teman karena dia pasti akan tertekan, anak-anak benci sama aku dan otomatis kalo ada yang kebetulan berteman sama aku dia juga akan dibenci, Devan." Imbuh Dara dengan nada sedikit naik.
"Tapi aku gak apa-apa kaya gitu, aku rela dibenci sama anak dikelas asalkan aku gak dibenci sama kamu" Devan menghela nafasnya panjang.
"Asal kamu masih mau berteman sama aku.. "
"Kita itu gak bisa deket lagi Devan!" Dara buru-buru menunjukan handphonenya.
"Nomor ini yang neror aku, dia suka sama kamu sampe dia ngancem aku. Orang ini juga yang nendang aku waktu pelajaran olahraga.." Jelas Dara membuat Devan terlihat terkejut dan marah.
"Kenapa kamu baru bilang?"
"Aku capek.. aku mau pulang." Jawab Dara dengan wajah yang datar.
"Jawab dulu, kenapa kamu baru bilang sekarang? Sejak kapan kamu mulai diteror?" tanya Devan dan kali ini wajahnya teramat serius.
"Baru-baru ini... aku gak inget pastinya kapan, ada yang mau diomongin lagi gak?" Dara mulai menunjukan tanda-tanda bahwa ia tidak betah berlama-lama dengan Devan.
"Aku gak mau kamu benci sama aku Dar. Aku minta maaf karena udah bohong, dan yang neror kamu ini, bisa diabaikan aja kan?" Mohon Devan dengan kesungguhan diwajahnya.
"Terserah.. bener-bener terserah, aku gak tau harus gimana lagi sama kamu. Aku capek, aku mau pulang ya.. " Jawab Dara dan berhasil mengangkat pantatnya itu dari kursi yang sedari tadi memaksanya untuk terus menempel.
Mereka akhirnya jalan kaki dibawah langit gelap yang dingin, Dara ada di depan Devan yang kini sedang menunduk dengan wajah kecewa. Ia pikir mediasi ini bisa membuka pikiran Dara, namun tampaknya Dara sudah kepalang kecewa karena dikhianati oleh Devan yang mana ia satu-satunya orang yang mau berteman dengan Dara.
TAP....
Dara menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang, menatap Devan dengan mata berair. Jarak mereka sekitar 2 meter, Devan menunggu kalimat apa yang akan keluar dari mulut Dara.
"Aku mau.. besok kamu pake seragam yang bagus, gak kusut, gak kucel, gak kotor.. bisa?" tanya Dara dan dibalas anggukan oleh Devan.
"Sampai sini aja gak perlu diantar sampai rumah, kamu pulang naik mobil kan?" Dara mempersilahkan Devan untuk pulang tapi lagi-lagi Devan membuat Dara kesal karena laki-laki itu malah terus melangkah mendekati Dara.
"Kamu bilang kan terserah, aku mau anter kamu sampai rumah.. "ucap Devan dan Dara pun kehilangan kesabaran dan tampak pasrah dengan kelakuan Devan.
"Okey.. untuk kali ini aja."
Dara kembali berjalan dan kali ini langkahnya sama dengan Devan meskipun tak ada obrolan yang pasti namun laki-laki itu berhasil mengantat Dara ke rumahnya.
"Sampai ketemu besok di sekolah.. " ucap Devan dan lalu ia pergi tanpa menunggu jawaban dari Dara.
Seminggu telah berlalu..
Hubungan Devan, Dara dan Billy nampak dingin tidak sedekat dulu.
Dara masih setia dengan perasaannya yang kesepian, menyendiri adalah bagian yang ada pada dirinya. Namun, ia telah beranjak sedikit dewasa. Ketika anak-anak lain mulai melupakan Dara adalah anak miskin, mereka tidak lagi membullynya. Dara lebih banyak berpikir tentang masa depannya, ia pun tak lagi menghindari keramaian, yang tidak berubah adalah ia dinilai tak konsisten memilih pasangan bahkan baru-baru ini ia digosipkan berpacaran dengan Billy padahal sebelumnya ia sangat dekat dengan Devan.
"Anak-anak besok untuk pergi ke puncak kita mulai start jam 7 udah di sekolah ya, jangan lupa disiapkan barang-barang yang mau dibawa dan juga jangan ketinggalan sama kelompoknya.. ada pertanyaan?" Tanya Pak Reno di depan kelas.
"Gak ada pak... "
"Baik... cukup sekian" pak Reno meninggalkan kelas, semua orang bersiap untuk pulang dan menyiapkan barang-barang mereka untuk camping besok.
"Dara, kamu jadinya kelompok aku ya?" tanya Nadira dengan tiba-tiba dan membuat beberapa orang menyadari obrolan mereka termasuk Billy dan Devan.
"Iya.. " Jawab Dara yang sibuk membereskan buku-bukunya.
