Unpredictable Life

Unpredictable Life
Camping 1



"Hari ini langit gelap, aku tidak bisa membedakan mendung atau cerah. Sama seperti suasana hatiku saat ini, mendung karena aku merasa bersalah dengan semua sikapku pada orang-orang yang aku nilai dari pembicaraan orang lain. Cerah karena aku menemukan teman yang benar-benar tulus, hari ini dia memberikanku secarik kertas berisi kutipan puisi yang kubacakan di kelas 2 tahun lalu.. Aku bahkan tidak ingat lagi bagaimana bisa aku menulisnya. Orang itu berhasil merubah jalan pikirku, aku jadi lebih berhati-hati sekarang, manusia mungkin memang tak luput dari sebuah kesalahan. Siapa aku sampai tidak bisa memaafkan? Hari-hari yang kulalui memang berat dan menyakitkan karena aku terlalu lama membiarkan duri dihatiku bermukim terlalu lama sampai menggoreskan luka yang luar biasa. Hari ini aku memutuskan mencabut duri itu dan memulai dengan hal baru. Menjadi orang yang berpositif dan tidak menilai orang dari satu sisi saja, memaafkan semua kesalahan orang lain yang bahkan jangan pernah dibedakan mana yang sengaja atau tidak sengaja semua itu tetaplah kesalahan. Namun tidak ada yang salah dari sekedar memaafkan"


Waktu berlalu begitu cepat, suara burung terdengar saling bersautan di pagi buta, matahari pun belum memberanikan diri untuk muncul karena sekarang pukul 05.00 pagi, Dara berjalan lunglai menuju kamar mandi, sebelum itu ia mengecek handphone nya yang jarang sekali ia pakai.


"Hah? Nomor siapa ini.. " ucap Dara bermonolog sambil melihat nomor tidak dikenal telah menelfonnya sebanyak 5x. Ia pun mengabaikan dan kembali pada aktivitasnya.


Ketika sedang gosok gigi terdengar riuh gemuruh suara Mesya yang tiba-tiba berteriak.


"DARONG!! HAH.. KEMANA KAU.. " teriak Mesya membuat Dara mengerutkan keningnya dan mempercepat aktivitasnya.


"DARONG! ADUH MAMA SAYANGE.. KEMANA ANAK INI"


Dara pun keluar kamar mandi dengan wajahnya yang bingung.


"Apa sih Men? Teriak-teriak.." tanya Dara sambil mengelap wajahnya.


"Tau nih subuh-subuh juga.. " sahut Karel yang menongol dari balkon atas dengan wajah bantalnya.


"Isshh.. ku pikir tadi itu kau kabur.. hh.. sudahlah.." Mesya memutuskan untuk tidak tidur lagi dan menyiapkan makanan untuk Dara.


"Barang-barang semua sudah siapkah?" tanya Mesya yang sedang menuangkan sereal disebuah mangkuk.


"Udah.. Semoga hari cepat berlalu deh, aku gak mau lama-lama disana.. " jawab Dara sambil bersiap-siap.


"Gunung itu menyenangkan, nikmati saja lah 2 hari 1 malam pun tidak akan terasa.." Mesya menaruh 2 mangkuk sereal dimeja. Satu untuknya dan tentu saja, satunya lagi untuk dirinya sendiri.


"Makasih ya Men, udah mau bangun pagi-pagi. Hari ini pokoknya jangan ajarin Karel yang macem-macem ya," Dara duduk dihadapan Mesya untuk sarapan bersama.


"Don't worry,. Mau berangkat jam 6 kah? Pagi-pagi sekali.. itu ayam pun masih menggigil kedinginan..." Mesya menatap Dara yang penuh dengan wajah musam.


"Aduh mama sayange.. masih pagi ini janganlah bersedih, tak malu kah burung-burung sudah asyik bernyanyi" lanjut lagi Mesya.


"Males Men.. males.. gak mau ikut kemah.. " keluh Dara sambil menyuapkan sesendok sereal dengan sebal.


"Aduh hanya 1 malam saja, nikmati saja lah.. oh ya! Sudah berhari-hari pun kau tak cerita tentang temanmu itu.."


"Siapa?" Tanya Dara dengan nada datar.


"Si orang kaya itu.. dan satu lagi yang.. yang mana pula lupa aku." jawab Mesya.


