Unpredictable Life

Unpredictable Life
First Meet



Mentari datang bersama kicauan burung yang merdu, suasana jalanan sudah cukup padat merayap, suara klakson saling bersautan. Banyak orang lalu lalang diatas jembatan penyebrangan dan sibuk dengan gadgetnya masing-masing...


06.50 WIB


@ Angkasa Senior High School.


Para siswa terbirit-birit berlari untuk masuk gerbang sekolah karena 10 menit lagi bel masuk. Dara yang ada saat itu baru turun dari Bis Sekolah mempercepat langkahnya agar tak kesiangan, rambutnya yang sedikit ikal tersapu angin berterbangan sehingga sedikit berantakan.


Kendati demikian, ia berhasil masuk gerbang sekolah dan melakukan pemeriksaan atribut sebelum masuk ke kelas. Sebenarnya di sekolah, Dara tidak mempunyai teman karena lingkungan sekitar memiliki kompetisi kasta yang sangat tinggi. Dara merasa tidak sebanding dengan teman-temannya karena mereka hampir semua orang kaya.


"Ya ampun! Dasi ketinggalan.. aduh gimana ya, eh Laura punya dasi dua gak?" tanya Dara pada temannya saat baris mengantri untuk pemeriksaan.


"Gak ada lah, kenapa gak bawa? beli aja di tata usaha" jawab Laura.


"Punya uang gitu belinya? Makanya dasi tuh dipake dari rumah Dar!" Balas temannya yang memiliki nametag "Acha"


Dara yang saat itu kebingungan memutuskan untuk pasrah, sehingga ketika gilirannya untuk pemeriksaan ia hanya menunduk dan terdiam.


"Lagi? Kemarin ikat pinggang sekarang dasi." ucap bu Guru.


"Maaf bu, tadi saya buru-buru.."


"Hormat didepan tiang 15 menit atau lari 20 keliling?"


"Hormat aja bu.. "


Dara berjalan lunglai menuju tengah lapang, ia menyimpan tasnya dibawah tiang bendera dan menjalani hukumannya berdiri dan hormat didepan tiang bendera.


Sedangkan Devan, ia baru saja turun dari mobil dan berlari karena waktunya 5 menit lagi. Devan memakai seragam kusut dan agak berantakan meskipun demikian wajahnya tetap tampan dan rambutnya rapi.


Devan disambut oleh seorang guru di depan gerbang dan mengantarnya ke kelas.


"Pagi pak.."


"Devan ya? Yuk masuk sebentar lagi bel sekolah," ucap Pak Guru yang diketahui bernama pak Reno.


Sambil berjalan menuju kelas, Pak Reno memperkenalkan beberapa ruangan dan space yang ada di sekolah ini.


"Kemarin papah kamu telfon katanya kamu agak susah beradaptasi ya? Gak apa-apa anak-anak pada baik kok kalau ada kesulitan hubungi bapak saja ke ruang guru ya?" ucap Pak Reno dibalas sedikit tawa oleh Devan.


"Oh ya ini ruang UKS, biasanya siswa yang sakit atau pingsan karena upacara dibawa kesini" pak Reno menunjuk salah satu ruangan namun Devan malah salah fokus ke tengah lapang dimana Dara sedang berdiri disana.


"Itu kenapa pak?" tanya Devan sambil menunjuk Dara, Pak Reno menyipitkan matanya untuk memperjelas penglihatannya.


"Oh itu biasanya, siswa yang kurang disiplin, kalau gak telat masuk ya paling atributnya kurang lengkap. Devan juga kalau bisa bajunya dimasukin ya."


"Oh iya pak, maaf."


Saat berjalan melewati Dara, Devan terus memperhatikan gadis itu yang sudah mulai berkeringat. Sedangkan Dara sibuk menatap bendera dan menunggu pluit berbunyi tanda hukuman selesai.


Priiiit~


"Dara! Udah selesai.. masuk kelas!"


Dara menurunkan tangannya dengan lemas dan mengambil tasnya, ia berjalan gontai sambil mengelap keringatnya menuju kelas.


Gadis itu berjalan dibelakang Devan, karena mereka akan masuk kelas yang sama.


Suasana kelas cukup ramai dan Dara fokus berjalan ke bangkunya yang ada dipaling belakang. Layout kelas, semua siswa duduk sendiri-sendiri dan ditentukan oleh Ketua Murid. Dara duduk dibangkunya dan mengambil botol minum didalam tasnya.


"Anak-anak! Kita kedatangan murid baru pindahan dari Jakarta namanya Devan. Tolong dibantu ya, silahkan perkenalan diri Devan.." Ucap Pak Reno.