"Kenapa kamu pindah kelompok?" tanya Devan yang duduk disampingnya.
"Hm? Gak apa-apa.. aku duluan ya." jawab Dara dengan senyuman tipisnya dan berlalu begitu saja.
Seperti biasa sepulang sekolah Dara duduk di halte menunggu bis, namun yang berbeda ia kini membaca novel dan memasang headset seperti Nadira.
PUK.. PUK..
Seseorang menepuk pundak Dara yang membuat gadis itu terkejut, ia lantas menoleh ke belakang dan ternyata itu adalah Billy. Laki-laki itu duduk disamping Dara. Menyadari kehadiran Billy, gadis itu memasukan handphonenya ke tas dan fokus mengobrol dengan Billy.
"Aku rasa kita bertiga jadi punya batasan masing-masing.. kamu, Devan sama aku." Billy memulai obrolan sambil memakan lolipop.
"Semenjak rumor dari Nadira yang bilang aku berteman sama kamu karena kasian. Kamu jadi berubah." lanjutnya membuat Dara berdecak tertawa kecil.
"Itu bukan rumor.." sahut Dara.
"Apa yang mendasari manusia untuk menilai seseorang dari ucapan orang lain yang bahkan belum tau kebenarannya kaya gimana?" Billy merogoh sakunya dan memberikan secarik kertas berisi kalimat yang sedang dipikirkan oleh Dara.
***#
Bunga tanpa kepemilikan..
Tergeletak sunyi dijalanan,
Merangkak tanpa kepastiaan,
Bergerak tanpa tujuan,
Karena itulah ia sendirian,
Berjalan dengan kesedihan,
dan berteman dengan kesepian.
***#
Dara membulatkan matanya dan langsung menatap Billy. Itu adalah tulisannya dikelas 1 ketika ia suruh membaca puisi di depan kelas.
"Kasian? Gak tulus? mungkin iya.. tapi bagi aku gak berlaku berteman hanya karena kasian." ucap Billy, mau membuat Dara terdiam dan berpikir.
"Kesalahpahaman itu biasa terjadi, yang memperkeruh keadaan adalah kepercayaan seseorang terhadap desas desus yang tidak di diskusikan.." lanjut lagi Billy, kali ini laki-laki itu beranjak dari tempat duduk di halte nya, hendak pergi namun tertahan.
"Kamu boleh pindah kelompok karena itu hak kamu, kamu boleh benci sama orang tapi pastikan jangan berlarut-larut dalam kekecewaan," Billy benar-benar pergi kali ini.
Dara merenung sendiri dikursi halte, beberapa bis sekolah melintas namun ia tidak naik karena melamun. Sampai pada batas jam operasional gadis itu masih terdiam memikirkan ucapan Billy sambil menggenggam kertas yang baru diberikan oleh laki-laki itu.
"Kesalahpahaman itu biasa terjadi, yang memperkeruh keadaan adalah kepercayaan seseorang terhadap desas desus yang tidak di diskusikan.."
Baru kali ini Dara mendengar Billy mengucapkan kalimat yang patut dipikirkan dan direnungkan. Bahasanya terlalu banyak makna yang membuat orang pasti memikirkan kesalahannya.
Akhirnya jam 7 malam gadis itu memutuskan untuk pulang berjalan kaki, jaraknya lumayan jauh namun gadis itu memang sengaja membiarkan kakinya melangkah dan menghirup dinginnya udara kota Bandung.
"Hari ini langit gelap, aku tidak bisa membedakan mendung atau cerah. Sama seperti suasana hatiku saat ini, mendung karena aku merasa bersalah dengan semua sikapku pada orang-orang yang aku nilai dari pembicaraan orang lain. Cerah karena aku menemukan teman yang benar-benar tulus, hari ini dia memberikanku secarik kertas berisi kutipan puisi yang kubacakan di kelas 2 tahun lalu.. Aku bahkan tidak ingat lagi bagaimana bisa aku menulisnya. Orang itu berhasil merubah jalan pikirku, aku jadi lebih berhati-hati sekarang, manusia mungkin memang tak luput dari sebuah kesalahan. Siapa aku sampai tidak bisa memaafkan? Hari-hari yang kulalui memang berat dan menyakitkan karena aku terlalu lama membiarkan duri dihatiku bermukim terlalu lama sampai menggoreskan luka yang luar biasa. Hari ini aku memutuskan mencabut duri itu dan memulai dengan hal baru. Menjadi orang yang berpositif dan tidak menilai orang dari satu sisi saja, memaafkan semua kesalahan orang lain yang bahkan jangan pernah dibedakan mana yang sengaja atau tidak sengaja semua itu tetaplah kesalahan. Namun tidak ada yang salah dari sekedar memaafkan"
To be continued....