"Iya.. aku sama Devan udah agak jaga jarak Men, tapi sebetulnya aku udah maafin dia sih cuman ya karena dia sekarang sudah dikenal sebagai orang kaya dan banyak cewek yang suka juga sama dia jadi ya udah, aku coba lupain Devan. Gak apa-apa gak punya teman juga." Jelas Dara membuat Mesya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Yang satu lagi? Bagaimana update ceritanya? "


"Billy? Hmm.. kemarin dia memberanikan diri untuk ngobrol sama aku, di halte.. " ucap Dara sambil menahan senyum.


"Terus... "


"Dia ngasih secarik kertas dan isinya apa coba Men? tebak!" Suruh Dara dengan antusias.


"Mana aku tau bodoh!"


"Isinya itu... penggalan puisi yang aku buat waktu kelas 1 SMA, gila gak.. udah 2 tahun yang lalu Men." Ucapan Dara membuat Mesya tersedak.


Uhukk.. uhuk...


"Betulan kah? Ya Tuhan... "


"Iya.. aneh gak Men?" Dara bertanya dengan nada sedikit rendah.


"Apa dia suka sama kau?" Mesya menebak dengan asal yang membuat Dara berekspresi datar cenderung kesal.


"Ngga lah! Ngga mungkin Men. Billy orang kaya, pinter, jago futsal, jago olahraga.. mana suka sama aku yang upik abu ini" Balas Dara dengan segala kalimatnya yang cenderung merendah.


"Mungkin saja.. kau lihat lah nanti kalau dia menunjukan sesuatu yang ada kesamaan dengan kau berarti dia benar suka. Mau taruhan? "Tawar Mesya sambil sedikit tertawa.


"Serius Men? "


"Serius taruhan?" tanya Mesya memastikan.


"Bukan! Serius Billy suka sama aku?" Jawab Mesya sambil mengumpat senyumannya.


"Kau lihatlah nanti.. "


Wajah Dara pun tiba-tiba memerah, jam dinding menunjukan angka 06.05 Dara pun bersiap untuk berangkat.


"Awas! Karel gak suka makanan pedas, jangan aneh-aneh ya Men.. " ucap Dara sambil memakai sepatu gunung punya Mesya.


"Hp kau pun jangan dimatikan." Balas Mesya yang disahut anggukan oleh Dara.


"Pergi dulu... bye!! "


Dara pun pamitan dan segera bergegas menuju halte bis agar tak ketinggalan jam keberangkatan pertama.


50 meter sebelum turun Dara tampak melihat sebuah mobil mewah yang menurunkan penumpand dan terlihat seperti seseorang yang ia kenal.



"Devan... " ucapnya dan tak lama kemudian ia menghela nafas mencoba untuk bisa menerima semuanya.


Ketika sampai disekolah, semua orang tampak berkumpul dan bercanda gurau. Dara membopong backpacknya dan berdiri dikelompoknya.


"Hah? Untung Dara kelompoknya Andra.. "


"Seneng banget bisa pisah sama dia.. "


Sayup-sayup meskipun Dara memakai headset tapi obrolan itu terdengar sangat jelas. Memang pada saat ia meminta untuk pindah kelompok, ada pengaruh selain menjauhi Devan, juga dorongan dari orang-orang yang menyukai Devan. Ia yakin, orang-orang itu tak jauh dari prediksi pemikirannya.


"Acha... Laura.. Devan.. Billy.. mereka satu kelompok" batin Dara bergumam.


Pak Reno datang dan menyuruh Andra sang ketua kelas mengabsen para muridnya, setelah semua selesai pak Reno mengumumkan tugas yang harus mereka kerjakan ketika berkemah.


"Karena ini pelajaran geografi kalian harus membuat pemetaan, bikin jalur peta dengan insting kalian ya. Masing-masing kelompok sudah ada ketuanya, nanti ketuanya yang tanggung jawab." Ujar Pak Reno di depan semua murid.


Kelompok 1 dipimpin oleh Andra dan kelompok 2 dipimpin oleh Billy.


"Silahkan kalian cari pasangan untuk duduk di bis nanti, karena jumlah semuanya ganjil berarti ada 1 orang yang harus duduk sendirian.. "lanjut pak Reno membuat Dara berdecak kesal.


Seketika semua orang riuh gemuruh sibuk mencari pasangan duduk mereka. Devan dan Billy sempat melirik Dara yang tertunduk sambil memainkan kakinya.


"Devan! Kita duduk bareng yuk.. kan kebetulan kita juga satu kelompok" ucap Acha pada Devan yang sibuk menatap Dara.


"Hah?"