"Hai semua, saya Devan salam kenal ya.."


"Untung ganteng." Celetuk salah satu siswi yang mengundang tawa siswa yang lainnya.


"Devan duduk dibangku belakang ya yang kosong, nanti juga di rolling lagi sama KM nya. Bapak tinggal ya?" Pak Reno menepuk bahu Devan dan meninggalkan kelas.


Devan berjalan menuju bangku belakang sebelah Dara, orang-orang memperhatikannya aneh dan terdengarlah desas desus para siswi membicarakan Devan.


"Iya kucel bgt, tapi mukanya ganteng tuh gimana ya.. "


"Aku aja mau berekspresinya bingung."


"Tapi kayanya bakal tetep punya temen deh, gak akan kaya si Dara"


Devan duduk dibangkunya dan melirik Dara yang terlihat sedang sibuk mencari sesuatu.


"Arga! Liat buku paket aku gak? Kemarin disimpen dikolong bangku kok gak ada ya?" tanya Dara pada orang yang ada di depannya.


"Gak tau atuh! Kayanya kamu bawa kemaren, siapa tau jatoh kan tas kamu bolong hahaha.. udah dijait belum? hahaha" jawab Arga mengundang tawa yang lainnya.


Dara terdiam karena ia lagi-lagi ditertawakan satu kelas, tasnya memang sobek saat membawa barang banyak dan ia memutuskan meninggalkan buku paketnya dikolong meja agar tasnya tidak terlalu berat.


Melihat itu, Devan memperhatikan semua teman kelasnya yang terlihat asyik menertawakan Dara.


"Padahal dia gak salah, dia cuma nanya tapi jadi bahan olokan? Apa mama papa ngelarang gua sekolah karena takut gua jadi korban bullying kaya anak ini? Kasian banget bukannya dibantu malah diketawain." gumam batin Devan.


Tiba-tiba seorang siswa menghampiri bangku Dara dan menyimpan sebuah buku paket dimejanya.


"Kemarin sama aku dibawa pulang soalnya ada di bawah kursi"


"CIEEE BILLY! UHUYY SO SWEET"


"Yang kaya Dara Bill type cewek teh? Tinggi pisan euy kriterianya.. HAHAHAHA"


"Sstt.. gak boleh gitu euy, kasian dia juga punya hati." ucap Billy sambil duduk dibangkunya.


"CIEEE.. NGEBELAIN.. HAHAHA"


Dara hampir menangis karena olokan teman-temannya, meskipun sudah biasa tapi ia merasa tertolong karena 1 orang.


Guru masuk dan pelajaran pun akan dimulai.


"Selamat pagi semuanya, kita akan mulai pelajaran matematika kemarin sudah dibagi kan ya kelompoknya? 1 kelompok 4 orang. Ada yang belum kebagian?" tanya Bu Guru.


Dara menoleh kesamping ke arah Laura.


"Laura.. Kita jadi 1 kelompok kan?" tanya Dara dengan cara berbisik.


"Ngga Dar! Sorry lupa bilang, kelompok aku udah pas 4 orang.." jawab Laura.


"Oh gitu, ya udah gak apa-apa.."


Dara mengacungkan tangannya.


"Saya belum punya kelompok bu." ucap Dara.


"Eh naha atuh, bukannya kemarin masuk kelompok Laura?" tanya bu Guru.


"Kelompok saya udah pas bu, diganti sama Nada kemarin dia sakit, sekarang masuk" jawab Laura.


"Harusnya kalo udah diputuskan kelompoknya gak boleh ganti orang, ya sudah Dara mau masuk kelompok mana atuh? Gak apa-apa deh 1 kelompok aja yang 5 orang." Ucap bu Guru.


"Saya juga belum punya kelompok bu." Devan mengacungkan tangannya dan mengundang tatapan siswa.


"Eh murid baru ya? Baru lihat.. ya sudah atuh kalian 1 kelompok berdua aja gimana? gak apa-apa? Gak sulit kok tugasnya.. " ucap Bu Guru diiringi sorakan oleh para murid.


"CIEEEE.... COCOK EUY!"


"Pasangan caludih.. ups.." gumam Arga mengundang tawa semua siswa. Caludih artinya kucel/kumel.


"Eh Arga! Gak boleh gitu.. ya sudah anak-anak ini tugasnya tolong dicatet ya.. "


Dara melirik Devan dan merasa bahwa jika ia satu kelompok dengan Devan. maka Devan akan terbawa arus bullying oleh teman-temannya.


