
"Karena dikelas gak ada yang namanya teman."
"Kamu percaya gak? Billy mau berteman sama kamu karena kasian bukan karena tulus.. Pasti gak percaya kan.. "
"Devan sebenarnya bukan orang miskin... Dia orang kaya yang bahkan keluarganya adalah pemegang perusahaan terbesar ke 8 se Indonesia."
Kalimat itu terus terngiang dalam pikiran Dara yang saat ini sedang berjalan pincang menuju kelas, ia sudah ganti baju dan ekspresinya kebingungan atas perkataan Nadira, bahkan ia tak pernah mengobrol sekalipun dengan wakil KM itu tapi perkataannya begitu meyakinkan.
Dara duduk dibangkunya sambil terus memikirkan perkataan Nadira, diujung pintu kelas terlihat Devan dan Billy telah selesai ganti baju dan berjalan menuju bangkunya masing-masing. Dara mengerutkan keningnya dan berhenti menatap 2 siswa itu, ia mengeluarkan buku pelajaran yang akan segera dimulai.
"Eh Dara, kaki kamu gimana? udah enakan?" Tanya Devan sambil merapikan pakaian olahraganya dan memasukan ke tasnya.
"Udah.." Sahut Dara tanpa menoleh ke arah Devan.
"Kamu kayanya terlalu bersemangat ya olahraganya.." Devan menggerakan tubuhnya jadi menghadap ke samping tepat ke arah Dara.
"Ngga juga.." Dara masih sibuk dengan bukunya, entah apa yang ia baca. Yang jelas saat itu Devan sama sekali tak digubrisnya.
"Oh ya nanti-- "
"Makasih udah nganter ke UKS" Dara memotong ucapan Devan yang belum selesai itu. Devan mengerutkan keningnya terheran-heran.
"Kamu kenapa Dar? Ada masalah?" Lagi-lagi pertanyaan Devan membuat Dara tidak menoleh ke arahnya.
"Ngga ada"
Devan menyerah dengan sikap Dara dan ia pun tersenyum kecil kembali pada sikap duduknya.
Guru matematika masuk membawa kertas ujian yang akan dibagikan nilainya.
"Anak-anak ini hasil ujian tengah semester kalian dan ibu juga membawa hasil nilai kerja kelompok yang waktu itu sempat dibagi ya.."
"Yang dipanggil namanya, boleh maju ke depan karena dia memperoleh 3 nilai tertinggi dimata pelajaran matematika." Guru itu membongkar kertas ujiannya.
"Nadira... selamat ya nilainya 87.6"
Nadira berjalan mengambil kertas ulangannya diiringi tepuk tangan dari siswa lain.
"Yang kedua, Andra.. nilainya 90.7 selamat ya.. "
Begitu Andra maju, semua terheran karena biasanya KM kelas itu menempati urutan pertama.
"Urutan pertama jatuh pada... Devan dengan nilai 95.3 nyaris sempurna selamat ya.. "
Devan tersenyum dan berjalan mengambil kertas ujiannya, hanya beberapa yang tepuk tangan. Sisanya? Menatap Devan dengan sinis dan menaruh banyak kecurigaan.
"Selesai.. sisanya bisa diambil ketika ibu menyebutkan nama tapi ini secara acak ya.."
Pembagian nilai ujian tengah semester dan mata pelajaran matematika telah selesai, selanjutnya ganti mata pelajaran yang dipandu oleh Pak Reno yaitu pelajaran geografi.
"Anak-anak gimana kabarnya setelah Ujian tengah semester? pasti capek yaa sebelum nanti ujian akhir sekolah akan ada program terakhir dari mata pelajaran gerografi.. ayo tebak apa?" tanya Pak Reno dengan begitu semangat.
"Geografi apa ya? ke pantai pak?"
"Asyiikkk"
"Eh bukan..bukan! Nanti sekitar 2 minggu lagi kita akan ke puncak bogor, kita akan mengadakan kemah 2 hari 1 malam.. akan dibagi kelomopok juga karena harus mengerjakan beberapa tugas.."