"Kalo duduk sama kelompok lain gak boleh, lagian kelompok kita as 12 orang jadi gak mungkin ada yang sendiri.. " ucap Acha yang jaraknya sangat dekat dengan Devan.


"Emang iya?" tanya Devan ragu.


"Yang sudah punya pasangan silahkan boleh naik bis ya.. "ucap pak Reno.


Murid-murid yang sudah ada pasangan duduknya tentu terburu-buru termasuk Acha yang terlihat menggandeng Devan dan dengan sengaja menubruk bahu Dara.


BUGHH


"Kamu cari pasangan duduk sana.. aku mau sendiri" ucap Nadira dan pergi begitu saja.


"Tapi.. siapa Nad?" tanya Dara bermonolog, ia pun celingak celinguk dan tatapannya berhenti pada Billy yang sedang berjalan ke arahnya.


Jantung Dara sungguh tak bisa diatur, kecepatannya tiba-tiba meningkat membuat gadis itu seperti membeku. Ketika Billy sudah 1 meter di depannya, Andra terlihat menyerobot di antara mereka.


"Dara, udah ada teman duduknya?" tanya Andra yang membuat Dara berhenti menatap Billy.


"Hah? Emm.. belum." jawab Dara sedikit grogi.


"Kebetulan, ya udah yuk masuk.. " Ajak Andra sambil mempersilahkan Dara jalan duluan. Namun, gadis itu malah sibuk menatap Billy yang saat itu terlihat celingak-celinguk dan akhirnya.. Laura menggandeng tangan laki-laki itu.


Semua sudah masuk bis dan yang duduk sendirian adalah Nadira, ia sibuk dengan headset yang terus menempel ditelinganya.


"Misi bos.. boleh gantian gak duduknya? Saya lagi ngambek sama Harun.. " ucap Arga yang tiba-tiba saja mendatangi kursi Andra dan Dara.


"Hah? Y.yaudah..sok" Andra pun beranjak dari kursinya dan meninggalkan Dara yang ternganga tak percaya.


Dara memasan wajah kesal dan malas, mengingat Arga adalah orang yang paling sering mengganggunya. Namun, setelah dipikir lagi Dara teringat akan suatu kejadian dimana orang yang disampingnya ini hadir dipemakaman Abah.


"Arga.. "


"Dara... "


Mereka berpas-pasan memanggil secara bersamaan.


"Kamu dulu.. " ucap Dara.


"Kamu dulu aja" balas Arga dan Dara pun menghela nafasnya.


"Waktu dipemakaman Abah, kamu tiba-tiba dateng sebagai orang terakhir.. aku penasaran kenapa kamu ada disana? Padahal kan kamu benci sama aku." Dara mengerutkan keningnya setelah melihat balasan Arga yang malah berdecak tertawa.


"Kok sama ya bahasannya.. " Arga menghela nafas bersiap untuk melanjutkan kalimatnya.


"Bengkel Abah kamu itu langganan saya, saya sering di gratisin sama Abah kamu gara-gara lihat seragamnya sama kaya anaknya. Tapi, dasar gak tau diri aja, saya malah sibuk membully kamu.. makanya sebagai permintaan maaf, saya datang ke makam Abah kamu meskipun saat itu saya liat kamu gak suka," jelas Arga dan Dara pun memalingkan wajahnya.


"Saya sadar, saat itu memang kekanak-kanakan sampe nyemprot kamu pakai pembersih kaca. Inget kan? Hampir berantem sama Billy.. disitu saya ngerasa kalo saya, bener-bener salah.. " lanjutnya membuat mata Dara sedikit berkaca-kaca. Karena ia melihat tanda-tanda akan berakhirnya penderitaan yang ia rasakan selama ini.


"Saya mikirin itu semua sampai saya sakit, karena gak habis pikir aja.. sejahat itu.. makanya saya ingin kamu maafin saya Dara." ucapan Billy disambut senyuman oleh Dara.


"Saya janji gak akan bully kamu lagi." lanjutnya sambil mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Dara.


Dara mengangguk sambil tersenyum dan menyantelkan kelingkingnya di kelingking Arga.


"Hah... akhirnya tenang juga" desah Arga yang langsung menyender dikursinya.


Dara terus saja tersenyum karena setidaknya 1 orang yang pernah membullynya kini mengakui kesalahannya dan itu membuat Dara bahagia.


Sepanjang perjalanan tak ada obrolan diantara mereka sampai tibalah ditempat tujuan. Semua murid sudah berbaris disebuah tempat yang luas, itu adalah kaki puncak sebelum ke area perkemahan.