"Sebenarnya kalau bisa, aku pengen sendiri aja gak mau kelompokan sama yang lain... Aku masih bisa kok ngerjain tugas sendiri, tanpa harus ngerepotin orang lain. Maaf yaa anak baru, gara-gara aku kamu jadi ikut di olok-olok" gumam batin Dara.


KRINGG...KRINGG..


Bel istirahat pun berbunyi, semua siswa berhamburan keluar untuk pergi ke kantin. Tiba-tiba Billy menghampiri bangku Devan.


"Van, mau istirahat bareng gak? sekalian liat kantinnya hayu.." ajak Billy dan dibalas anggukan oleh Devan.


Mereka berdua pergi ke kantin, sedangkan Dara setelah membereskan buku-bukunya.. ia pergi juga ke kantin, suasana tampak ramai. Dara membeli roti dan air minum, ia kembali berjalan dan duduk dikursi depan perpustakaan.


Sedangkan Devan dan Billy memesan semangkok Bakso.


"Sorry.. Nama lu Billy ya? Mastiin aja.." tanya Devan..


"Iya, keganggu gak sama anak-anak dikelas? Emang pada krisis manner, disini persaingan kastanya luar biasa banget. Makanya harus kuat mental." Jawab Billy.


"Kalau si Dara itu dari kelas 1 dia di bully terus karena miskin, pernah satu kejadian dia lagi sakit terus ketiduran di perpustakaan sampe dikunci. Gak ada yang bangunin coba.. " lanjutnya..


"Terus gimana?" tanya Devan dengan wajah yang serius.


"Saya tau, cuman gak berani bangunin takutnya dia lagi cape atau gimana dan saya kira juga gak dikunci perpustakaannya. Terus pas saya tinggal eskul futsal, saya balik lagi ke perpus masih ada Dara tidur. Saya coba buka pintu tapi dikunci terus saya lapor aja ke ruang guru pas masuk saya bangunin, dia lemes katanya perutnya sakit terus kepalanya pusing. Saya anter aja ke UKS, diobatin sama bu guru terus disuruh pulang. Kasian sih.."


"Iya, emang gak ada temen ya?"


"Gak ada yang mau nemenin"


Dara selesai makan dan ia kembali ke kelas, dikelas hanya ada beberapa orang yang sedang sibuk mengobrol.


"Dar! Kan hari ini bagian kita piket yah, gimana kalau pulang sekolah kamu aja yang piket saya bayar deh 20rb mau? Soalnya saya ada kerja kelompok kamu kan enak kelompoknya cuman berdua, saya berempat kasian nungguinnya.. " ucap siswa bernama Harun.


"Oh iya gak apa-apa run, saya aja yang piket. Gak apa-apa gak usah bayar," balas Dara sambil tersenyum canggung.


"Eh ambil atuh! Lumayan buat beli tas baru HAHAHA" celetuk Arga.


Dara terdiam dan pura-pura membuka bukunya, padahal dalam hatinya ia merasa geram dan ingin melawan tapi ia bahkan tidak yakin usahanya akan mengurangi olokan mereka.


Seseorang berdiri didepan kelas membawa banyak tumpukan kertas.


"Apa itu Ndra?" tanya Harun.


"Hasil ulangan Fisika" jawab Andra. Andra adalah Ketua Murid dikelas ini.


"Wow! Hayu ah bagiin.. siapa yang nilainya bagus euy!"


Beberapa orang sibuk mencari kertas ulangan mereka bahkan ada beberapa yang berjatuhan. Melihat itu, Dara beranjak dari bangkunya dan hendak mencari kertas ulangannya. Ketika ia sampai didepan, beberapa siswa kembali mengolok-olok Dara


"Bau apa euy ini? Dara! Kamu gak mandi Dar? Hahahaa"


"Mana sini semprot pake minyak wangi.."


Arga menyemprotkan cairan yang ada di botol yang ia temukan disebelah jendela kelas. Mereka tertawa sambil menyemprotkan cairan itu ke tubuh Dara. Gadis lungu itu menutup wajahnya dan menghindar.


"Arga udah! Perih!" rengek Dara.


Billy dan Devan masuk dalam suasana yang tak mengenakan. Melihat itu Billy langsung merebut botol itu dari tangan Arga.


"Mikir gak sih! Ini pembersih kaca!" Sentak Billy pada Arga.


"Ya terus kenapa? Masalahnya apa euy?! Bercanda gak boleh?" Balas Arga dan suasana pun memanas ketika Billy mendekatkan dirinya pada Arga.


Devan mencoba melerai, dengan menarik tangan Billy sedangkan Dara berlari ke bangkunya dan menangis. Billy mengangkat botol semprotan itu dan menyemprotkannya pada Arga.


