
Dara Seralia,
Gadis remaja yang baru saja ditinggal ibunya 1 tahun yang lalu karena sakit kanker, terpaksa harus bertahan hidup dengan Abah dan Karel adik laki-lakinya yang masih duduk dibangku SMP. Kehidupannya terbilang kurang berkecukupan karena mereka hanya mengandalkan bisnis bengkel milik Abah karena Abah tak mampu membayar karyawan terkadang sepulang sekolah Dara ikut membantu Abah dibengkel entah untuk jadi kasir ataupun sekedar isi angin dan tambal ban yang sekiranya bisa ia kerjakan.
"Bah! Besok Dara gak bisa bantu dibengkel ya, ada tugas kelompok jadi pulangnya telat." Ucap Dara sambil menyantap makan malamnya bersama dengan adik laki-lakinya sedangkan Abah sibuk dengan pembukuan harian dari hasil penjualannya hari ini dibengkel.
"Besok mah Karel on time Bah! Tenang.. pas bel pulang langsung ngapung ke bengkel!" Balas Karel sambil sedikit tertawa. Ngapung artinya terbang.
"Iya gak apa-apa atuh, sok aja utamain dulu sekolah pokoknya mah"
Abah melepaskan kacamatanya dan menyimpan bukunya, ia berjalan menuju meja makan menghampiri anak-anaknya.
"Penjualan hari ini cukup bagus, cuman bahan dibengkel habis kayanya Abah harus belanja dulu besok. Tutup aja gitu sementara?" Tanya Abah sambil makan tempe goreng yang tersisa dimeja.
"Atau belanjanya pas Karel pulang gimana? Jadi gantian gak usah tutup" jawab Karel.
"Jangan ahh, takut ih rel jaga bengkel sendirian mah.. gak apa-apa Bah, tutup ajaa sebentar ini kan?" balas Dara.
Abah mengangguk menyetujui pendapat anak pertamanya, mereka lantas berbincang sampai larut malam. Dara dan Karel pun sibuk membereskan tempat tidur mereka, hanya kasur tipis yang mereka punya untuk tidur bertiga didepan tv, space yang kecil membuat mereka harus berbagi tempat.
Dilain tempat, Devan sibuk membereskan baju-bajunya dan merapikannya dilemari. Ia baru saja sampai di Bandung dan langsung sibuk pindahan ke salah satu apartemen terkenal di kota kembang ini. Semangatnya masih membara, karena besok akhirnya ia bisa menghirup udara bebas setelah sekian lama terikat pada homeschooling. Devan tinggal bersama Bimo yang ditunjuk ayahnya untuk menjadi asisten Devan, umurnya hanya berbeda 6 tahun dari Devan sehingga mereka sudah seperti teman biasa.
"Bim! Sepatu gua ada berapa yang lo bawa?" tanya Devan ada Bimo yang sedang rebahan di sofa.
"Serius woy! Katanya besok disuruh pake sepatu warna item soalnyaa"
"Adaaa! Selow.."
Devan tersenyum salah tingkah, ia membantingkan tubuhnya ke kasur berukuran kingsize.
"Eh Bim! Besok kan lo nganter gua ke sekolah nih, tapi lo turunin gua jauh-jauh yak dari jarak gerbang itu harus 300 meterlah minimal. Gua gak mau keliatan pake mobil." Ucap Devan.
"Idih! Emang kenapa sih? Kan keren gitu, anak baru turun dari mobil. Jadi hits nanti.."
"Yehh.. bukan gitu.. Gua gak mau aja keliatan orang kaya, pokoknya besok gua harus dandan yang kucel pengen tau aja masih ada gak orang yang mau berteman sama gua"
"Aduh... ampun dah! Gak tau lagi gua, terserah lu dahh Van, suka suka lu sana!"
Devan tertawa dan menggoda asistennya. Mereka tinggal di apartemen tipe studio 2 kamar dimana ruangan ini cukup besar ditinggali oleh 2 orang.
Begitulah latar belakang kehidupan Dara dan Devan yang sangat berbeda. Mereka akan dipertemukan dalam situasi yang sama dan berteman dengan status palsu Devan yang menyamar sebagai orang miskin.
To be continued...