"YEAYY KEMPING! "
"YAHH KOK GUNUNG SIH PAK... "
"ASYIK BOGOR!"
"Sssttt! agar lebih nyaman nanti pembagian kelompoknya sendiri-sendiri saja ya? Bapak tunggu besok sudah ada kelompoknya, Andra bapak minta tolong boleh ya besok di data siapa saja kelompoknya karena dikelas ada 25 orang dibagi2 saja ya? ada yang 12 dan 13 orang.. " jelas pak Reno.
Dara yang mendengar akan ada program kemah merasa lelah dan tertekan karena harus berkelompok. Ia bahkan berencana untuk memisahkan diri agar tidak berkelompok.
***KRING..KRING.. ***
Bel pulang berbunyi, semua orang bersiap untuk pulang dan sibuk menentukan kelompok mereka.
"Devan sama Dara masuk kelompok aku ya!" ucap Billy pada Andra dan ia pun membereskan tasnya .
Dara dengan sengaja pergi duluan dan meninggalkan kelas paling pertama menghindari diskusi yang bahkan ia pun tidak dilirik kecuali oleh Billy yang juga mengikutinya dari belakang. Devan? Laki-laki itu tentu saja sudah ditentukan oleh Billy karena teman dekatnya dan dinilai memiliki fisik yang baik karena postur tubuhnya yang ideal sehingga sebuah mustahil jika Devan tidak masuk kelompok dengan Billy.
Dara berjalan dikoridor menuju gerbang sekolah. Wajahnya pucat karena belum makan, langkahnya terpapah pincang.
"Aku anter pulang ya Dar.." Billy menyamakan langkahnya dengan Dara. Menyadari itu, Dara segera menolaknya dan menghindari Billy.
"Loh kenapa kan tadi kita berangkat bareng, pulangnya juga harus bareng dong?" tanya lagi Billy.
"Ngga usah.. gak apa-apa, makasih ya"
"Kaki kamu juga sakit kan Dar?" Billy tak hentinya berusaha agar Dara mau pulang bersamanya.
"Maaf, aku lagi ingin sendiri boleh ya?" Dara tersenyum tipis dan kembali berjalan tanpa menunggu jawaban Billy.
Melihat Billy ditolak Dara untuk pulang bersama, Devan menghampiri Billy.
"Dari tadi Dara kaya gitu, moodnya kayanya lagi gak bagus deh.. " Ucap Devan pada Billy, mereka berdua hanya bisa menatap punggung Dara dari kejauhan. Entah apa yang terjadi, mereka berdua masih dilanda kebingungan.
"**Kamu percaya gak? Billy mau berteman sama kamu karena kasian bukan karena tulus.. Pasti gak percaya kan.. "
"Devan sebenarnya bukan orang miskin... Dia orang kaya yang bahkan keluarganya adalah pemegang perusahaan terbesar ke 8 se Indonesia."
Kalimat itu masih berputar dipikiran Dara, entah apa yang harus ia lakukan agar kalimat itu menghilang dikepalanya.
17.30 WIB
Dara pulang agak telat karena kakinya membuat ia terhambat. Sebelum ia masuk rumah, Dara terdiam menatap rumahnya yang tiba-tiba sedang di renovasi.
"Sebelah kiri pak.. ya disitu!" Terdengarlah suara seorang gadis dengan sangat lantang dan cempreng.
"Mesya?"
Gadis itu menoleh ke sumber suara yang memanggilnya.
"Heh, Darong sudah balik rupanya?" tanyanya dengan nada khas timur.
"Ini mau diapain Men?" Dara menatap sekeliling rumahnya. 'Men' dan 'Darong' adalah panggilan kecil mereka berdua.
"Haduh.. rumah kau ini sudah tak layak huni, ku panggil saja bapake. Kau tau dia bilang apa pertama kali melihat rumahmu ini? "
"Apa?" Dara menatap Mesya dengan serius.