"Sorry bercanda.." Billy melempar botol semprotan itu dan kembali ke bangkunya, sedangkan Arga mulai tersulut emosinya dan langsung berjalan hendak memukul Billy namun Devan berbalik dan mengenai wajahnya.


BUGHH!!


"Kesini kalo berani!"


"Woy udah woy!"


Suasana pun tidak karuan dan terjadilah perkelahian yang tidak bisa dihindarkan.


Arga, Harun, Billy, Devan dan Dara masuk ke ruangan guru. Dara menceritakan semua yang terjadi dengan suara yang gemetar karena ketakutan. Akhirnya Arga dan Harun di skors 1 hari tidak boleh masuk sekolah.


Kelima anak itu keluar dari ruang guru dengan raut wajah yang berbeda-beda.


"Gak apa-apalah Run! Skors sehari doang mah yang penting ini tangan udah nyobain nempel ke muka jelema idiot!" Ucap Arga pada Harun dan mereka pergi begitu saja.


"Gak sakit kok, itung-itung perkenalan hari pertama sekolah dapet tonjokan hahaha" balas Devan.


Dara yang berjalan dibelakang mereka terlihat menangis dalam diam karena ia merasa ini semua terjadi karena dia.


KRING.. KRING.. KRING...


Tak terasa bel pulang pun berbunyi, semua siswa keluar kelas dan mempersiapkan kerja kelompok mereka. Terkecuali Dara dan Devan.


"Aku harus piket dulu hari ini, gak apa-apa kan nungguin sebentar?" tanya Dara pada Devan yang terlihat sedang menunggunya.


"Oh hari ini piket? Ya udah, ayok aku bantuin."


"Eh, gak usah gak apa-apa! Kamu duduk ajaa"


"Yeh apaansi ayo udah biar cepet beres"


Akhirnya mereka berdua piket dimenit terakhir sebelum kerja kelompok. Suasana tampak canggung karena Dara tidak terbiasa mengobrol dengan seorang teman.


"Devan.. "


"Hmm?"


"Kayanya gara-gara satu kelompok sama aku, kamu jadi di olok-olok deh.. maaf ya" ucap Dara yang tidak terduga tiba-tiba meminta maaf.


"Apasih ngga kok, merekanya aja yang aneh.. santai ajaa"


"Orang kaya kita emang dipandang sebelah mata, kayanya kamu harus kuat mental." Dara merapikan setiap meja.


"Iyaa, aku harus belajar dari kamu."


"Kita mau kerja kelompok dimana? Dirumah aku space nya kecil.. takut kamu gak nyaman"


"Rumah aku juga kecil, berantakan lagi. Di rumah kamu aja gak apa-apa.." usul Devan.


"Ya udah, ayo aja."


Mereka telah selesai piket kelas, saatnya kerja kelompok. Di sepanjang perjalanan menuju rumah Dara, Devan begitu heran karena ia harus menaiki bus sekolah gratis dan berjalan kaki 100 meter.


"Kamu kenapa sih gak ngelawan aja kalo lagi di olok-olok gitu?" tanya Devan sambil berjalan kaki.


"Harusnya gitu ya? Gak tau.. gak bisa aja."


"Lain kali lawan aja coba, mereka gak bakal sadar kalo kamu nya diem aja"


"Mereka kaya gitu karena aku miskin Dev! satu-satunya cara biar mereka gak kaya gitu lagi ya aku harus jadi orang kaya! Kamu juga.. besok setrika gih seragamnya" ucap Dara mengundang tawa dari Devan.


"Iya nih dibilang rumah aku berantakan, jadi space buat nyetrika ajaa gak ada."


"Kamu tinggal sama siapa aja?"


"Sama.. om. Orang tua aku kerja di jakarta. Serabutan. Jadi ya pas-pasan juga" jawab Devan.


"Iya sama. Sedih ya jadi kita."


"Minta nomor handphone dong Dar, tapi sekarang aku gak bawa hp." ucap Devan.


"Sama, aku gak punya hape jadi kalo ada informasi kelas masuk ke hp Abah. Hahaha.."


Devan terdiam melihat Dara tertawa dan perlahan-lahan tawanya berubah jadi tangis yang tertahan.


"Suatu saat lo pasti merdeka kok Dar! Gue bener-bener ngerasain apa yang lo rasain, karena memang dunia sekejam itu.. lo harus kuat Dara, gua yang bakal ngambil sebagian beban yang ada di pundak lo. Tunggu ya Dara.. Sabar.." batin Devan.


