Unpredictable Life

Unpredictable Life
Friendship



"PERMISI.. PAKET!!"


Malam itu Dara sedang membereskan tempat tidurnya, Abah seperti biasa sedang menghitung pembukuan. Karel yang sedari tadi baca buku terganggu oleh teriakan tukang paket.


"Hah? Paket? Malem-malem gini?" tanya Karel pada kakaknya dan Abah.


"Coba liat Rel!" ucap Dara.


Karel berjalan menuju pintu dan berhasil menemui tukang paket.


"I.iya.. makasih mang!"


Karel masuk rumah dan segera memberitahu kakaknya bahwa ada paket untuk dirinya.


"Untuk Dara Seralia, nih buka!" suruh Karel sambil memberikan paketan itu.


"Dari siapa?"


"Undian mie instan katanya.. "


Dara menatap Abah mencari kode apakah ini boleh dibuka atau tidak.


"Cik buka undian apa cenah.." ucap Abah.


Dara membukanya dengan perasaan sedikit ragu, dan ketika paket itu dibuka.


"WAHHH HANDPHONE BAH!!" Teriak Karel.


"Ya ampun... gimana atuh.. ini serius undian dari mie instan? Dara gak tau harus seneng atau bingung."


"Alhamdulillah.. bersyukur Dara, itu rejeki kamu.."


"Wahh mahal ini mah euy, canggih pisan.." ketus Karel.


Dara tersenyum dan hampir menangis karena bahagia. Tak henti-hentinya ia mengucap rasa syukur.


Keesokan harinya..


Dara tengah bersiap berangkat sekolah, sebelum berangkat ia menyuruh Karel untuk memotret dirinya menggunakan handphone baru.


"Udah belum?" tanya Dara.


"Udah.. udah sok.. 1.....2.....3"


CKREKK.. **


"Wihh bagus euy jadi tambah putih!" Ucap Karel.


"Mana liat... "



"Wawww jernih bangettt Rel!"


Dara pun tertawa dan menggoda adiknya, ia pun berangkat bersama menggunakan bis sekolah gratis.


Sesampainya di sekolah Dara terlihat lebih riang dari biasanya, ia terus tersenyum sambil menyapa semua guru yang berdiri di depan kelas.


"Dara, tumben atributnya lengkap gak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Bu Guru.


"Gak ada bu, saya lagi semangat soalnya." jawab Dara sambil tersenyum lebar.


"Ya udah sok sana masuk.."


Dara masuk ke kelas dan suasana sudah mulai ramai, ia berjalan dan duduk dibangkunya. Dara menatap bangku Devan yang masih kosong, ia sudah tak sabar ingin segera memberitahu kabar bahwa ia mendapat undian handphone canggih.


Sebelum pelajaran dimulai, Dara memutuskan untuk ke toilet. Sekembalinya ia dari toilet ternyata Devan menunggunya dibalik toilet wanita dan menganggetkan Dara ketika ia lewat.


"DORRRR!!!"


"Haaaa... Issshh Devann!!"


"Kaget gak?" tanya Devan sambil tersenyum.


"Sedikit. Ehh kamu harus tau! Aku sekarang udah punya hape sendirii bagus lagi pasti kamu gak akan percaya aku dapet darimana." Dara mengeluarkan Handphonenya.


"Oh ya? Dari mana emang?"


"Dari undian mie instan coba.. agak gak percaya tapi coba deh aku tes kamera, kamu diem disitu aku fotoin." Dara bergegas mengambil posisi untuk memotret Devan.


"Siap ya... 1...2...3"



Dara terdiam beberapa detik memandangi hasil foto dari kamera handphonenya.


"Ya ampun... ternyata kalo diliat Devan ganteng juga, padahal dia lagi gak pose ngapa-ngapain" batin Dara.


"Udah belum? kok lama, mana liat" ucap Devan.


Dara segera memberikan handphonenya untuk dilihat oleh Devan. Laki-laki itu tertawa melihat wajahnya sendiri.


"Hahaha paling gak bisa kalo di foto harus senyum" ucap Devan.