"ALAMAK KECIL KALI RUMAH INI, MACAM MANA PULA KAU BISA TINGGAL MESYA? begitu kata bapake, jadi saat Karel datang rumah ini dibukanya, saat itulah pasukan renovasi datang" jelas Mesya yang memeragakan ucapan orangtuanya dengan gagah.
"Mirip."
"Eh kami meminta maaf yang sebesar-besarnya bapake dan mamake ikut berduka cita, kami semua itu tidak bisa datang dikarenakan ada urusan mendadak." ucap Mesya.
"Gapapa Men, makasih ya tapi ini biayanya pasti besar dong Men?"
"Tak usah kau pikirkan itu.. Sudahlah langit sudah gelap, ganti baju dulu sana.." suruh Mesya dan dibalas anggukan oleh Dara.
Rumah kayu milik Dara telah di renovasi, tampak jauh lebih bagus dari sebelumnya.
Semalam suntuk Dara, Mesya dan Karel membereskan rumah kayu yang baru di renovasi itu.
"Sudah selesaikah?" tanya Mesya pada Karel dan Dara yang ternganga melihat takjubnya rumah kayu milik mereka.
Mereka berdua mengangguk tersenyum senang.
"Tempat tidur di atas, dapur dibawah, tempat makan minum segala macam dibawah pun.. Apalagi yang kurang? Ah besok sajalah ku pikirkan.." gumam Mesya yang lalu pergi ke kamar mandi.
"Kak.." Panggil Karel.
"Hmm? "
"Tas, Sepatu, Buku punya Karel dibeliin semua sama si Men. Padahal belum tahun ajaran baru. Kak Dara juga dapet.." Jelas Karel, membuat kakaknya tekejut bukan kepalang.
Sesudah Mesya dari kamar mandi Dara langsung menyeret temannya itu untuk duduk.
"Aduh.. apa pula kau?"
"Men, kan kita udah berteman dari SD nih. Om Panca sama Tante Dien gak ngerasa ini berlebihan sampe dibeliin buku tas sepatu baru?" tanya Dara sambil menunjukan hal-hal baru dirumahnya.
"Justru itu bodoh! Hahaha kau pula pertanyaannya tidak masuk akal, Mamake sama bapake sudah tau keadaan rumah kau dari dulu kita SD. Sudah sering ditawari renovasi tapi selalu ditolaknya oleh Abah. Buku-buku peralatan sekolah itu dari Mamake katanya stock untuk tahun ajaran baru." jawab Mesya dengan penjelasannya.
Keluarga Mesya memang tergolong orang kalangan atas bagaimana tidak, ibunya mempunyai bisnis perhiasan dan bapaknya mempunyai kebun sawit di Kalimantan.
"Tapi.. sebentar lagi aku kelulusan Men, udah gak butuh lagi buku-buku, tas, sepatu"
"Ada, berharap pada beasiswa." Dara berjalan menuju lemari tv dan melihat sebuah buku yang cukup usang, ia pun mengambilnya.
"Sudah ganti rupanya? Biasanya kalimat itu 'berharap pada keajaiban' sekarang ganti kah."
Dara kembali duduk dan perlaham membuka buku yang ia ambil dari lemari tv yang ternyata itu adalah buku Diary milik Abah.
"Buku siapa itu?" tanya Mesya yang menggeser pantatnya mendekat pada Dara.
"Punya Abah"
"Dari mana kau tau?" tanya lagi Mesya yang lalu ia terdiam menatap Dara yang berkaca-kaca membaca halaman pertama.
"Oke, baik, tidak akan aku ganggu.." Mesya pergi naik ke atas untuk tidur meninggalkan Dara dan buku Diary mendiang Abahnya.
*** 20 Januari 1996 ***
**Anak pertamaku lahir ke bumi, cantik, kulitnya putih, bibirnya lucu.
Sebuah anugerah yang tidak akan pernah aku sia-sia kan.