Dara mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Aduh kok jadi nangis sih, maaf ya Devan!"


"Nangis aja.. gak apa-apa!"


Sesampainya dirumah Dara, Devan memperhatikan sekeliling rumah yang terbuat dari bahan kayu meskipun memiliki halaman yang cukup luas dan pagar yang tertutup.


"Ini rumah aku, kecil kan." ucap Dara.


"Tapi halamannya luas."


"Ayo masuk Dev!"


Kerja kelompok mereka untuk menyelesaikan proyek soal tidak memakan waktu lama, sekitar 30 menit mereka telah selesai karena tak disangka Devan cukup mahir dalam hal matematika.


"Wahh kamu pinter banget, ajarin dong!" ucap Dara.


"Aku bikin soal yang gampang, besok kamu kerjain ya nanti aku yang nilai" balas Devan.


"Okee boleh!"


"Nanti kalau bener semua, aku kasih hadiah."


"Apatuh?"


"Kamu maunya apa?"


"Hmm.. yakin gak kamu bisa ngewujudin maunya aku?" tanya Dara.


"Hemmm tergantung. apa dulu nih"


"Aku maunya.. jadi orang kaya biar gak di bully lagi."


Mereka berdua terdiam dan Devan pun tertawa terbahak-bahak.


"Iiih serius tau!" ledek Dara.


"Ya aku juga mau lah jadi orang kaya!"


"Sebenarnya aku harus sabar setahun lagi kelulusan jadi gak akan ketemu mereka lagi." ucap Dara membuat Devan mengangguk.


Selesai kerja kelompok, Devan pamit pulang dan buru-buru menelpon Bimo yang sedari tadi hpnya ia sembunyikan.


****Via call***


Bimo : Hallo? Jemput dimana kunyuk? gue dari tadi di depan sekolah lo ya! Hape kenapa dimatiin sih, banyak gaya dah ah


Devan : Serius? Haha sorry sorry.. hmm jemput gue di jalan kertabumi buruan maps.


Bimo : Iyaa tungguin.


Devan mematikan panggilannya, ia menunggu Bimo dipinggir jalan tanpa disadari teman-teman kelas yang memakai mobil memergoki Devan dan memotretnya sedang berdiri dipinggir jalan.


30 menit kemudian Bimo datang dengan mobil mewahnya.


"Lama sih lu" Ketus Devan sambil masuk ke dalam mobil.


"Salah sendiri hape dimatiin segala. kemana nih kita?" tanya Bimo.


"Ke toko elektronik buruan gua mau beli hape." jawab Devan.


"Apaan si? hape lu kurang canggih apa coy."


"Bukan buat gua! hayu buruan gua udah gak sabar ini mau milih"


"Dih gak waras.. "


Malam hari pun tiba, Bimo dan Devan sibuk sembunyi-sembunyi ke rumah Dara. Devan memakai jaket warna hitam dan masker agar tak ketauan sedangkan Bimo di dandani seperti seorang pengantat paket.


"Gimana bilangnya kunyuk! Gua belom pernah nganter paket.." bisik Bimo.


"Ya udah lu tinggal taro ajaa paketnya di teras terua lu teriak PAKET! gitu.. langsung cabut dah!"


"Serius lu? kalo ditanya ini dari siapa gimana? " tanya Bimo dengan wajah meragukan.


"Bilang ajaa undian dari produk mie instan! Ayo buruan.. "


Bimo pun mulai masuk ke halaman rumah Dara sambil membawa paket berisi handphone senilai 5 juta yang dibeli oleh Devan.


"PERMISI.. PAKET!!" Bimo berteriak dan munculah seorang anak laki-laki.


"Cari siapa ya?"


"Paket untuk Dara Seralia dari undian mie instan. Silahkan di tanda tangan" ucap Bimo bak seorang pengantar paket profesional.


"Hah? I.iya.. makasih mang"


Bimo tersenyum dan lalu melangkahkan kaki untuk pergi kembali ke mobil.


"Gila lu gila!! Degdegan guaa... " keluh Bimo sambil menghapus keringatnya.


"Hahaha kocak! Thankyou bro"


"Siapa sih Dara? Segitunya lu sampe ngasih barang mahal." tanya Bimo..


"Temen pertama gua."


To be continued.....


Thank you for reading this amateur novel.


Thank you to Main Cast and Support Cast.


Main Cast :



Dara Seralia


Devan Brady


Bimo


Abah


Karel



Support Cast :



Pak Reno


Billy


Arga


Harun


Laura


Acha


Andra


Dll.



Cr cover :


@Pinterest


@Canva


@Picsart