"Iyaa.. Kadang gak pede ya?"


"Bagus banget hape nya Dar, wey sekarang udah bisa tukeran nomor hape dong." ucap Devan.


"Bisa dong! Tulis aja nomor kamu disitu." balas Dara sambil mengajak Devan masuk ke kelas.


KRING..KRING...


Bel masuk berbunyi, semua siswa masuk kelas dan begitu guru masuk, suasana menjadi hening.


"Selamat pagi anak-anak.. untuk tugas kelompoknya sudah dikerjakan ya? Silahkan dikumpulkan ke depan" ucap Bu guru dan akhirnya Dara maju untuk menyerahkan tugasnya.


"Dara, tunggu sebentar... " panggil bu Guru dan Dara pun berbalik.


"Iya bu.. "


"Kalau bisa besok sepatunya pakai yang lebih hitam ya" Ucapan bu Guru mengundang konsentrasi siswa untuk melihat sepatu Dara.


"Iya bu, ini asalnya warna hitam tapi udah pudar" balas Dara.


"Bawahnya juga pasti bolong bu... pffffttt.. " ketus salah seorang siswa.


"Sssttt.. gak boleh gitu. Ya udah, silahkan kembali ke bangku Dara."


Dara berjalan menuju bangkunya diiringi oleh tawaan siswa yang menertawakannya, meskipun Arga dan Harun hari ini tidak masuk, tetap saja yang lainnya mengolok-olok dirinya.


Ketika gadis itu duduk dibangkunya, Billy sedikit melirik sepatu Dara.


"Anak-anak... sedikit informasi, untuk yang benar-benar mau melanjutkan kuliah dalam negeri maupun luar negeri dimohon untuk mengisi formulir yang disediakan di ruang konseling. Untuk yang masih bingung mau ambil jurusan apa, bisa hubungi Bu Ana diruang konseling setiap jam istirahat ya.. " ucap Bu Guru.


Semua tiba-tiba ramai mengobrol rencana kelanjutan studi mereka meskipun 1 tahun lagi kelulusan, mereka tetap mempersiapkan dari jauh-jauh hari.


Tak terasa bel istirahat pun berbunyi. Ketika guru sudah pergi, tiba-tiba Acha maju ke depan.


"GUYS! MINTA WAKTUNYA BENTAARR AJA... "


"2 hari lagi Acha ulang tahun yang ke 17 yeayy! di rayain di rumah Acha di perumahan gading regency hari sabtu malam. Dress code nyaa gaun yaah tapi sopan! informasi lengkapnyaa ada di grup yah, ekhemm.. anak baru kalo mau dateng juga boleh.. " Ucap Acha yang berhasil membuat ruangan kelas bergemuruh.


Sebagian siswa keluar untuk makan siang, sebagian lagi ke ruang konseling.


Sebelum istirahat, Dara membereskan buku-bukunya di kelas hanya tinggal beberapa orang.


"Van! Makan apa nih.." tanya Billy dibangku Devan.


"Belum kepikiran, apa ya... "


Tiba-tiba saja Acha dan teman-temannya menghampiri bangku Dara.


"Dara. Kayanya aku gak akan ngundang kamu deh, tapi kamu gak usah mikir macem-macem ini aku mikir untuk kebaikan kamu kok" ucap Acha.


Dara menatap satu persatu-satu temannya yang mengerubungi bangkunya.


"Iyaa Acha niatnya baik, takutnya kalo kamu dateng pertama pakaian kamu pasti beda sama yang lain, yang dimaksud gaun itu pakaian pesta gitu loh Dar, kamu tau kan maksudnya? Kedua, nanti kalo kamu dateng disana kamu mau gabung sama siapa? Ketiga.. Acha gak mau ngerepotin kamu buat beli kado mahal." Jelas Laura.


Dara terlihat memerah dan matanya berkaca-kaca.


"Kelewatan banget sih kalian!" ucap Billy ikut nimbrung digerombolan cewek-cewek hits itu.