Malam ini indah, mungkinkah yang terindah? Karena aku mendapat hadiah yang ku dambakan.
'Dara Seralia' Nama yang begitu cantik seperti anaknya, kelak ia akan tumbuh dewasa dengan sejuta pesona.
***~****
Dara menghapus air matanya sambil membaca-baca hingga tiba di halaman pertengahan.
***~***~***
**Hari ini aku ditinggalkan oleh Bidadariku ke surga, istriku pergi dengan tenang meninggalkanku dengan 2 anak kami yang tersayang.
Kelak ketika aku menyusul Bidadariku nanti, anak-anakku harus tau bahwa aku mencintai mereka.
Mereka harus tumbuh mandiri, kuat, dan mempunyai pemikiran dewasa yang konsisten.
Mereka tidak boleh percaya pada siapapun sekalipun pada diri mereka sendiri.
Jahatnya dunia harus dihadapi tanpa bantuan orang lain. Gelapnya langit harus diterangi oleh cahaya ciptaan sendiri.
Tidak boleh ada di keramaian, sebab di keramaian suatu saat akan merasa kesepian.
Tidak boleh merasa mempunyai segalanya, sebab kita akan kehilangan semuanya.
Tidak boleh bergantung pada siapa-siapa, sebab kita akan mati sendirian.
~***~
Dara menutup buku Diary itu dan tak melanjutkan membaca karena tak kuat menahan tangis, keheningan suasana hancur oleh suara getaran handphone Dara yang berbunyi, terlihat panggilan masuk yang entah dari siapa nomornya pun tak ia kenali.
"Hallo?" Jawab Dara.
"Ini saya yang bisikin kamu gak usah deketin Devan waktu dilapangan tadi. Saya liat kamu satu kelompok sama dia, saya gak mau tau apapun alasannya kamu harus pindah kelompok"
"Hallo ini siapa ya? "
Tut... tut... tut..
Telpon terputus, Dara mengerutkan keningnya karena selama ini yang hanya tau nomor telponnya adalah Devan, ia sudah yakin bahwa tidak ada yang tahu kecuali laki-laki itu.
"Ah udahlah.. gak tau" Dara berjalan menuju lantai atas untuk tidur.
Sebelum menutup matanya, ia mengingat kembali tulisan diary mendiang Abah.
****Mereka tidak boleh percaya pada siapapun sekalipun pada diri mereka sendiri.
Jahatnya dunia harus dihadapi tanpa bantuan orang lain. Gelapnya langit harus diterangi oleh cahaya ciptaan sendiri.
Tidak boleh ada di keramaian, sebab di keramaian suatu saat akan merasa kesepian.
Tidak boleh merasa mempunyai segalanya, sebab kita akan kehilangan semuanya.
Tidak boleh bergantung pada siapa-siapa, sebab kita akan mati sendirian.**
Keesokan harinya..
Langit tampak mendung, Mesya menunggu jemputan sekolahnya sedangkan Karel dan Dara berjalan kaki menuju halte bis sekolah.
"Rel! Bawa payung kan?" tanya Dara.
"Bawa, kak Dara bawa gak?"
"Bawa tapi agak rusak, semoga nanti gak eror deh payungnya haha.. " Dara tertawa sambil terus menyamakan langkahnya dengan adik laki-lakinya itu.
"Rel.. " Panggil Dara.
"Hmm?"
"Jangan pernah percaya sama siapapun sekalipun sama diri sendiri, jangan pernah bergantung pada siapapun.." ucapan Dara mengundang tawa adiknya.
"Apasih.. masih pagi juga.. "
"Ih seriuss.. "
Dara dan adiknya berpisah, sesampainya di sekolah hujan tiba-tiba turun begitu deras sedangkan Dara harus berlari sekitar 50 meter karena bis sekolah berhentinya sedikit melewati sekolah Dara.