"Nah untuk sekarang, kelompok 1 dan kelompok 2 pisah jalur ya.. jangan lupa untuk selalu ingat dengan tugas kalian, disini bukan untuk main-main saja tapi ingat tanggung jawab kalian." ucap pak Reno dengan alat toa nya yang mengganggu telinga.


"Mulai hitungan ketiga sudah mulai bergerak ya? 1..2..3"


Sebelum beranjak Dara bersiap menalikan sepatunya terlebih dahulu, ketika ia kembali berdiri seseorang telah hadir didepannya. Tubuhnya yang tinggi menutupi wajah Dara dari sinar matahari.


"Katanya jalanannya licin, kamu harus hati-hati." Devan menyodorkan minuman isotonik kepada Dara.


"Makasih.. " ucap Dara yang hendak mengambil minuman dari Devan namun tangannya ditepis dan direbut oleh Acha.


"Gak usah repot-repot Devan! Yuk.. kita udah ketinggalan.." ucap Acha yang berhasil merebut minuman isotonik itu, Devan terlihat marah kala itu.


"Tapi itu bukan--"


"DARA! AYOK!!" teriak seseorang yang sudah jauh melangkah dari Dara, gadis itu pun menyahut dan segera menyusul tanpa mendengar ucapan Devan.


15 menit dari sejak berjalan tadi, mereka sudah sampai dipertengahan perjalanan menuju area perkemahan.


"Gimana nih? gambarnya udah keliatan?" tanya Harun sambil mengatur nafasnya, semenjak Arga bertaubat Harun juga tidak lagi mengganggu Dara.


"Udah digambar sih tapi disini ada 2 jalur, katanya jalur mana pun bisa. Kita mau ambil yang mana?" tanya Andra.


"Yang kanan aja kayanya lebih deket.. " Jawab Arga namun ditepis oleh anggota yang lain.


"Yang kiri keliatan lebih meyakinkan Ga.. "


"Ya udah voting aja.. " ucap Andra dan hasilnya pun mereka memilih jalur kiri dimana jalur itu lebih jauh ke area perkemahan.


Sesampainya di area perkemahan, kelompok 2 yang dipimpin oleh Billy telah sampai duluan dan tentu saja sudah ada pak Reno dan guru yang lain disana.


"Akhirnya kelompok 2 yang sampai duluan ya.. boleh sambil istirahat dulu, kita sembari nunggu kelompok 1 kayanya sebentar lagi sampai ya.. " ucap pak Reno sambil celingak-celinguk.


30 menit berlalu, guru-guru sudah mulai mencemaskan keadaan kelompok 1. Sama halnya dengan Billy dan Devan yang nampak ikut terbawa panik.


"Katanya sebentar lagi sampai pak?" tanya bu Citra dengan wajah paniknya.


"Harusnya mereka udah sampai karena tidak terlalu jauh juga jaraknya.. " jawab pak Reno.


"Pak.. apakah boleh kami bantu cari kelompok 1?" tanya Billy mencoba untuk mendapat petunjuk.


"Gak usah gak apa-apa kita coba tunggu 15 menit lagi ya.. " jawab pak Reno sambil melirik jam tangannya.


Tak lama kemudian terdengarlah suara langkah kaki dari arah kanan pak Reno.


Tap.. Tap..


Hosh.. Hosh..


"Akhirnya.. sampai juga.. " ucap pak Reno.


Semua anggota kelompok 1 terlihat kelelahan, mereka berkeringat dan pucat.


"Tadi kita salah jalur pak, kita malah ambil yang lebih jauh.." ucap Arga sambil mengatur nafasnya.


"Pasti! Bapak juga sudah duga.. anggota kelompoknya sudah lengkap Andra?" pak Reno mulai menghitung.


"Sudah lengkap pak.. " jawab Andra.


"Ya sudah, kalian boleh istirahat dulu 30 menit di tenda masing-masing ya, nanti keluar untuk menerima tugas lanjutan.. " ucap pak Reno yang dibalas persetujuan kompak oleh para murid.


Dara terlihat berjalan dibelakang Nadira dengan sangat kelelahan. Tiba-tiba seseorang menarik dan melepaskan backpack Dara dengan sangat perlahan.


"Tenda kamu di sebelah mana?"


"Billy... "


"Hm? Tenda kamu disebelah mana?" tanya Billy dengan suaranya yang berhasil membuat wajah Dara memerah.


To be continued...