"Iya.. aku gak akan dateng kalo gak diundang" ucap Dara dengan nada yang lemah.


"Billy... ini tuh untuk kebaikan Dara, lagian nanti dia malah tertekan disana." ucap Teman Acha yang lain.


"Semua orang boleh datang. Tapi gak semuanya mau datang." Jawab Devan yang mengundang tatapan terkejut dari Acha.


"Devan boleh dateng kok" ucap Acha.


"Tapi saya gak tertarik buat dateng."


"Iyaa semua orang boleh datang. Kenapa Dara gak boleh?" tanya Billy.


"Ya ampun Billy telinganya dimana sih? Gak denger ya? Dara aja ngerti.. yuk ah! malesin debat sama Billy.." ucap Laura.


Acha dan kawan-kawan meninggalkan kelas dan tinggalah 3 orang dikelas. Devan, Billy dan Dara.


Dara terlihat menyembunyikan air matanya dan seketika ia berdiri membelakangi Billy dan Devan.


"Dara.. gak apa-apa kan?" tanya Devan yang tidak berani menghampiri Dara.


"Mau istirahat bareng gak?" Billy mencoba berkomunikasi dengan Dara.


"Gak apa-apa.. kalian duluan ajaa, aku mau sendiri" jawab Dara dengan suaranya yang lirih.


Mendengar itu Billy dan Devan saling tatap dan akhirnya meninggalkan Dara sendirian di kelas.


Dara menangis dalam diam, ia pun mengambil botol minum dari tasnya dan pergi ke perpustakaan sendirian.


Disana, diruangan yang penuh rak buku dan hanya Dara ditemani oleh beberapa buku yang sebagian terlihat usang karena jarang didatangi siswa.


Diselimuti kesedihan dan penghinaan, hari ini Dara menangis sejadinya. Ia bahkan berpikir untuk pindah sekolah tapi ia juga memikirkan biaya untuk pindah ke sekolah baru.


"Gak boleh nangis... harus kuat! Pasti bisa kok setahun lagi Dara..." batin Dara.


Tok... tok... tok...


"Bu Citra.. " Dara mencoba menghapus air matanya dan bertingkah seolah tak ada apa-apa.


"Ibu cari kamu kemana-mana ternyata disini rupanya, Dara kenapa nangis?" Bu Citra duduk berhadapan dengan gadis lugu itu.


"Gak apa-apa bu.. "


"Gak apa-apa tapi air matanya keluar lagi. Maaf ya Dara, tadi ibu refleks ngingetin kamu supaya ganti sepatu dan ibu gak nyangka anak-anak bakal ngetawain kamu. Jadi sebagai permohonan maaf, ini ibu belikan kamu sepatu baru. Ukurannya kayanya cukup di kamu, jangan mikirin lagi yang tadi yah.." Ucap Bu Citra membuat Dara menangis lagi.


"Dara ingin pindah sekolah bu..." ucap Dara sambil menutupi wajahnya karena menangis.


"Eh.. tinggal setahun lagi Dara, malah kurang. Ibu pasti bantu kamu kalo kamu kesulitan, jangan menyerah gitu dong. Dara pasti punya mimpi kan? harus semangat buat wujudin mimpinya.."


"Iya bu... makasih banyak ya bu..." Dara mengelap air matanya dan masih sesenggukan.


"Gak apa-apa kalo Dara ngerasa gak punya teman, biarin aja mereka. Ibu juga dulu dijauhin karena ibu jelek, kamu masih mending punya paras yang cantik. Gak boleh nyerah yah! Harus semangat.. ini sepatunya besok harus dipake yah.." Jelas Bu Citra yang dibalas anggukan oleh Dara.


Ketika bel masuk berbunyi, Dara tidak langsung pergi ke kelas, ia kembali ke toilet wanita. Saat Dara berada dalam bilik toilet terdengarlah beberapa siswi masuk bergerombolan dan mengobrol dengan keras.