Gadis itu sibuk di membuka payungnya yang rusak, seratus kalipun ia mencoba membetulkan payungnya sepertinya tidak akan terbuka karena besi penyangga terlihat rusak.
"Ah.. sial!"
Dara mengangkat tasnya ke atas kepalanya namun sebelum itu terjadi, seseorang terlihat memayunginya. Mereka saling tatap dibawah payung berwarna abu-abu muda.
"Itungan ketiga kita lari ya.. 5 menit lagi masuk soalnya" ucap orang itu membuat Dara menatapnya tajam.
"Kita masing-masing aja ya.. Devan." Dara melangkahkan kakinya dan berlari meninggalkan Devan yang terlihat kebingungan sampai ekspresi wajahnya sedikit kecewa. Meskipun kakinya masih sakit, Dara berusaha sekeras mungkin untuk berlari.
FLASH BACK
*****
*Seketika Devan sampai di apartemennya, ia membanting tubuhnya ke kasur.
"Kenapa lagi sih van? galau lagi galau lagi.. hadehh anak bujang.." ucap Bimo membuat Devan malah menutup matanya.
"Hari ini Dara cuek banget sama gua bim, gua takut punya salah sama dia. Padahal gua udah anterin dia ke UKS," Devan meracau dengan nada lemah.
"Inget-inget, kali ajaa lo ada salah gitu"
"Apa jangan-jangan dia marah karena gak ada temen pas istirahat? Soalnya pas jam istirahat itu gua mau nyamperin dia ke UKS tapi tiba-tiba Laura nyamperin gua, basa basi minta nomor telefon dan bahkan makanan yang gua beli buat Dara dibawa sama dia.. " jelas Devan.
"Nah iyaa gara-gara itu kali, lo gak nemenin dia.. " Bimo duduk dikasur Devan sambil makan sereal.
"Dan kebetulannya, dia kan cuma punya temen gua sama Billy nih. si Billy juga lagi dipanggil ke ruang konseling. Jadi Dara bener-bener istirahat sendirian di UKS, dia juga jadi jutek sama Billy" lanjut lagi Devan.
"Masa sih? Lebay amat tuh cewe kalo beneran gara-gara istirahat sendirian" ketus Bimo.
"Kalau sampai besok masih marah gimana Bim?" tanya Devan sambil berusaha membangkitkan tubuhnya dan posisinya jadi duduk.
"Ya lo tanya lah.. Gua sih khawatirnya dia kaya gitu karena tau lo orang kaya.. "
"BIM! AHHH GAK KEPIKIRAN KESANAA TAU DARIMANA COBA?" teriak Devan dengan wajahnya yang panik.
"Nama lo kan ada di Go*gle, daftar nama pemegang saham perusahaan.." Bimo kembali ke dapur.
"AHH BENER JUGAAAAAAA!! AH GIMANA DONG BIM... "
"Gini aja, kalau besok lo deketin Dara dan dia masih marah fix berarti dia tau sesuatu tentang lo.. kalau gak marah ya berarti cuman gara-gara istirahat gak ada temennya.. " Bimo mulai menyalakan pes.
"Kalau dia tau gua orang kaya, gua bakal jelasin ke dia. kenapa gua kaya gini. Tapi Billy salah apa ya.. " gumam Devan*.
FLASHBACK END.
****~~****
Gadis itu sampai di sekolah dengan keadaan basah kuyup, perhatian penuh para siswa tetuju padanya. Banyak yang menertawakan, Dara memeluk tasnya karena ia takut seragamnya menjiplak. Ia berjalan perlahan dikoridor kelas sampai ia terkejut karena sebuah jaket menggontai dipunggungnya.
Seseorang telah melewatinya dan itu adalah pemilik jaket yang menggontai dipunggung Dara, Seorang laki-laki dengan rambut yang sedikit basah dan menggendong tasnya dibahu sebelah kanan. Ia menaruh jaketnya yang berwarna hitam dipunggung Dara tanpa mengatakan apapun dan lalu pergi begitu saja.
To be continued....