"Hahahaha kebayang gak sih kalo Dara dateng ke ulang tahun aku, pakaiannya compang camping.. "


"Terus bolong... hahahaha"


"Kenapa ya dia gak bisa beli barang yang jangan kan mahal deh, barang yang awet aja... tas dia kan full sama jahitan gara-gara jebol"


"Iya.. terus anaknya rese banget sih sok lugu gitu, kalo ditanya jawabnya lenye-lenye kaya raga tak bernyawa ahahahha"


"Eyeliner kamu pinjam dong.. "


"Eh udah masuk hayu buruan.. buruan!"


Mendengar itu Dara ketakutan untuk keluar bilik toilet dan menangis lagi disana. Beberapa menit kemudian ia memberanikan diri untuk kembali ke kelas dengan keadaan wajah sembab.


Tidak ada yang peduli padanya kecuali Devan yang bahkan laki-laki itu tidak berani untuk bertanya.


Hari ke hari suasana hati Dara sama aja.. hampa.


Tidak merasa mempunyai seorang teman.


Diselimuti rasa kesepian.


Tidak seorang pun mau merangkulnya.


Hingga suatu ketika, ujian tengah semester tiba. Satu-satunya orang yang selalu setia bersama Dara adalah Devan dan kini Billy terkadang ikut menemani Dara.


Ujian tengah semester akan segera dimulai, semua siswa sibuk belajar sebelum ujian dimulai.


"Pokoknya.. inget rumusnya aja sama jenis soal. Kemaren kan udah belajar, terus fokus pada soal yang kamu bisa. Jangan banyak pikiran. Kita pasti bisa. Semangat!" ucap Devan pada Dara.


"Iyaaa.. pasti bisa!"


Selesai ujian, mereka diperbolehkan untuk pulang. Dara kini pulang bersama dua orang yang sudah ia anggap sebagai teman. Mereka berjalan dikoridor sekolah menuju gerbang.


"Yah lupa... harusnya hari ini ketemu bu Ana.. kan mau konseling" ucap Billy.


"Oh iya! Kamu jadi mau kuliah dimana bil?" tanya Dara yang berjalan di tengah-tengah mereka.


"Gak tau.. Ibu nyuruh aku ke luar negeri, tapi aku mau disini aja. Di Bandung adem... Kalo kamu mau kemana Dar?"


"Gak tau, aku mau coba ikut program beasiswa, mudah-mudahan bisa. Kalo kamu Dev?" Dara dan Billy menengok ke arah Devan yang malah melamun.


"Devan! Kok gak jawab.. Mikirin apa sih?" tanya Dara sambil menyenggol lengan Devan.


"Hah.. engga.. waktu tuh cepet banget ya, aneh deh." Devan menggaruk kepalanya sedangkan Dara dan Billy saling tatap karena jawabannya tidak nyambung.


"Van, tadi Dara nanya mau kuliah kemana?" Billy mempertegas pertanyaan.


"Gak tau belum kepikiran."


Mereka bertiga pulang dengan jalan yang berbeda, Billy dijemput oleh supirnya. Dara menunggu bis sekolah di halte dan Devan ikut menemani Dara. Ia biasa akan meminta Bimo asistennya untuk menjemputnya ketika Dara sudah naik bis.


"Devan.. kamu pasti mikirin biaya ya mau masuk kuliah? Jaman sekarang mahal banget Van uang kuliah tuh, cari beasiswa ajaa kaya aku. Siapa tau kita kuliah ditempat yang sama. Iya gak?" tanya Dara yang hanya dibalas senyuman tipis oleh Devan.


"Sebenernya aku udah direncanain sama Papa untuk berangkat ke Stanford University setelah lulus nanti, tes tahapannya pun aku udah lulus 60%, yang bikin aku bingung. Aku gak mau ninggalin kamu Dar, dan gimana bilangnya kalo sebenernya aku orang kaya gak seperti yang kamu pikir. Aku takut kamu malah jadi benci sama aku Dara.." batin Devan terus bertolak belakang dengan pikirannya.


"Kayanya aku mau ke bengkel Abah, kamu pulang duluan aja!" ucap Dara.


"Aku mau ikut dong ke bengkel Abah kamu, kan belum pernah"


"Ya udah boleh deh.. tapi nanti kamu terpapar oleh kotoran debu bengkel hahahah"


"Hahaha apaan sih, orang kita diem kaya gini aja terpapar oleh polusi" Devan memperlihatkan bajunya dan Dara pun tertawa.


Tiba-tiba saja handphone Dara berbunyi tanda ada panggilan..


Drrrt... Drrrt...Drrrt...


"Abah?"


*Via telefon*


Dara : Hallo?


"Ini... Karel..." (Suara rintihan menangis)


Dara : Loh Karel kenapa nangis? Abah mana?


Karel : Bengkel abah kebakaran... dan Abah meninggal kak.


Dara : H.hah?


Dara menjatuhkan handphonenya dan seketika kala itu mobil pemadam kebakaran dan ambulance tepat melintasi didepan Dara.


"Dara kenapa?" Tanya Devan.


"H.hah... abah... " Gadis itu mulai menangis dan berlari sekuat tenaga menuju bengkel Abah.


Devan yang tidak tau apa-apa ikut mengejar Dara dan terus bertanya tanpa ada jawaban.


"Dara tunggu!" Teriak Devan.


Di depan bengkel sudah dipenuhi orang-orang yang mencoba membantu memadamkan api di bengkel itu. Disamping bengkel yang terbakar terdapat seorang anak laki-laki yang sedang menangisi sebuah kantong mayat yang akan segera diangkat ke ambulance. Melihat itu Dara berlari ke arah adiknya dan menangia sejadinya.


"ABAAAHH!!... "


suasana menjadi sangat berkabung, Devan mencoba menenangkan Dara dan Karel terlihat meraung-raung dengan masih menggunakan pakaian sekolahnya.


Dara terbangun disebuah klinik, ia mencoba memperjelas penglihatannya dan kini yang ia lihat ada Billy, Devan dan Bu Citra disampingnya, ia mencoba mengingat kembali kenapa ia disini dan yang hanya diingat adalah..


"Abah udah ngga ada.... " Dara kembali menangis dan gadis kecil itu langsung dipeluk oleh bu Citra.


"Gimana dong Van? Adiknya Dara dimana sekarang?" tanya Billy.


"Di rumahnya, ada guru-guru dari sekolahnya juga tadi gua liat ada pak Reno juga sih." jawab Devan.


Suasana berkabung datang dalam hidup Dara.


Ia tak punya lagi satu pun orang tua, ia hanya punya Karel yang sebentar lagi akan masuk SMA. Rumahnya kini ditinggali oleh dia dan adiknya, bengkelnya sudah ia putuskan untuk dijual karena tak layak lagi untuk dijalankan.


Keesokan harinya..


Prosesi pemakaman telah usai, Billy dan Devan bolos sekolah hanya untuk menghadiri pemakaman Abah. Tapi yang terlihat bukan hanya Billy dan Devan. Ada Arga juga disana, ia datang sendirian lengkap dengan seragam sekolahnya.


"Dara... aku turut berdukacita.." ucap Arga sambil menaruh seikat bunga di makam mendiang abah.


"Makasih Arga.. " Dengan wajah sembabnya, Dara merasa belum bisa menerima takdirnya.


Bu Citra merangkul Dara dan menemani Dara dari kemarin saat kejadian, karena Guru itu tahu Dara tidak mempunyai siapa-siapa lagi.


Kehidupan Dara semakin tak karuan, ia sudah 1 minggu tidak masuk sekolah dan terus memeluk foto Abah. Sedangkan Karel, selalu berusaha untuk membangkitkan kembali semangat kakaknya itu..


To be continued.....


Thank you for reading this amateur novel.


Thank you to Main Cast and Support Cast.


Main Cast :


Dara Seralia : Zhou Lu Si


Devan Brady : Wachirawit Ruangwiwat


Bimo


Abah


Karel


Support Cast :


Pak Reno


Billy


Arga


Harun


Laura


Acha


Andra


Dll.


Cr cover and pict:


@Pinterest


@Canva


@Picsart